Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 39


__ADS_3

"Hem?."


Asiah mendengar suara yang sangat familiar ketika dia akan segera membuka pintu mobil. Asiah berbalik dan melihat siapa yang memanggilnya. "JEREMI!." Asiah melihat Jeremi yang berlari kearahnya, seperti yang kita ketahui, Jeremi adalah salah satu murid yang di ajar oleh Asiah di Avenir.


"Hem?." Asiah mendengar suara yang sangat familiar ketika dia akan segera membuka pintu mobil sehingga dia langsung berbalik dan melihat siapa yang memanggilnya. "JEREMI!." Asiah melihat Jeremi yang berlari kearahnya, seperti yang kita ketahui, Jeremi adalah salah satu murid yang di ajar oleh Asiah di Avenir.


Jeremi terlihat pucat saat berlari kearahnya, anak kecil itu langsung memeluk Asiah dengan erat ketika Asiah berlutut untuk menyamakan tinggi mereka. "Kamu datang lebih awal?!."


"Sniff... Huaaak... Miss Asiah aku rinduu...."


Jeremi menangis di dalam pelukan Asiah, Asiah yang terkejut akan tangisan Jeremi, lupa  kalau dia harus segera pergi dari kawasan sekolah. "kamu kemari dengan siapa," tanya Asiah yang mengelus punggung muridnya itu.


"Sniff... Aku datang dengan Paman."


"Ah..., lalu, Kenapa kamu menangis?."


"Aku sangat rindu dengan Miss Asiah, aku tidak suka dengan guru yang lain. KENAPA MISS TIDAK MENGAJAR KAMIII...." Tangisan bocah kecil itu semakin kuat dan membuat Asiah panik.


"Shut— shuttt... Berhentilah menangis!," Kata Asiah yang memeluk Jeremi sekali lagi. Asiah menghapus air mata di pipi merah Jeremi dan mengunakan segala macam kata penghibur untuk menenangkannya. Haisss... Aku kurang cepat masuk kedalam mobil, batin Asiah.


Tak berapa lama berlalu, akhirnya Jeremi berhenti menangis. "Apakah kamu sudah tenang?." Asiah melihat wajah Jeremi dan menghapus setiap air matanya yang terjatuh.


"Sudah."


"Kamu sangat pintar, kenapa murid pintar sepertimu harus menangis seperti bayi, padahal sebentar lagi Jeremi  akan segera lulus," kata Asiah. Namun, perkataannya semakin membuat Jeremi menangis.


"AAAAA- aku tidak mau lulus! Aku akan bersama Miss Asiah selamanya," tangis Jeremi.


"Haiisss...." Asiah menyentuh keningnya dan mencium kening Jeremi. "Iya, iya. Aku akan selalu bersama-bersam—"


"Sembarangan saja."


"Hem?." Sekali lagi, Asiah mendengar suara yang sangat familiar. "Anak kecil, kau mengatakan sesuatu yang lucu," ucap Ervin yang muncul dari belakang mobil putih.


"Ka-kamu!." Asiah terkejut seperti baru saja melihat sesuatu yang mengerikan.


Melihat wajah terkejut Asiah tervin tersenyum kecil, "Ah, sepertinya ini pertama kalinya kamu melihat paman dari murid yang paling kamu sayangi," Ervin tersenyum kearah Asiah. Ketampanannya memancarkan cahaya aneh di mata Asiah sampai-sampai membuat matanya silau.

__ADS_1


"Ehem... Eyww."


Asiah menggelengkan kepalanya setelah melihat cahaya ketampanan dari Ervin. Kemudian Asiah melihat Ervin bersandar sambil menyilangkan tangannya di dada. Bajingan ini, dia selalu muncul entah dari mana, dan apa itu? Apa itu Supercar bmw i8?. Asiah melihat kendaraan mewah Ervin dengan tatapan kagum.


"Sepertinya kamu lebih tertarik dengan kendaraanku daripada aku."


"Hemm... Yah begitulah, aku suka warna mobilmu," kata Asiah yangelepaskan tangannya dari Jeremi. "Baiklah Jeremi, karena kamu sudah tenang sekarang, kamu boleh masuk kekelas dan menunggu teman-temanmu."


"Tapi—"


"ASIAH J-LANG SIALAN!!!." Teriak Debora dari dalam pintu gedung.


"..., Bagus. Sekarang dia keluar." Asiah menepuk jidatnya.


"...."


Mendengar teriakan dari jauh membuat Ervin menaikan alisnya dan segera berjalan kearah Asiah, dia bertanya. "Apa yang terjadi?."


"Nahh..., Bukan apa-apa."


"Benarkah?."


