
"HAHH... HAHAHH....
Hahhh... Hahh... Hahh..."
Asiah menjadi tenang kembali setelah merasakan bayinya masih ada dalam perutnya. "Hahh... Hahh... Me-mereka masih ada, hiks... Mereka masih ada...." Asiah menangis legah. "Bayiku masih ada hiks...."
Asiah mengusap air matanya, dia merasa sangat legah ketika menyadari bahwa bayi-bayinya masih ada di dalam rahimnya. Ervin segera menghalangi Asiah yang menghusao air matanya dengan tangannya.
"Tsk. Jangan mengunakan tanganmu."
Ervin mengunakan sapu tangannya untuk menghapus air mata di wajah Asiah, sangat lembut, Ervin menghisap air mata itu begitu lembut sembari menenangkan Asiah. "Ketika kamu menangis seperti ini aku merasa tidak enak.
"Jangan menangis, .... Aku tidak suka."
"Sniff."
"Jangan khawatir, aku akan menghabisi siapapun yang berusaha untuk merebut bayimu," ucap Ervin begitu lembut.
"Snif... Sniff...."
Mendengar ucapan Ervin Asiah menjadi sedikit lega. Dia membenamkan wajahnya pada bahu Ervin dan masih memeluk bayi-bayinya. Ervin menepuk-nepuk punggung Asiah dan terus menenangkannya sampai Asiah kembali tertidur.
"...."
"Huhhh.... Apa yang dia mimpikan sampai jadi seperti ini?, Siapa bajingan gila yang dia maksud?. Apa itu aku?." Ervin mengerutkan keningnya setelah berfikir beberapa saat. "Aku pikir bukan, dia mengatakan bajingan bukan kepadaku tapi orang lain, jadi sudah pasti bukan aku, lalu siapa yang dia maksud?."
Ervin melihat Asiah yang masih mengeluarkan air mata. "Maukah kamu bercerita padaku nanti ketika aku bertanya?," Tanya Ervin ketika dia menghapus air mata yang jatuh itu.
***
Membuka Mata.
"Uugh...."
Asiah terbangun di ruangan yang terlihat familiar. Huhh... Ada di mana aku?. Asiah mengedipkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya. "Ada di mana aku?."
BIZZBIZZZ...
Ponsel di atas meja bergetar.
Asiah mengalihkan pandangannya menuju meja yang familiar, dia mengambil ponselnya dan melihat sebuah pesan masuk.
__ADS_1
[ Bajingan Gila.
'Kabari aku setelah kamu bangun nantinya. ' ]
"Dia.... Darimana dia mendapatkan nomor-"
Sebuah ingatan beberapa waktu lalu menghantam. 'AAAKK..., BAYIKU!!!, BAJINGAN GILA ITU!!!, AKU AKAN MEMBUNUHNYA.... ' Ingatan-demi ingatan menghantam Asiah seperti sebuah ombak yang menabrak batu karang. "OMONG KOSONG APA YANG AKU MUNTAHKAN!!." Asiah menyentuh wajahnya.
Asiah juga mengingat saat-saat dia membenamkan wajahnya di bahu Ervin dan yang paling parah dia telah melukai lengan Ervin dengan kukunya. "EEEKK.... AKU AKAN MATI! AKU AKAN SEGERA MATI!!!," Teriak Asiah.
Di tempat lain.
"...."
"...."
Glupp...
Di perusahaan Aishwa, tepatnya di dalam ruangan pertemuan. Ervin duduk di atas kursi sambil melamun begitu tenang ketika salah satu dari karyawannya melakukan presentase di depan podium. Selama berlangsungnya rapat Ervin hanya diam dan tidak berkomentar seperti biasanya, membuat para pekerjanya menjadi cemas akan badai yang tidak tahu kapan datangnya.
"...."
KLING.
"...!"
Secepat kilat, dia mengambil ponsel di atas meja, Ervin membuka kotak pesannnya begitu bersemangat namun setelah tahu siapa yang mengiriminya pesan Ervin mengerutkan kening. Adrian sialan ini....
[ Adrian LI. Fernando.
' Hei, aku menemukan beberapa hal menarik tentang pemeriksaan yang waktu itu kamu minta ' ]
"Huhh...."
Ervin mengabaikan pesan Adrian dan beralih menuju kontak Asiah. Dia masih belum menerima jawaban dari Asiah setela mengirim pesan beberapa menit yang lalu. Sepertinya dia masih tertidur.
