Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 37.


__ADS_3

Mery mulai mengambil handuk kering dan membilasnya dengan air hangat. Asiah di paksa untuk duduk manis di atas sofa kecil di dalam ruangan. Mery terlihat kesal dengan Asiah oleh sebab itu dia tidak memiliki niat untuk mempertanyakan apa yang sedang Mery lakukan. "Kalau kamu tetap masih ingin bekerja, setidaknya kamu harus menghilangkan mata pandamu terlebih dahulu, bukan menambalnya dengan makeup yang tidak jelas.


"Lagi pula kamu tahukan kalau ada nenek sihir yang sangat iri dengan kecantikan dan prestasimu di sekolah ini."


"Uumm... Maksudmu Debora."


"Yah begitulah."


Mery memeras handuk yang sudah dia basahi dengan air hangat lalu perlahan mengompres mata Asiah perlahan. "Bagaimana kamu bisa mengurus bayimu nanti kalau mengurus dirimu saja masih tidak bisa."


"...."


Asiah tidak mengatakan apapun untuk membalas ucapan Mery, dia tahu bahwa apa yang di katakan wanita di depannya adalah sebuah kebenaran. Kalau saja dia tidak melihat foto seseorang dari masalalunya maka dia tidak akan terbangun setiap jamnya dan terpaksa mengunakan riasan tebal untuk menutupi dark circle di matanya. "Maafkan aku. Kemarin malam aku mengalami malam yang buruk," kata Asiah dengan penuh penyesalan.


"Hahh... Akhirnya kamu menyadarinya. Pulanglah untuk hari ini, karena masih belum ada orang yang juga di sekolah. Aku akan mengurus perihal cuti untukmu, lagi pula kamu akan memasuki masa kehamilan Enam Bulan jadi berhati-hatilah untuk menjaga kesehatanmu.


"Bayi yang ada di dalam rahimmu adalah hasil dari uji laboratorium, jadi mereka akan berbeda dengan bayi normal pada umumnya," suara Mery begitu lembut dan penuh kehangatan. "Jadi kamu harus ekstra hati-hati dengan kehamilanmu."


"Mis Mery."


"Yah?."


"Terimakasih karena sudah menghawatirkan aku," kata Asiah dengan sopan. Asiah merasa lebih baik setelah mendapat perawatan dari Mery walau hanya dengan bantuan sederhana. "Tidak masalah. Lagi pula lihatlah dirimu, begitu kurus, apakah tidak ada yang merawatmu saat kamu sedang sa— ah bodohnya aku, kamukan tinggal sendiri."


"Hahaha." Asiah tertawa untuk pertama kalinya pagi itu, rasa lelahnya seketika sirnah setelah berbicara dan mendapat nasehat dari Mery, dia sangat bersyukur masih memiliki orang-orang baik di sekitarnya. Bodohnya aku karena menanggapi masalah ini dengan serius. Dia bahkan tidak ada di negara ini jadi apa yang kutakutkan sebenarnya.


Mery melihat wajah murung Asiah, perlahan dia menyentuh wajah wanita yang lebih muda 5 Tahun darinya itu. Mery memperlakukan Asiah selayaknya adiknya sendiri sehingga setiap tindakan yang dia lakukan begitu hati-hati dan penuh perhatian. "Kamu sepertinya memiliki saat-saat sulit yang terjadi akhir-akhir ini.

__ADS_1


"Apakah kamu mau bercerita padaku?, Tidak masalah kalau kamu tidak mengatakannya juga." Mery tidak memaksa Asiah untuk mengatakan masalahnya saat ini dian hanya ingin membantu Asiah untuk menghilangkan beban yang saat ini sedang melandanya saat ini.


"Itu-"


"...."


Mery tersenyum kembali lalu menyeka air mata yang perlahan jatuh dari wajah Asiah, Mery juga melihat gemetar di jari-jari Asiah.


"Kamu terlihat begitu kuat dari luar namun sangat rapuh di dalam sana." Mery masih menyeka air mata Asiah dengan tangannya yang lembut. Perlahan Asiah membuka mulutnya, dia tidak mengharapkan balasan apapun dari Mery ketika menceritakan kejadian yang dia alami dan alasan kenapa dia tidak bisa tidur dengan lelap.


