Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 81.


__ADS_3

......🌸🌸🌸......


Satu Bulan Kemudian.


"Ma... Apa Mama masih akan lama lagi berdandannya?."


"Sebentar!."


"Hei kenapa lama sekali, kita sudah hampir terlam- Waww... Putri Ayah cantik sekali," kata Jefry dengan tatapan kagum kearah Asiah yang memang terlihat ekstra cantik hari ini.


"Lupakan basa-basinya... Ayah suruhlah Mama untuk segera menyelesaikan rasanya! Ini sudah hampir dua jam!."


"Tsk, seperti kamu tidak tahu saja seperti apa wanita." Roberto masuk kedalam kamar, melihat istrinya yang masih sibuk dengan makeup tanpa menyadari kehadirannya.


"Sayang." Roberto menyentuh pundak istrinya lalu melihat lewat pantulan cermin. "Jika kamu terlalu lama maka kita akan terlambat!."


Roberto berbisik sangat manis, sehingga istrinya tersenyum lalu berkata ketus. "Diamlah, aku tampil cantik untuk tetap menjaga wajahmu aman didepan umum."


"Wow...."dia tersenyum bangga. "Lagi pula Kamu tidak perlu menjaga wajahku sayang... Dimataku walau kamu sedang mengenakan pakaian bekas Asiah yang sudah tidak muat kamu tetap cantik seperti bidadari." Roberto meletakan dagunya dipundak istrinya lalu menarik lipstik dari tangan Ema.


"Sudah cukup make-upnya, sekarang kita sudah telat."


Mencium.


Sekilas bibir Roberto mengecup bibir merah Ema yang hampir mengerutu karena dia mengambil lipstiknya.


"Ah... Sayang...." Ema merajuk lalu menarik kerah kemeja Roberto untuk memberinya ciuman lagi. Tak tinggal dia Roberto yang sudah terpancing membalas ciuman istrinya dan hampir membuka kembali pakaian mereka jika saja Asiah tidak angkat bicara.


".... Bisa tidak kalian berdua cepat?, Kita sudah hampir terlambat." Asiah yang sejak tadi memperhatikan keromantisan kedua orang tuanya merasa kesal dan muak. "Nanti saja mainnya setelah kita selesai menghadiri acara pernikahan Laura."


"Tsk, dasar tidak seru." Ema melepaskan tanganya dari leher Roberto dan kembali merapikan rambutnya yang sudah berantakan.


"Ayah juga, bukanya berusaha cepat tapi malah membuat semakin lama."


"Ehemm... Asiah kamu tahu sendirikan kalau Ayahmu ini hanya terpan-."


"Sudahlah, nanti saja alasannya, aku tidak bisa berdiri lama-lama." Asiah berjalan lambat sambil memegang pinggangnya. Perutnya yang semakin membesar setelah masuk bulan ke 9 semakin mempersulit dirinya untuk beraktifitas.


Kakinya yang sedikit membengkak juga menjadi alasan bagi Asiah untuk malas berjalan walau hanya sebentar.


Mereka tidak peka sekali, padahal tubuhku sudah seperti diremukan bisa-bisanya mereka bermesraan dihadapanku.


Asiah dengan kesal memakai sepatu putih keluaran terbaru merek terkenal yang dibelikan Ayahnya beberapa hari yang lalu untuk memudahkannya bergerak namun masalahnya saat ini adalah memakainya.

__ADS_1


"Sayang biarkan Ayah membantu." Roberto dengan sabar menanggapi wajah cemberut putrinya lalu memakaikan sepatu di kaki putrinya yang memerah. "Bengkaknya masih ada, apa kamu yakin akan memakai sepatu saja."


"Itu lebih baik, dari pada aku terjatuh karena tersandung."


Setelah selesai memakaikan sepatu Roberto membantu putrinya berjalan menuju mobil sedan hitamnya. "Pakai sabuk pengaman." Dia mendudukkan Asiah di kursi penumpang didekat pengemudi lalu menarik sabuk pengaman.


"Bagaimana dengan Mama?."


Klik.


Sabuk pengaman terpasang.


"Mamamu akan segera turun jadi duduk tenang saja sampai Ayah datang."


"Baiklah." Asiah mengangguk lalu menyaksikan Ayahnya kembali kedalam rumah untuk mengambil barang yang tertinggal sekaligus membawa Ema.


Menatap.


Asiah menatap taman hijau didepan rumahnya. Keluarga Rosen memang selalu terkenal kaya di lingkungan tempat tinggal mereka tak heran kalau rumah yang mereka tinggali cukup besar dan mewah namun bagi Asiah yang sudah melihat kemewahan rumah Milioner yang dulu di tunjukan Ervin padanya Asiah merasa rumah mereka tidaklah sebanding miliknya.


