
***
"Ada dimana anakmu?."
"Robert dengarkan aku dulu, kita bisa selesaikan ini secara kekeluargaan."
"Keluarga?, Kupikir tidak." Roberto yang sejak tadi tersulut emosi mendatangi kediaman adiknya yang telah di kepung dari segala sisi oleh teman-teman lamanya.
Mereka tidak bergerak selangkah pun dari garis halaman sampai mantan pemimpin mereka tiba untuk membuat keputusan akhir.
"Robert ingatlah kita masih keluarga! Tidak bisakah kamu mengabaikan masalah putriku kali ini saja!."
"Jika hal yang sama terjadi pada putrimu dan Asiah adalah pelaku utama apa kau akan mengabaikannya juga?."
"T-tentu saja! Soalnya dia adalah keluargaku juga."
Roberto mengangguk. "Kamu benar, tapi kamu dan aku berbeda, aku tidak berbelas kasih dengan mereka yang menyakiti putri dan calon cucuku." Roberto berjalan melewati adiknya, masuk kedalam rumah mewah yang terlihat lebih mewah dari rumahnya.
"Baiklah Saniah, dimana putrimu, ini akan segera selesai setelah aku meledakan kepalanya."
"K-kakak Robert! Tolong ampuni putriku!." Istri adik laki-lakinya telah berlutut di lantai sejak tadi sebelum Roberto Rosen datang, sambil memohon dia menitihkan air mata.
"Aku... Hikss... Aku minta maaf ats-."
"Cukup basa basinya bawakan saja putrimu itu kehadapanku."
"Rober-."
BANGBANGBANG...
Peluru panas melayang di udara dan menghancurkan langit-langit rumah.
"Sekali lagi aku bertanya ada dimana putrimu?." Kali ini dia bertanya dengan nada ramah.
Gemetar.
"Hikss...."
"Tidak mau jawab." Senjata api di tangan Roberto di arahkan langsung kekening Saniah. "KYAAAA!."
"ROBERTO ROSEN!!!!."
"Jangan meninggikan suaramu adik... Katakan saja dimana putrimu dan semuanya selesai."
"K-kau pikir aku akan mengatakannya, lebih baik kau bunuh aku dari pada istri dan putriku!."
"Oh tidak-tidak... Aku tidak akan membunuhmu, aku ini pria dengan prinsip, aku tidak membunuh target yang tidak bersalah."
"Kekeke...."
"Ketua memang seperti itu."
"Ya ampun... Dia masih belum berubah." Teman-teman Roberto yang berjaga di belakang tertawa mendengar perkataan mantan pemimpin mereka yang masih belum berubah.
"Cepat katakan dimana dia."
"Dia tidak ada disini."
"Hem? Kau ingin aku percaya itu?."
__ADS_1
"Aku sudah menyuruhnya keluar dari kota ini dengan bantuan beberapa orang, jadi carilah sampai ke ujung dunia." Adik Roberto tersenyum mengejek padanya. "Persetan denganmu, aku punya caraku sendiri untuk menyelamatkan keluargaku."
"Oh... Kalau begitu ini akan menarik, tapi ketahuilah adik kecilku, setelah aku menemukannya dia akan kukembalikan padamu dalam keadaan terpisah-pisah." Roberto membalas senyuman adiknya lalu melangkah keluar bersama teman-temannya.
"Yo... Apa kamu akan mengabaikan adikmu kali ini?, Ini tidak seperti dia berhenti untuk menyentuh keluargamu."
"Nahh... Soal itu sudah di urus, keluarga istriku tidak akan tinggal diam lagi soal ini, kalian lihatkan tadi, istriku sudah seperti penjahat saja di acara pernikahan itu."
"Apa masalah ini akan diserahkan pada pihak istrimu."
"Mungkin, istriku menghubungiku sebelum sampai kemari dia bilang."
[ "Kamu tidak berguna, Ayahku akan mengirim orang yang lebih baik untuk mengurus bajingan itu jadi biarkan mereka yang mengurus semuanya." ]
"Begitulah katanya."
"Woww... Nyonya Rosen sangat mengerikan saat marah."
"Itulah yang terjadi jika mereka macam-macam."
"Lalu bagaimana dengan pihak organisasi keluargamu yang tersisa, mau tidak akan menangani merekakan?."
"Aku sudah berhenti dari dunia itu, lagi pula bukan hanya Berny yang menginginkan bisnis ini, masih ada adik laki-lakiku yang lain."
"Yang di Swiss itu?."
"Yap, mungkin dia akan sangat senang menerima hadiah ini."
"Lalu bagaimana dengan adikmu ini?."
