
"T-tidak ada." Asiah tersenyum canggung lalu mengambil ponsel dari tangan Ervin.
"...."
Mengenggam. Tangan Asiah tiba-tiba di genggam erat.
"T-tolong lepaskan...." Asiah bergumam pelan, sampai-samlai hampir menangis. Jantungnya masih berdetak kencang setiap kali kulit mereka bersentuhan.
"Tolong lepaskan tanganku-."
"Tidak mau."
Melihat Keatas.
Menangapi penolakan Ervin Asiah melihat keatas karena perbedaan tinggi badan mereka yang jauh.
"W-kenapa tidak... Mau?."
"Karena aku menangkapmu duluan."
"...."
Ervin menunduk dan menyeka air mata di kelopak mata Asiah, dia melihat telinga Asiah sudah memerah, terselip setiap kali tanganya bersentuhan dengan miliknya. Hal yang saja juga terjadi pada Ervin namun dia bisa menyembunyikannya dengan baik.
"...."
"Asia Rosen...." Ervin menyebutkan nama Asiah dengan penuh kelembutan yang bercampur rasa rindu di setiap kata. "Aku merindukanmu..., Aku tidak bisa melupakanmu seperti janji yang telah kubuat." Ervin tersenyum mesam saat mengatakan itu.
"Dasar bodoh."
Menetes.
Air mata yang berusaha dia tahan kini telah jatuh. "Bodoh." Asiah terisak dan mulai menangis. Dia maju menutup jarak yang memisahkan mereka, melingkarkan tanganya di leher Ervin lalu berciuman.
Bibir Ervin yang telah lama tidak merasakan hangatnya bibir Asiah ********** seakan memakan bibir mungil itu. Ervin menyentuh kepala Asiah lalu memperdalam ciumannya sedangkan Asiah mencengkram kerah kemeja Ervin sampai kusut.
Mereka melepaskan rindu selama sebulan penuh dalam ciuman panas itu, melupakan kenyataan bahwa saat itu mereka ada di tempat terbuka.
"Nguu-." Ketika Asiah menarik bibirnya Ervin mencengkram dagunya lalu kembali ******* bibir Asiah.
"Er- umm."
"Jangan berpaling," katanya lalu kembali ******* bibirnya.
Tap tap tap...
Cuman Ervin terasa panas bagi Asiah, air laurbya bahkan sudah turun kedagu. Sampai dia menepuk dada Ervin untuk memisahkan dirinya.
"NGUuu- BERHENTI!." Asiah memblokir mulut Ervin dengan tanganya lalu menjauhkan wajahnya.
"HHAH..M HAH... Hah.... Kau sudah kehilangan akal." Asiah menyeka mulutnya dan melihat sekeliling, untungnya tidak ada yang memperhatikan tindakan mereka karena orang yang berada di sana sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
"Huhhh... Bajingan gil-." Kalimat Asiah berhenti ketika melihat anak kecil yang sedang menjilat eskrim melihat mereka berdua dalam diam.
"...."
"...."
"...."
Wajah Asiah semakin merah padam, dia berjalan mendekati Ervin dan menendang tulang keringnya. "Dasar bodoh!." Dia memukul pundak Ervin pelan dan tapi tidak mendapat perlawanan malahan Ervin hanya tersenyum dan mulai tertawa.
"Apa kamu malu?." Ervin mengoda Asiah yang wajahnya memerah dengan candaan yang lebih kotor.
"Itu hanya anak-anak mereka tidak tahu apa-apa bahkan jika kita berhubungan sek-"
"TUTUP MULUTMU BAJINGANN!!!."
"HAHAHA... Hahh...." Ervin memandang wajah kesal Asiah dan memeluknya. "Ahhh... Aku mencintaimu Asiah Rosen."
__ADS_1
"Persetan dengan cintamu."
"Aku mencintaimu."
"Diam."
"Kau bajingan yang tidur dengan banyak wanita."
"Aku mencintaimu."
"Keparat sialan snif...."
.
.
.
***
"Apa sudah tidak menangis lagi."
"Diam kau sialan."
"Hahaha... Baru sebulan kita tidak bertemu tapi kau sudah menjadi kasar begini." Ervin meletakan kepalanya di pundak Asiah lalu mencium lehernya berkali-kali. Tanganya yang bebas meraba-raba perut besar Asiah yang memberikan sensai geli saat disentuh.
"Hahh... Aku rindu anak-anakku."
"...."
Asiah melihat orang-orang yang lewat dari kaca dalam mobil. Sebelumnya Ervin dan Asiah pindah kedalam mobil untuk menghindari pandangan orang-orang sekitar yang mulai tertarik mendengar sumpah serapa yang dilontarkan mulut Asiah kepada Ervin.
Didalam mobil Ervin menusukkan Asiah dipangkuanya dan kembali melanjutkan ciuman yang sempat tertunda. Untung saja saat itu Ervin bisa menahan diri dari menyentuh Asiah yang sedang hamil besar.
Mengelus.
"Hemp, kamu hanya mengatakan itu sesaat saja."
"Tidak, aku bersungguh-sungguh."
Asiah mengalihkan tatapanya dari jendela ke wajah tampan Ervin. Dia menyentuhnya perlahan dan melihat garis luka yang dulu pernah dia lihat di layar ponselnya sebulan yang lalu.
"Apa yang terjadi padamu setelah tuan Jefry menangkapmu? Aku lihat kamu begitu terluka saat itu."