Asiah menganggukan kepalanya lalu bergumam kecil. "Well... Rumah dan menssion itu jauh berbeda."


BZZZT-.


Setelah kejadian hancurnya televisi, Asiah meminta Ayahnya membelikan ponsel baru saat mereka membeli perabot elektronik baru walau awalnya ditolak namun pada akhirnya Roberto membelikan ponsel baru untuk Asiah dengan syarat dia harus mengunakannya dalam pengawasannya.


[ Notifikasi. ]


[ ' Tanggal 29 Oktober hari ini musim gugur akan t-. ]


Asiah tidak mengabaikan notifikasi diponselnya lalu melihat lagi keluar jendela, memang saat ini adalah musim gugur, pepohonan disekitar rumahnya mulai menjatuhkan daun berwarna orange seperti hujan di siang hari.


"Ema Ayo cepat!, Kita sudah terlambat!." Asiah melihat Ayah dan Ibunya bergandengan tangan saat turun perlahan dari anak tangga.


Pasti menyenangkan. Tatapan Asiah berfokus pada tangan Ayah dan Ibunya yang tertutup dan tertawa bahagia saat berlari menuju mobil didepan halaman rumahnya.


Tersenyum.


Dia tersenyum lalu melihat keperutnya, dibawah gaun biru muda berlapis kain tipis berwarna putih sutra, yang menutupi perutnya.


Membuka Pintu.


Klik.

__ADS_1


"Cik... Aku sudah bilang untuk berjalan perlahan, lihatlah! Riasanku jadi berantakan!!!." Ema mengerutu setelah masuk kedalam mobil.


"Nahh... Kita sudah terlambat Ratuku." Roberto masuk kedalam mobil terakhir setelah memasukan barang bawaan kebagasi, kemudian dia meletakan bantal kecil di belakang punggung asiha lalu tersenyum.


"Ayah lupa kalau pinggangmu sakit akhir-akhir ini." Tanganya menyentuh perut Asiah seperti mengisok sebuah balon lalu mencubit pipi putrinya yang cabi.


"AYAH!."


Berat badan Asiah telah memang mengalami kenaikan pesat setelah tinggal bersama Orang tuanya lagi, makanan bergizi yang tidak pernah sempat dia makan di Prancis begitu mudah didapat di rumahnya.


Kadang kala Asiah juga pergi ke restoran ayahnya hanya untuk makan seharian disana, sehingga tanpa sadar berat badannya naik.


"Ulu-ulu... Putriku yang gendut...." Roberto berhenti menggoda Asiah yang melotot, kemudian memasang sabuk pengaman di tubuhnya, tak lupa dia melihat Ema untuk memastikan dia juga memakai sabuk.


"Ema duduk yang benar."


"Iya-iya... Asiah apa riasan Mama sudah bagus?."


"Yah begitulah, Mama sudah sangat Cantik... Mungkin nanti akan mengalahkan Laura."


"AHahaha ... Sudah pasti." Ema mengerikan rambut hitamnya kebelakang lalu mengambil foto.


"Kita berangkat." Mobil sedan hitam mulai berjalan di jalanan yang dijatuhi daun musim gugur menuju hotel BlueMoon tempat di selenggarakannya acara pernikahan.


****


Setibanya di hotel BlueMoon.


"SELAMAT DATANG ROSENN...!, Sangat langka melihat kalian bertiga datang keacara yang sama dua kali.


Sosok pria tua yang seumuran dengan Roberto datang bersama istrinya menyambut tamu-tamu acara pernikahan.


"Apa itu Asiah!." Bibi Asiah yang mengenakan pakaian berwarna biru laut yang sama dengan jas suaminya terlihat terkejut saat melihat Ema dan Asiah bergandengan. "P-putrimu sedang hamil....?" Dia melihat Asiah dengan perut yang membesar dengan tatapan aneh.


"Ini aneh sekali... Aku tidak pernah dengar kalau-!."


"Marta jika kamu memiliki banyak hal untuk dikatakan maka sapalah tamumu yang lain." Roberto melihat adik perempuannya dengan pandangan risih, lalu masuk kedalam bersama keluarganya.


"Abaikan dia Asiah bibimu sebenarnya sudah tahu tapi harus sekali dia menunjukan ekspresi seperti itu." Ema mengerutu kesal.


"Aku jadi tidak menyesal berdandan lebih cantik darinya sekarang."


"Benar sekali, abaikan saja mereka, jika perlu kita bisa kembali-."

__ADS_1


__ADS_2