"B-bos Besar!, Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?." Seorang manager memberanikan diri untuk bertanya pada Ervin.
Di perusahaan Aishwa, banyak orang memanggil Ervin dengan banyak sebutan, selama itu tidak merendahkannya. Beberapa di antara mereka memanggil Ervin CEO, Direktur, Pemilik perusahaan, Boss besar. Dan masih banyak lagi namun yang paling sering di gunakan para karyawan yang bekerja di bawah Ervin adalah Boss besar, sebutan itu bukan tanpa sebab. Penampilan dan tindakan Ervin membuat beberapa orang selalu berfikir kalau Ervin adalah seorang bos mafia yang patut di segani oleh sebab itu, pangilan bos besar sudah tidak asing lagi di telinga mereka yang mendengarnya di Aishwa.
Bahkan Ervin sendiri tidak marah ketika orang-orang mulai memanggilnya bos besar, tanggapan Ervin yang santai dan banyaknya karyawan yang memanggil Ervin bos besar menjadikan sebutan tersebut sebagai sebuah kebiasaan. Bahkan para investor terkadang memanggil Ervin dengan sebutan Bos Besar.
__ADS_1
"Apakah Bos suka dengan proposal yang di sampaikan barusan?."
"Apanya?."
"Tentang pr-produk yang di presentasikan barusan. Apa anda setuju dengan proposal produk itu?.
"Saya yakin, setelah mengerjakannya bersama para eksekutif lainnya produk ini akan berhasil menarik perhatian para investor dan prodak kita akan sangat laris di pasaran."
Juruh bicara yang memimpin keberlangsungan rapat mengamati Ervin dengan serius, tidak ada yang tahu apa yang akan Ervin lakukan ketika suasana sahtunya memburuk. "Aku tidak suka. Ganti yang lain, berfikir bahwa brand terbaru Aishwa akan di jual kepasaran membuat darahku mendidih, segera ganti yang lain."
"Ba-baik!."
Para Manager yang bekerja di devisi mereka masing-masing, mengarahkan anggota mereka untuk mencari sebuah solusi baru terkait produk baru yang akan mereka luncurkan, mereka berbisik cukup lama sehingga suara yang kecil menjadi ramai dan berisik.
"..., Bisakah kalian berdiskusi dengan tenang? Apa perlu mulut kalian mengoceh sampai membuat telingaku gatal?." Kata Ervin yang sedang kesal.
Mereka yang hadir di ruangan rapat menelan ludah mereka. Mereka segera memastikan kalau tidak ada benda berbahaya di sekitar Ervin, sehingga ketika Ervin mengamuk tidak akan ada yang terluka parah namun! Tetap saja mereka khwatir dan memutuskan untuk berbicara lewat Gurp chat mereka.
Ervin memalingkan pandanganya lagi, kali ini dia tidak melihat ponsel melainkan sekretaris wanita di sebelahnya. "Kosongkan jadwalku untuk beberapa hari kedepan."
Sekretaris itu mengangguk dengan sopan dan menunjukan file baru. Ervin menerima file itu dan memeriksanya sebentar kemudian meletakkannya di atas meja. Huhh... Tidak ada yang menarik di tempat ini. Ervin melihat lengan kanannya yang terluka. Kuku jarinya cukup panjang, haruskah aku memotongnya?.
KLING.
Ponsel di tangan Ervin bergetar.
"...?"
[ Asiah Rosen.
' Aku sudah bangun, maaf karena lama menjawab pesanmu dan terima kasih karena sudah mengantarkan aku pulang kerumah dan segala administrasi rumah sakit. ' ]
Ervin tersenyum. Pesan singkat dari Asiah berhasil membuat moodnya kembali membaik. Kemudian Ervin menulis pesan lagi untuk Asiah dan menunggu balasannya.
[ 'Apa tubuhmu sudah membaik? Apa tidak ada yang sakit lagi?. Apa kau tidak mual lagi?. Jika ada yang sakit cepat hubungi aku?. ' ]
"....."
Ervin menunggu balasan dengan sabar.
1 menit berlalu, 4 menit berlalu, 10 menit berlalu. Ervin masih tetap memandangi layar ponselnya. Apa yang membuatnya begitu lama membalas pesanku?. Ervin mulai mengerakkan kakinya seperti orang yang sedang gelisah.
__ADS_1