Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 015.


__ADS_3

...🌸🌸🌸...


Di sebuah ruangan kantor terlihat dua belas orang sedang duduk dengan lelah di depan monitor komputer. "Hahh... Ini sangat melelahkan!, Kenapa di hari libur begini kejadian menyusahkan terjadi."


"Entahlah, aku tidak tahu mau bagaimana lagi, yang pasti semua data siswa sudah selamat. Kalau saja ada yang hilang kita pasti akan di pecat," gerutu seorang guru biologi.


"Bagimana denganmu Asiah, bukankah sulit untuk seorang ibu hamil datang dan bekerja sampai larut begini?."


"Hem? Tidak juga."


Asiah terlihat lelah, saat jari-jarinya mengetik papan keyboard dengan cepat. "Lagi pula aku sedang ada masalah di rumah, bekerja seperti ini cukup membantuku melupakan masalah itu." Asiah berusaha untuk tetap tersenyum untuk menutupi kecemasannya.


"Jangan begitu, bayi dalam kandunganmu bisa merasakan apa yang kamu rasakan juga, lebih baik pulang dan beristirahatlah, pekerjaan juga tinggal sedikit lagi dan itu bagian guru Kory."


"Bolehkah?."


"Tentu... Sebenarnya sejak awal, kalau tidak membantu kami kamu sudah pulang lebih awal."


"Hahahaha, tidak masalah, aku membantu karena memang data murid-muridku belum sempat di ambil.


"Tapi ini agak aneh, di sekolah elit seperti ini, bagaimana mungkin kehilangan data bisa terjadi?," Asiah bertanya-tanya sembari mengelus perutnya. Bayi di dalam perutnya bergerak lembut di sana, membuat Asiah tersenyum saat melihatnya.


"Cik dasar naif. Justru karena ini sekolah elit makanya resiko kehilangan data lebih besar. Jika pekerjaan anda sudah selesai cepat pulang sana," ucap seorang guru dengan tatapan tajamnya yang mengarah pada Asiah.


"...."


"...."


"...."


Guru-guru yang ada di dalam ruangan langsung terdiam pasalnya yang saat ini sedang berbicara adalah salah satu guru Matematika yang bekerja sudah cukup lama di sekolah Avenir.


Wanita itu memiliki tubuh ramping yang seksi dengan kacamata bulat besar menghiasi wajahnya, kemejah putih yang dua kancingnya terbuka dan rok mini hitam ketat intinya pakaian wanita itu cukup ketat untuk seorang pengajar berusia 40 Tahun.


Banyak guru yang tidak menyukainya karena nada bicaranya yang sombong dan sering menunjukan tingkah laku yang tidak layak di lingkungan anak-anak. Dan yang paling parah, dia menjadikan Asiah yang merupakan saingannya sebagai target hinaannya secara terang-terangan.


"Hahah... Benar juga, terkadang aku lupa kalau di sekolah ini ada banyak murid dari kalangan elit dan orang-orang penting."


"Kau seharusnya menanamkan itu di dalam otakmu. Sebagai guru yang memiliki tugas untuk menghi—"

__ADS_1


"Oh! Ternyata sudah jam segini? Gawat aku harus pulang sekarang!."


"Benar! Kamu harus pulang sekarang!," Seorang guru bernama Mery membantu Asiah untuk mengemas barang bawaannya.


"Mis Mery? Apakah anda tidak memiliki pekerjaan untuk di lakukan?."


"Tentu saja aku punya Miss Debora... Aku akan menyelesaikannya setelah membantu Miss Asiah berkemas."


"Kenapa—"


"Baiklah aku sudah selesai!. Selamat malam semuanya, aku sudah memesankan beberapa makanan ringan untuk kalian makan saat bekerja nantinya."


"Benarkah! Kamu benar-benar malaikat Asiah, tidak seperti seseorang," bisik Mery pelan ketika berkata seseorang.


"Hahaha... Baiklah kalau begitu sampai jumpa besok," Asiah bergegas pergi dari ruangan, sebenarnya dia juga muak dengan Debora yang selalu bertingkah seperti pemimpin di antar para guru.


"Cih, j-Lang itu benar-benar memuakkan... Kalau saja tadi aku tidak bisa mengendalikan diriku maka wajahnya sudah-... Apasih yang kupikirkan!," Asiah menggelengkan kepalanya dan menjernihkan semua pikirkan buruk dari benaknya.


