
"Ahh... Itu murah seka-."
"Ini uangnya."
"Terima kasih, silahkan berbelanja di supermarket kami sekali lagi," ucapnya ramah.
"Hei, aku bisa membayarnya."
"Nahh..., Akan lama menunggumu berkomentar."
"Cih, tidak seru."
"Sudah cepat, kita tidak punya banyak waktu untuk bersantai." Selesai dari super market Asiah dan Ervin pulang kerumah. Di depan pintu mereka bisa melihat Ema sedang berdiri disana di susul dengan Roberto yang muncul di belakangnya. "Ini kesempatanmu," bisik Asiah.
"Kau hanya membuatku semakin gugup saja."
"Jadilah dirimu sendiri, Ayah sangat benci dengan orang yang berpura-pura."
"Aku mengerti." Mereka berdua tersenyum ramah secara bersamaa saat masuk kedalam rumah. "Hoho.... Aku pikir kalian akan sangat lama untuk kembali."
"Banyak orang di antrian Mama. ... Apa tidur Ayah nenyak?," Tanya Asiah pada Ayahnya.
"Hempp."
Roberto tidak menjawab, dia hanya diam lalu berpaling dari mereka dan berjalan menuju ruang tamu.
"Ayah." Asiah berjalan melewati ibunya, dia mengejar Ayahnya yang telah mengabaikannya barusan.
"Ayah, apa Ayah sedang marah?."
"Hemp...."
"Ayah-."
"Tadi kamu sendiri yang mengatakan kepada Ayah untuk diam, kenapa pula Ayah harus berbicara padamu."
"Ayah...."
"Aku tidak de-."
"Apa kau memanggilku?," Kata Ervin yang datang dari depan pintu.
"Huh?????."
"Duduk disini." Asiah menepuk dudukan sofa di sebelahnya. "Apa yang baru saja kau katakan?."
"Duduk disi-."
"Jika Kau Duduk Di Sebelah Putriku Akan Kubunuh Kau!," Ucapnya sungguh-sungguh.
"Kenapa Ayah melarangnya? Ini bukan rumah Ayah jadi aku yang memutuskannya."
"TAPI DIA ITU-."
"Apa masalah Ayah dengan itu?."
"HUHFF... HUHFF... DIA HANYA PACAR SEWAANMU!... KENAPA KAU MENYEBUTNYA DENGAN NADA YANG SAMA UNTUKKU," rengek Roberto.
"Dia bukan pacar sewaanku."
"Aku Tidak Percaya Padamu...."
"Terserah Ayah saja."
"ASIAHH...."
"Ini menjengkelkan."
"Ini semua karenamu!," Teriak Roberto.
Dia menunjuk Ervin dengan jarinya dan memberikan tatapan kebencian yang teramat besar padanya. "AAAARG- SEHARUSNYA AKU MELUBANGI KEPALANYA TADI."
"ROBERTO! JAGA MULUTMU!!!."
__ADS_1
"EMAA...."
"Ayah seperti anak-anak."
"Wh-."
"Tuan Rosen, bisakah kita berbicara sebentar," kata Ervin menyela pembicaraan.
"Dasar pria yang tidak sopan, kamu sedang berbicara disi-."
"Saya tahu akan hal itu, makanya mari kita berbincang sebentar."
"...."
Roberto melihat putrinya yang sedang duduk di sofa bersama Ervin disana. Dia menelan ludahnya dan menekan kekesalannya untuk sesaat. "Baiklah." Dia berdiri dari sofa dan berjalan keluar dari pintu.
BRAK.
Suara pintu terdengar cukup kuat disana. "Hei, pergilah. Pastikan kamu melakukan apa yang aku katakan tadi."
"Tentu." Ervin mengelus perut Asiah sebentar lalu pergi keluar dari rumah mengikuti Roberto dari jarak yang cukup jauh.
"Ayahmu cukup keras kepala soal itu Asiah."
"Ya mau bagaimana lagi."
".... Kita juga perlu berbicara."
"Aku tahu Ma."
"Sudah lupakan. Mama yakin kamu punya alasan kuat di balik ini semua, tapi Mama masih perlu memastikan sesuatu."
"Apa itu?."
"Apa dia pria yang tepat untukmu?!," Tanya Ema dengan penuh kasih sayang.
"Aku tidak tahu," jawab Asiah.
"Kau tidak tahu?."
"Kamu membut keputusan yang bagus, tidak ada salahnya menunggu dan melihat perlahan tapi jangan kelamaan Asiah, tidak ada yang tahu kapan perasaannya padamu akan berubah."
"Apa yang dia katakan kepada Mama."