"KAU! KAU AKAN MENERIMA AKIBAT DARI PERBUATANMU!!!," Debora berteriak sambil memegang ponsel di tangannya. Dia berteriak seperti orang gila sambil berjalan dengan pakaian yang robek dan luka memar di wajahnya, Asiah berfikir. Perasaan aku tidak merobek bajunya samapu seperti itu. Asiah melihat Mery yang juga ikut mengerjarnya dari belakang, ada ekspresi binggung sekaligus kawatir di wajahnya saat melihat Asiah yang masih belum pergi dari sekolah.


"Kenapa kamu masih belum pergi dari sini!." Sebelumnya, Mery telah menyaksikan bagaiman Debora menyakiti dirinya sendiri di ruang kesehatan.


Mery tidak mengerti apa yang di lakukan oleh Debora pada awalnya akan tetapi dia mulai mengerti setelah Debora menghubungi seseorang sambil menangis dengan keras. Debora juga mengatakan hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang terjadi pada seseorang yang sedang dia hubungi. Perasaan buruk itu semakin besar ketika Debora mulai berlari keluar seperti orang gila. Dia mengejar Asiah!!!.


Dan pada akhirnya Debora berhasil menemukan Asiah yang masih ada di parkiran mobil. Debora sengaja berteriak sangat keras untuk memancing orang-orang di sekitar.


"Aku akan menghancurkannya. Akan kuberi dia pelajaran karena menganggu orang sepertiku!!!" Debora semakin tersenyum lebar saat para penjaga keamanan mulai mendatangi mereka, dia juga semakin tersenyum lebar ketika melihat seseorang di samping Asiah.


Waahh!, Aku tidak menduga ini akan terjadi!, Salah satu selebritis kebetulan ada di sini!, Aku harus terlihat lebih menyedihkan untuk menarik simpatiknya.


"Sniff... Sniff, kamuu... Hikss... Aku akan menuntut dan melaporkanmu pada pihak yang berwajib," kata Debora setelah dia sampai di depan Asiah dan Ervin. Jeremi melihat wanita compang-camping di depannya menjadi khwatir dengan Asiah sehingga dia berdiri di depan Asiah seolah-olah melindunginya.


"Jeremi jangan berada di dekatnya! Dia itu berbahaya," Asiah memberi peringatan pada Jeremi dan melindunginya di balik punggungnya.

__ADS_1


"Apanya yang berbahaya?," Ervin bertanya pada Asiah yang terlihat khwatir. Ervin merasakan ada sesuatu yang berbeda dari Asiah. "Kamu memakai bedak cukup tebal hari in—"


Ervin segara menyentuh wajah Asiah dan menekan ibu jarinya pada mata Asiah. "Apa ini?, Apa yang terjadi pada wajah cantikmu?." Ervin menghapus makeup yang menutupi wajah Asiah dengan kasar.


"Apa kau sakit lagi?!."


Ervin panik, dia bahkan cukup panik samapi-sampai menarik Asiah kedalam pelukannya. "H-HEI! APA YANG KAU LAKUKAN?!, KEPONAKANMU MELIHATMU!."


"Diamlah, aku hanya sedang memastikan suhu tubuhmu saja."


"What???." Asiah panik dan segera mendorong tubuh Ervin dengan kasar ketika Debora yang menyaksikan mereka terdiam diam tidak bergerak dari tempatnya.


"Apa yang baru saja kulihat?," Gumam Debora.


"Kau orang gila, urus saja urusanmu."


"Miss Asiah apa kamu baik-baik saja?."


"Aku baik-baik saja."


"Tidak!. Kau tidak baik-baik saja. Aku akan menghubungi Julius jadi diam di tempatmu," kata Ervin yang segera menghubungi Julius.


"Hei! Jangan menyulitkan— UUGH!!!."


"Kau pikir kemana kamu?."


Debora yang kembali kedunianya kembali marah dan menarik rambut Asiah yang pada saat itu berusaha mengambil ponsel di tangan Ervin.


Asiah berteriak, "KAU SUDAH GILA? Bodoh! Lepaskan Aku!."


Dasar bodoh!, Kau tidak lihat siapa yang ada di depanmu?, Dia bisa membunuhmu kapan saja!. Asiah segera melihat wajah Ervin dan seperti yang dia tebak. Wajah Ervin terlihat murka ketika melihat Debora yang menarik rambut Asiah. "Le-lepaakan tanganmu." Saat mengatakan itu jantung Ervin berdetak cepat dan suaranya bergetar.


DEG DEG DEG...


"Sob-sob... Tidak mau, dia harus menerima pembalasanku hikss...."


"Aku Bilang Lepaskan...!" Keringat dingin jatuh dari tengkuk leher Ervin.

__ADS_1


"TIDAK MAU!, AKU BILANG TIDAK! YA TIDAK MAU!. HIKSS... DIA HARUS MENERIMA HAL YANG SAMA DENGANKU!." Debora menangis dengan sangat dramatis.


__ADS_2