Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 60.


__ADS_3

"Sembarangan. Dasar anak tidak tahu diri."


"Hahh... Apa dia sudah sarapan dengan benar?," Gumam Ervin.


Sejak pagi Ervin sudah terkurung di dalam mansion keluarganya karena hujan lebat yang masih tidak menunjukan tanda-randa akan berhenti, ibunya tidak membiarkan dia keluar walau bersikeras ingin pergi dan akhirnya dia terkurung.


"Ramalan cuaca bilang kalau hujan akan berlangsung sampai dua jam kedepan, sabar saja sayang... Mungkin ini cara Tuhan untuk membuatmu tetap tinggal sementara bersama kami... Lagi pula apa yang membuatmu terburu-buru?," Tanya Janet ketika dia menata piring-piring makanan di atas meja.


"Bukan urusan ibu."


"Kamu ini.... Bicaranya yang sopan dengan ibu."


"Tsk...."


KLING.


"...."


[My Wife mengirim pesan.


'Aku sudah sudah sarapan, jangan mengirim pesan-pesan itu lagi. ' ]


"Hahh...."


"IBU AKU DAN JEREMI DATANGGGG," teriak Angela penuh semangat.


"Oh! SAYANGG... KALIAN SUDAH SAMPAI~ JEREMI SINI-SINI BERIKAN NENEK CIUMAN," Janet memberikan hujanan ciuman pada pipi tembem Jeremi.


"Heheh ... Selamat pagi nenek! Dana kakek?."


"Oh Jeremi kamu sudah datang?."


"KAKEKKK...." Jeremi lari kepelkukan Jefry.


"Tsk. Pagi-pagi sudah ribut."


"Hem? Kenapa Ervin ada di sini?."


"Semalam dia datang untuk berbicara dengan Ayahmu."


"Hoo...."


"Apa yang kamu bawa?," Tanya Janet.


"Oh ibu, aku bawa mangga muda, tadi pagi aku melihatnya di televisi dan tiba-tiba saja aku ingin makan."


"Hem... Kamu masih ngidam rupanya."


"Yap, walau akhir-akhir ini sudah berkurang."


"Baguslah, kalau begitu ganti pakaian kalian, takutnya kalian berdua masuk angin."


"Baik Bu..., Jeremi ayo sayang kita ganti pakaian."


"IYA IBU, Kakek aku ganti pakaian dulu."


"Yayaya... Ganti pakaian yang bagus."


"Ayah terlalu memanjakannya."


"Terserahku, urus saja masalahmu sendiri."


"Huh?—"


"Sudah-sudah jangan bertengkar." Janet memanggil pelayan yang berada di dapur dan memberinya perintah untuk mengupas mangga yang di bawa oleh putrinya. "Bersihkan ini lalu kupas, kalau sudah selesai letakan saja di atas meja."


"Baik Nyonya."


"Bu aku pergi saja."


"Wh— tidak! Tidak boleh. Hujan masih lebat di luar dan juga kamu belum sarapan pagi Ervin, mumpung kakak dan Jeremi ada di sini mari kita makan bersama."


"Ibu aku bukan anak-anak lagi, aku tidak perlu sarapan—"


"TIDAK BOLEH!!!."


"Puffft... Salahmu pulang kerumah semalam," ejek Jefry sambil berjalan menuju meja makan.


"Apa yang kau tunggu? Cepat duduk di sini," tunjuk Janet pada bangku di sebelahnya.


"Arg-." Ervin mendecakan lidahnya lalu duduk di kursi tepat di sebelah ibunya yang tersenyum cerah. "Baiklah sekarang kita hanya perlu menunggu kakakmu dan Jeremi datang."

__ADS_1


"Ini hanya membuang-buang waktuku saja."


"Tunggu saja sayang."


"...."


"Maaf membuat kalian menunggu."


"Tidak masalah, ayo sarapan bersama, Jeremi sini nak duduk di sebelah nenek."


"Baik nenek." Jeremi duduk di sebelah Janet tetapi tidak berani memandang kedepan karena Ervin duduk tepat di depannya. "Ada apa?."


"Tidak ada nenek."


"Huhh... Mari kita makan," kata Jefry.


Pelayan mulai menghidangkan makanan di atas meja. Satu persatu mereka letakan serapih mungkin di atas meja, setelah semuanya selesai para pelayan mundur kebelakang dan meninggalkan ruang makan.


"Oke mari kita ma—"


"Selamat ma—"


"...."


Ketiganya melihat kearah Ervin.


"Apa yang kau lakukan?."


"Hem?."


Membuka mata.


"Tentu saja berdoa sebelum makan."


"Huh?????."


"Apa????."


"Ervin kamu berdoa????."


"Tentu saja? Apa ada yang salah?." Ervin bertanya pada keluarganya kearena heran melihat ekspresi mereka.


"Sniff."


"Ehem... Sudah biarkan saja ayo kita makan."


Angela hampir saja pingsan melihat Ervin yang aneh menurutnya. "Kamu membuatku terkejut Ervin!."


***


Di tempat lain.


SRASSSS.


