
"Tsktsktsk... kau seharusnya tidak membuat keputusan yang bodoh, setelah terjerat di jaringku jangan pikir bisa lolos dengan mudah."
".... Hahh... Aku minta maaf soal itu, tapi sungguh! Aku tidak bisa menjadi milikmu."
"Kenapa?." Asiah menutup matanya. "Aku punya trauma, aku tidak bisa memiliki hubungan serius lagi dengan seorang pria karena hal itu."
"Memangnya apa traumamu?."
"...."
Haruskah aku mengatakannya?. Tsk, cepat atau lambat dia juga akan tahu, setelah mengali lebih banyak informasi dariku.
"Hahh... Sebenarnya aku—"
Tanpa ragu, Asiah mengatakan semua masalalunya yang menjadi awal dari trauma yang telah berhasil membuatnya kehilangan kepercayaan pada suatu hubungan terutama hubungan yang menyangkut romantisme dan pernikahan. "Aku sudah mencoba beberapa kali menjalin hubungan dengan pria lain tapi semuanya gagal.
"Aku ketakutan, setiap kali ada yang menggenggam tanganku rasanya selalu ingin muntah dan pada akhirnya hubungan itu berkahir terus menerus sampai akhirnya aku lelah akan semuanya, memilih untuk membuang keinginan untuk menjalin asmara dan berumah tangga dengan seseorang." Asiah melihat ekspresi wajah Ervin.
Diluar ekspetasinya Ervin hanya diam mendengarkan tanpa ada niat untuk menyela. "Hemm.... Setelah mendengar ceritamu nampaknya kau memang tidak memiliki keberuntungan dalam memilih pasangan yang baik...."
"Yah begitulah," Asiah mengangukan kepalanya. "Memiliki anak dari seseorang hanyalah pelarian untukku, karena Ibu dan Ayahku mengharapkan suapaya aku menikah tahun ini.
"Maaf karena memanfaatkanmu. Aku juga memilihmu hari itu karena Erika bilang kamu orang yang tepat, kamu tidak akan memperdulikan siapapun yang tidur denganmu itulah yang mereka katakan padaku tapi inilah hasilnya, kamu ada di depanku sekarang." Semuanya dia katakan memalui mulut kecilnya itu, Asiah jujur menyesali perbuatan jahatnya karena ego yang di biarkan menguasai dirinya.
"Hahh.... Yah, memang benar kalau aku tidak perduli dengan siapapun yang bercinta denganku tapi itu dulu, salahkan dirimu karena telah menarik perhatianku."
Asiah kesal setiap kali Ervin berbicara begitu tenang. "Berbicara tentang itu, memangnya apa yang membuatmu tertarik denganku?. Aku tidak merasa ada sesuatu yang istimewa dariku?."
".... Kalau orang lain mendengar itu mereka akan kesal dan memukulimu."
"Kenapa?."
"Ah- sudalah, kau tidak akan mengerti."
"Hem???."
"Aku sudah tidak bercinta lagi dengan wanita lain akhir-akhir ini."
"Aku tidak tanya itu."
"Dengarkan aku baik-baik j-lang kecilku."
"...."
__ADS_1
"Huhh... Sejak dulu, aku tidur dengan wanita lain hanya karena hasrat seksualku saja, aku tidak pernah memiliki perasaan khusus sebelumnya pada seseorang.
"Dulu aku memang membunuh wanita yang mengandung anakku, tapi itu dulu, karena aku masih muda dan lagi wanita itu benar-benar membuatku habis kesabaran.
"Aku sudah bilang untuk mengugurkan anak itu tapi dia bersikeras untuk memilikinya, yang lebih parahnya lagi dia menyebarkan isu yang bisa menghancurkan nama baik keluargaku di media sosial.
"Kamu tahu sendirikan keluargaku adalah orang terpandang."
"Apa hanya karena itu kamu membunuh darah dagingnya sendiri?."
"Soal itu aku akan jelaskan .... Aku yakin kamu tahu sebagian ceritanya dari Julius tapi semua itu hanya sebagian kecil saja yang kau dengar darinya."
Tuk...tuk...tuk.
Ervin mengetuk kuku jarinya di atas meja.
"Anak yang dikandung wanita itu bukan milikku."
"Huhh...??? Bukan milikmu?."
"Terkejutkan."
"Tapi tapi— kau bilang anak...mu."
"Pffft... Kamu dan wanita itu mirip, kalian berdua melakukan hal yang sama.
"Wanita itu melakukan kesalahan besar, aku memang sudah jatuh hati padanya tapi sayangnya dia terlalu rakus pada ambisinya sehingga dan membuatku marah." sekali lagi Ervin mengalihkan pandangannya pada wajah Asiah.
