Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 71.


__ADS_3

"Uumm... Anak-anakku juga sepertinya merindukan Ayah mereka." Bibirnya mencium perut hangat itu dengan sangat lembut ketika tangannya leluasa meraba punggung Asiah lalu turun kebawah perlahan.


Menepis.


Tangannya yang hampir menyentuh bokong ditepis Asiah kasar.


"Kita ada ditempat umum jangan melakukan hal cabul."


Ervin melihat mengangkat wajahnya keatas untuk melihat wajah Asiah yang sudah semakin memerah karena malu. Dia tidak bisa berhenti karena masih ingin melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh wanita yang dia cintainya itu lebih banyak lagi.


Dan juga Ervin mulai belajar kalau Asiah sudah tidak terlalu mempermasalahkan tindakannya ketika menyentuh bagian tubuh tertentunya sehingga, membuat Ervin tidak segan atau ragu untuk menyentuhnya.


"Saat ini aku sedang memakai masker jadi tidak akan ada yang tahu siapa aku." Ervin menurunkan tangannya lagi kebawah untuk menyentuh tetapi tangannya malah di cubit.


"Itu untukmu, bagaimana jika orang-orang merekam wajahku dan menyebarkannya di internet? Mengatakan kalau 'Dua orang sedang berbuat mesum depan umum. '


"Aku tidak mau Itu terjadi akan buruk untuk anak-anakku nantinya."


Sejenak Ervin terdiam. "Itu tidak bisa dibiarkan, aku tidak mau orang lain menikmati wajah cantikmu."


"Huh???."


"Tidak ada.... Ngomong-homong di mana Ayah dan Ibu?," Tanya Ervin menarik Asiah untuk duduk di kaki kirinya.


"Ayah dan Ibu sedang mengunjungi rumah kerabat jauh ibu disini, mereka tidak mengajakku karena perlu waktu lama untuk sampai kesana."


Dia sudah memanggil Ayah dan Ibu?.


"Begitu... Pantas saja dia tidak muncul entah dari mana hari ini," gumam Ervin pelan.


Posisi Asiah dan Ervin ada didepan teras sebuah cafe untuk menunggu pesanan roti awan yang belum datang setelah menunggu sepuluh menit lamanya.


Meski ada kursi lain di depan mereka Ervin tidak membiarkan Asiah duduk disana karena merasa suhu dingin itu akan merusak kulitnya. "Kenapa pula kita harus menunggu antrian, seumur hidupku ini pertama kalinya aku mengantri."


"Kalau begitu cobalah untuk bersabar."


"Kita ketempat lain saja, aku punya tempat yang bagus untuk membeli roti semacam ini."


"Tidak... Aku mau roti yang ini."


"Kau keras kepala sekali."


BIP.


Alaram pemberitahuan didepan meja berubah warna menjadi merah menandakan pesanan mereka telah siap diambil.


"Akhirnya."

__ADS_1


Ervin berdiri setelah mendudukkan Asiah dikursinya baru kemudian pergi menjauh menuju cafe tetapi masih harus mengantri lagi untuk mendapatkan pesanan. "Pffft-," Asiah tertawa kecil melihat Ervin yang kesal.


Tuktuk...


Pundak Asiah diketuk dari kanan dengan jari perlahan.


Ketika Asiah melihat kekanan berdiri dua orang wanita disana, menatapnya dalam-dalam lalu berbicara. "Um... Permisi nona, sepertinya Asi anda keluar sedikit," kata seorang wanita yang mengenakan masker merah beserta topi rajutan bunga di kepalanya.


Melihat Baju.


"Yamapun!." Asia terkejut melihat itu, dia tidak sadar kalau bajunya telah sedikit basah terkena air Asi. Dia secepatnya menutupi bajunya dengan jaket Ervin lalu menundukkan kepalanya untuk berterima kasih pada kedua wanita yang menegurnya.


"Terimakasih banyak!, Saya benar-benar berterima kasih."


Asiah kau sangat bodoh, bagaimana mungkin kau bertindak ceroboh didepan umum, batin Asiah.


"Nah... Itu hal wajar bagi calon ibu yang sedang hamil." Wanita yang lebih muda menepuk pundak Asiah pelan.


"Itu benar, sebenarnya kami tidak berani mengatakan itu karena akan menganggu suamimu...."


Asiah terlihat panik ketika wanita yang terlihat lebih tua mengira bahwa Ervin adalah suaminya, membuat wajah Asiah tersipu malu sekaligus jantungan. "Di-dia bukan suami saya!... Ahaha... An-anda salah paham...."


"Bukan suamimu...? Kalau begitu adikmu?."