"Entalah, salahnya sendiri membesarkan anak tidak berotak seperti itu." Roberto melihat kearah teman-temannya saat sebuah cahaya putih kecil perlahan terlihat dari barat.
"...."
"Dari yang kudengar wanita hamil itu memiliki resiko kematian yang paling besar saat mendapat insiden."
"Aku juga dengar itu di berita."
"Istriku juga bilang begitu saat aku bercerita dirumah tadi, dia harap Asiahmu baik-baik saja."
"Terima kasih untuk kekawatirannya, Kalian pulanglah dan... Aku sekali lagi berterima kasih untuk hari ini."
"Nahh... Sudah lama tidak berkumpul jadi aku tidak begitu repot."
"Yah melihat mantan ketua ini marah sedikit membuatku bersemangat untuk melihat kegilaannya."
"Asiah adalah keponakan kami jadi masalahnya adalah masalah kami juga." Pria berjanggut panjang berjalan masuk kedalam mobil sportnya sambil melambai.
"Aku pulang dulu."
"Kami juga akan ikut mencari keberadaan putri adikmu itu."
Mengangguk.
"Yah."
"Kalau begitu kamu kembali duluan, sampaikan salamku pada istrimu." Setelah itu ketiga lainnya masuk kedalam satu mobil lalu bergerak menjauh dari lingkungan keluarga Rosen.
"Aku akan sampaikan," katanya pelan.
__ADS_1
Datang.
Mobil putih bergaya klasik masuk kepekarangan rumah setelah teman-reman Roberto pergi.
Membuka pintu.
Supir yang keluar membukakan pintu sebelah kanan untuk sosok pria yang tidak asing di penglihatan Roberto.
"Kamu seperti penguntit Jefry Kyros Alvaro."
"Hehehe... Sangat sulit untuk berbicara denganmu secara pribadi jadi aku memutuskan ...." Jefry membuka topinya lalu melihat wajah Roberto yang mengeras karena kesal. "Untuk mendatangimu secara langsung dan berbicara prihal beberapa hal."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan diantar kita." Roberto mengambil sebatang rokok dari saku lalu menyalakan sumbunya. "Fyuhh... Kamu tidak berkualifikasi untuk berbicara denganku."
"Tapi sekarang kamu berbicara denganku."
"... Enyalah."
"Itu akan sulit, aku kemari benar-benar hanya untuk berbicara denganmu."
"Berbicara denganku?, Maksudmu berbicara denganmu yang membawa lusinan anak buahmu?." Roberto memperhatikan setiap wajah dari bodyguard yang di bawa Jefry.
"Apa mereka pasukan yang di latih khusus oleh Rusia?."
"Kamu benar, mereka di latih khusus untuk menjadi penjaga yang hebat."
Mendengar itu Roberto menyeringai.
"Mereka terlihat seperti daging segar untukku, jika kamu memerintahkan mereka untuk menyerangku."
"Well... Roberto Rosen yang terkenal hebat tidak mungkin akan menjadi pecundang di hadapan generasi mudakan?," Katanya sedikit bercanda.
"Untuk apa kamu membawa mereka kemari?."
"Ini semua demi keamanan karena orang yang akan kuajak bicara lebih berbahaya dari putraku jadi aku harus waspada."
"Ahhh... Betapa terhormatnya."
Ketika salah satu penjaga Jefry mengangkat senjata di balik jasnya Jefry langsung menghentikannya. "Tahan, kita kemari bukan untuk saling dibunuh."
"Saya minta maaf Boss Besar." Bodyguard itu merasa malu dan menundukan kepalanya lalu mundur kebarisan belakang.
"Boss Besar huh, julukan yang masih belum berubah."
"Lalu bagaimana denganmu?, Apa kamu masih mengunakan julukan-."
"Aku sudah tidak bermain dengan hal-hal semacam itu sejak putriku lahir jadi jangan mengatakannya itu membawa sial."
"Hoho... Ngomong-ngomong apa putrimu baik-baik saja?."
"Tutup mulutmu."
"Ayolah jangan begitu, lagi pula sebentar lagi kita akan berbesan."
"Dalam mimpimu, sampai matipun aku tidak akan menerima bajingan sialmu itu."
"Kenapa?, Putraku baik-baik saja."
"Putramu bukan manusia normal."
__ADS_1
"Yah... Kamu benar, saat membuatnya aku lupa memasukan hati nurani dan sedikit kecerdasan didalamnya...." Jefry mengangguk makluk tapi segera memberi isyarat pada bawahannya melalui jari di belakang punggungnya untuk bersiap kalau-kalau Roberto mengamuk.