Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 88.


__ADS_3

"Lebih baik kamu pulang saja kenegaramu Jefry, tidak ada hal baik yang akan datang jika kamu berkeliaran di sekelilingku."


Roberto menegakan tubuhnya yang duduk di atas mobil. Hal itu memicu tindakan panik dari anak buah Jefry yang mengangkat senjata api mereka.


"Tidak perlu panik, aku hanya menegakan pinggang, nguu... Tubuhku sudah terlalu tua untuk melawan anak muda."


"Hahaha... Kamu bisa saja Roberto."


"Pulanglah Jefry Kyros... Dan jangan muncul lagi."


"Nahh... Aku pikir aku tidak akan pergi begitu saja."


"Kenapa?."


"Putraku sedang berusaha untuk menjemput pengantinnya sekarang."


"Pengantin?, Apa putramu akan segera menikah?."


"Tentu, sejak masalah bulan lalu dia menjadi lebih dewasa lagi, kini dia telah menjadi pria dewasa sepenuhnya." Saat mengatakan itu ada rasa bangga yang tak terlukiskan di wajah Jefry.


"Kalau begitu ku ucapkan selamat, semoga padamu."


"Apa kamu masih belum menangkap maksudku Roberto Rosen?."


"Nahh... Aku tidak tertarik dengan kebahagiaan keluargamu." Roberto membuka pintu mobilnya lalu masuk kedalam. "Aku masih ingin berbicara sedikit lagi tapi sayangnya masih ada kesibukan yang harus aku tangani."


Kaca spion hitam menutup lalu mobil hitam melaju cepat keluar dari gerbang pekarangan keluarga Rosen.


"Boss... Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?." Tanya pria besar berkulit hitam.


"Tidak ada, Roberto bukan pendengar yang baik jadi salahnya jika nanti dia ceroboh dan melemahkan pengawasannya."


"Saya mengerti."


"Hubungi Ervin, atau lacak dimana posisinya saat ini."


"Di mengerti." Pria berkulit hitam berjalan kebelakang menuju mobil terpisah untuk melacak keberadaan yang saat ini sedang melaju menuju stasiun kereta Berlin.


****


Seorang gadis cantik berambut panjang yang di cat berwarna biru laut, turun dari mobil yang tampak kusam. Sambil menenteng tas yang berisikan uang dan tiket wanita itu berjalan santai di keramaian sambil melihat-lihat situasi.


[ Panggilan untuk penumpang jurusan.... Segera.... ]


"HUHFF... Dimana para idiot itu." Dia bergumam pelan dan melihat-lihat sekitar untuk mencari bawahan yang di perintahkan Ayahnya untuk segera mengawalnya.

__ADS_1


Setelah kejadian yang menyebabkan dirinya di buru keluarga Roberto Rosen hidup Tera terasa seperti di kejar bayangan menyeramkan. Sensasi merinding masih belum hilang dari tubuhnya, tatapan dingin Roberto dan wajah mengancam Ema masih menghantuinya sampai sekarang.


"Tsk .... Ada dimana orang-orang itu sekarang." Dia hampir menangis. Tera tahu setelah membuat masalah dengan Roberto Rosen dan keluarga Laura hidupnya sebagai artis akan segera berakhir cepat atau lambat.


"Aku harus segera pergi dari negara ini." Dia ingin segera meninggalkan Jerman dan tinggal di negara lain untuk pertama kalinya setelah Ayahnya yang keras kepala mengizinkannya untuk pergi demi keselamatannya.


Ayahnya melarang Tera untuk naik pesawat segera karena identitasnya akan segera di ketahui dan keberadaanya dapat di lacak dengan mudah oleh sebab itu dia disarankan untuk menaiki kereta api cepat dan bersembunyi di tempat lain sampai identitas palsu dibuatkan untuknya.


Gemetar.


"Hiks... Hikss... Ada dimana merekaaa...!!!" Semakin lama waktu berlalu semakin resah dan takut pula dia, detik di jarum jam yang terpampang di tengah tembok stasiun hanya semakin membuatnya panik setiap kali satu menit berakhir.


Mengetuk.


Ketika dia memutuskan akan bersembunyi di toilet untuk sementara jemari rampung dari pria bertopi hitam mengetuk bahunya yang bergetar.


"HAHHP-." Sebelum dia berteriak tangan itu membekap mulutnya pelan. "Saya kemari untuk membantu anda."


