
"Bagaimana?."
"Rahasia."
"Hem?."
"Rahasia apa?." Ema datang dengan nampan berisikan daging panggang berukuran jumbo di tambah hiasan kentang panggang yang mengelilingi daging di pinggirannya. "Rahasia apa sayang?."
Setelah makanan tertata di atas meja mereka berempat duduk saling berhadapan. Tidak ada yang memiliki niat untuk membuka percakapan selama sesi makan dimulai ditambah aura permusuhan dari Roberto masih begitu terasa di sekeliling meja makan.
"Sayang apa kau ingin tambah?,"tanya Ema.
"Tidak, selera makanku bermasalah karena bajingan di depanku," gerutu Roberto.
"Robert—."
"Hemp." Asiah dan Ervin saling melirik satu sama lain.
"Ehm— jadi... Sambil makan mari kita membahas tentang Ervin." Ema menyeka saus dari bibirnya mengunakan serbet, menatap kedua anak muda didepannya dengan tajam.
"Beberapa saat yang lalu kamu mengatakan bahwa kamu adalah seorang pengusaha pakaian dan aksesoris."
"Benar."
Tersenyum.
Ervin tersenyum, dia menangapi perkataan Ema karena merasa bahwa kali ini dia akan mengambil hati salah satu dari mereka. Dia meletakan sendoknya lalu menatap kedua orang tua Asiah.
"Seberapa sukses usahamu." Roberto mulai bertanya untuk menyudutkan Ervin.
"Lumayan sukses."
"Hoo...."
"Ayah, Mama. Dia memiliki bisnis usaha yang sangat sukses aku yakin Ayah dan Mama akan menyukainya."
"Memangnya apa bagusnya pengusaha aksesoris?, Aku lebih suka menantu yang pandai memasak, memiliki restoran sendiri dan mansion mewah," kata Roberto sambil menyeringai kearah Ervin.
"Ayah...."
Diam-diam tangan Ervin menyentuh tangan Asiah di bawah, dia menggenggam tangan itu cukup erat untuk menahan emosinya. Ini pertama kalinya bagi Ervin diremehkan oleh seseorang yang bahkan tidak mengetahui siapa dirinya setelah mengetahui namanya.
"Hahaha...."
__ADS_1
Untungnya Asiah yang baik memabalas genggaman gangan itu, membuat hatinya merasa tenang karena kehangatan dari telapak tangan Asiah.
"Roberto kamu terlalu kasar," tegur Ema.
"Aku memang menyukai menantu Koki dari pada pengusaha, kamu tidak bisa bilang apa tentang itu."
"Maafkan kekasaran suamiku."
"Tidak masalah."
Setelah itu Ema menanyakan tentang beberapa hal pada Ervin, secara profesional Ervin menjawab semua pertanyaan Ema dengan sempurna, tidak ada kesalahan kecil sekalipun dalam kalimatnya membuat Ema terkesima dan mulai tertarik pada pemuda di hadapannya. "Ngomong-ngomong apa aku boleh tahu apa nama merek yang kamu jual."
"Oh." Ervin meletakan gelas minuman di sebelah piring dan menjawab santai. "Itu Merek Aishwa... Saya yakin anda pasti pernah mendengarnya." Ervin tersenyum kearah Roberto sambil mengatakan itu tetapi, dia sedikit heran karena Ema dan Roberto terdiam menatapnya.
Apa mereka sekarang tahu siapa aku. Ervin masih tersenyum membayangkan reaksi terkejut dari orang tua Asiah.
"Hahaha... Yang benar saja, apa kamu ini penipu?," Roberto yang jengkel meletakan sendoknya kasar.
"Kamu tahukan pengedar barang tiruan akan mendapat hukuman berat? Apa kau mau memberi makan putriku dan cucu-cucuku dengan uang haram?!." Tonjolan urat di kepala Roberto terlihat.
"Haram...?."
Kali ini Ervin yang memiliki kerutan kasar didahinya. "Anda bilang perusahaanku tiruan dan haram?," Tanya Ervin sambil tersenyum namun Asiah tahu itu abaikan senyuman ramah.
"Ayah tidak baik mengatakan hal buruk seperti itu... Ervin mengatakan yang sebenarnya kalau dia pemilik perusahaan Aishwa yang terkenal itu!.
"Bukankah selama ini Ayah selalu mengatakan kalau Ayah ingin mengoleksi jam tangan dari mereka itu?," Kata Asiah bersemangat. Dia berusaha untuk menjelaskan kepada Roberto tentang kebenaran di balik identitas Ervin tetapi, tetap saja Ayahnya todak percaya.
