
"Tuan." Seorang pelayan membawa air mineral dan satu buah senjata api.
"Dimana anak itu."
Dengan sopan pelayan menjawab. "Tuan muda sedang ada di hotel Xmania, bersama teman-temannya disana."
"Kerja bagus, siapkan mobil dan anak buah lainnya." Tatapannya menjadi kosong dan nada bicaranya mulai berubah berat. "Sebagai Ayah aku harus mendisiplinkan anak bajinganku."
****
"Ervin...."
"...."
Menguncang.
"Ervin! Bagunlah idiot!."
"Hem?." Dipagi hari pukul 9, Ervin dibangunkan oleh Adrian dari tidur nyenyaknya bersama seorang wanita diatas ranjang. "Tsk, kau menganggu saja." Ervin yang setengah telanjang menghusap matanya kasar dan segera bangun.
"Apa?." Dengan raut wajah kesal dia melihat Adrian yang wajahnya masih buram dipandangannya.
"Kau dalam masalah besar sekarang."
"Apa?."
Disaat pandangnya masih menyesuaikan cahaya, Adrian menyodorkan sebuah ponsel dengan artikel didalamnya. Sebuah artikel yang menyangkut pautkan dirinya dan artis wanita yang masih tertidur disebalahnya. "WTF-!." Matanya tiba-tiba menjadi cerah.
Secepat kilat dia menyebut ponsel itu dari tangan Adrian dan membaca seluruh isi artikel. "Hahaha... Bajingan mana yang-."
"Itu tidak penting, sekarang perjanjian mu dan Asiah telah berakhir."
Merinding.
DEGDEGDEGDEG....
Jantung Ervin langsung berdetak kencang, rasa merinding dan ngilu menjalar dari ujung kepala hingga ujung kakinya. "D-DIAMAN PONSELKU!." Seperti orang gila Ervin mencari ponselnya dalam keadaan telanjang bulat.
Dia mencari-cari disekitar bantal dan selimut yang tergulung, sehingga membangunkan wanita yang sedang tertidur disebalahnya barusan.
"Ada apa?."
"Tutup mulutmu dan segera pergi dari sini, kamu juga akan dapat masalah lebih besar dari sekarang," kata Adrian dengan ekspresi tabah diwajahnya.
"Kalian berdua benar-benar hancur." Adarian yang lelah memilih untuk meninggalkan kamar dan mengecek ponselnya untuk mendapat informasi.
Adrian mulai bergumam pelan, "Apa artikel ini bisa dihentikan...." Dia mencari solusi, menghubungi keluarga Alvaro namun tidak ada satupun respon yang diterima oleh keluarga itu. "Apa mereka memblokirku?."
"Adrian...! Oi Adrian," Ervin memanggil Adrian dari balik pintu.
"Tsk, masalah ini lebih merepotkan dari skandalnya dengan Olivia."
__ADS_1
Membuka Pintu.
Adrian melihat wajah Ervin terlihat panik untuk pertama kalinya. "Aku tidak bisa menghubungi Asiah."
"Tentu saja, kesepakatan kalian sudah berakhir karena ulah bodohmu." Adrian mengambil ponsel Ervin lalu menghubungi nomor yang sama berulang-ulang namun tidak tidak bisa di hubungi lagi.
"Persetan!, Cepat kerumahnya idiot mungkin masih belum terlambat!."
"O-oh iya oke." Ervin yang panik tidak memberikan respon seperti biasa, dia menurut pada apapun yang dikatakan oleh Adrian.
Merogoh saku.
"Dimana kunci mobil-."
"Em... Em... Em..., Kamu tidak akan pergi dari tempat ini tanpa menerima hukuman dariku."
Menoleh.
Adrian dan Ervin menoleh bersamaan kearah suara dari belakang mereka.
"Tuan Jefry!!!." Adrian menyapa Jefry yang menenteng senjata api ditangannya dan diikuti lusinan pengawal dibelakangnya. Dalam batinnya.Tamatlah riwayatmu ervin.
"Apa yang kau lakukan disini pak tua?," Tanya Ervin heran.
"Berburu Bajingan."
BANG.
"APA KAU SUDAH GILA?!!."
"Kupikir begitu, Adrian." Jefry melihat Adrian yang mematung disebalah Ervin.
"Ini kesempatan terakhirmu, kemari."
"Yes Sir." Adrian yang tidak ingin terlibat lebih dalam memilih sisi Jefry dari pada Ervin. "Maafkan saya Sir karena tidak bisa mengendalikan-."
"Tutup mulutmu kau juga akan kena dariku nanti."
"Yes Sir."
"Sekarang sampai dimana kita oh!."
