
***
Seminggu berlalu setelah Asiah meminta Ervin untuk memotong rambutnya. Saat ini mereka terlihat seperti pasangan yang tak terpisahkan walau status hubungan mereka masih dalam kesepakatan saja. Seperti saat ini Ervin membantu Asiah untuk mandi dan memakaikan bajunya.
"Aihss... Semakin hari aku merasa kalau tubuhku semakin pendek dan berat saja."
"Kaukan memang pendek sejak awal."
"Huh???."
"Bercanda!, Aku hanya bercanda." Kata Ervin sambil mengangkat tangannya keatas.
"Hemmp. Perhatikan cara berbicaramu."
"Iya iya aku mengerti...." Ervin menekan kancing baju Asiah setelah itu dia memeluk perut buncitnya dan membenamkan wajahnya di sana. "Uum... Ayah ingin segera bertemu dengan kalian," ucapnya.
Asiah menghela nafas. "Huhh.... Di pikir melahirkan itu muda," gumam Asiah. "Hem? Apa kau mengatakan sesuatu?."
"Tidak. Tidak ada."
".... Terserahmu saja. Aku mandi dulu, baru setelah itu kita pergi menemui Julius."
"Iya, cepat mandi sana."
"Ingat, tunggu aku, jangan melakukan apapun dan duduk saja di sana mengerti!.."
"Iya makanya cepat sana."
Ervin mengunakan kedua jarinya untuk memberikan isyarat bahwa dia mengawasi tindakan Asiah baru setelah itu dia masuk kedalam kamar mandi. "Huhh... Dia itu semakin hari semakin mengekangku saja, apa dia pikir aku ini anak kecil?."
Asiah memutuskan untuk tidak mematuhi perintah Ervin dia mulai mengemasi barang-barang yang di perlukan di dalam tas berwarna ungu. Setelah itu, dia keluar dari rumah untuk membeli sesuatu di supermarket dekat rumahnya.
Shrasssss.
"..., Kenapa sepih?," Pikirnya.
"Asiah!.... Oi? Asiah? Kau masih disanakan?," Teriaknya keras dari dalam kamar mandi.
Sunyi.
Asiah tidak menjawab pangilan Ervin. "Hahh... Sudah aku duga, dasar wanita itu...." Ervin bergegas membersihkan tubuhnya lalu keluar dari dalam kamar mandi secepatnya.
Kapan dia akan mendengarkanku. Ervin keluar hanya dengan mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya, dengan santai dia berkajalan menuju lemari pakaian. Ervin bisa melihat tas besar penuh pakaian dan barang-barang penting di dalamnya membuatnya mengerutkan dahinya. "Dia benar-benar.... Padahal aku sudah bilang untuk tidak melakukan-."
CLIK.
Pintu depan di buka.
"Hem?.
__ADS_1
"Und ich habe dir gesagt, du sollst nur ein paar Sachen mitbringen, aber sieh mal! Du siehst sogar aus, als würdest du gleich umziehen." (Aku sudah bilang untuk membawa beberapa barang saja, tapi lihat! Kamu bahkan terlihat seperti akan pindah.)
"!!!."
Ervin mendengar suara yang bukan suara Asiah, dia mendengar ada dua orang yang sedang berbicara dalam bahasa Jerman di depan ruang tamu. Siapa itu?!. Tanpa pikir panjang Ervin mengambil senjata apinya Colt 45 dari bawah tempat tidur.
"Ema... Du Bist So Grausam, ich tue das, weil ich meine Tochter und meinen Enkel liebe!." (Ema... Kamu sangat kejam, aku melakukan ini karena aku mencintai putri dan cucuku)
"...."
Di belakang pintu kamar Ervin sudah siap-siap untuk menyerang orang asing yang masuk kedalam rumahnya. Sial, dimana dia sekarang?, Batin Ervin.
Asiah saat ini sedang melihat-lihat tisu basah di dalam supermarket. "Hemm... Pilih yang mana.... Semuanya terlihat bagus," gumamnya.
"Tsk."
"Letakan barangnya disana sayang, .... Sepertinya anak itu sedang tidak ada dirumah."
Ema menghelan nafas. "Hahh... Padahal aku sudah sering memperingatkannya untuk mengunci pintu sebelum keluar dari rumah, anak itu benar-benar." Ema terdengar sangat kesal pada putrinya tersebut. "Sudah tinggal sendirian tapi tetap saja masih ceroboh mengurus diri sendiri."
"Sudalah.... Lagi pula kita datang kemari tidak bilang-bilang padanya," bisik Roberto menenangkan istrinya.
