
"AKU TIDAK PERDULI, POKONYA KAMU HARUS MEMBELI SEMUABJERUK IT-."
"Permisi?."
"Yah, pelanggan yang terhormat."
Sifat pegawai yang marah-marah itu segera berubah setelah Asiah mengajaknya untuk bicara. "Kalau boleh, apakah aku bisa mengambil jeruk itu?," Tunjuknya pada jeruk di lantai.
"Permisi?."
"Aku akan membeli jeruk di lantai itu,
dan akan membayarnya. Bisakah kamu mengambilkannya untukku."
"Tapi itu sudah jatuh nona."
"Tidak masalah." Asiah memainkan tangannya sambil bercanda pada pegawai toko. Hahh... Memang yah, anak-anakku suka sesuatu yang aneh, dari semua buah kenapa harus buah yang jatuh itu yang ingin kalian makan.
"Tolong bantu saya untuk mengambilnya, saya tidak bisa berjongkok karena sedang hamil besar sekarang."
"Ugh- iya saya akan ambilkan."
Pegawai toko dan Jefry tidak mengharapkan rekasi ini dari Asiah. "Nona tidak perlu membelikannya untukku," kata Jefry dengan suara yang di serakkan.
"Saya tidak memberikannya untuk anda."
"Hem?."
"Saya memang sedang ingin makan jeruk ini." Asiah mengambil semua jeruk dari tangan pegawai toko dan memasukkannya kedalam keranjang. "Maaf yah, tapi anda bisa ambil yang baru lagi kalau anda mau dan juga...." Asiah tajam pada pegawai toko yang berteriak tadi. "Kamu tidak tidak bisa mempermalukan pelanganmu seperti itu."
"Uug!— ma-maafkan saya."
"...."
Asiah membantu Jefry yang masih duduk di lantai, dia membantu Jefry untuk berdiri dan membersihkan lututnya yang terkena debu.
"Apa anda baik-baik saja?."
"Tentu... Aku baik-baik saja."
"Hahaha... Anda ini seperti seorang kesatria, jangan tersinggung yah nona, tapi saya memarahi pelanggan ini karen-."
"Apa anda ingin belanja yang lain?."
Asiah mengabaikan pegawai yang mencoba untuk memainkan perannya sekali lagi. Tangan Asiah dengan lembut membawa pria tua di hadapannya menjauh dari pegawai toko. "Tsk tsk ... Anak muda zaman sekarang, mereka tidak punya sopan santun pada orang yang lebih tua," gerutu Asiah.
"Kemana kamu akan membawa...ku."
"Kemanapun yang penting jauh dulu dari dia." Asiah mendorong keranjang belanjaanya sambil menggandeng pria tua itu. "Jadi.... Kenapa tangan anda gemetar saat ingin membeli buah itu?."
"Itu...." Jefry tidak tahu apa yang harus dia katakan saat berada di dekat Asiah, semua hafalan yang dia ingat seketika terlupakan. Bagaimana ini!!! Apa selanjutnya. Aku tidak ingat apa yang harus aku lakukan...!!! Jantung Jefry berdetak kencang, dia berusaha untuk menarik tangannya yang di genggam Asiah.
"Le-lepaakan, tangan anda bisa kotor karena memegang tangan saya nona."
__ADS_1
"Tidak masalah." Asiah semakin mengeratkan tangannya. "Aku juga baru pulang dari tempat kerja jadi tanganku juga sudah kotor, anda tidak masalahkan?."
"...."
Jefry kehabisan kata-kata. Dia hanya mengikuti kemana Asiah membawanya berkeliling. "Berapa banyak uang yang anda bawa?."
"Hem?."
"Anda kemari untuk membeli sesuatukan?. Berapa banyak uang yang anda bawa makanya bilang pada pegawai tadi kalau uangnya tidak cukup?."
"Aku hanya bawa empat dollar."
"Empat dollar? Itu jumlah yang kecil untuk berbelanja di supermarket mall. Ah! Bagaimana kalau begini, anda bantu saya untuk membawa keranjang ini lalu nanti saya akan tambahi uang anda untuk membeli apapun."
Ini juga sebagai balasan karena telah menjatuhkan buah itu, untung saja dia menjatuhkan buah jeruk itu kalau tidak aku tidak akan makan buah harus menunggu mood bayi-bayiku. Asiah tersenyum sangat cantik kepada Jefry yang sedang menyamar, membuatnya semakin terdiam dan merasa sangat kecil di depan senyuman.
De-dewi... Dia seorang Dewi!!! BAGAIMANA MUNGKIN DEWI SEPERTI INI MAU BERSAMA SETAN KECIL KAMIII....
