Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 33.


__ADS_3

"Sayang hentikan."


"Tapi Janet-"


Janet menggelengkan kepalanya untuk menghentikan Jefry berbicara. "Ervin berhenti bersikap kekanak-kanakan seperti ini, kita berkumpul di sini hanya untuk membahas permasalahanmu dengan Olivia.


"Kamu sendiri tahukan kalau beritanya semakin membesar?."


"Memangnya itu salahku karena beritanya membesar?. Sejak awal ini adalah kesalahan ibu yang mengundang j-lang kecil itu."


kali ini giliran Jefry yang kesal, "Hei... Kita saat ini sedang membahas masalahmu, bukan masalah ibumu."


"Sejak awal tidak akan ada masalah jika Ibu tidak ceroboh mengundang seseorang."


"Ervin!."


"Tutup mulutmu Angela, kau hanya membuatku semakin kesal saja."


Suami dari angel yang sejak tadi diam mengamati situasi akhirnya memutuskan untuk berbicara dalam sikap tenang, "Ervin. Kakakmu hanya-"


"Kau juga Sergio, seharusnya kau diam saja dan ajari istrimu untuk tidak ikut campur lagi dalam urusanku."


"..., Aku mengerti tapi, masalah ini sudah membesar, aku sudah mengunakan semua koneksiku untuk menutupi berita ini namun tidak berhasil.


"Popularitas dari model itu sangat mendunia, sehingga sulit menekan penyebarannya."


"Kalau begitu kalian hanya perlu membuat skandal barukan?."


"Mudah bagimu berbicara seperti itu bajingan, semua ini adalah salahmu sejak awal."


"Yah, memang kesalahanku karena menjadi 'Sangat Tampan, ' sehingga banyak wanita gila yang relah untuk melebarkan kaki mereka kearahku."


"Hahaha ... Bajingan gila ini? Kau memuntahkan omong kosong yang menjijikan."


Ervin mengangkat tangannya dan mengejek Angela. "Memang faktanya aku ini Tampan dan di cintai para wanita."


"Hhuek!!! Bajingan gila ini!. WAJAH BURUK RUPA ITU KAU BILANG TAMPAN?!."


"Hehh... Monyet jelek ini berani juga berbicara seperti itu. Hei monyet, pernakah kau bercermin?."


"Hah?... Aku tidak mengerti apa yang di katakan monster jelek ini." Keduanya sama-sama memberikan tatapan tajam. "Sudah hentikan kalian berdua, kalian sama-sama jelak jadi tidak perlu saling mengejek-jelekkan," kata Jefry dengan santai.


"Huhhh...."


Janet menghela nafas, dia tidak tahu apa yang harus di lakukan saat ini. Dia hanya bisa berharap pada menantunya namun menantunya sendiri tidak memiliki ide untuk menengahi situasi ini. "Nak. Aku pikur satu-satunya cara untuk mengalihkan rumor ini adalah dengan cara menikah.


"Kamu memiliki banyak teman wanita di sekelilingmukan?. Tidak mungkin dari sekian banyak mereka, tidak ada yang kamu sukai."


"Memang tidak ada yang aku sukai dari mereka," ucap Ervin tegas. "Dan aku juga tidak ingin menikah dengan salah satu di antara mereka." Ervin mengatakannya dengan sangat jelas.


"Kalau begitu silahkan alihkan rumormu sendiri Tua Muda Ervin Kyros Alvaro. Jangan membuat beban di keluarga ini untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


"Apa salahnya sih kamu menurut kali ini saja pada ibu?, Kamu tidak akan mati jika menikah dengan salah satu di antara mereka, Lagi pula bukankah kamu sudah-"


"Angela! Berapa kali harus kukatakan padamu untuk tidak ikut campur dalam masalah-"


BEZZBEZZZ...


Ervin tidak melanjutkan kalimatnya lagi. Dia merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya. "...!" Ervin berdiri dari kursinya secara tiba-tiba dan menjauh dari keluarganya. Dia membuka ponselnya ketika melihat pesan dari Asiah di layar.


Ervin berjongkok di pojokan mansion setelah memastikan cukup jauh dari keluarganya. Dia membuka kotak pesan dan membaca pesan pertama Asiah.


[ Asiah Rosen.


Hei? Ini aku, maaf karena tidak menjawab pesanmu untuk beberapa saat tadi aku ketiduran hahaha.... ]


Ervin langsung membalas pesan pertama.


[ Tidak masalah, lagi pula aku juga sedang sibuk dan tidak akan bisa membaca lebih awal karena pekerjaan. ]


Ervin kemudian mengirim pesan.