"Hahh...." Mendengar itu Tera bernafas lega. "Kenapa lama sekali idiot!." Tera menendang tulang kering pria itu yang anehnya tidak ada reaksi apapun darinya. Pria asing itu mengenakan masker hitam dan topi yang menutupi hampir seluruh wajahnya sehingga dia tidak bisa melihat wajah pria itu.


"Sekarang ikuti saya." Kata pria itu pelan.


"Hemp... Jika kamu terlambat sedikit saja tadi maka aku akan menyuruh Ayahku untuk memotong tubuhmu." Tera yang kasar berjalan didepan sambil di arahkan pria bertopi hitam kearah mobil hRolls Royce Ghost EWB berwarna hitam yang terparkir cantik di halaman stasiun.


"Apa Ayah yang mengirim mobil ini untukku?."


Mengangguk.


"Kalau begitu lakukan dengan benar." Tera masuk kedalam mobil yang dibuka lalu melaju keluar dari lingkungan stasiun.


"...."


"Tuan Muda, tuan besar menghubungi."


"Sambungkan."


"Baik." Ervin membuka topi hitam dan masker di wajahnya, menghirup udara hangat musim gugur.


Menyambungkan...


[ "Bagaimana pekerjaanmu disana?." ]


"Sudah diatasi, bagaimana denganmu?."


[ "Dasar tidak sopan, ... Aku sudah berbicara dengan Roberto Rosen tapi tampaknya saat ini masih belum bisa mendekati mereka dia terlihat sensitif sehingga disinggung sedikit akan menjadi hal merepotkan." ]

__ADS_1


"Aku mengerti."


[ "Aku tu- ah... Btw, lakukan dengan bersih, jangan sampai ada jejak yang tertinggal." ]


"Kau pikir siapa aku ini." Ervin mengakhiri panggilan lalu masuk kedalam mobil terpisah. "Saatnya melanjutkan rencana kedua," gumamnya sambil melakukan mobil sport yang baru dia beli 20 menit yang lalu.


****


"Aku kembali." Roberto Rosen telah kembali kekediamannya.


"Bagaimana?." Ema yang masih terbangun menghampiri suaminya dan langsung bertanya.


"Dia mengirim Tera pergi dan kupikir malam ini dia akan segera keluar negri."


"Apa?! Lalu bagaimana sekarang?."


"Jangan khawatir, kita bisa melacaknya dengan mudah, wajahnya terkenal jadi orang-orang akan mudah mengenalinya.


"Bagaimana dengan Asiah?."


"Dia sedang tertidur dikamarnya."


"Aku mengerti." Ema melihat wajah suaminya dengan ekspresi serius. "Aku sudah menghubungi Ayahku, dia bilang dia akan segera mengurus adikmu." Sebenarnya tidak pernah ada kalimat itu.


"Aku mengerti, cepatlah tidur, kamu tampaknya sudah kelelahan."


"Hemp... Aku masih kesal dengan mereka, aku baru puas saat mendapatkan J-lang itu."


"Sudalah, masalah itu kita lihat besok saja. Kamu beristirahatlah malam ini aku akan begadang."


"Tidak, Ayo tidur bersama."


Roberto tersenyum. "Baiklah, tapi kamu harus segera tidur."


Mengangguk.


Mengecup.


Roberto mengelus punggung istrinya pelan sambil memeluknya hangat. "Besok semuanya akan baik-baik saja."


......🌸🌸🌸......


Dimalam hari yang semakin gelap, mobil hitam melaju dengan kecepatan penuh di tengah jalan yang sepih sisi pegunungan. Terasyah Rosen gadis cantik yang tengah sukse akibat akting dan foto-fotonya yang cantik disosial media kini merasa hancur dan takut akan sesuatu yang sedang mengejarnya.


"Sial!, Ini semua karena Asiah Rosen!. KERENA LACUR ITU!." Dia berteriak dalam mobil sambil memukul stir berulang-ulang meluapkan kekesalanya. "AAAARG- HAHH... Hah... Lihat saja setelah ini semua selesai aku akan membuhnya duluan... Lacur yang sok cantik dan mendapatkan apapun yang dia inginkan itu akan merasakan neraka setelah ini semua berakhir."

__ADS_1


Tera Rosen sejak dulu selalu merasa cemburu akan segala sesuatu yang dimiliki Asiah Rosen, mereka hanya berbeda dua tahun namun semua perlakuan manis telah dituangkan sejak dulu hanya untuk Asiah hanya karena pamanya yang merupakan anak pertama dulunya adalah pemimpin organisasi yang di kembangkan oleh ayahnya sekarang.


__ADS_2