Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 52.


__ADS_3

Melihat darah ditangan Asiah seketika hatinya serasa perih. "IYAAA... BAIKLAH. Aku tidak akan mendekat letakan kacanya cepat, tidakkah kau melihat tanganmu terluka," kata Ervin selembut mungkin.


"AKU TIDAK PERDULI."


"Asiah kamu sedang kacau, dengarkan aku dulu dan letakan kacanya itu berbahaya!."


"Tidak mau..., kau akan membunuhku dan bayiku jika aku meletakan ini."


sakit kepala Ervin semakin bertambah. Ah... Sial...! Wanita ini keras kepala.


Dari jarak jauh Ervin melihat kaca ditangan Asiah lalu melirik kebelakang pintu. Yang terbuka. "ADRIAN AMBIL KACANYA!."


"HEM???."


Berbalik.


Asiah yang masih panik segera melihat kebelakang setelah mendengar Ervin menyebutkan nama Adrian.


Sekarang saatnya!. Melihat Asiah yang lengah Ervin segera meraih kaca yang ada di tangan Asiah, dia mencoba merebut kaca itu tetapi Asiah hanya semakin mencengkram kaca itu kuat-kuat. "LEPASKAN KACANYA BODOH! TANGANMU SUDAH TERLUKA!!!."


"TIDAK MAUUU...." Asiah memberontak ketika Ervin memeluk tubuhnya dari belakang. Kali Asiah yang pendek menendang-nendang di bawah ketika Ervin mengangkatnya hanya dengan satu tangan. "LEPASKAN!!!."


"Kalau Aku Melepaslanmu Kau Akan Jatuh Dan Melukai Bayimu."


"HA—"


"Apa kau mau bayimu terluka?, Kalau kau mau aku akan menjatuhkan mu sekarang juga," kecam Ervin.


Asiah berhenti memberontak dan mulai menangis. "Sniff.... HUAAAA.... Bunuh saja Aku Tapi Jangan Anak-anakku... Hikss... Aku Tidak Bermaksud Untuk Menipumu... Aku Hanya— Hikss... Aku Hanya— Uug-."


"...."


Ervin membungkam mulut Asiah dengan cara mencium bibirnya untuk segera menenangkannya kemudian. "Memangnya siapa yang akan membunuhmu?." Ervin mendudukan Asiah di tas meja dapur setelah perlahan jauh dari pecahan kaca di ruang tamu. Dia mengunci Asiah dengan tangannya yang menghalangi gerak Asiah di atas meja.


"Siapa yang akan membunuhmu?!, Siapa?, Katakan siapa yang akan membunuhmu?."


"Hikss... Kau yang akan membunuhku."


"Kata siapa?!."


"Hikss..."


"Tidak adakan, aku tidak akan membunuhmu sumpah!."


"Tapi kau membunuh mantan kekasihmuu... Hikss... Hikss... Kau membunuhnya karena mengandung anakmukan sniff...  Aku tidak mau berkahir seperti itu, sniff... Setidaknya biarkan aku melihat mereka lahir sebelum matiii... Hiksss...."


"KAU TIDAK AKAN MATI."


"TAPI KEKASIHMU MATI!."


"ITU DIA DAN BUKAN KAMU...! Aku tidak akan membunuhmu aku janji!."


Asiah masih menangis. ".... Kau berbohonggg... Kau membunuh semua mantan yang mengandung anakmu."

__ADS_1


"Aku tidak per— .... Ya! Memang benar aku melakukannya tapi aku melakukannya hanya sekali! Hanya sekali!. Dari mana kau mendengar itu?." Perlahan Ervin menyeka air mata Asiah yang masih jatuh.


"Julius yang bilang padaku... Snif."


"Julius...? Bajingan Sial Itu...!"


Ervin menghela nafas lalu memegang bahu Asiah dan menatap matanya.


Dia mengatakan bahwa dia tidak akan membunuh Asiah hanya karena mengandung bayinya dengan cara menipunya. "Aku tidak akan membunuhmu, yah..., Memang benar dulu aku melakukan itu pada wanita yang aku kencani tapi itu dulu! Sekarang sudah tidak lagi! Aku bersumpah!!!."


"Tapi Julius bilang—"


"Kau percaya dia atau aku?."


"Aku percaya Dokter Julius."


"Apa...? Kau lebih percaya Julius dari pada aku?."


"Memangnya aku punya pilihan lain? Hikss... Erika dan yang lainnya mengatakan kau orang yang berbahaya, hikss... Aku tidak akan tidur denganmu kalau aku tahu kau tipe orang yang seperti itu....


"Mereka bilang kau itu bajingan gila yang membunuh orang, memperbudak mereka dan juga maniak *-** yang tidur dengan berbagai macam wanita.


"Hikss... Mana mungkin aku tidak lebih percaya pada merekaaa...." 


"...."


Ervin hanya bisa terdiam etelah mendengar komentar Asiah, dia merasa kobaran api di hatinya semakin membara. Orang-orang bodoh itu... Apa yang mereka katakan tentangku padanya sudah di luar batas.


"Sudah berhentilah menangis, Aku Sungguh!... Tidak Akan Membunuhmu!."


