
...🌸🌸🌸...
Di sebuah mansion mewah.
"Ibu, aku pulang." Angela datang ke mansion uatam dengan membawa banyak tas belanja di tangannya. Dia segera menghampiri ibunya yang saat itu sedang menyiram bunga di dalam pot.
"Lagi...? Kamu sudah punya rumah sekarang. Kenapa kamu terus datang kemari terus sayang...." Jante berhenti menyiram bunga ketika melihat putrinya yang cantik datang kearahnya dengan tas belanjaan di kedua tangannya.
"Cik. Mertuaku sedang ada di rumah, aku malas di sana jadi aku datang kemari, Sergio juga sudah mengizinkanku," kata Angela sambil memberikan tas dan juga semua barang-barangnya pada pelayan.
"Hahh...," Janet menghela nafasnya dan kemudian meletakan alat penyiram bunganya di lantai. Kemudian dia menghampiri putrinya yang duduk bersandar di sofa lembut.
"Angela, kalau kamu terus seperti ini maka hubungan pernikahanmu dengan Sergio tidak akan berkahir dengan bahagia jika kamu terus menghindari masalahmu dengan ibu mertuamu." Janet menepuk pundak Angela, dia memberikan nasehat ringan kepada putrinya yang akhir-akhir ini menjadi lebih sering pulang kerumah.
"Ibu... Bisa tidak sehari saja!, Sehari saja ibu tidak membahas masalah mertuaku. Lagi pula bukan aku yang salah, dia yang selalu mengurusi kehidupan rumah tanggaku!."
"Ange-"
"Nyonya." Seorang kepala pelayan datang menghampiri Janet dan Angela yang sedang sibuk membahas masalah pribadinya. "Yah, Ada apa?." Janet memberi instruksi kepada pelayan untuk segera berbicara.
"Ada sebuah mobil paket yang datang ke mansion. Para penjaga mengatakan kalau Tuan Muda adalah penerima barang tersebut.
"Apa yang harus kami lakukan Nyonya?."
"Umm..., apa kamu yakin Ervin memesan sebuah paket?."
"Begitulah yang tertulis di kotak pakte Nyonya," kata kepala pelayan sesopan mungkin.
Angel melihat kepala pelayan dengan tatapan aneh. Apakah mungkin Ervin memesan sebuah barang?, Ditambah lagi dia mengunakan jasa pengiriman padahal dia bisa memerintahkan bawahanya untuk mengantar sendiri. Angela bangkit dari sofa dia berjalan menuju jendela.
"Kalau begitu bawa saja masuk dan letakan di depan kamar Anakku. Jangan sampai ada yang rusak saat kalian menurunkan barangnya jika kalian tidak ingin di marahi."
"Baik Nyonya." Kepala pelayan pergi dari hadapan Janet, dia membawa beberapa pelayan lain bersamanya dan keluar dari ruangan secepat mungkin. Sedangkan Angela, dia masih memandang keluar kaca. Dia melihat Ayahnya sedang menyirami bunga yang ada di taman mengunakan selang panjang, Ayahnya terlihat menikmati kegiatan yang dia lakukan bersama tukang kebun mereka.
"Ibu."
"Yah?."
"Apa menurut ibu... Apakah menurut ibu Ervin bisa seperti Ayah?," Tanya Angela.
__ADS_1
"Kau menanyakan sesuatu yang sudah jelas."
"Hahaha, aku pikir juga begitu."
"Kenapa kamu berkata seperti itu?."
"Aku hanya berfikir kalau... Akhir-akhir ini Ervin bersikap lebih dewasa dari yang sebelumnya. Ervin yang kita kenal adalah anak yang melakukan segala sesuatu sesukanya sembarangan tanpa bertanya dulu tapi sekarang."
"Sekarang?."
"Aku pikir dia sudah mulai sedikit berubah, walau masih keras kepala seperti biasanya."
"Kamu memperhatikannya."
"Tentu saja, aku adalah kakaknya. Sudah sewajarnya aku memperhatikan adikku yang nakal itu."
"Hahaha... Yah, akhir-akhir ini dia memang sedikit berubah. Dia bahkan cukup dewasa untuk menanggapi masalah Olivia dan juga- ibu menerima kabar dari temannya Ervin kalau dia sudah lama tidak bermain wanita lagi," kata Janet. Janet membuka sebuah amplop berisikan foto di dalamnya.
"Apa itu?."