***
Pukul 08:16, Malam.
"Hem...? Kau bertemu dengan orang aneh?."
"Yah, dia terlihat sangat aneh. Katanya hanya membawa uang empat dolar tapi mengenakan jam tangan merek Aishwa."
"Apa??? Tidak masuk akal. Mana ada gelandangan yang bisa memakai jam tangan merek Aishwa, bagaimana mungkin?." Ervin terkejut. Dia meletakan tablet di tempat tidur dan fokus mendengarkan Asiah yang sedang mengunakan masker wajah di depan cermin.
"Buktinya ada satu, berfikir positif saja... Mungkin ada seseorang yang memberinya jam tangan mewah itu."
"Kamu terlalu berlebihan." Asiah selesai dari depan cermin dan berjalan keatas tempat tidurnya. "Bisa sajakan pria yang terlihat seperti pengemis itu adalah orang yang sedang menyamar. Kamu tahukan di era ini banyak orang yang sengaja membuat konten untuk memperkaya diri mereka."
Ervin menyiapkan bantal di sisi ranjang, membantu Asiah berbaring menyamping menghadap dirinya. "Aku tahu, tetapi tetap saja aku-."
"Apa kamu takut mendapat kritikan dari kalangan pembisnis lainnya?."
"Takut? Siapa yang takut, aku hanya tidak suka jika para bajingan yang berusaha menyaingi Aishwa mencemoohku karena hal sepele semacam ini."
"Kalau begitu tiru saja bentuknya, kamu tahukan membuat barang tiruan dan memasarkannya dengan bantuan karyawanmu secara rahasia lalu menjadikan seseorang sebagai kambing hit—."
"Beraninya kau menyuruhku membuat barang tiruan di depan pemilik Aishwa."
"Aku hanya ingin memberi saran."
"Saranmu tidak di butuhkan."
"Oke."
"Hahh.... Ngomong-ngomong warna apa jam tangan yang di kenakan?."
"Apa kamu tertarik?," Asiah menyeringai.
"Katakan saja."
__ADS_1
"Hehehe.... Kalau tidak salah warna jam yang dia pakai hitam bersisi emas, jarum jamnya berwarna hitam elegan dan di setiap sisinya ada empat permata putih kecil."
"...."
"Hem?." Asiah menyelidik kedalam ekspresi belum Ervin.
"Tidurlah." Ervin menyentuh wajah Asiah dan mengelusnya perlahan. "Apa yang kau lakukan? Aku masih belum mau tidur."
"Kalau kau tidur lebih cepat maka tidak akan ada masalah kalau tiba-tiba terbangun nanti."
"Tapi—."
"Shsst. Tidurlah."
"...."
Asiah menutup matanya.
"Kapan kau akan berhenti bekerja?."
Asiah membuka matanya lagi dan melihat wajah Ervin yang dekat dengan wajahnya. Tadi dia menyuruhku untuk tidur sekarang dia malah mengajakku untuk berbicara, apasih yang dia mau.
"Mungkin minggu depan."
"Bagus kalau begitu." Ervin menepuk-nepuk pucuk kepala Asiah seperti selama beberapa menit. "Orang tuaku akan datang bulan ini."
"Hem?!." Sambil menutup matanya Asiah berbicara pada Ervin. Mengatakan tentang perbincangan yang dia lakukan memalui laptobnya tadi sore setelah dia selesai berbelanja. "Ke-kenapa baru bilang sekarang! Kenapa tidak dari tadi?."
"Kamukan baru kembali jam Tujuh tadi, dan aku juga sedang memasak setelah itu mandi mana sempat aku mengatakannya padamu."
"Kamu ini!..." Ervin mencubit pipi Asiah.
"Bagaimana jadinya kalau kau lupa mengatakannya padaku?."
"Jangan khwatir aku tidak akan lupa."
"Terserahmu saja."
***
Tik... Tik... Tik.
Jarum jam berdetik.
"...."
Melihat Jam.
[Pukul 10:57.]
"Dia sudah tidur," ucapnya pelan.
Ervin menarik tangannya dari genggaman tangan Asiah perlahan. Ervin bangun dari tempat tidur, memakai baju kemejanya pelan dan meninggalkan kamar.
__ADS_1
Kling.
Ervin mengacak-acak rambutnya kasar saat melihat sebuah nomor di ponselnya. "Pantas saja pekerja baru itu tidak melaporkan apapun padaku." Ervin mengambil kunci mobilnya di atas meja lalu pergi keluar dari rumah Asiah menuju mansion keluarganya.