BIPBIPBIPBIP...


"Hemm.... Jadi, kapan Ayah dan Mama akan tiba? Jangan seperti kemarin kalian datang tanpa bilang-bilang."


[ "Anak ini.... Dengar yah, mau Mama dan Ayah datang bilang-bilang atau tidak itu bukan urusanmu." ]


"Tapi Ma-"


[ "Tidak ada tapi-tapian... Intinya kamu harus siap kapanpun kami datang, dan juga ingatlah untuk sering periksa ke dokter dan makan teratur. Jangan sampai cucuku kenapa-napa karena ulah cerobohmu." ]


"Iya iya aku mengerti Ma... Dimana Ayah?."


[ "Ayahmu sedang sibuk, sudah hampir seminggu penuh dia mengemasi barang-barangnya." ]


"Barang-barang?."


[ "Yah, kamu tahu sendirikan kalau Ayahmu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Cucunya, Mama pikir sekarang dia lebih mementingkan cucunya dari pada Putrinya" ]


"Hahaha.... Kalau itu tidak masalah, selama Ayah senang aku tidak keberatan akan apapun."


[ "Hemp bilangnya begitu tapi nanti menangis karena kurang perhatian." ]


Asiah dan Ema berbicara cukup lama dari kejauhan. Mambahas tentang beberapa hal perihal persalinan lalu bercanda singkat di sana.


[ "Baiklah, jaga kesehatanmu nak. Jangan sampai sakit, ibu tidak bisa tenang setiap kali kamu sakit." ]


"Iya Ma, aku mengerti. Sampaikan salamku pada Ayah."

__ADS_1


[ "Iya. Mama tutup dulu" ]


TIB.


"Huhh... Mama terlalu khwatir. .... Sekarang apa yang harus kulakukan?, Hujan masih deras di luar ... Ah!."


KLETK... TIK.


[Menghubungi....]


Kling.


[ "Ya Asiah ada ap— AHMAD! JANGAN MAKAN ITY NAKK!." ]


".... Kamu terlihat sibuk Erika, nanti aku hubungi la—."


[ "TIDAK! TIDAK! JANGAN PUTUS SAMBUNGANNYA!." ]


"Tapi kamu terlihat si—"


[ "Aku tidak sibuk. ... Baiklah sedikit sibuk, akhir-akhir ini anakku sangat rewel dan suka memasukan mainannya kedalam mulut." ]


"Hahaha... Dia melakukan tugasnya dengan baik," canda Asiah.


[ 'Kamu ini.... Kenapa menghubungiku? ' .]


"Aku hanya sedang bosan."


"Wtf, bro kamu menghubungiku karena bosan?!."


"Bukankah itu lebih baik."


[ "Hei." ]


"Hem?."


[ "Bagaimana hubunganmu dengan si brengsek itu? Dia tidak melakukan sesuatu yang aneh padamukan?." ]


"Tidak ada."


[ "Huhh... Baguslah kalau begitu, rasanya masih tidak percaya kalau kalian berdua bersama sekarang, mengingat bagaimana kita menipu dia benar-benar mebuat jantungku tidak bisa tenang." ]


"Nahh... Semuanya baik-baik saja... Mungkin, lagi pula aku masih tidak melihat dia melakukan sesuatu yang mencurigakan."


[ "Hemp... Memangnya kau ini tahu apa siap itu, kamukan orangnya selalu sial dalam hal percintaan. Tunggu! Jangan-jangan kamu sudah—." ]


"Masih belum."


[ "Baguslah, ingatlah Asiah. Jangan terlalu cepat jatuh hati padanya, orang seperti dia tidak bisa di percaya. Suamiku juga bilang begitu padaku setelah dia mengetahui rencana kita berantakan." ]


Erika terus-menerus memberikan peringatan kepada Asiah, menyuruhnya untuk tetap waspada walau Ervin memperlakukannya seperti seorang ratu sekalipun.


[ "Pokonya jangan sampai kamu jatuh cinta dengan dia! Jangan sampai! Pokonya jangan! Aku mengingatkanmu Asiahhhh." ]


"Huhh... Baiklah-baiklah, aku mengerti dasar cerewet."


[ "Ngoming-ngomong, dimana dia? Aku tidak melihatnya di sekitarmu sejak tadi? Biasanya dia akan muncul entah dari mana setiap kali aku menghubungimu." ]


"Dia sedang tidak ada disini, tumben sekali kamu mencarinya."


[ "Aku tidak mencarinya!." ]


"Oke kalau begitu."


[ "Huhh... Asi—." ]


[ "Sayangku, aku sudah pulang." ]


"Sepertinya suamimu sudah kembali."


[ "Asiah aku tutup dulu, nanti aku hubungi lagi kalau sedang senggang." ]


"Baiklah, kirim salam untuk mereka."


[ "Tentu." ]


TIB.


[Pangilan di akhiri.]


"Huhh...."

__ADS_1


Asiah menyisir rambutnya keatas, dan melihat keluar jendela yang masih di guyur hujan lebat. "Kapan hujannya akan berhen– huh???."


__ADS_2