Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 80.


__ADS_3

Disebrang Ervin mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut Asiah. Seperti lagu patah hati yang menyayat lubuk katinya.


[ "Perjanjian telah selesai, kamu gagal dan sekarang adalah saat yang tepat untuk menepati janjimu." ] Asiah menutup matanya pelan lalu membukanya lagi untuk menatap mata Ervin yang memerah.


"Tidak Asiah...." Dia mengelengkan kepalanya. "Aku tidak mau."


"Janji adalah janji, aku punya buktinya jadi kamu harus melakukannya suka ataupun tidak suka."


[ "Kamu punya bukti?." ]


"Tentu." Asiah mengambil alat perekam suara di sakunya, sebuah pulpen kecil yang berisi semua rahasia mengenai Ervin dan keluarganya termasuk perjanjian kesepakatan Asiah dengan Ervin.


"Kau diam-diam merekamku?."


[ "Tentu, aku sudah menebak kalau kamu akan meminta bukti jadi aku merekamnya." ]


Julius yang berada ditengah keduanya menelan ludah kering, dia tidak ingin terlibat dengan kedua orang ini terutama Ervin.


[ "Kamu kejam sekali." ] Ervin tersenyum kecut.


"Seperti kamu tidak kejam saja, lagi pula itulah yang kulakukan untuk bertahan hidup."


[ "Asiah soal isu itu aku hanya-." ] Dia tidak bisa melanjutkan kalimatnya sampai beberapa saat.


"Kamu harus cepat berbicara, Ayahku berusaha untuk menjauhkanku dari internet saat ini."


[ "Kenapa?." ]


"Menurutmu karena apa?." ]


Mereka berdua kembali bertatapan dalam diam.


[ "Kamu ternyata sama saja Ervin." ]


"Apa maksudmu."


[ "Kamu sama seperti mantanku pada akhirnya, kalian hanya tahu menyakiti saja." ] Setetes air mata jatuh dari kelopak mata Asiah yang sudah susah payah dia tahan.


[ "Pembohong." ]


Merinding.


Nyut.


Melihat setetes air mata yang jatuh itu hati Ervin terasa seperti ditusuk-tusuk oleh puluhan pisau.


Sakit.


[ "Aku minta maaf." ]


Tersenyum.


"Tidak perlu khawatir, aku maklum dengan itu, penyakit seksual tidak akan mudah dihilangkan.


"Tahukah kamu kalau aku sengaja mengambil persyaratan ini?."


[ "Aku tidak tahu, tapi apa alasannya?." ]


"Karena aku tahu kamu akan melanggarnya." Sekali lagi setetes air mata jatuh dari kelopak mata Asiah dia menatap Ervin sayu.


"Snif... Kalian sama, kalian berdua sama sniff... Bedanya kamu lebih terkenal dan lebih bajingan." Asiah bergumam kecil tapi masih bisa didengar oleh Ervin. "Setidaknya aku lari darinya karena dia terlalu posesif."


[ "...." ]


Ervin menundukan kepalanya, menatap ikatan besi yang melingkar dikakinya. Sial!.


[ "Oke, mari lupakan ini, seperti perjanjian kita, kamu bilang aku akan memiliki seluruh asetmukan jika kamu melanggar peryaratan dariku." ]

__ADS_1


"Tentu, kamu bisa ambil semuanya."


Julius terlihat terkejut dengan percakapan yang membahas topik lain. Apa tuan muda benar-benar secinta itu pada Asiah?!.


[ "Tapi bagaimana yah... Sniff... Aku tidak mau asetmu, aku hanya mau kamu melupakan aku dan bayiku, tolong jangan muncul lagi dihadapan kami nanti jika suatu saat kita berada ditempat yang sama." ] Wajah Asiah semakin memerah menahan isakan tangis.


Mengapa aku jadi seperti ini.


"Aku akan akhir-."


[ "TUNGGU!." ] Sebelum Asiah mengakhiri panggilan Ervin berteriak.  [ "Kali ini saja!, Kali ini saja ampuni aku... Aku tidak akan tidur dengan wanita lain lagi dan... Aku... Aku benar-benar tidak mau kehilangan mu dan bayiku!." ] Sesak didada Ervin semakin dalam.


[ "Bukan tugasku untuk mengampunimu, dan bukan tugasku pula untuk melarang mu lakukan apapun yang kamu suka, 'Memangnya Siapa Kita Ini. '


[ " 'Memangnya Apa Hubungan Kita?' ... 'Tidak Ada Bukan?' jadi bukan hakku untuk melakukan itu, kamu memberiku kesempatan dan aku juga memberimu kesempatan namun kamu melewatkannya sekarang saatnya kamu membayar." ]


[ "Kamu sangat Jahat, tahukah kamu kalau sangat sulit bagiku untuk beradaptasi dengan hubungan kita yang masih belum jelas." ]


"Kupikir aku tidak tahu."


[ "Hahaha...." ] Asiah tertawa lalu menunjukan pena perekam itu di atas layar komputer.


"Aku akan tunjukan ini pada Ayahku jika kamu muncul dihadapan kami, ah... Sedikit info, Ayahku orang yang lebih berbahaya dari yang kamu pikirkan."


"Dokter Julius?."


[ "Yah?." ]


Asiah tidak bisa melihat wajah Julius namun dia bisa menebak ekspresi macam apa yang dia keluarkan.