BANG BANG BANG.
Tiga anak peluru ditembakan lagi kearah Ervin, semaunya ditembakan membidik kaki dan bahu Ervin namun tidak ada yang kena.
"Seperti yang diharapkan dari benihku, refleksmu bagus."
BANG.
"Tapi siapa perduli, aku akan memburu bajingan hari ini." Peluru dari pistol yang habis di uangnya kelantai lalu meminta bawahannya untuk memberikan senjata baru.
__ADS_1
"AYAH KAU SUDAH GILA!."
"Oh sekarang kau menyebutku Ayah."
BANG.
"Sayang sekali, hari ini aku bukan Ayahmu, melainkan musuhmu." Sekali lagi Jefry membidik kaki dan tangan putranya tanpa belas kasih diwajahnya. Tsk ... Setidaknya aku ingin tembakanku kena walau hanya satu.
"Kejar dia." Jefry memerintahkan bawahannya untuk menangkap putranya yang melarikan diri. "Jika diperlukan kalian boleh patahkan kakinya itupun jika kalian bisa."
"Yes Sir." Lusinan bahwanya mulai mengejar kearah Ervin menghilang, mereka menyerbu dari segala arah koridor hotel untuk menangkap Ervin yang melarikan diri.
Adrian yang menyaksikan hal itu menghela nafas berat. "Hahh... Habislah." Dia mundur dua langkah kebelakang untuk menjauh dari kegilaan Jefry.
"Hahaha... Hahh... Kau ikuti aku."
"Yes Sir." Untuk saat ini hanya itu saja yang dapat dikatakan Adrian dihadapan Jefry yang merupakan mantan mafia besar di Prancis.
****
Setelah perburuan yang cukup panjang, akhirnya Ervin Kyros Alvaro berhasil ditngkap.
Dibutuhkan 2 hari lamanya bagi bawahan Jefry yang berjumlah lebih puluhan orang untuk menangkap satu orang saja. Selama 2 hari lamanya Ervin melarikan diri namun berhasil ditangkap ketika dia akan masuk kerumah Asiah secara diam-diam.
Kaki dan tangannya telah diikat mengunakan lapisan tali hingga ke siku, di bagian betis terdapat tembakan timah panas yang telah diperban dan diberikan obat.
Tubuhnya di ikat disebuah kursi besi dengan rantai melingkar di pinggang dan leher. Ervin benar-benar diperlakukan selayaknya tahanan paling berbahaya. Dan sekarang Jefry yang merupakan Ayahnya sedang duduk di hadapan putranya yang di ikat. "Ini tontonan menarik."
Tangannya yang memegang ponsel tidak bisa berhenti mengambil gambar hasil buruannya. "Kupikir aku berbakat menjadi fotografer." Jefry tersenyum bangga melihat hasil jepretannya.
"Ternyata benar katanya. 'Mahluk yang paling berbahaya didunia adalah manusia' dan buktinya ada didepan mataku sekarang."
Memotret.
Bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum. "Jarang-jarang aku melakukan ini pada anakku yang berbahaya." Jefry menikmati ekspresi kejam diwajah Ervin yang menatapnya seolah dia akan membunuh Jefry kapan saja.
"Apa liat-liat?."
"Aku... Hahh... Aku... Hahh... Aku akan membunuhmu jika aku selesai dengan ini!." Mulut Ervin mulai berbuah seperti seekor binatang yang terkena rabies.
"Membuhku?." Jefry mulai tertawa terbahak-bahak. "HAHAHAHA.... Coba lihat anak ini hahahaha... Hah.
"Ketahui letakmu persetan." Jefry berdiri dari kursi kayu, berjalan kearah Ervin memutari kursi besinya. "Kau hanya anak yang beruntung sajak lahir kedunia ini, mendapat orang tua yang bergelimang harta dan memberi kebebasan padamu, memaafkan semua kekacawan yang telah kau buat dan melindungimu dari pisau yang diarahkan kepadamu."
Menatap.
Jefry menatap langsung wajah putranya yang melihat berantakan akibat luka-laka yang ada masih basah. "Brengsek sialan... Gara-gara ulahmu aku kehilangan calon menantu idaman yang selama ini kutunggu." Tatapan Jefry mulai tidak ramah lagi, seperti dia sedang menatap musuhnya.
Ervin tersenyum mesam. "Omong kosong apa yang baru saja kau katakan tua bangk-."
"Tadi pagi, Asiah Rosen dan keluarganya meninggalkan Prancis, mereka kembali ke negara asalnya.
__ADS_1
"Kalau dipikir-pikir bertepatan dengan skandal di unggah keinternet."