
Suasana mulai memanas.
Tersenyum.
"Kamu masih belum dengar beritanya rupanya."
"Aku tidak menonton televisi karena sibuk direstoran, bahkan koran atau berita elektronik tidak masuk ke kediaman Rosen."
"Baiklah... Jika kamu tidak tahu maka aku akan beri tahu, putraku sudah bekerja sebagai hakim mahkama angung sejak dua bulan yang lalu bagaimana? Bukankah dia luar biasa?."
"Tidak mengesankan menurutku."
"Oh ayolah... Lagi pula apa juga yang hebat dari putrimu? Selain cantik dia hanya seorang guru di Prancis sa-."
"Kupikir kau sudah terlalu banyak bicara kawan." Lingkungan pertemanan Roberto mulai menatap pria itu. "Roberto apa perlu dia disingkirkan." Teman yang berada di kanan Roberto mengangkat gelasnya.
"Ditembak ditempat pasti lebih baik."
"Hahaha... Jangan begitu, anaknya pengacara mahkama angung."
"...."
"Sayang sekali." Roberto meminum anggurnya lalu berkata. "Kamu tahu sendirikan kalau kita kebal hukum."
Tertawa.
"HAHAHAHA...."
"AHAHAHA...."
"Anaknya Hakim Katanya??? ... HAHAHAH."
"Aduh... Perutku...."
"Aku tidak tahu apa ada di otaknya sekarang tapi-." Pria berjanggut berhenti tertawa dan menatap pria itu. "Sepertinya kamu terlalu sombong karena memiliki bajingan hukum dibelakangmu sekarang."
"Tentu saja tidak, kalau aku sombong aku tidak akan datang ke sini untuk menawarkanmu kesempatan yang menarik.
"Lagi pula siapa lagi di dunia ini yang masih suka pada putrimu yang sudah hamil besar selain putraku?."
Roberto menyeringai. "Kau sudah kelewatan batas bajingan... Kamu-!." Disaat emosi Roberto memuncak, tiba-tiba suara menyela datang dari belakang.
"Sangat tidak sopan."
Berhenti.
Roberto dan teman-temanya berhenti dan menoleh kebelakang.
"Putramu Hanya hakim tapi sudah membanggakannya seolah dia paling hebat saja."
Mata Roberto membelak. "KAMU!!!."
__ADS_1
Tersenyum.
"Lama tidak bertemu Roberto Rosen."
"JEFRY KYROS...!" Roberto mengertakan giginya saat melihat pria yang lebih tua darinya datang entah dari mana dengan pakian serbah mewah yang mencolok.
"Apa ada yang salah Robert?." Teman-teman Roberto mulai melingkar disekelilingnya lagi, seolah mereka akan melakukan sesuatu yang buruk hari ini. Bahkan salah satunya telah mengambil Colt45 dari dalam saku.
"Robert?."
Mengangkat Tangan.
"Tidak perlu, aku akan menangani ini." Roberto melirik kearah putrinya masih bersama dua wanita lainnya di balkon. "Ada dimana putramu."
"Aku tidak tahu, dia pria dewasa yang melakukan apapun yang dia suka."
"Kau!!!"
****
"Intinya kamu tutup mulutmu itu, jangan sampai aku mendengar sesuatu yang aneh-aneh dari Laura nanti."
"Aneh sekali " Asiah memiringkan kepalanya kekanan. "Siapa yang mengancam siapa di sini."
"Tentu saja aku, kita memang sepupu tapi kamu masih tahukan kalau Paman Robert sudah bukan mafia lagi? Dan Ayahku masih mafia yang aktif di Jerman."
"Lalu apakah hanya dengan itu kamu sudah berbangga diri?, Dengar meski paman masih mafia tetap saja namanya tidak sebesar Ayahku saat masih aktif.
"Jadi tidak ada alasan bagiku untuk takut dengan acamanmu yang kekanak-kanakan itu."
"Memangnya kenapa kalau aku tinggal di luar negri?, Ahh ... Aku ingat dulu kamu tidak punya kesempatan untuk tinggal di luar negri karena 'Ayahmu' yang merupakan mafia tidak mengizinkanmu melakukan apapun yang kamu suka."
MENGIGIT BIBIR.
"LACUR INI!." Tera yang kesal mencengkram bahu Asiah kuat sampai dia meringis.
"Awt-! Hei?!."
"Kau pikir dirimu sudah hebat huh?, Selain wajahmu yang cantik tidak ada yang hebat darimu yang bisa dibandingkan denganku.
"Kamu Itu Hanya Wanita Rendahan Yang Hamil Diluar Nikah Dan Tidak Tahu Siapa Ayah Dari Anaknya."
"Ayah dan Ibuku saja tidak repot mengapa kamu begitu repot???." Asiah menjawab tenang. "Lagi pula apa kamu berfikir dirimu lebih baik? Tera jangan lupa fakta bahwa kamu menyukai suami Laura dan berusaha untuk memisahkan mereka dimasadepan."