"Maafkan ibu yah, sejenak ibu berfikir sedikit jahat karena wanita itu."


Asiah berjalan menuju mobilnya dan kembali kerumahnya. Setibanya di dalam rumah dia menyalakan lampu dan mengisi bak mandinya dengan air hangat. Asiah merendam tubuhnya dan menikmati sensasi hangat air yang mengalir. Asiah menyentuh bagian pusarnya dan tersenyum seolah-olah dia sedang bermain dengan bayi-bayinya.


Pukul 09:43. Malam.


Asiah berbaring di tempat tidur setelah memberi makan dirinya. Sebelum dia tertidur dia memijit kakinya yang perlahan mulai membengkak. Saat memijat kakinya Asiah menitihkan air mata, dia membayangkan bagaimana bisa ibunya bertahan dengan semua perubahan yang terjadi pada tubuhnya pasca kehamilan.


"Sniff ... Mataku sangat perih."


Malam itu Asiah menangis tersenduh-senduh untuk waktu yang lama. Sedangkan di tempat lain, Ervin duduk dengan kaki bersilang di depan meja besar dengan banyak kertas di atasnya.


"Apa ini sudah semuanya?."


"Yah, begitulah. Aku tidak bisa mendapatkan beberapa datanya karena masalah tertentu. Untuk saat ini aku hanya memiliki bio data tempat dia bekerja, tempat dia tinggal dan negara asalnya dulu.


"Terimakasih untuk pemilik toko yang mau bekerja sama, dengan ini aku jadi memiliki celah untuk menemukan informasi.


"Untuk informasi lainnya akan membutuhkan waktu yang cukup lama terutama tentang beberapa catata penting yang masih di—"


"Ya, ya, ya. Sekarang berikan bionya padaku dulu," Ervin mengulurkan tangannya untuk meminta kertas.

__ADS_1


"Cih. Dia selalu melakukan apapun yang dia inginkan," gumam Adrian kesal.


"...."


Adrian memeriksa seluruh isi bio data tanpa melewatkan detail sedikitpun.


Nama Asiah Rosen. Namanya cukup unik dan mudah untuk di ingat, usia 25 tahun. Lebih muda dariku ternyata, tanggal lahir 21 Desember 1999, Your, Jerman. Tinggi badan 156 cm. Berat badan 50 Kg.


".... Pantas saja tubuhnya sangat ringan saat naik di atasku."


"Hem?."


"Tidak lupakan, selanjutnya...."


Asal sekolah Humbolt University. Jurusan yang dia ambil Ilmu Matematika dan Bahasa, pindah ke Prancis pada tanggal 14 Januari 2021. Sekarang dia bekerja di .... Hah???


Ervin mengusap matanya beberapa kali ketika melihat tempat di mana Asiah bekerja. Avenir? Bukankah ini tempat keponakanku bersekolah?.


"Ada apa dengan ekspresi wajahmu?. Apa kau terkejut karena wanita yang kau cari selama ini ternyata berkeliaran di sekitarmu?,"Adrian tersenyum mengejek kearah Ervin.


"Diamlah."


Ervin membaca seluruh informasi yang di miliki Asiah. Ervin pindah dari satu kertas kekertas yang lainnya, sampai 2 jam lamanya bagi Ervin untuk memeriksa semuanya tanpa melewatkan info sekecil apapun.


"...."


Adrian yang melihat tingkah Ervin menutup matanya dan menyeduh kopi hitam untuk dirinya. Bilangnya tidak suka tapi mencari tahu sampai ukuran kakinya, bati Adrian.


Setelah selesai membaca Adrian duduk terenung dan bergumam. "Setelah menerima pekerjaan di Avenir dia tidak memiliki kegiatan apapun di luar selain ibadah rohani."


"Dia orang yang religius, sangat berbeda dengan pendosa sepertimu," sindir Adrian.


"..., Lanjut. Selama ada di Paris dia hanya melakukan kegiatan sehari-harinya seperti biasa, bekerja, pulang kerumah, dan bekerja lagi. Kau juga mengumpulkan bagian-bagian seperti ini?" Tanya Ervin.


"Pekerjaanku memang harus sempurna bahkan kalau kau mau aku bisa memberitahumu berapa kali dia buang air—"


"Tutup mulutmu."


"Baiklah, aku mengerti kekeke...."

__ADS_1


__ADS_2