Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 012.


__ADS_3

"!!!" Mata Ervin terbuka lebar, kemudian dia melihat kearah tubuh bagian bawahnya yang menegang setelah sekian lama. Wanita di hadapannya bahkan belum melihat kearahnya akan tetapi tubuhnya secara insting bereaksi akan kehadiran wanita tersebut.


"Maafkan aku, aku tidak melihat— ... Eh??????"


"Hah?!!"


"Wt—"


Mereka bertiga saling bertatapan. Asiah refleks menyembunyikan keterkejutannya walau jantungnya telah berdetak dengan cepat. KENAPA AKU HARUS MELIHAT BAJINGAN INI DI SINI?!!.


"Ka—" Ervin tidak bisa berkata-kata setelah melihat Asiah dengan jelas. Tatapan mata Ervin lebih terfokus perut buncit wanita di depannya dengan terkejut seakan-akan dunianya telah runtuh.


"Ka-kamu, kamu—"


"Ehem...."


Asiah batuk kecil untuk menenangkan dirinya yang sedang panik dan memikirkan jawaban yang telah dia siapkan untuk saat-saat seperti ini ketika dia akan bertemu dengan Ervin atau ketika Ervin bertanya sesuatu nantinya nantinya.


Asiah tersenyum manis seolah-olah tidak terjadi apa-apa. "Lama tidak bertemu tuan Ervin. Ini sudah sangat lama sejak kita bertemu dan anda...." Asiah melihat kearah Adrian.


"Aku Adrian, panggil saja Ardi."


"Ah! Tuan Adrian yah. Hahaha...."


Asiah mengusap leher bagian belakangnya yang berkeringat dingin sembari mengamati Ervin yang sudah menatap perutnya sejak tadi. Asiah yang melihat itu lantas bergegas menutup perutnya dengan tas pakaian yang dia beli barusan.


"...."


Menatap...


"...."


Menatap...


"...."


Keheningan yang canggung membuat Asiah merasa tidak enak dan memutuskan akan segera pergi namun tiba-tiba Ervin mengajukan pertanyaan. "Kenapa kamu tidak menghubungiku?."


"Maaf tapi apa?."


"Kenapa kamu tidak menghubungiku lagi setelah hari itu?."


"...." Adrian yang bertugas sebagai pengamat sedikit melangkah mundur kebelakang.


"Aku tidak memiliki kewajiban untuk melakukan itu," jawab Asiah.


"Tapi kamu membuatku menunggu!."


"Hanya- Apa???."


"Apa ini?."


Ervin dengan kasar menyingkirkan tas pakaian dari tangan Asiah dan segera menyentuh perut Asiah. "Kamu!—" Asia refleks menepis tangan Ervin dari perutnya dengan tatapan kesal sekaligus cemas.

__ADS_1


"Tidak sopan menyentuh seseorang seperti itu!!!," Asiah memberi peringatan pada Ervin.


"...."


Ervin melihat Asiah sebentar dan mengalihkan pandangannya pada perut Asiah. "Anak siapa yang sedang kau kandung?."


"Hem?!!"


DEG DEG DEG....


Jantung Asiah berdetak kencang sekali lagi, seakan-akan tatapan yang di berikan pria di depannya melihat kedalam dirinya. Apa dia tahu? Tidak, dia Bajingan yang tidur dengan banyak wanita jadi tidak mungkin dia tahu, Erika pernah bilang kalau bajingan ini tidur dengan wanita yang berbeda-beda setiap hatinya dan lagi pula Kami telah melakukan banyak hal untuk menutupi ini selama beberapa bulan terakhir.


"Untuk apa bertanya?, Siapapun Ayah dari anak-anakku bukan urusanmu," jawab Asiah dengan kasar.


"Apa karena itu kau tidak menghubungiku?."


"Hem?."


Yah benar, itu sangat benar lagi pula untuk apa aku menghubungimu dasar bodoh maniak s-x, batin Asiah.


"Hahh???"


Adrian yang mendengar kata-kata Ervin bertanya-tanya tentang kewarasan Ervin sejenak. Omong kosong apa yang di katakan bajingan gila ini?, Apa dia masih waras?, Sudah kuduga dia benar-benar suka pada wanita ini, batin Adrian.


"Ini sudah lima bulan sejak kita tidak bertemu, biasanya wanita yang tidur denganku akan segera menghubungiku untuk bertemu lagi tapi kenapa kamu tidak?.


"Kamu membuatku hampir gila karena memikirkanmu untuk waktu yang lama."


Ervin memuntahkan kekesalannya pada Asiah dengan frustasi. Asiah yang melihat itu mengernyit dan berfikir kalau Ervin sudah gila.