Sebenarnya apa maksud maniak ini???, bukan anaknya?, jatuh cinta?, dia???. Asiah mulai kebingungan dengan Ervin yang mulai membagi informasi tentang dirinya di masalalu.
Inilah sebabnya aku harus mendengar semua cerita dari kedua belah pihak.... Eh??? Tunggu dulu! Perlukah aku merekam ini ju— ah~ aku sedang tidak memegang ponsel ataupun alat perekam. Asiah memutuskan untuk mendengar semua isi cerita Ervin.
"Apa yang terjadi?." Ervin tersenyum saat mengetahui Asiah tertarik dengan cerita masalalunya. "Wanita itu memang sempat mengandung anakku tetapi menggugurkannya."
"Mengugurkan? Yang benar yang mana? Tadi bukan anakmu sekarang anakmu? Yang benar yang mana?.
"Kali ini berbeda...."
"Apa dia mengandung anakmu sungguhan?."
"Benar, aku tahu itu dari informan yang kutugaskan untuk mengawasinya, kemudian kau tahu apa yang dia lakukan selanjutnya?," Ervin duduk di sebalah Asiah dan mengambil ujung rambutnya.
"Setelah mengugurkan anakku j-lang itu pergi menemui seorang pria yang saat itu memiliki bisnis dan pengaruh yang tidak kalah jauh dariku." tatapan Ervin begitu dingin saat mengingat bayangan masalalunya.
__ADS_1
"Hahaha... Aku tahu semuanya tapi memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa dan juga rasa yang ada sudah menghilang begitu saja setelah aku tahu maksud dari wanita itu.
"Pffft- Ahaha... Aku masih mengingat bagaimana wanita itu datang padaku, ketika semua rencananya tidak berjalan baik dengan musuh Bisnisku itu. Dia datang dengan bayi di dalam perutnya dan mengaku kalau itu adalah bayiku- hahahah.... Lucu sekali bukan?."
"...."
Ahh~ dia sudah gila mereka tidak waras. Asiah melihat Ervin tertawa seolah-olah semua hal yang terjadi padanya hanyalah sebuah lelucon semata. "Wanita itu berteriak-teriak di dalam kantorku mengatakan bahwa bayi yang ada di dalam rahimnya adalah miliku di depan semua eksekutifku.
"Karena ulahnya sahamku mengalami penurunan drastis dan itu membuatku sangat marah sehingga aku memanggil Julius dan melakukan beberapa pembuktian, bajingan itu pasti tidak mengatakan tentang bagian inikan?."
"Eg- iya...."
Ervin tersenyum sambil menyeka pipi lembut Asiah dan terus berbicara. "Kemudian tak lama setelah itu kejadian serupa datang." Ervin masih mengingat jelas malam pertemuan dirinya bersama Asiah di dalam klub malam.
Ingatannya terputar kembali seperti video lama yang penuh dengan kenangan manis.
"Siapa wanita itu?."
Pada malam itu, pandangan matanya hanya tertuju pada satu wanita di ruangan remang dan ramai itu. Dia cantik sekali. Sejak pertama kali matanya bertemu dengan Asiah jantungnya selalu berdetak lebih cepat dari biasanya. Ervin selalu mengingat saat tangannya menyentuh Asiah untuk memastikan bahwa riasan yang dia kenakan.
Cantik sekali, kulitnya bahkan lebih lembut dari yang aku bayangkan. Tatapan mata dari wanita didepannya membuatnya tidak bisa berpaling sedikitpun, penolakan yang diberikan Asiah hanya semakin membuatnya penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang wanita di depannya itu.
Lihat aku, kenapa kau memalingkan wajahmu ke layar ponselmu. Apa pesan di ponselmu lebih penting dariku yang—. Ervin teridiam. Di lihatnya wanita cantik itu mengalihkan pandangannya kerarahnya kemudian menatap matanya.
Deg Deg Deg.
Jantungnya berdebar.
Ahh~ jangan melihatku seperti itu, akukan jadi tidak tahan.
Mencium.
"Hemm!!!."
Malam itu, untuk pertama kalinya Ervin merasakan yang namanya terkejut setelah sekian lama hidup dalam kebosanan. Wanita yang tadinya menolaknya tiba-tiba saja membalas ciumanya. Apa ini?. Sepertinya dia masih belum tahu caranya berciuman dengan benar.
"Uugh—"
"Ughh."
Tersenyum.
Ervin mengigit kecil bibir Asiah dan mengeratkan pelukannya di pinggang ramping Asiah. Remasan kecil yang diberikan Asiah di rambut Ervin hanya membuatnya semakin terangsang.
__ADS_1
"Ayo kita pindah tempat lain," kata Ervin yang jemarinya perlahan turun menuju paha Asiah dan perlahan masuk kedalam menyentuh area sensitif Asiah.
".... Jika tempat itu berkualitas maka ayo pergi sekarang."