Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 74.


__ADS_3

"Asiah apakah kamu sudah selesai" Ema yang sudah selesai mengemas barang bawaannya. "Kita harus berangkat sayang...."


"Iya ibu." Sejenak Asiah mengintip kertas lalu kemudian pergi keluar dari kamar. "Tas bawaanya iarkan Ayah saja yang bawa dan Robert... Kamu bawa itu dan itu, biar Mama yang bawa perlengkapan Asiah."


"Biarkan aku membantu Ma-."


"Tidak boleh!, Sebentar lagi bulan terakhir jadi kamu tidak boleh terlalu lelah, bajingan itu juga akan mati karena berani menyuruh ibu yang sedang hamil tua naik pesawat."


"Sudalah, lagi pula sudah lama aku tidak bertemu dengan sepupuku."


"Tsk... Besok hanya acara pertunangan saja tapi dia sudah heboh sampai harus memanggilmu dengan alasan permintaan terakhir, memangnya dia mau mati." Sepanjang perjalanan Ema berceloteh mengenai sepupu Asiah yang menurutnya menyebalkan.


"Ngomong-ngomong sayang, apa kamu sudah memberi tahu Ervin kalau kamu pergi ke jerman hari ini bersama kami." Ema menyeka poni Asiah lembut dan menaruh penjepit hitam disisinya.


"Aku mau bilang tapi dia tidak mau mendengarkan."


"... Kupikir dia masih marah denganmu."


"Entahlah, lagi pula dia yang rugi nanti." Asiah ingin melihat kedalam ponselnya untuk memastikan pesan telah dibaca namun tidak bisa karena saat ini ponselnya ada ditangan ayahnya.


"Asiah." Roberto memanggil sambil menyetir mobilnya dengan mulus dijalanan yang masih gelap.


"Ada apa Ayah."


"Kapan kamu akan cuti hamil?."


"Besok, mulai besok sudah cuti hamil dan... Sebenarnya bisa dibilang bulan cuti hamil tapi berhenti bekerja."


"Apa, kenapa berhenti bekerja?, Bukannya kamu suka menjadi guru?."


Ema yang terkejut juga bertanya pertanyaan yang sama. "Mengapa berhenti bekerja Asiah, bukankah menjadi guru adalah cita-citamu sejak kecil?."


Asiah menghela nafas. "Hahh... Aku hanya berhenti untuk beberapa tahun saja, setelah anak-anakku lahir dan kurasa bisa mandiri maka aku akan kembali bekerja lagi."


Dalam batinnya. Lagi pula Ervin pernah mengancamku perihal ini.


"Kupikir ada bagusnya juga." Roberto menganggukan kepalanya dan memutar stir kekanan. Ibunya Ema juga mberikan pendapat yang sama dengan suaminya sehingga tidak ada perdebatan panjang sepanjang perjalanan hingga mereka tiba di bandara.


Gelisah.


Asiah masih merasakan gelisa, seperti ada yang tertinggal namun dia tidak tahu apa itu.


Ema memanggil Asiah dari belakang ketika Asiah sedang menatap halaman hijau bandara. "Asiah ayo kita akan berangkat sebentar lagi."


"Iya Ma." Sejenak Asiah mengalihkan pandangannya lalu melihat teras hijau lagi. Ini akan menjadi pertama kalinya bagiku pergi dari negara ini setelah bekerja disini cukup lama.


"Nak, kita harus pergi."


"Baik Ma." Asiah melangkahkan kakinya, masuk kedalam pintu, menuju tempat tujuan bersama Ayah dan Ibunya. Jadwal penerbangan sebentar lagi apa dia sudah membaca pesanku. Berbagai macam pikiran masih melintas dibenaknya.


"Apa masih ada yang tertinggal?, Sejak tadi kamu terlihat gelisah akan sesuatu...."

__ADS_1


"Mungkin aku lupa mematikan air keran."


"Ayah sudah mematikan air keran."


"Mungkin saja kompor atau apalah."


"Semuanya sudah Ayah tangani, kamu tidak perlu khawatir, lagi pula kalau ada yang masih hidup dan menyebabkan kebakaran dirumahmu kamukan tinggal tinggal dirumah Ayah lagi." Roberto tersenyum lebar saat mengatakan itu.


"Ayah sembarangan saja berbicara seperti itu."


"Well... Mau bagaimana lagi kamu tidak punya pilihan...." Roberto menarik tangan anak dan istrinya menuju pesawat setelah menyerahkan barang bawaan mereka.


"Mama."


"Ya putriku."


"Kira-kira Laura akan menikah dengan siapa?."


"Hem... Kalau tidak salah calon suaminya sepertinya bekerja sebagai menager disebuah perusahaan tambang emas... Sepupumu cukup beruntung menemukan pria tapi tidak seperti putriku dia langsung menarik perhatian boss Aishwa." Ema tertawa sombong saat mengatakan hal itu.


