Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 62.


__ADS_3

Ervin menarik nafasnya dalam-dalam setelah melihat gerutu Asiah yang terlihat sangat imut dimatanya. Ahh... Aku ingin memakannya. Dia menutup matanya dan memijat keningnya pelan sambil berkata. "Baiklah, ayo pergi."


"Yeyy.... Kalau begitu kita naik mobilku saja!."


"Kenapa? Bukankah lebih baik naik mobilku?."


"Mobilmu terlalu menarik perhatian." Asiah berjalan dan mengandeng tangan Ervin dan bersandar di lengannya. "Hari ini aku ingin kita berdua berkencan seperti orang normal saja," kata Asiah dengan sangat manja.


"W—." Ervin hampir saja menjerit karena tidak tahan dengan rengekan manja Asiah di lengannya. Ya ampun... Apa yang harus kulakukan dengan ini, kalau saja dia tidak hamil maka aku sudah— lupakan itu.


Ervin menghela nafas. "Huhfff.... Baiklah. Jadi... Kenamana kita akan pergi?," Ervin memegang bahu Asiah dan menjajarkan wajahnya sejajar dengan wajah Asiah. "Hemmm... Itu rahasia! Pokonya kita dulu saja." Tak lupa Asiah memasangkan masker wajah pada Ervin. Meski binggung Ervin membiarkan wanitanya itu melakukan apapun yang dia mau.


"Baiklah. Kalau begitu ayo kita keluar."


"Tentu."


***


Sesaat kemudian Ervin menyadari ada yang tidak beres dengan kencan mereka.


"Asiah ini?...."


"Tunggu apa lagi? Ayo keluar!," Kata Asiah sambil membuka sabuk pengamannya.


"Tunggu dulu! Kamu bilang ingin berkencan tapi— lupakan. Kenapa kita kebarbershop?. Lagipula kenapa kamu datang ketempat potong rambut pria ketika kamu—"


Asiah memotong ucapan Ervin. "Kamu berisik sekali, dengarkan aku makanya." Asiah melihat Ervin dari atas hingga kebawah. Dia memegang tangan pria itu dan menunjukan mata penuh minat disana.


Asiah terlihat sangat bersemangat, wajahnya berseri-seri ketika mengatakan kalimatnya. "Ervin! Aku ingin melihatmu dengan gaya rambut botak!."


Mata Ervin seketika melebar. "APA?!!. JA-JADI INI ALASANMU—."


"Aku melihat seorang model di televisi tadi pagi dan... Dan dia terlihat sangat tampan!." Asiah mulai mengoceh tentang dirinya yang tiba-tiba jatuh hati saat melihat seorang model yang memiliki kepala gundul di televisi setelah dia selesai menghubungi Erika.


[ Rambut di kepala anda akan tumbuh hanya dalam waktu 24 jam! Ya! Hanya 24 jam. ]


"...."


Mata Asiah langsung tertuju pada kepala sang model yang terlihat lucu baginya. Apa itu, rambutnya sedikit sekali.... Asiah tidak bisa mengalihkan pandangannya dari kepala botak sang model penumbuh rambut. Apa Ervin akan terlihat bagus jika rambutnya di potong?.


Sangking bersemangatnya Asiah sampai menghubungi Ervin dan mengajaknya untuk berkencan alias potong rambut.


Ervin melihat Asiah dengan tatapan tidak percaya, ".... Jadi itu alasanmu mengajakku kemari—." Ervin merasa kecewa untuk pertama kalinya padahal dia sudah sangat bahagia ketika Asiah mengajaknya untuk berkencan.


"Aku tidak mau, kita akan segera pulang," kata Ervin memasang kembali sabuk pengaman Asiah.

__ADS_1


"Tapi kenapa?! Kita sudah ada disini!."


"Pokonya aku tidak mau. Aku ini ikon perusahaan Aishwa mana boleh aku menunjukan penampilan konyol seperti yang kau bayangkan it—."


"..., Baiklah." Asiah terlihat hampir menangis. Matanya mulai berkaca-kaca setelah mendapat penolakan dari Ervin. "Asiah?!!."


"...."


Asiah hanya diam dan tidak menjawab Ervin. Dia melihat kearah luar jendela mobil menatap barbershop di depan mobil.


Ervin sedikit mengelus lembut wajah Asiah namun tangannya langsung di tepis kasar oleh Asiah. "Sniff...."


"Aisss...."


Ervin menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Asiah."


Ervin berusaha untuk melihat wajah Asiah namun lagi-lagi tangannya di tepis oleh Asiah berulang kali. "Asi—."


"Jangan sentuh aku. Sniff... Aku benci kamu."


Membuka Pintu.