Ding!.


Mata Ervin terbuka lebar, untuk pertama kalinya Asiah membalas pesannnya secepat itu. Ini pertama kalinya dia membalas pesanku begitu cepat. Ervin membaca isi pesan.


"...."


[Asiah Rosen.


Ding!.


"...."


[Bajingan Gila.


Tentu saja?. Apa yang ingin kau katakan?. ]


"Ngh... Dia terlihat sangat antusias," gumamnya, kemudian Asiah mengetuk pesan kembali.


Ding!.


"...."


[Asiah Rosen.


Bisakah kamu mengirimkanaku nomor akunmu?. Ini tentang pembayaran tagihan rumah sakit. Aku merasa tidak enak karena membebenkan semuanya padamu, padahal aku yang membutuhkan bantuan. ]


"...."


Setelah membaca pesan dari Asiah, Ervin merasa melayang keluar angkasa. Untuk pertama kalinya seseorang mengatakan akan mengembalikan uang yang dia berikan.


"Apa dia bercanda?."

__ADS_1


Ervin mengusap matanya dan berkedip beberapa kali untuk memastikan apakah pesan yang di kirim oleh Asiah benar, dan ternyata meskipun dia mengedipkan matanya berulang-ulang hasilnya tetap sama saja. "Tsk j-lang ini!!!. Beraninya kau mengatakan kalimat tabu ini!!!." Ervin bergegas mengetik pesan dan mengirimnya pada Asiah lagi.


Ding!.


"Hem?."


[Bajingan Gila.


Kamu Tidak Perlu Membayarku , Lagi Pula Aku Punya Banyak Uang Untuk Di Habiskan. ' ]


"Arah pembicaraannya tidak menyambung."


"Aku harus segera membayarnya setelah itu, hanya setelah itu aku akan memutuskan semua hubunganku dengan pria berbahaya ini." Asiah mengetik pesan sekali lagi.


Ding!.


"...."


[Asiah Rosen.


Kalau begitu, apa yang harus kulakukan untuk membayar kebaikanmu padaku?. Apa kamu menginginkan sesuatu? Aku akan belikan apapun yang kamu minta. ' ]


Degdegdeg....


Dia bertanya akan membayar kebaikanku? Apa yang harus kukatakan? Apakah aku perlu mengatakan kalau dia hanya perlu-


Ketika Ervin fokus pada pikirannya, Janet datang dan menghampiri Ervin yang berjongkok di sudut ruangan. "Sayang? Apa ada sesuatu yang terjadi?, Kenapa kamu harus menjauh hanya untuk membalas sebuah pesan? Apa kamu baik-baik saj-"


"Ibu jangan ganggu aku dulu."


"Uug."


Janet mengangguk lalu berjalan menjauh dari Ervin yang masih sibuk dengan ponselnya. Ervin terlihat gugup, dia masih belum menentukan kalimat apa yang harus dia gunakan untuk membalas pesan dari Asiah. Kira-kira bagaimana dia harus membalasku? ... Tunggu dulu, kenapa aku berfikir seseorang harus membalasku? Aku sangat kaya dan memiliki segalanya, sedangkan dia hanya wanita yang berkecukupan saja. Memangnya dia bisa memberiku jam tangan Rolex kalau aku meminta itu?.


Ervin melonggarkan dasinya, dia memandangi pesan dan terus memikirkan jawaban paling tepat untuk membalas pesan Asiah. Apa yang harus aku tulis. Ervin berfikir lagi, kali ini cukup lama sampai-sampai kakinya mulai keram karena terlalu lama berjongkok di sudut ruangan dan pada akhirnya sebuah ide bagus masuk keotaknya.


Ding.


"Apa yang dia inginkan...?"


[Bajingan Gila.


Tidak perlu membelikanku sesuatu, bagaimana kalau kamu meneraktirku


makan malam?. ]


"...."


Asiah melihat pesan itu dan mengerutkan keningnya. "Hahh?. Kenapa aku harus meneraktir bajingan ini makan malam? Aku tidak mau lagi berurusan dengannya atau melihat wajahnya, kalau aku tahu dia akan membalas seperti ini maka sejak awal aku tidak akan mengirim pesan."


Asiah kesal dengan sendirinya. Dia tidak ingin bertemu lagi dengan Ervin untuk beberapa alasan namun sekarang, Ervin meminta untuk melakukan pertemuan di lain waktu. Aku tidak mau sendirian bersamanya. Asiah memutuskan untuk tidak membalas pesan Ervin untuk membiarkannya begitu saja tanpa menjawab.

__ADS_1


__ADS_2