"Hanya foto adikmu. Karena kejadian kemarin, ibu khwatir dia akan kehilangan kendali dan segera menyerang Olivia jadi, ibu menyewa seseorang yang profesional untuk mengikutinya."
"Aku tahu itu dan... Dari foto yang dikirimkan pada ibu, Ervin hanya pergi kekantornya,klub, rumah sakit,sekolah Jeremi. "
"Ahh... Jadi benar dia sudah sedikit berubah."
"Yah, dia bahkan tidak menunjukan tanda-tanda akan menyebabkan keributan."
"Adikku sudah dewasa rupan-"
"Nyonya!." Kepala pelayan datang lagi. Kali ini dia dan pelayan yang lain membawa banyak kotak barang besar dan kecil di tangan mereka masing-masing. "Kenapa kami harus meletakan barang-barang Tuan Muda ini? Apakah perlu kami memasukannya kedalam kamar Tuan Muda?."
"Jangan." Angela menghentikan pelayan yang akan segera menaiki anak tangga. "Letakan saja barangnya di sana." Angela menunjuk sudut kosong ruangan.
"Angela? Ervin akan marah padamu kalau kamu menyentuh barangnya."
"Tidak, tunggu sebentar. Sepertinya aku tahu dari mana asal paket barang itu." Angela berjalan menuju kotak paling besar, dia melihat logo dari kotak besar tersebut dan merasa familiar. "Cepat letakan di san dan tinggalkan ruangan ini sampai kami memanggil kalian lagi."
"Baik Nona Muda."
__ADS_1
Kepala pelayan memberikan instruksi pada bawahnya untuk segera meletakan barang. Setelah barang selesai di atur dengan rapi merekapun segera keluar dari ruangan.
"Apa yang akan kamu lakukan?."
Angela tidak menjawab pertanyaan dari ibunya. Dia mengambil kater yang di berikan oleh pelayan barusan dan segera membuka kotak paling besar. "Angela! Apa yang sedang kamu lakukan?," Janet menghentikan tangan Angela yang sedang berusaha untuk membuka kotak kardus paling besar.
"Jangan Sayang!, nanti kamu kena amukan Ervin!."
"Ibu tenang saja dan lihat saja nanti, lagi pula ini sangat aneh, kenapa dia memesan barang-barang seperti ini." Angela terus membuka kotak kardus dan menghiraukan peringatan ibunya. Setelah perekat yang menyegel kotak terbuka Angela segera melihat isinya.
"Hah?????-"
"Apa itu- eh???."
Kali ini mereka berdua bergegas untuk membuka kotak sepenuhnya untuk melihat isi kotak lebih jelas. Mereka terperangah, tidak mengerti apa arti dari barang yang di pesan oleh Ervin. "Apa-apaan ini?, Kenapa dia memesan 'Box Bayi' sebesar ini?," Tanya Janet yang kebingungan.
Janet melihat kearah putrinya yang juga memasang ekspresi binggung. "Apa dia memesan ini untukmu?."
"Hah? Mana mungkin, dia tidak pernah memesan apapun untukku bahkan setelah Jeremi lahir."
"Lalu bagaimana kita menjelaskan tentang ini?, Apa mungkin dia membelikannya untuk bayimu yang akan segera lahir?."
"Itu- ...."
Angela menyentuh perutnya yang masih terlihat kecil. Aku baru hamil Tiga Bulan dan masih akan lama lagi untuk melahirkan, di tambah lagi bukankah ini tempat yang terlalu besar untuk bayiku. Angela menyentuh Box Bayi berwarna coklat dengan lembut.
"Aku pikir Ervin sengaja memesan supaya barangnya di tutup dengan kardus tebal ini. Dia tidak mau kita tahu apa isi dari kardusnya," pikir Angela.
"..., Sayang. Bukankah ulang tahunmu masih lama lagi?."
"Yah begitulah."
"Lalu mengapaaa-"
"Ada apa ini?, Kenapa ada banyak paket dan kotak paket yang berserakan?," Tanya Jefry yang baru saja selesai dari taman.
"Ayah, lihatlah ini, menurutmu apa yang sedang Ervin lakukan?." Angela menunjukan box bayi besar dan beberapa barang-barang perlengkapan bayi yang baru saja mereka buka dari kotak-kotak kecil.
"Bukankah itu tempat tidur bayi? Memangnya kalian melihat itu sebagai apa?." Jefry mengelengkan kepalanya.
__ADS_1