Mery cukup terkejut mendengar cerita Asiah namun memutuskan untuk mendengarkan saja tanpa menyelanya dia bahkan telah memastikan kalau tidak ada seorangpun yang bisa mendengar mereka di ruangan itu.


"Jadi begitu... Pantas saja kamu tidak memiliki niat untuk menjalin hubungan romantis dengan pria manapun, kamu bahkan memilih untuk melakukan program bayi tabung dan menjadi ibu tunggal hanya karena tidak ingin menikah dan membangun keluarga lengkap selayaknya orang normal, traumamu terdengar menyeramkan bagiku...." Mery menyeka buku kuduknya yang berdiri.


"Tapi serius. Awalnya aku berfikir kamu itu menyimpang hahaha... Tapi sekarang aku tahu alasanmu. Jangan khwatir, aku tidak akan mengatakan ini pada siapapun."


"Snif... Aku tidak memaksamu untuk tidak mengatakannya pada seseorang, suatu saat beberapa di antara kita mungkin akan mengetahuinya entah dari mana jadi aku tidak berencana untuk menjadikan ini sebagai rahasia lagi."


"Pffft ... Kamu terdengar seperti seseorang yang aku kenal."


"Benarkah?."


"Yah, dia mengatakan kalau aku bukan orang yang pandai menjaga rahasia."


"Kalau begitu dia pasti orang yang perduli padamu, jadi dengarkan apa yang dia katakan." Mery mengambil handuk basah dari lantai dan meletakkannya di atas nampan di atas meja.


"Mis Mery."

__ADS_1


"Yah?."


"Aku pikir, .... Setelah mendengar apa yang kamu katakan barusan." Asiah menutup matanya dan membulatkan tekatnya. "Aku memutuskan untuk berhenti bekerja setelah semester ini berakhir."


"Eh???, Tunggu-tunggu dulu!."


Mery terkejut mendengar keputusan Asiah. "Hei? Aku menyuruhmu untuk istirahat selama beberapa hari kedepan bukannya berhenti bekerja."


"Hahaha... Kamu benar, akan tetapi sekarang aku telah sadar kalau pekerjaanku tidak sepenting kesehatan dan bayi-bayiku."


Mery melihat Asiah dengan tatapan iri, namun bibirnya tersenyum. "Yap. Itu hanya kalimat yang boleh di katakan oleh seseorang yang berasal dari keluarga kaya saja." Mery menganggukkan kepalanya.


"Hahaha...."


"Kamu tertawa lagi, kalau saja adikku masih hidup dia pasti akan tertawa secantik dirimu ini."


Asiah membalas senyuman Mery sambil berkata di dalam hati. Pasti begini rasanya memiliki seorang kakak, aku agak iri dengan mendiang adiknya. Asiah berdiri dan memeluk Mery, dia mengucapkan terima kasih pada Mery dan berharap Mery baik-baik saja di sekolah.


"Kalau begitu aku pulang saja. Lagipula anda akan mengurus ketidak hadiran ku untuk hari ini yakan Miss Mery."


"Hemm... Terserahmu saja." Mery tidak tega membiarkan Asiah berjalan menuju perkiraan sendirian jadi, dia memutuskan untuk mengantarkan Asiah sekaligus memastikan keamanan Asiah saat berjalan menuruni tangga tapi, belum sampai mereka di pintu keluar seorang wanita berumur 40an. Berdiri di depan pintu dan menghalangi jalan mereka berdua.


"...."


Panjang Umur.


"...."

__ADS_1


"Oh my... Aku pikir kamu tidak akan bekerja lagi Miss Asiah~" kata Debora yang bersandar di sayap pintu.


Asiah dan Mery hanya melihat Debora dengan tatapan malas, mereka tidak ingin berurusan dengan Debora yang selalu bertindak menyebalkan. Asiah tidak menanggapi sapaan dari Debora, dia memilih untuk berjalan melewatinya, mengabaikannya begitu saja. Dan tentu saja Debora tidak tinggal diam melihat Asiah yang mengabaikannya, dia menarik lengan kiri Asiah. "Sangat tidak sopan, apakah anak muda zaman sekarang memang tidak memiliki sopan santun?." Debora melihat keduanya dengan tatapan angkuh, sambil memainkan jari dirambut mulutnya gatal ingin berkata lebih banyak lagi.


__ADS_2