Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 023.


__ADS_3

Ervin menatap jijik kearah wanita-wanita muda yang mencoba untuk mendekatinya dari belakang orang tuannya. Uung.... Lihatlah semua bedak di wajah orang-orang ini... Mereka membuatku jijik.


"Ervin kenapa di belakang? Ayo maju dan berdiri di samping ibu,"kata Janet pelan dan penuh kasih sayang.


"Aku tidak mau."


"Kenapa?."


"Memang sedang tidak mau."


"...."


"Sudahlah Janet, dia tidak akan mendengarkanmu," kata Jefry yang menghibur istrinya.


"Sudahlah ibu, biarkan saja dia seperti itu. Lagi pula hari ini adalah hari spesial ibu jadi jangan murung begitu," hibur Angela.


"Baiklah." Janet tersenyum dan mengalihkan pandangannya pada para tamu undangan.


"Pertama-tama aku ingin mengucapkan terima kasih pada para tamu undangan yang hadir di acara ulang tahunku yang ke Lima Puluh Tiga Tahun hari ini."


Janet mengucapkan kata-kata ucapan syukur dan terima kasih pada tamu undangan. Dia menangis karena bahagia dan menceritakan bagaimana pertemuannya dengan suaminya adalah saat-saat paling bahagia baginya kemudian kelahiran anak-anaknya telah menyempurnakan kebahagiaan itu.


"Aku bahkan telah menjadi nenek dari cucu yang sangat tampan dan tak lama lagi cucu keduaku akan segera lahir," kata Janet yang menunjuk Angela yang tengah mengandung.


"Seandainya saja putraku sudah menikah sekarang maka aku mungkin akan mengendong banyak cucu sekarang."


Janet terlihat kesal saat membahas tentang Ervin. "Hahh... Bahasan ini lagi, setiap tahun pasti itu saja yang di bahas," gerutu Ervin.


"Baiklah Tampa basa-basi lagi mari kita mulai acara perayaan ulang tahunnya!," Janet berteriak dengan penuh semangat.


Mereka melaksanakan acara dengan penuh suka cita. Alunan musik dan pasangan yang menari di atas rumput hijau membuat suasana terlihat romantis. Akan tetapi sejak tadi hanya satu orang yang benar-benar tidak menunjukan antusiasi di tempat itu.


Setelah acara potong kue selesai, Ervin sudah menjauh dari keluarganya, duduk sendirian di pojok air mancur. Dia terlihat sedang memainkan ponselnya dengan wajah serius.


"Apa yang di lakukan bedebah itu? Apa dia tidak mengingat apa yang aku katakan tadi siang?," Ervin memberikan pesan spam pada Julius yang berada di rumah sakit.


Padahal saat ini Julius dan Asiah sedang sibuk mejelek-jelekan Ervin di rumah sakit. Walau kesal dengan pesan yang belum di balas Ervin masih belum meninggalkan tempatnya karena belum memberikan hadiah untuk ibunya.


Di saat dia akan berdiri tiba-tiba wanita dengan dress putih menghampiri Ervin. Wanita itu melihat Ervin dengan senyuman yang manis. "Tuan Muda, apakah harimu menyenangkan?." Suara wanita di depan Ervin terdengar sangat merdu seperti sedang menyanyikan lagu penghantar tidur.


"Apa urusanmu?."

__ADS_1


"Eh?."


"Kenapa kau ingin tahu apa yang terjadi pada hariku?." Ervin mengalihkan pandanganya dari wanita di depannya dan melihat ponselnya lagi.


"Ah! Ahaha... Sepertinya saya tidak sopan karena bertanya seperti itu.


"Saya akan memperkenalkan diri saya terlebih dahulu. Perkenalkan saya adalah Olivia LaRuorin." Olivia menjulurkan lengan putih cantiknya ke arah Ervin.


"...."


"...."


Ervin hanya melihat tangan Olivia tanpa memiliki minat untuk menjabat tangan Olivia.


"Apakah Tuan Muda tidak akan-"


"Berapa umurmu?."


"Maaf?."


"Apa kau tuli? Aku tanya berapa umurmu?."


"Dua Puluh Empat?."


"Uug???."


Olivia binggung dengan sikap pria di depannya pasalnya, Ervin tidak bertindak seperti yang di harapkan. Olivia mengepalkan tangannya ketika dia berfikir bahwa mendapatkan hati Ervin tidak semudah yang pikirkan.