Bahkan Ema juga meragukan apa yang dikatakan oleh putrinya sambil berkata. "Asiah... Kamu tidak perlu melindunginya sampai seperti itu, kalau dia salah maka kita harus meluruskannya."
"Tapi aku berkata benar."
"Nak...."
"Kalau begitu begini saja... Bagaimana kalau kita pergi besok Aishwa untuk membuktikan apakah aku berbohong atau tidak."
"Tidak perlu bukti." Roberto menyeka mulutnya setelah selesai menghabiskan makanannya. "Aku tidak mau membuang-buang waktu berhargaku untuk omong kosong kalian berdua."
"...."
Bisakah aku membunuh bajingan ini?, Beraninya dia meremehkanku...! Haruskah kubuat dia mengerti dengan jelas siapa aku ini?. Ervin berhenti berbicara dan beralih mengutuk dalam batinnya. Geram akan sosok Roberto didepannya tetapi tidak bisa melakukan apa-apa untuk membalas hinaan yang di terima.
Setelah perang kata-kata berakhir, Ervin dan Asiah kini berbincang melalui ponsel mereka. Mereka berdua mengirim pesan mengenai jadwal untuk pemeriksaan dan juga jadwal temu kedua orang tuanya. Sebelumnya ketika Ervin akan masuk kekamar Asiah untuk beristirahat tiba-tiba Roberto menarik tubuhnya dan menutup pintu rumah dengan keras tepat di depan wajahnya.
__ADS_1
Dia di usir dengan kasar oleh Roberto yang menunjukan ketidak sukaanya pada Ervin secera terang-terangan. Untungnya Ervin memiliki hari yang besar untuk masalah kali ini sehingga dia mengabaikan perbuatan kasar Roberto padanya. "Hahh.... Sabar... Ini bukan pertama kalinya ada seseorang yang meremehkanku," kata Ervin sambil meremas handuk basah ditangannya.
"Wow... Ada apa ini? Ini pertama kalinya aku melihat wajahmu berkerut seperti itu." Adrian menuangkan anggur kegelas kecil didepan meja. "Apa lagi masalahmu sekarang? Bukankah kamu sudah mendapatkan dia."
"Cih... Masih belum."
"Hem? Kenapa?."
"Ayahnya tidak menyukaiku."
"Puffft—." Adrian menyemburkan cairan berwarna kemerahan dari mulutnya. "Ayahnya tidak menyukaimu?."
"Benar."
"Wh— ... Bagaimana bisa? Mau dilihat darimanapun kamu itu orang yang sempurna dari segala sisi!."
Kecuali kepribadian mengerikanmu itu, batin Adrian, dia tidak mau mengatakan itu didepan Ervin terus terang karena takut akan menerima imbasnya. "Nah... Lupakan sejenak masalah itu, masalah suka atau tidak bisa dibicarakan setelah kalian berdua menikah nantinya jadi jangan terlalu stres Ervin."
".... Ayahnya bukan orang sembarangan."
"Hem?."
"Dia orang yang kuat, penampilannya saja yang terlihat seperti pengecut tetapi—." Ervin masih bisa merasakan tangan keras itu membanting tubuhnya hanya dengan satu gerakan mudah. Dia masih belum melupakan sensasi dibantung diatas meja kaca pagi ini.
"Yo... Tapi kamu lebih hebatkan?."
"...."
"Kan...???."
"Aku tidak tahu yang pasti... Jika Asiah tidak datang tepat waktu pagi itu aku pasti sudah mati."
"W-waw... Aku kehabisan kata-kata." Keduanya diam, larut dalam pemikiran masing-masing sampai Ervin berbicara.
"Adrian cari tahu identitas Roberto Rosen dan kirimkan padaku secepatnya."
"Aku tidak bisa."
"Kenapa?."
"Karena dia akan menjadi Ayah mertuamu makanya kamu sendiri yang harus mencari tahu bagaimanapun caranya." Adrian memberikan alasan klise untuk menghindari permintaan merepotkan Ervin dan juga dia tidak ingin terlibat dalam hal berbahaya dengan irang yang serupa dengan Ervin.
Sejenak Adrian menelan ludahnya lalu melonggrkan dasinya sambil mengamati ekspresi di wajah Ervin. Apa dia akan menerima alasan semacam itu.
__ADS_1
"Hahh..." Ervin menghela nafas. Perkataan Adrian ada benarnya jika aku ingin mendapatkan hati kedua orang tuanya maka aku harus mencari tahu sendiri.