"Nah... Itu hanya luka kecil bagiku" Ervin menutup matanya dan menikmati sentuhan lembut diwajahnya. "Saat itu aku berusaha untuk melupakanmu seperti janji yang kita buat tapi sayangnya tidak bisa."
"Lalu kenapa tadi kamu berpura-lura lupa denganku."
"Hanya untuk mengodamu saja."
"Lalu."
"Hum?."
"Sejak awal kenapa kamu terlibat skandal dengan artis itu. ... Apa karena aku marah padamu terakhir kalinya?."
"Begitulah." Ervin tidak menyangkal. "Tapi aku tidak tidur dengan dia, kami hanya berciuman saja."
"Kudengar kamu kedapatan telanjang bersama wanita itu."
".... Siapa yang memberitahumu soal itu?."
"Rahasia."
"Apa itu Julius?."
"Bukan."
"Pasti dari dia soalnya kalian cukup dekat." Ervin menyeringai dan mengeratkan pelukannya. "Jangan terlalu dekat dengan dia di masadepan."
__ADS_1
"Bukan kamu yang menentukan itu." Asiah menjauhkan wajah Ervin yang hendak mencium lehernya sekali lagi.
"Kamu tidak terlihat begitu marah padaku."
"Aku Marah Padamu...."
"Tapi kamu percayakan kalau aku tidak tidur dengan wanita itu."
"Kamu pria bajingan." Asiah memukul wajah Ervin dengan tamparan keras dipipinya. "Karena kebodohanmu aku sampai harus di bawa kerumah sakit."
"Rumah sakit?." Wajah Ervin mengkerut ketika mendengar rumah sakit. "Kenapa???." Dia menjadi penasaran.
"Aku terkena serangan panik saat melihat berita panasmu dan hampir membahayakan bayiku."
"... Tsk, media sialan itu." Ervin mendecakan lidahnya karena kesal, pandanganya menjadi sinis.
"Jangan salahkan media, kamu yang membuat dirimu terkena skandal... Sekarang anak-anakku pasti akan di cap sebagai anak playboy bajingan."
"Well... Siapapun yang mengatakan itu nanti akan kehilangan lidahnya." Kata Ervin begitu santainya.
"Mudah bagimu untuk bicara, lagi pula...." Asiah berfikir sejenak lalu berbicara ragu. "Apa kamu yang membunuh Tera." Asiah tidak tahu mengapa tapi itu adalah kalimat yang sangat ingin dia ucapkan.
"Kamu benar itu aku." Ervin membalas pertanyaan Asiah dengan penuh percaya diri. "Terima kasih, berkat dirimu Ayahku jadi tersangka utama."
"Apa itu salahku?."
"... Mengapa kamu sampai melakukan itu."
"Karena dia menyakiti orang yang kucintai maka dia tidak pantas untuk hidup."
"... Kupikir kamu sudah berubah menjadi lebih dewasa."
"Apa hanya itu yang ingin kau tanyakan."
"Entalah."
"Kalau begitu biarkan aku yang bertanya sekarang.
"Apa kau tidak marah saat mendengar jawaban dariku bahwa aku adalah yang membunuh sepupumu."
Asiah terdiam. Mengapa aku tidak marah yah ... Padahal jika itu Ayah aku pasti sudah mengamuk.
Bibir Asiah mulai berkedut, entah mengapa kalimat yang tidak pernah terpikirkan keluar begitu saja dari mulutnya. "Aku tidak marah mungkin karena yang melakukan itu adalah orang yang aku Cintai."
Mata melebar.
Kelopak mata Ervin terbuka lebar saat Asiah mengatakan kalimat terakhir. Jantungnya berdetak kencang seperti habis lari maraton, tubuhnya mulai memanas. "Hahaha...." Ervin tertawa kecil lalu membenamkan wajahnya yang tersipu merah di tengkuk Asiah.
"Apa yang kau inginkan dariku."
"Hum?."
"Aku tanya apa yang kau inginkan dariku... Rumah mewah, perhiasan mewah... Jika kamu mau aku bisa memberikan Aishwa padamu Ah! Tidak, sejak awal Aishwa sudah jadi milikmu." Ervin mengenggam tangan Asiah seerat mungkin. "Katakan padaku apa yang kau inginkan aku akan—."
"Nikahi Aku."
Ervin hanya semakin tersipu bahagia. Dia tersenyum sangat banyak karena rasa malu sekaligus bahagia yang tidak terlukiskan. "AAAH... Ya ya... Aku akan menikahimu sekarang juga," kata Ervin yang senyumannya masih belum hilang dari wajah.
Dia mencari wajah Asiah lalu menyentuhnya dengan kedua tangannya. Setelah mendapatkannya dia meletalan keningnya di kening Asiah kemudian berusaha untuk mengatur nafasnya yang berat.
Sunyi.
Ervin melepaskan tanganya dari pipi Asiah lalu tangannya turun Kejari telunjuknya, mengambil cincin silver yang telah dia kenakan bertahun-tahun. "Aku tidak punya cincin cantik untuk melamarmu sekarang tapi aku punya ini." Ervin menunjukan cincin itu di telapak tanganya, ukuran cincin yang sudah pasti tidak akan muat ditangan Asiah yang kecil dan ramping.
"Asiah Rosen... Maukah kamu menikah denganku."
Asiah tersenyum kecut tapi dia mencium bibir Ervin sejenak, mengambil cincin itu lalu berkata. "Yah... Aku mau menikah denganmu."
......Tamat......
__ADS_1