
Matanya terus tertuju pada layar ponsel dan tidak memperhatikan sekitar.
KLING.
"!!!"
Ervin membaca pesan secepat kilat.
[ Asiah Rosen.
' Aku baik-baik saja, tidak perlu bertanya banyak hal. ' ]
"...."
Ervin menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan kakinya mengertak seirama karena kegirangan melihat pesan singkat Asiah. Ervin begitu bersemangat dan membalas pesan Asiah dengan cepat.
[ 'Kenapa lama sekali membalas pesanku? Apa kau yakin sudah baik-baik saja?. ' ]
Setelah mengirim pesan Ervin menunggu balasan. Ervin belum pernah merasakan sensasi ini sebelumnya, dia tidak pernah tahu bahwa membalas pesan dari seseorang begitu menyenangkan, tak berapa lama menunggu balasan pesan akhirnya datang.
KLING.
"...!"
[ Asiah Rosen.
' Bukan urusan anda, tolong jangan bertanya lagi, saya akan segera beristirahat sekarang. ' ]
Di tempat lain.
Asiah memandangi ponselnya ketika dia sedang memasak makanan. Bunyi pesan yang sejak tadi masuk membuatnya jengkel dan segera membalas. Awalnya dia hanya membalas satu pesan namun pesan-oesan lainnya datang setelahnya. Isi semua pesan Ervin hanyalah pertanyaan-pertanyaan kekawatiran yang membuat Asiah jengkel.
Dia pria yang banyak bertanya. Asiah menonaktifkan ponselnya dan kembali fokus pada masakannya. "Sebentar lagi kita akan makannn...," Kata Asiah yang menghidangkan makanan di atas meja, dia melahap makanannya dengan nikmat tanpa ada gangguan dari suara notifikasi.
Di tempat lainnya.
"Kenapa dia tidak membalas pesanku lagi? Apa ponselnya rusak?" Gumam Ervin.
Ervin mengetik banyak pesan namun tidak ada tanda-tanda di baca atau di balas. Yang datang hanya pesan dari seseorang yang tidak Ervin harapkan.
[ Tidak penting 1.
' Ervin dari tadi ibu menghubungi posnelmu tapi tidak ada jawaban, Ibu memaksaku untuk menghubungimu tapi pangilan dariku bahkan tidak kau angkat, CEPAT JAWAB PANGGILAN IBU SEKARANG!!!. ']
"Tsk. Beraninya Lacur ini menghubungiku, aku sudah menganti nomorku tapi tetap saja dia bisa menghubungiku." Mood Ervin kembali memburuk setelah menerima pesan dari Angela kakaknya.
__ADS_1
"Untuk itu kami telah menyiapkan-"
"Tahan!."
"Huh?."
Semua orang melihat Ervin.
"Kita bahas lain kali saja, aku ada urusan. Untuk diskusi selanjutnya kalian bisa membahasnya dengan Fania," kata Ervin yang berdiri dari bangkunya di ikuti oleh beberapa orang yang menunduk kearah dia pergi.
Setelah memastikan Ervin keluar dari pintu, mereka semua bernafas dengan legah. Beberapa di antara mereka mengelus dada mereka karena bersyukur Ervin tidak menghancurkan barang-barang.
"Huhh ... Aku bersyukur karena tidak ada yang pecah hari ini."
"Benar, ini sudah hampir seminggu sejak terakhir kali bos besar mengamuk."
"Aku juga kepikiran seperti itu, Bos besar biasanya tidak tersenyum ketika berada di persusaan tapi hari ini aku melihat senyumannya yang sangat langkah itu!."
"Bukannya biasanya bos besar tersenyum pada sekretaris Fania?."
Mereka semua melihat sekretaris yang sedang membersikan meja Ervin. "Uung, beliau memang sering tersenyum padaku tapi... Senyuman yang dia berikan padaku sangat berbeda dengan yang kalian lihat itu."
"Anda juga melihatnya!!!."
"Tentu saja aku melihatnya, untungnya aku masih cukup rasional untuk tidak menjatuhkan dokumen di tanganku." Sekretaris Fania mengaruk lehernya, dia juga kebingungan dengan Ervin.
"Apa?." Semua orang mendengarkan pendapat seorang manager yang tempat duduk paling dekat dengan Ervin. "Saya melihat Bos Besar tersenyum setiap kali dia melihat ponselnya, apakah menurut kalian Bos besar saat ini sedang menerima pesan dari-"
Keheningan Sejenak.
"JANGAN BILANG!"