"DIAM!!!."
Asiah tersenyum. "Aku memang rendahan tapi setidaknya aku tidak memiliki niat untuk menghancurkan pernikahan seseorang, hanya karena cinta sepihak seperti kamu." Asiah melihat penampilan Tera dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Semua yang ada padanya cantik dan sempurna tapi mengapa dia memilih menyukai suami orang.
Tera Rosen dikenal sebagai model papan atas di Jerman, wanita yang sedang naik daun karena image badasnya dalam sebuah drama telah melambungkan namanya ke jenjang nasional.
__ADS_1
"Aku bisa membunuhmu kapanpun aku mau selama paman tidak melihatnya jadi bersyukurlah ASIAH ROSEN!!!." Tera mengancam Asiah, kukunya yang panjang juga ditekan kedalam dres biru laut tipisnya.
Asiah hanya meringis namun tidak takut, kemudian membalas perkataan Tera terhadapnya. "Kenapa aku harus bersyukur untuk kebaikan hatimu?, Ini tidak seperti kamu terlihat berbahaya dimataku."
Berkat pengalamanya sialnya bertemu dengan pria-pria pisikopat Asiah tidak pernah merasakan bahaya ancaman dari siapapun sampai saat ini. Sehingga mendengar Tera mengancam hanya terdengar seperti suara nyamuk ditelinganya.
"Lepaskan tanganmu."
"Ap-apa?." Untuk pertama kalinya Tera melihat ekspresi wajah Asiah yang biasanya tabah menjadi jengkel.
"Kalau kamu ingin mengancamku gunakanlah cara yang lebih kejam dari ini." Asiah berbalik mencengkram tangan Tera di bahunya. "Aku sudah muak dengan kalian semua."
"AAW-!!!."
Di tengah Hall.
"Hei? Apa kalian melihat Asiah?." Pengantin wanita berjalan diantar kerumunan tamu undangan yang sedang menyapa. Dia melihat-lihat sekeliling keberadaan sepupunya terkasih namun sulit ditemukan.
"Ada dimana Asia-."
"Waw... Lihat itu!!! Bukankah dia terlihat seksi!."
Laura mengalihkan perhatiannya kearah suara. Dimana para gadis muda melihat satu orang, pria tampan berkaca mata hitam berjalan santai masuk kedalam ruangan sambil membawa bunga pengantin yang seharusnya telah hilang.
"Hah???." Laura kehabisan kata-kata, pria yang belum pernah dia lihat sebelumnya seketika menjadi pusat perhatian para gadis-gadis muda di pesta. "Siapa itu?." Suami disebelahnya juga memperhatikan kerumunan gadis.
Mereka menyaksikan pria tampan itu pergi ke arah balkon terbuka dimana Tera, Mika dan Asiah berada.
"Huh? Ada apa itu?." Mata Laura yang jernih melihat Asiah dan Tera saling menggenggam, tapi ekspresi di wajah Asiah menjadi pusat perhatiannya. Ini aneh Asiah tidak pernah menunjukan ekspresi wajah seperti itu sebelumnya.
"Sayang aku akan kesana sebentar."
"Laura tu-."
"Tunggu dulu, aku pikir ada sesuatu yang salah." Laura mengangkat gaun pengantinnya setinggi lutut lalu berjalan cepat dibelakang pria berkacamata hitam.
***
"K-kamu pikir aku takut hanya karena kamu mengancam aku?." Cara Tera melihat Asiah menjadi lain, seperti dirinya melihat Roberto begitulah dia melihat Asiah saat ini. Rasa takut, cemas dan kewaspadaan bergumul mengisyaratkan untuk segera pergi menjauh darinya namun tetap saja harga diri Tera tidak membiarkan rasa takutnya menguasai.
Melepaskan tangan.
Setelah dia melepaskan tanganya dari bahua Asiah rasa takutnya menjadi sedikit berkurang kemudian tatapan matanya tertuju pada Asiah yang berjalan pelan menuju Hall utama. Tiba-tiba pikiran jahat terlintas.
Jika aku mendorongnya apakah itu salahku?. Tera melihat punggung Asiah lalu berjalan pelan supaya Asiah tidak menyadarinya, tak lupa dia melirik sekitar yang tengah sibuk dengan masalah mereka masing-masing.
Dilihatnya Roberto yang sedang berbincang asik dengan temannya, Ema yang berbicara dengan teman wanitanya sebayanya.
Mendorong.
DUK.
__ADS_1
"Hung!!!."
Tanganya mendorong punggung Asiah kedepan, hingga kakinya menyandung pot bunga palsu, kejadian itu seperti berjalan lambat seakan ada satu detik terasa lama. Matilah j-lang sialan...