[ "Kupikir aku akan berterima kasih dengan cara yang lain nanti, sampai jumpa lagi dan ...." ] Asiah melihat Ervin yang menatapnya. [ "Perhatikan kondisi tubuhmu bodoh, kamu terlihat menyedihkan, istirahatlah, jangan begadang ini untuk yang keterakhir kalinya aku memeperingatimu." ]


"Asi-."


[ "Aku tutup." ]


"Hahh...." Asiah menghela nafas panjang sambil menatap langit-langit gudang yang berdebu. Kemudian dia mengelus perutnya perlahan. "Sangat buruk, kalian tidak akan memiliki aset milik Ayah kalian."


****


Didepan layar ponsel yang gelap, Ervin melihat pantulan wajahnya yang berantakan.


Menelan Ludah.


"A-aku akan segera keluar." Julius memasukan ponselnya kedalam saku lalu segera bergegas keluar dari ruangan meninggalkan Ervin dalam keheningan.


Ervin mulai tertawa. "Hahaha... ... AHahaha... Ahaha.... Persetan hahaha.... Sialan dasar bodoh idiot....


"Hahh...." Ervin mulai menatap lantai setelah selesai tertawa, dilihatnya kaki yang tidak mengenakan sepatu mahal, atau benda-benda mahal yang biasa ada ditubuhnya.


Pintu Terbuka.


"Selamat siang anakku yang bodoh...! Apa kau sudah lebih sadar atau masih bodoh seperti sebelumnya." Jefry datang mengunakan jaket bulu domba langka dan kacamata hitam elegan mahal edisi terbatas Aishwa.


"Kamu lihat inikan?, kacamata edisi terbatas perusahaanmu ada di wajahku sekarang."


"...."


Sambil mengunyah permen karet Jefry menatap Ervin seperti sedang merendahkannya. "Bagaimana?, Kudengar Julius datang dan menghubungkanmu dengan Asiah Rosen. Apa katanya?."


"Diam."


"Hoho... Seperti yang kuduga kau ditinggalkan."


"F-ck, diamlah."


"Kalau aku tidak mau diam kau mau apa? Memukulku? Cobalah."

__ADS_1


Taptap....


Jefry menepuk pipi putranya sekali lagi tiga kali.


"Hais... Yamapun... Cepatlah sadar dan berhenti membuat ibumu khawatir, ini hanya sekilas info perusahaanmu Aishwa sepertinya akan segera bangrut."


Mengunyah.


"Investor yang sebagian berasal dari keluarga sibiadap itu sepertinya membuat masalah saat pemiliknya tidak terlihat tanpa kabar."


Menggeser.


Bangku kayu digeser kedepan Ervin lalu kemudian keduanya bertatap-tatapan setelah Jefry duduk.


"Aku, Ibumu dan Angela tidak akan memberi bantuan apapun mengenai kebangkrutanmu, anak buahku akan Melepaslanmu setelah sepuluh hari jadi cobalah untuk merenung."


Menepuk.


Jefry menepuk pipi Ervin untuk keterakhir kalinya lalu pergi keluar dari ruangan.


Membungkuk.


Anak buahnya yang berjaga diluar memberikan laporan singkat lalu menyebar kembali untuk mengiring tuannya. "Panggil Julius ke kantorku."


"Dimengerti."


***


"Asiah dari mana saja kamu?."


"Dari gudang, mengambil ini." Asiah menunjukan sebuah boneka beruang berwarna coklat. "Diaman Ayah?."


"Diluar sedang memanggang daging."


"Apa Ayah tidak ke restoran?."


"Mana mungkin, saat kamu ada disini mana mungkin Ayahmu akan ke restoran ada koki yang bisa dipercaya disana."


"Oh baiklah."


Ema membantu putrinya keluar dari gudang, lalu menuntunnya kembali keruang tamu. Langka kaki Asiah sudah sangat lambat dan pingganya sudah terasa sakit saat berjalan.


"Huhf... Huhf... Bagaimana dengan Laura Ma?, Kudengar dari Ayah kemarin acaranya berjalan lancar." Asiah duduk disofa putih lalu menerima air putih dari Ibunya.


"Acaranya berjalan lancar, semua orang sibuk dengan dunianya masing-masing..., Itu tidak terlihat seperti acara pertunangan dimata Mama." Ema duduk disebalah putrinya lalu menyalakan televisi.


"Hem? Sejak kapan remot itu ada disana?."


"Sudah sejak pagi.... Kira-kira acara apa yang-."


[ Gosip—. ]


Melempar


DUBRAK.


"MAA!!!." Asiah terkejut karena ibunya melempar remot televisi kelayar tv hinga televisi jatuh kebelakang.


"Mama ada-ada saja...!" Asiah berdiri dan melihat tv yang terbalik dibelakang meja.


"Ada ribut-ribut apa ini?." Roberto datang dari luar sambil membawa daging panggang di piring kaca.


"Ayah lihatlah, ibu menghancurkan tv!." Asiah mengadu pada Ayahnya tentang perbuatan ibunya namun dia tidak tahu bahwa saat ini dibelakangnya Ema sedang memberi isyarat pada Roberto.


"Oh, biarkan saja, lagi pula tv itu sudah tua, sudah saatnya kita menganti dengan yang baru."


"Apa???."

__ADS_1


__ADS_2