Olivia menjilat bibirnya lembut dan menyeka rambutnya kebelakang. Dia masih melihat Ervin yang sibuk dengan ponselnya. Olivia tidak kehabisan ide, dia duduk di sebelah Ervin yang sibuk dengan ponselnya perlahan jemari lentik Olivia menyentuh jari-jari jenjang Ervin.


"...?"


"Tuan Muda. Apakah anda sibuk malam ini?."


"Nak. Moodku sedang tidak baik saat ini, jika kau terus bersikeras seperti ini maka aku akan memukulmu keras nanti."


"AWW.... Apakah begitu?."


"...."


Olivia tidak menganggap serius apa yang dikatakan Ervin dan semakin menggoda Ervin dengan perlahan menyentuh paha kiri Ervin.

__ADS_1


"Hahaha."


Ervin tertawa hambar. Dia mengalihkan perhatiannya dari ponsel dan melihat keatas langit gelap yang di penuhi oleh bintang-bintang. Pembulu darah di kepalanya mengeras ketika dia tersenyum sinis, dia menyentuh cincin silver di jari telunjuknya.


Setiap kali Ervin kesal akan sesuatu, dia akan memutar-mutar cincin di jari telunjuknya itu. Aku ingin memukul wajahnya sekarang tapi terlalu banyak orang disini. Ibu akan malu kalau aku berulah di acara ulang tahunnya sekarang. Ervin memutuskan untuk menahan diri dan menepis tangan Olivia dengan kasar.


"Awt-!." Olivia meringis kesakitan setelah tangannya di tepis Ervin dengan kasarnya. Bukanya takut malahan Olivia semakin agresif untuk menaklukan Ervin, dia memanfaatkan situasi yang sepih untuk terus menggoda Ervin.


"Daddy, kamu sangat kasar. Apa kamu juga sekasar ini saat di atas ranjang?." Olivia menjilat bibirnya penuh nafsu, penolakan yang di lakukan Ervin ternyata membangkitkan gairah dalam diri Olivia yang tidak pernah di tolak oleh pria manapun sebelumnya.


"Hahh ... Gadis kecil sepertimu ini seharusnya bertingkah sesuai dengan umurmu. Sekali lagi aku katakan, menjauhlah sebelum aku memukulmu," kecam Ervin sekali lagi.


"Tipe yang kasar rupanya. Daddy cobalah untuk bermain denganku malam ini dan aku akan memuaskanmu, aku cukup hebat di atas ranjang jika kau memberiku kesempatan."


Olivia mendekati Ervin sekali lagi dan membelai lembut celana bagian tengah Ervin.


Olivia bahkan cukup berani untuk menyentuh dada kekar Ervin dengan sensual. "Ssstt... Apakah anda masih tidak tertarik denganku?."


"...."


Ervin melihat Olivia, dia mengangkat tangannya dan membelai wajah Olivia perlahan, membuat Olivia menutup matanya ketika dia menikmati sensasi dingin tangan Ervin namun kesan lembut itu tak bertahan lama ketika Ervin menekan jarinya di area pipih Olivia. "AAAW! Apa yang anda laku—"


"...."


Ervin masih memiliki ekspresi datar di wajahnya. "Lebih sedikit dari yang aku kira. Melihat dari berapa banyak bedak yang kamu gunakan aku pikir aslinya akan terlihat cantik secara natural," kata Ervin.


"Hah?."


Olivia mundur selangkah dari Ervin sambil menyentuh pipinya yang kesakitan, dia melihat Ervin yang masih melihat jari-jarinya yang memutih. "Apa yang kamu lakukan?."


"Umurmu Dua Puluh Empat kan?."


"Yah???."


"...."


Lebih mudah satu tahun dari Asiah namun kenapa, sifat Asiah terlihat lebih dewasa dari pada gadis ini padahal umur mereka hanya berbeda satu tahun?. Di bandingkan dengan Asiah, gadis ini lebih cantik namun dia tipe j*Lang yang akan menjual dirinya pada siapapun untuk keuntungannya.


"Hemmm... Normalnya aku mungkin akan membawamu ketempatku. Tapi— Nahh... Aku sudah tidak berselera la—"


KLING.

__ADS_1


Bunyi pesan masuk mengalihkan pandangan Ervin secepat kilat, dia memalingkan wajah dari Olivia dan kembali duduk di pinggiran kolam air mancur untuk membaca sebuah pesan singkat.


__ADS_2