Mereka telah mendapat gambaran tentang perubahan sikap Ervin. "Aku yakin Super Model Olivia yang telah merubah sikap Bos Besar Kita!!!." Anggota dari berbagai tim mengangguk setuju dengan pendapat tersebut. Mereka begitu bersemangat menantikan perubahan-perubahan baik yang akan segera mereka lihat dari Ervin.
***
BRUMM...
Mobil Hitam melaju cepat di jalanan yang sepih. Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi menuju sebuah wilayah di balik perbukitan yang tak jauh dari perkotaan. Hanya membutuhkan waktu Setengah jam bagi mobil sport itu untuk sampai ke lokasi yang dia tuju.
Sesampainya di lokasi, Mansion mewah yang di dominasi cat warna putih dan atap berwarna biru memantulkan pemandangan yang begitu mewah, taman besar yang di tumbuhi pepohonan-pohon kecil yang berjajar di sepanjang jalan terlihat seperti sedang menyambut siapapun yang masuk kedalam kawasan mansion.
Pagar besi yang otomatis yang memisahkan antara Taman dan Mansion terbuka setelah selesai mengidentifikasi mobil mewah tersebut. Para pelayan langsung berjejer di halaman Mansion untuk menyambut kedatangan seseorang yang mengendarai mobil mewah tersebut.
Sesampainya mobil mewah di depan teras, para pelayan membungkuk dan berjalan untuk membukakan pintu. Pintu di bukakan dan sosok pria tampan dengan pakaian kasualnya menggoda setiap mata memandang. Para pelayan yang sudah terlatih secara profesional menyambut kedatangan sosok Tuan Muda keluarga Alvaro dengan begitu hormat. Mereka mengikuti jalan Tuan Muda mereka dari belakang tanpa bersuara sampai menuju ruang utama mansion, mereka berhenti berjalan tepat setelah Tuan Muda mereka melewati pintu besar berwarna keemasan.
__ADS_1
Pintu segera di tutup. Ruangan mewah bergaya abad pertengahan langsung menyejukkan pandangan setiap orang yang masuk kedalamnya namun pria itu tidak terlihat memperdulikan semua kemewahan itu. Begitu masuk kedalam ruangan pandanganya langsung tertuju pada empat orang yang duduk di sofa, mereka terlihat sedang melakukan perbincangan dengan serius.
"Ini dia, topik pembicaraan kita sudah tiba pad akhirnya," ucap Jefry yang bersandar di sofa tunggal.
"...."
"Sayang, kamu sudah datang! Duduklah di samping ibu."
"...."
"Kenapa kau datang sangat lama? Apa mobil tuamu sudah kehilangan kecepatannya?."
"...."
"Angela tidak baik berbicara seperti itu, Ervin pasti sangat lelah karena harus datang kemari setelah selesai bekerja."
"Hemp, Lelah apanya, yang bekerjakan hanya anggotanya saja," gerutu Angela.
Ervin tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh saudarinya, dia duduk dan bersandar di sofa dan menyilangkan kakinya.
"Jadi... Apa yang ingin kalian katakan padaku?," tanya Ervin terus terang.
"...."
Untuk beberapa saat mereka terdiam. Sampai akhirnya pria tertua di rumah itu membuka mulutnya. "Ervin, ibumu mengatakan padaku kalau kamu tidak mengangkat pangilannya apa itu benar?."
"Apa karena itu kalian memanggilku kemari?."
"Bukan itu jawaban yang ingin aku dengar darimu, jawab saja pertanyaanku."
"...."
"Ervin, ibu hanya khwatir saja denganmu makanya ibu memanggil ke mansion dan bukan rumah, sudah hampir tiga hari kamu tidak mengangkat telefon ibu.
"Ibu sangat khwatir kalau terjadi sesuatu padamu," kata Janet yang menunjukan kecemasannya.
"Hahh... Seperti kalian tidak tahu aku saja, Ibu sudah kukatakan berulang kali kalau aku tidak akan kenapa-napa."
"Tapi ini sudah-"
"Aku baik-baik saja ibu."
"Jangan memotong ucapan ibumu." Jefry datang dari pintu taman dengan sebilah pisau tajam digenggamannya yang berlumpur.
Meski melihat Ayahnya memegang senjata tajam Ervin tidak merasakan ketakutan atau kecemasan sedikitpun malahan dia menatang balik sipemilik suara,"Jangan mengaturku pria tua."
__ADS_1
"...."
Jefry terdiam, kepalanya mengeras mendengar perkataan kasar putranya barusan. "Bajingan kecil ini...!!!"