Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 019


__ADS_3

Ada banyak kotak ponsel di dalamnya, dia mengambil satu dari antara banyak ponsel itu dan menyalakannya. "Ini sudah hampir satu jam setelah aku menghubungi bajingan itu, apa yang sedang dia lakukan?," Ervin mengutak atik ponselnya untuk menghubungi temannya lagi.


Kali ini temannya mengangkat pangilan dari Ervin. "Yah Tuan Muda Ervin? Aku baru saja melihat panggilanmu hahaha... ada apa?."


"Sepertinya aku sudah bosan hidup sehingga tidak lagi memperhatikan ponselmu."


"Ehem. Itu- Ehem. Aku sedang—"


"Cepat datang ke rumah sakit Royaume sekarang juga!, Jika kau tidak datang dalam waktu LIMA MENIT maka besok kau Tidak Akan Bernafas lagi," kecam Ervin.


"Ehem, Ba-baiklah aku akan—"


"CEPAT!." Ervin mengakirin ponselnya dan berlari lagi masuk kedalam rumah sakit. Saat dia sampai di kamar tempat Asiah di periksa ternyata Asiah sudah tidak ada lagi di sana.


"Hah? Kemana mereka membawanya pergi?."


Ervin panik, dia keluar dari kamar dan mencari-cari di sekitar lobby dan kamar-kamar pasien lain. "KEMANA KALIAN MEMBAWANYA?!." Ervin berkeliling panik sambil berteriak seperti orang gila di koridor.


Sedangkan Asiah sebenarnya sedang berada di toilet. Dia berada di sana karena perutnya semakin mual dan merasa kalau dia akan segera memuntahkan seluruh isi perutnya.


"Hwueekk... Hwueak...


Ahck... Uugh... Blugg- bluuekk...."


Asiah duduk di menyandar di dinding setelah selesai muntah. "Huhff... Huhff... Apa yang salah padaku?." Asiah menyentuh kepalanya lagi, keringat dingin masih menjalar di keningnya. "Ini lebih parah dari awal bulan aku hamil, rasanya sedikit berbeda ketika kehamilanku memasuki bulan ketiga."


Asiah merentangkan kakinya di lantai, tangannya menyentuh kening dan punggungnya. "Huhh... Aku pikir, aku akan absen seminggu penuh kali ini." Asiah merogoh kantung dressnya dan mengambil ponselnya di sana.


"Masih belum ada tanggapan dari Miss Mery masih belum membalas pesanku." Asiah membuka kontak pangilan yang lain namun sebelum menghubungkan panggilan dia mual kembali. "Blug—!" Asiah berbalik lagi ke toilet dan muntah sekali lagi.


"ASIAH...!, ASIAH...! DI MANA KAU ASIAH...!"


Ervin berteriak menjadi-jadi. Banyak orang di lobby memperhatikannya dengan tatapan aneh seolah-olah dia telah kehilangan seseorang. Untungnya dokter wanita yang menangani Asiah melihat Ervin dan menghampirinya.


"Tuan!, Apa yang terjadi? Kenapa anda berteriak! Apa sesuatu yang buruk terjadi pada istri an—"


"DIMANA? DIMANA ASIAH...! DIMANA DIA SEKARANG!." Ervin menguncang tubuh dokter itu. "Asiah? Maksud anda istri anda?."

__ADS_1


"...."


Ervin berhenti sejenak setelah mendengar pertanyaan dokter itu. "IYA! DIMANA DIA SEKARANG?!," kata Ervin yang masih terlihat panik.


Dokter memiliki ekspresi bingung di wajahnya, dia berusaha untuk menenangkan Ervin. "Bukankah beliau masih ada di kamar? Aku hanya keluar sebentar karena ada panggilan dari direktur." Dokter menjelaskan alasannya pada Ervin yang masih panik.


Sayangnya Ervin bukalah seseorang yang menerima alasan sepele seperti yang di katakan oleh dokter itu. "KAU MENINGGALKAN PASIENMU YANG SEDANG KESAKITAN UNTUK PERGI KETEMPAT LAIN?!!, RUMAH SAKIT MACAM APA IN?!," teriak Ervin frustasi.


"...."


"...."


"...."


Mendegar teriakan panik Ervin pada dokter membuat beberapa pasien dan penjenguk berbisik. Beberapa dari antara pengunjung yang mengenal Ervin mengabadikan momen itu melalui ponsel mereka.