Roberto meletakan tas bawaanya beserta makanan-makanan di atas meja dia menyusunya rapi seperti menata alat-alat masaknya, sedangkan Ema berjalan menuju kamar mandi di sebelah dapur sambil menggerutu.
"Ibu dan anak sama saja." Roberto mengabaikan istrinya, dia memilih untuk mengeluarkan barang-barang yang dia bawa di dalam tas berukuran besar itu. Hemhem... Putriku pasti suka dengan boneka-boneka ini.... Rasanya tidak sabar untuk bertemu dengan cucu-cucu-.
"Hem????."
"Bergerak sedikit saja maka kepalamu akan meledak," bisik Ervin yang menodongkan pistol kecil berjenis kaliber di kepala Roberto.
Roberto refleks diam ditempatnya, tidak bergerak dan menutup mulutnya rapat-rapat. "Siapa kalian?," Tanya Ervin menekan pistol.
"Apa aku boleh berbicara sekarang?."
"Tentu."
".... Tidak akan kuberi tahu bodoh."
Secepat kilat Roberto mengambil pistol dari tangan Ervin. Dia memutar tangan Ervin lalu membanting tubuh kekar itu kelantai.
GUBRAKK... KRASSS....
Tubuh kekar itu menghantam meja kaca di ruang tamu membuat suara yang keras mengema disana.
"UUG!-." Ervin terbanting di meja kaca, tangannya yang memegang pistol di injak lalu senjata di tangannya di ambil.
BANG!.
Satu peluru panas menghancurkan lantai keramik tepat di sebelah telinga Ervin.
__ADS_1
"Bergerak sedikit saja maka kepalamu yang hancur selanjutnya." Roberto mengembalikan kalimat Ervin barusan. Dia menginjak dada Ervin dengan sendal di kakinya sambil memperbaiki kacamata dan rambutnya yang berantakan setelah membanting Ervin.
"AAHH.... DEMI TUHAN APA SAJA YANG SEDANG KAU LAKUKAN ROBERT- HUH???"
"MENJAUH EMA!!!."
"APA YANG-."
"Kena kau." Tangan Ervin yang masih bebes bergegas memukul tulang lutut Roberto membuatnya kehilangan keseimbangan.
GEBRUK.
Tubuhnya terjatuh. Dia kehilangan keseimbangan saat mengalihkan perhatian pada istrinya, membuat Ervin memiliki kesempatan untuk menjatuhkannya. Ervin menekan tangan kanan Roberto mengunakan lututnya sedangkan tangan kanannya menekan kepala Roberto di lantai.
"SA-SAYANG!!!," Teriak Ema.
"JANGAN MENDEKAT! EMA CEPAT KELUAR!!!."
"Melangkah sejengkal otaknya akan remuk.
"!!!."
Ema tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Rasa takut bahkan sudah menguasai sekujur tubuhnya. Ema tidak memiliki keinginan untuk meninggalkan suaminya walau hanya sedetikpun saat itu. Ya Tuhan... Apa Yang Harus Kulakukan!, Batin Ema.
Pintu terbuka.
"Hei Ervin... Berapa kali harus aku katakan padamu untuk tidak membawa senjata menyeramkan itu dirumah-Ku...."
Situasi macam apa ini?!!. Asiah yang baru saja kembali dari supermarket mendapati Ayahnya sedang di tindih oleh Ervin yang hanya mengenakan handuk di pinggang, menyodorkan senjata di kepala Ayahnya dan juga melihat ibunya berdiri di depan kamar mandi didalam dapur.
"Kapan kalian da-."
"ASIAH KELUAR!!!," Teriak Roberto.
"ASIAH MENJAUH!!!," Teriak Ema.
"ASIAH KELUAR DARI RUMAH SEKARANG!," teriak Ervin.
Mereka bertiga berteriak secara bersamaan. Dan tentu saja, Asiah tidak menanggapi kedua orang tuanya. Ahh... Sekarang aku mengerti, tidak heran Ervin menembakan senjatanya.
Asiah merapikan rambutnya kasar kebelakang, dia memandang kedua orang tuanya dengan tatapan kesal. "Berapa Kali Aku Harus Bilang Kepada Ayah dan Mama Supaya Menghubungiku Terlebih Dahulu Sebelum Datang Kemari!," Kata Asiah kesal.
"Asiah kamu-."
"Ayah dan Mama?!!."
"Asiah Rosen...."
"Huhh...." Asiah menutup matanya rapat-rapat lalu sambil mengangkat kepalanya keatas seperti sebuah kebiasaan, dia merasa kepalanya tiba-tiba saja pusing melihat situasi saat ini.
__ADS_1