"Hahh... Ibu tidak boleh berkata seperti itu, belum tentu aku dan dia akan bersama, Ervin itu punya pikiran yang...." Terdiam. "Tidak bisa ditebak, mungkin saja dia berubah pikiran dimasa depan."


".... Apa kamu suka dia?."


"Hem??? T-Tentu Saja Tidak!, Mama ini aneh-aneh saja." Asiah mengerutu kesal.


"Hehehe... Mama tahu itu dan menantikannya." Ema tersenyum mengelitik sambil memandang putrinya, sedangkan Roberto tidak ingin masuk kedalam pembicaraan antar perempuan karena membahas satu hal mengenai Ervin saja sudah membuat darahnya mendidih.


***


Dingdingding...


[ "Bagi seluruh penumpang, diharapkan mengenakan sabuk pengaman dikarenakan pesawat akan segera mendarat di bandara ......." ]


"Asiah pakai sabuknya dengan benar."


"Iya ma."


"Sini biar Ayah yang pakaikan."


"Tidak perlu aku bisa."


"Kamu anak nakal, perutmu sudah besar begitu pasti akan sulit." Roberto menepis tangan Asiah dan memasangkan Safety belt. "Baiklah sudah selesai, duduk dengan baik dan jangan banyak bergerak."


"Hemp, ayah yang seharusnya duduk dengan baik."


"Asiah jika sesuatu yang tidak nyaman terjadi katakan cepat pada Mama."


"Iya Ma."


****

__ADS_1


"Ervin mengapa kamu tidak menjawab panggilan teleponku."


"Nah... Aku menonaktifkan ponselku sejak tadi."


"Tumben." Adrian mengambil anggur dari mangkuk gelas mewah diatas kolam renang yang memberikan pemandangan langit gelap berbintang diatas gedung pencakar langit.


Saat ini Ervin dan Adrian tengah menikmati pesta meriah yang dihadiri kalangan artis dan model terkenal disebuah hotel mewah.


Adrian yang membaca raut wajah kesal Ervin memasukan sebuah anggur kedalam mulutnya. "Tumben kamu kesal dengannya."


"...."


Ervin hanya diam.


"Aku tidak tahu apa yang membuatmu kesal tapi jangan sampai kamu menonaktifkan ponselmu, kau tahu sendirikan ada banyak notif penting diponselmu."


"Berisik."


"Haii...." Seorang artis wanita berbuat pirang datang menghampiri Adrian dan Ervin dibibir kolam renang, wanita itu hanya mengenakan bikini kuning tipis dan membawa segelas anggur anggur merah di gelasnya.


"Apa boleh aku bergabung?."


"Tidak bo-."


"Tentu."


"Huh???." Adrian melihat kearah Ervin keheranan. Apa dia memakan sesuatu yang kotor?. Tatapan Adrian mulai melihat Ervin dengan cara aneh.


"Ervin kamu-."


"Hei kemarilah."


"Ya ampun.... Apakah aku akan mendapat bayaran akan ini?." Wanita berambut pirang itu tersenyum cantik. Dia masuk kedalam air kolam renang dan mendekat kearah mereka berdua.


"Aku tidak mau ikut campur jadi aku naik saja." Adrian merasa ada sesuatu yang aneh dengan Ervin oleh sebab itu dia memilih menjauh untuk mengambil ponselnya. Bajingan ini tidak marah tapi juga tidak dalam mood bagus.


"Sepertinya dia bertengkar dengan pawangnya...." Adrian duduk dibangku santai dan dihampiri oleh beberapa model, sedangkan Ervin masih didalam kolam bersama artis berambut pirang panjang yang mendekatinya dan menyentuh punggungnya dari belakang dengan sensual.


Jemarinya yang putih dan lentik menelusuri tengkuk leher Ervin seakan memberikan rangsangan menggoda. "Tuan Muda nampaknya sedang kelelahan," bisiknya pelan.


"Begitulah." Ervin hanya membalas cuek seperti biasanya.


"Bagaimana jika aku membantu tuan muda menghilangkan kelelahannya."


Perlahan bibirnya mencium punggung Ervin dan naik keatas mengincar bibirnya.


Ervin tidak menolak ciuman yang diberikan oleh wanita itu, malahan dia mulai membalas ciuman itu dalam sampai wanita di dalam pelukannya terengah-engah.


"Hah-!, Tuan m-" dia tidak membiarkan wanita itu berbicara dan terus ******* habis bibirnya.


"...."

__ADS_1


Adrian yang berada kursi kayu melihat itu dengan tatapan kasihan. Tsk... Sekali bajingan tetap saja bajingan... Kira-kira apa yang membuatnya kembali seperti ini. Adrian mengetik ponsel dan memanggil salah satu anak buahnya untuk menerima laporan tanpa menyadari seseorang telah memotret mereka diam-diam.


__ADS_2