"Gila! Pemilik perusahaan Aishwa sedang mengila di rumah sakit Royaume." Mereka mengabadikan momen langkah itu dan membagikannya kemedia sosial.


"Anda-"


Dokter membuka paksa pintu kamar dan melihat Asiah memang tidak ada di kamar itu. Ya Tuhan! Kemana dia pergi???. Dokter berbalik dan membuka satu-persatu pintu kamar pasien yang lain untuk mencari pasiennya.


"Uugh."


Sedangkan Ervin mengusap wajahnya dan mengaktifkan ponselnya lagi untuk menghubungi seseorang sampai akhirnya dia mendengar suara dari dalam toilet.


"???"


Ervin berjalan menuju toilet dan membukanya paksa pintu. "KAMU!!!" Ervin melihat Asiah yang duduk di lantai, wajah pucat Asiah basah karena keringat dan tangannya memegangi perut dan keningnya.


"AKU MENCARIMU KEMANA-MANA! BAGAIMANA KAU BISA ADA DI SINI? SIAPA YANG MEMBA—"


"AARG-! BERHENTI BERTERIAK!, SUARAMU MENGEMA DI SINI, KENAPA KAU SEJAK TADI KAU SELALU BERTERIAK?!," Bentak Asiah.


"Ap—"


Ervin menutup mulutnya, dia tidak jadi marah dan bergegas mengangkat tubuh Asiah dari lantai namun Asiah menolaknya. "Uugh, aku tidak mau, tubuhmu penuh dengan aroma mint, aku hanya akan muntah kalau kau mendekat."

__ADS_1


Asiah menolak uluran tangan Ervin. "Maafkan aku tapi saat ini aku sangat sensitif," kata Asiah dengan wajah menyesal. Ervin berhenti berjalan dan membatu, dia menarik tangannya yang hampir mengangkat tubuh Asiah dan keluar dari toilet untuk membuka kaos hijau tua yang dia pakai.


Tubuh kekar dan tato ular besar menjadi terlihat di tubuhnya setelah dia melepaskan pakaiannya kecuali celana pendek yang dia kenakan. Ervin masuk lagi kedalam toilet dan mengulurkan tangannya, kali ini Asiah tidak menolaknya dan membiarkan Ervin mengangkat tubuhnya.


"Kau wanita pertama yang membuatku gila seperti ini," kata Ervin.


"Apakah aku perlu membanggakannya?."


"...."


Ervin tidak membalas Asiah, dia menghela nafas dan membawanya keluar dari toilet. Asiah dan Ervin bisa melihat perawat dan dokter yang datang melalui pintu dengan wajah panik. "Tu-tuan!, Apakah anda sudah menemukan istri anda?," Tanya seorang dokter pria pada Ervin.


"Apa kau tidak bisa melihat?."


"Apa yang terjadi?" Tanya Asiah. Dia melihat dokter dan perawat yang wajahnya menjadi pucat. "Apa kau melakukan sesuatu pada mereka?," Asiah bertanya pada Ervin.


"Aku tidak melakukan apapun, seharusnya memang seperti ini mereka melayaniku sejak awal."


"...."


Asiah melihat para dokter dan perawat dengan tatapan kasihan. Ahh~ pasti sulit untuk mengatasi bajingan gila ini, cik. Lagi pula kenapa dia yang heboh seperti ini padahal aku yang sedang sakit. Asiah ingin mengatakan sesuatu namun lagi-lagi perutnya mual.


"Uugh!"


"..., Apa kalian sudah menyiapkan kamar yang aku inginkan?."


"Su-SUDAH!."


Dokter muda dengan wajah tampan paling menunjukan jalan menuju kamar VVIP pada Ervin. Beberapa perawat bahkan telah menyiapkan Branker namun sekali lagi Ervin menolak dengan tegas. Dia memilih untuk membawa Asiah menuju ruang VVIP dengan tangannya sendiri.


"Hei, kau bisa menurunkanku sekarang, aku sudah baik-vaik saja huhff... Huhfff," Asiah menatap Ervin dengan wajah pucat.


"..., Kau pikir aku akan percaya itu?, Diam saja dan tidak usah banyak berfikir, bagaimana kau bisa baik-baik saja jika tubuhmu di penuhi keringat seperti ini."


"...."


Asiah menatap Ervin. Dia menutup matanya dan menyandarkan kepalanya di dada Ervin, dia bisa mendengar detak jantung Ervin yang berdetak kencang namun anehnya Asiah menikmati sensasi itu dan perlahan terlelap.

__ADS_1


__ADS_2