"Tentu saja itu salahmu."


"Hah? Di bagian mana?."


"Di bagian kau menghilang dan tidak menghubungiku dan apa ini? Setelah aku bertemu denganmu kamu terlihat sama namun berbeda!, Lihatlah! Kamu mengandung!!!." Ervin berbicara dengan panik.


"...."


Asiah melihat kearah Adrian dengan binggung, untuk mencari sebuah penjelasan namun Adrian sendiri bahkan lebih binggung dengan situasi di hadapannya.


"Memangnya apa salahku jika aku mengandung?," Tanya Asiah.


"Itu— Kalaupun Kau Mengandung Setidaknya Kamu Harus Memberitahuku!."


"Atas dasar apa kamu mengatakan itu?," Tanya Asiah selembut mungkin.


"...."


Ervin terdiam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan wanita di depannya namun hatinya bergetar ketika melihat perut yang membesar dan wanita yang keningnya berkeringat. Perasaan aneh apa ini?.


Ervin membuka mulutnya untuk beberapa saat dan menutupnya lagi. Dia memalingkan wajahnya ke samping sambil manutup matanya.


"..., Aku akan pergi. Senang bertemu dengan kalian tapi aku harus perg—"

__ADS_1


"Anu permisi?," Seorang karyawan datang dengan buku di tangannya. "Maaf karena menganggu pembicaraan anda hahaha... Tapi anda lupa untuk memberikan alamat rumah anda!.


"Kami tidak bisa mengantar barang-barang ini jika tidak ada alamat yang tertera," karyawan tersebut berkeringat hanya untuk menyampaikan kalimatnya.


"Ah! Maaf aku lupa."


Asiah segera menuliskan alamat rumahnya. Dan melangkah untuk pergi akan tetapi, Ervin menarik tangan Asiah dan membawanya ke tempat yang lebih sepih.


"He-HEI! BARANG-BARANGKU!."


"Adrian, tolong bawa barang-barangnya."


"Ugh, iya aku akan bawakan," Adrian mengutip tas pakaian yang terjatuh dan mengikuti Ervin menuju parkiran. "Kemana kau akan membawaku?."


"...."


Ervin hanya terdiam dan tidak berbicara, dia hanya fokus untuk keluar dari keramaian. Setibanya mereka di parkiran Ervin melepaskan tangan Asiah dan menyentuh wajah lembut Asiah. Ervin mengelus wajah cantik itu seakan-akan melepaskan kerinduan yang mendalam di sana.


"...?"


Asiah menepis tangan Ervin dengan kasar dan menjauh selangkah darinya. "Kamu ini ada masalah apa padaku? Sembarangan menyentuh dan membawaku dengan kasar seperti itu." Asiah menunjukan kekesalannya pada Ervin.


"Hhump...."


Ervin menarik nafasnya dalam-dalam dan melihat Asiah. "Katakan padaku, Apakah kamu sedang mengandung anakku?."


"Apa?!."


"Apakah kamu sedang mengandung anakku?!."


"Omong kosong apa—."


"Ervin kamu sudah kelewatan, omong kosong apa yang baru saja kau katakan?!." Adrian datang tepat waktu ketika Asiah hampir saja menunjukan keterkejutannya.


"Jangan ikut campur Adrian, aku sedang bertanya padanya." Ervin kembali melihat Asiah. "Bukankah sejak awal kamu mengikutiku? Apakah kamu datang ke klub untuk melakukan ini padaku?."


"???"


"...?"


"Kamu merayuku, dan membuatku terhibur namun meninggalkanku setelah mendapatkan apa yang kamu inginkan.


"Sebenarnya Apa Yang Kau Inginkan?."


"...."


Asiah menjadi binggung dengan situasinya saat ini, antisipasinya sama sekali tidak memprediksi hal ini. "Kamu datang dengan pertanyaan yang aneh?." Asiah berusaha untuk bersikap tenang.


"Aneh? Apa aku terlihat seperti lelucon bagimu?."


"Dan kamu juga, apa kau berfikir kalau aku ini sedang bercanda padamu."


Suasana menjadi panas di antar keduanya. Asiah menyeringai pada Ervin yang kebingungan. "Atas dasar apa kamu menyimpulkan sesuatu seperti itu? Biar aku beritahu anda sesuatu." Asiah telah memikirkan jawaban yang bagus untuk saat seperti ini.

__ADS_1


"Ini bukan anakmu. ... Aku tidur dengan banyak pria untuk waktu yang lama dan tidak sengaja mengandung."


__ADS_2