Asiah keluar dari dalam mobil. Dia berjalan sendiri menuju pemberhentian sebuah bus sambil menghapus air matanya. "Cih, dia pikir aku suka melakukan ini," gumam Asiah.


"Aduh...."


Ervin menepuk wajahnya pelan, dia frustasi dengan situasi yang tak terduga itu. "Kami sudah berkencan beberapa kali tapi kenapa ketika dia mengajakku berkencan situasi malah jadi seperti ini," gerutunya.


Ervin melihat kaca yang ada di dalam mobil dan memperhatikan dengan seksama rambutnya.


"...."


Dia menutup matanya dan mengigit bibir bagian bawahnya pelan. "FA-k, BAIKLAH!!!." Ervin turun dari mobil mengejar Asiah yang sudah hampir sampai di perhentian bus.


Menarik tangan.


"Lepaskan Aku—."


"Baiklah-baiklah kamu menang puas!."


"Aku tidak per—." Ervin memeluk tubuh mungil Asiah untuk menengakannya. Selamat Tinggal Rambutku Yang Cantik. Ervin menjerit dalam batinnya. Perlahan dia menghusap air mata Asiah dan mengucapkan kata-kata penghiburan untuk membuat Asiah berhenti menangis. "Aku akan melakukan apapun yang kau mau. Jadi jangan menangis lagi oke," kata Ervi


".... Sungguh?."

__ADS_1


"Iya."


Asiah memaksa Ervin untuk membuktikan kata-katanya. Dan benar saja Ervin membawa Asiah masuk kedalam barbershop untuk melakukan keinginannya. "Oh! Selamat datang, bisa saya bantu?," Tanya salah satu barberman. Ervin yang meneganakan masker wajah mengarahkan barberman untuk menanyakan pertanyaanya pada Asiah.


"Tanya dia saja," kata Ervin pasrah. Dia sudah mengikhlaskan rambut indahnya untuk di potong habis sesuai kemauan Asiah. Hahh... Kalau tidak salah Adrian pernah bilang kalau wanita hamil selalu menginginkan hal-hal aneh seperti ini dan jika tidak di turuti maka akan berdampak buruk bagi bayi.


Ervin tertawa kecil. "Hehe... Apa yang kau pikirkan Ervin, bisa-bisanya kau percaya pada omongan Adrian," gumam Ervin.


"Nyonya potongan seperti apa yang anda inginkan?," Tanya barberman.


Asiah bertolak pinggang ketika melihat daftar potongan rambut yang di tunjukan barberman. "Hemmm...." Asiah menunjuk salah satu gambar di halaman nomor 4 barisan ke 12. "Tolong buat yang seperti ini."


"Buzz cut...." Barberman melihat kearah Ervin yang duduk di depan cermin sambil memijit keningnya. "Kelihatanya akan sangat bagus dengan suami anda." saat mengatakan itu barberman merasa tidak aman disekujur tubuhnya.


"Nahh... Dia bukan suamiku."


"Apa adik and—."


"Oi, aku menyuruhmu untuk bertanya bukan untuk ngobrol dengannya."


"Glup... Oke."


"Tsk, Asiah kau duduk saja disana dan jangan pergi kemana-mana mengerti?."


"Iya aku mengerti."


"Bagus, kau cepat lakukan."


"B-baik."


Barberman melakukan pekerjaannya sangat teliti, dia mulai memotong rambut Ervin sedikit demi sedikit. Sedangkan Ervin, dia hanya melihat Asiah yang berada di belakangnya melalui pantulan cermin. Dia terus memantau apa saja yang di lakukan Asiah di belakang sana, dimulai dari Asiah yang memegang sebuah buku, kemudian bermain ponsel lalu tak jarang mata mereka berdua saling bertemu dan di balas senyuman oleh Asiah. Aku harap pengorbanan rambutku bisa membuatnya senang.


"Apa ini permintaan istri anda tuan."


"Begitulah."


"Hahaha...." Ervin menaikan alisnya dan bertanya pada barbeman. "Kenapa kau tertawa?."


Barberman menjawab. "Saya hanya berfikir ini lucu saja, hari ini sudah lima orang pria datang kemari untuk memotong habis rambut mereka karena alasan yang sama dengan anda."


"Lima orang?."


"Yap." Barberman memberikan krim rambut lalu memotong rambut Ervin lagi secara berurutan. "Saya juga pernah berada di posisi yang sama dengan anda dan kelima orang lainnya.


"Ketika istri saya hamil muda, dan sedang ngidam. Sering kali istri saya meminta saya untuk membawa buah atau makanan aneh yang sangat jarang di jual di pasaran, kalau tidak dituruti dia akan menangis atau marah padaku."

__ADS_1


Ervin fokus mendengar cerita dari barbershop.


"Lalu? Apa lagi yang dia minta untuk kau lakukan?."


__ADS_2