"Ahh—"


Ervin mengangkat wajahnya keatas melihat langit-langit dapur dan melihat Asiah lagi. "Sedikit berfikirlah, kalau aku ingin membunuhmu maka sudah kulakukan sejak dulu, setelah aku menemukan fakta bahwa kau mengandung bayiku.


"Tapi lihatlah sekarang! Aku bahkan mengantarmu kerumah sakit untuk melakukan pengecekan, mendengarkan detak jantung bayiku bahkan aku mengantarmu pulang dengan selamat.


"Apa kau tidak berfikir bahwa aku sudah berubah?. Hem?, Tidakkah kamu mengingat kalau aku mengatakan kamu membuatku menjadi aneh?.


"Apa kamu sudah lupa semua itu Asiah Rosen... Hemm?. Jawab aku?."


"Sniff...." Asiah mengangkat tangannya untuk menyeka air matanya tetapi Ervin malah menepis tangannya. "Jangan menyentuh wajahmu, tanganmu sudah berlumuran darah."


Dengan lembut Ervin memegangi tangan Asiah lalu membersihkan darah kebajunya sendiri. "Tsk... Dimana kotak obatmu?, Pasti rasanya sangat sakit." Ervin membersihkan darah di tangan Asiah sampai noda darahnya menghilang dan menunjukan luka panjang di telapak tangan Asiah. Ahh~ wanita ini membuatku gila.


"Tetap di sini."


Ervin tidak bisa menunggu lama lagi sehingga dia bergegas lari keluar dari pintu rumah menuju mobilnya yang terparkir di luar gerbang. Dia masuk dalam mobil, mengambil kotak P3K dari bagasi mobilnya lalu masuk kembali kedalam.


Ketika hendak masuk kedalam rumah dia terkejut saat melihat Asiah yang berusaha untuk turun dari atas meja. "AAARG— TIDAK BISAKAH KAU MENDENGARKANKU SEDIKIT SAJA?!!."


...🌸🌸🌸...


Pukul 12:00 SIANG.

__ADS_1


Mengulung Perban.


"Kau adalah wanita pertama yang membuat hidupku jadi susah," kata Ervin di depan Asiah.


Sebelumnya setelah Ervin menurunkan Asiah dari atas meja dia segera membawanya ke klinik terdekat untuk menerima perawatan pertama di tangannya. Ervin cukup kerepotan dengan Asiah yang tanpa sebab menangis terus setiap saat di klinik. Untungnya saat itu tidak ada yang mengenalinya karena menginalan masker hitam dan topi yang hampir menutupi seluruh wajahnya.


"Tadi itu hampir saja, kalau sampai aku ketahuan maka tamat sudah riwayat hidup damaimu." Ervin menyentil kening Asiah yang duduk di sofa ruang tamu.


"Lain kali kalau mau bertingkah fikirkan dulu matang-matang, jangan asal mengambil senjata tanpa tahu resiko yang ditimbulkan." Ervin menekan jari telunjuknya didahi Asiah.


"Sudah berapa lama."


"Hem?."


"Sudah berapa lama kau mengetahui bahwa aku mengandung bayimu."


"Belum lama ini. Ingat saat kau sakit?."


"Dari mana kau tahu."


Tap.


Ervin menutup kotak perban.


"Dari mantan pacarmu yang nomor empat."


"Dia...! Apa yang kau lakukan padanya."


"Tidak banyak, aku hanya bertanya beberapa hal dan walaaa..... Dia mengatakan semuanya tanpa terkecuali."


"Mereka yang berkencan denganku tidak tahu aku sedang mengandung jadi... Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?!."


"Cih, amatiran seperti kalian tidak akan memperhatikan detail kecil sekalipun. Inilah yang membedakan kalian dengan kami para profesional.


"Hahaha... Mengingat bagaimana kalian mencoba untuk menipuku benar-benar lucu. Tapi perlu kuajungkan jempol karena berhasil membuatku berlari seperti orang gila."


"...."


Asiah sudah memperhatikan pergerakan yang dilakukan Ervin sejak tadi, dia telah memastikan bahwa semua yang dikatakan Ervin benar karena sampai sekarang Ervin bahkan tidak memiliki niat untuk melukainya. Hahh... Seharusnya aku memperkirakan hal ini juga, Sekarang apa yang harus kulakukan.


"Jadi, apa yang akan kamu lakukan kepadaku?, Aku sudah menipumu seperti ini apakah kau tidak marah?."


"Marah? Sejak awal aku tidak pernah marah padamu. Aku malahan senang karena mengetahui kalau kau mengandung anak-anakku yah... Walaupun aku sempat kesal padamu karena tidak menghubungiku setelah lima bulan.


"Tapi tidak apa, sekarang kau bahkan sudah jadi miliku apa lagi yang harus aku marahkan."


"Aku bukan milikmu."


"Kau milikku."


"Dari mananya?."


"...."

__ADS_1


Ervin melihat Asiah. Dia memegang wajah Asia dengan satu tangan lalu menggoyangkan tangannya kekanan dan kekiri. "Kau sudah jadi miliku sejak kau tidur denganku," bisiknya merdu ditelinga Asiah.


"Huh???."


__ADS_2