"B-bukan juga!, B-bisa dibilang—."


"TIDAK— MASIH BELUM!."


Keduanya wanita itu saling melihat, entah bagaimana jawaban canggung Asiah membuat mereka tertarik untuk bertanya lebih banyak ketik Ervin masih belum muncul.


"Ya ampun... Kamu sangat imut, caramu tersipu malu sangat mengemaskan." Wanita muda yang terlihat sedang hamil itu mencubit pipi Asiah pelan sambil bergumam.


"Bagaimana bisa setan itu menemukanmu...," gumamnya pelan.


"Hem????." Asiah menatap mereka binggung.


"Oh my...." Wanita yang lebih tua mendekati Asiah dan memeluknya dari samping. Asiah ingin menghindari itu karena berfikir dia akan ditipu tetapi anehnya dia tidak menolak pelukan dari keduanya. "Aku tidak tahu keberuntungan macam apa yang dimiliki anak itu tapi terima kasih Tuhan...."


Sial... Sial... Sial... Kenapa anak itu malah menemukan sesuatu yang tidak pantas dia miliki... Gadis cantik ini terlalu berlebihan untuk pembangka seperti putraku... Pantas saja dia jadi jarang pulang kerumah, ternyata dia sudah menemukan rumahnya sendiri dan tidak memiliki niat untuk pulang.


Wanita yang lebih tua menggeser kursi didekat Asiah lalu menatap wajahnya bergantian dengan perut buncitnya. "Sudah berapa bulan usia kandunganmu?."


"Itu—."


"Jangan khawatir kami bukan orang jahat, lagi pula aku juga sedang mengandung juga."


Walau ragu-ragu pada akhirnya Asiah membuka mulut. "K-kandunganku baru delapan bulan."

__ADS_1


"DELAPAN BULAN?!!," Teriak wanita yang lebih tua kaget.


"APA!," Kata wanita hamil yang lebih muda sambil menyentuh pipinya. Wajah keduanya terlihat begitu tidak percaya mendengar perkataan Asiah barusan, mereka berdua tergaga kehabisan kata-kata.


"B-Berarti Sudah Mau Melahirkan?."


"Masih lama lagi, aku punya bayi kembar jadi bulan lahirnya akan sedikit lebih la—."


"KEMBARRR—!!!."


"AAARG—."


"Uhg—."


Ada apa dengan orang-orang ini, mereka sangat aneh, batin Asiah.


Tak lama setelah itu.


"Um... Permisi sebenarnya siapa kalian ini?," Tanya Asiah penasaran.


"Ya ampun... Aku harus menulis ini di catatan pentingku."


"Suami sialan itu ternyata sudah tahu sejak awal tapi tidak mengatakan apapun dan menyimpan segalanya untuk dirinya sendiri... Apa dia mau membuatku terlihat sangat jelek hahh???." Tangan wanita yang lebih tua mengetuk pesan dengan cepat di ponsel, mengabaikan pertanyaan Asiah.


"Emm... Permisi?."


"Ibu...? Angela...? Apa yang kalian lakukan disini?," Tanya Ervin pada kedua wanita di sebelah Asiah yang datang sambil menenteng dua paper bank berisikan roti awan, diwajahnya terlihat rasa cemas sekaligus kesal.


"Huh... Ibu???." Asiah seketika membeku ditempat duduknya.


"Huh? Apa lagi, tentu saja untuk melihat calon adik iparku," kata Angel dengan santai.


"Ervin... Kamu anak nakal, apa ibu pernah mengajarkanmu untuk menyembunyikan sesuatu dari ibu?." Kata Janed kesal.


"Huh???." Asiah yang binggung melihat antara Ervin, Angela, dan Janet.


"Ya ampun... Lihatlah wajah bingungnya, begitu mengemaskan...!." Tangan Angela dihentikan oleh tangan Ervin ketika dia ingin mencubit pipi Asiah sekali lagi. "Singkirkan tanganmu." Ervin melihat wajah terkejut Asiah lalu menyeka wajahnya pelan.


"Hei, apa yang kau herankan?."


"Ibu-mu???."


"Tsk."


Ervin melihat kedua wanita itu dengan tajam, dia memelototi mereka memberi isyarat supaya mereka segera pergi dari hadapannya tetapi tiba-tiba satu orang lagi yang dikenal Ervin muncul.


"Ahaha... Kalian ketahuan," kata Jefry sambil tertawa terbahak-bahak pada istri dan putrinya. "Dasar tidak pro, seharusnya kalian melakukan hal sama sepertiku." Jefry saat ini mengenakan pakaian pelayan pekerja cafe sambil tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


__ADS_2