"Rahasia."
"Oh ayolah...."
"Dia hanya mengatakan celoteh aneh tentang rasa cintanya padamu. Dari caranya berbicara ibu bisa pastikan kalau dia benar-benar menyukaimu dan tidak bermain-main akan hal itu, itu terdengar obsesi yang mengerikan."
"Mama terlalu berlebihan."
"Aku tidak berlebihan."
Ema masuk kedalam dapur dan mengambil bahan masakkan dari dalam kulkas. Di letakannya daging dan sayuran di atas meja dapur untuk di bersihkan. "Bagaimana caramu mengambil hatinya?," Tanya Ema.
"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja semuanya menjadi seperti ini."
"Dia bilang kalian bertemu di club malam."
CRUSS...
Ema membersihkan daging yang telah di potong di bawah keran bersamaan dengan sayuran di sebelahnya. " 'Wanita yang cantik menawan menarik perhatianku' begitulah katanya," kata Ema menirukan Ervin.
"Pftt... Hahh... Ma."
"Yah?."
"Sepertinya aku terlibat pada sesuatu yang merepotkan."
"Dan kau baru menyadarinya."
"Tidak juga."
__ADS_1
Klak.
Ema meletakan sayur dan daging di atas nampan besar. "Jujur saja Asiah, kamu tahukan kalau Ervin itu bukan orang biasa."
"Aku tahu."
"Lalu?."
Asiah menutup matanya. "Seharusnya malam itu aku tidak bertemu dengannya dan cukup bodoh untuk menipunya." Asiah menceritakan kebodohan yang telah dia lakukannya bersama Erika selama beberapa bulan terakhir.
"Ap- kamu...!" Ceritanya berhasil membuat Ema terkejut sekaligus tidak habis pikir pada kelakuan putrinya tersebut. "Tunggu sampai Ayahmu tahu akan hal ini."
"Aku tahu, aku sudah siap menanggung konsekuensinya."
"Ahh... Anak ini." Ema menyeka wajahnya kesar dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada suaminya.
***
Kling.
"...."
[ 1 pesan dari Sayang. ]
Membuka pesan.
[ "Sayang, bisakah kamu pulang lebih cepat setelah berbicara dengannya, putrimu punya sesuatu untuk di katakan." ]
"Apa anda sudah siap untuk mendengarkanku?," Tanya Ervin.
Roberto menonaktifkan ponselnya kemudian memasukannya kedalam saku celana. "Kamu terlalu arogan." Dia menyisir rambutnya kebelakang dengan jari dan mengambil sebatang rokok di dari kantung saku yang lain.
Tik.
"Fuhh.... Jadi, apa yang ingin kau sampaikan?."
"Sepertinya anda menyembunyikan banyak hal dari keluarga anda."
"Itu bukan urusanmu."
"Baiklah tapi sebelum itu saya minta tolong kepada anda."
"...."
Angin berhembus kencang.
SRUUSSH
Ada jeda dalam kalimat Ervin, mereka berdua saling bertatapan. Sejenak admosfir di sekeliling menjadi berat dan panas di antara keduanya. "Berikan putrimu padaku."
"Pffftt...." Roberto tertawa kecil setelah mendengar permintaan Ervin. "Kamu bajingan kecil yang angkuh."
"...."
"Itu hanya akan ada dalam hayalanmu." Roberto kembali menghisap batang rokok.
"Kenapa? Apa sesulit itu untuk menerima kenyataan?."
".... Hahaha, kamu masih anak-anak."
"Aku sudah berusia tiga puluh satu tahun."
"Karena itu aku mengatakan kamu masih anak-anak. Hanya karena sudah berumur bukan berarti kamu sudah layak di katakan dewasa....
"Aku sering melihat pria model sepertimu di Jerman sana, mereka berserakan di jalanan dan pinggiran kota yang terbengkalai.
"Berteriak dengan arogan, melakukan apapun yang mereka mau karena sedikit memiliki kekuasaan sambil berbicara dengan percaya diri tanpa tahu di mana letak mereka yang sebenarnya."
Roberto memberikan tatapan remeh pada Ervin. Biasanya dia bukan pria yang menilai seseorang dari penampilan saja tetapi, khusus untuk Ervin dia mengunakan cara itu untuk merendahkannya walau dia tahu Ervin bukan seseorang dengan nilai rendah. "Dari yang aku katakan barusan, kamu berada di bagian yang mana?," Tanya Roberto.
Ervin terdiam, lalu tertawa kecil. "Hahaha.... Sayangnya saya tidak termasuk dalam bagian yang anda sebutkan tadi."
"Hem?."
__ADS_1
"Yahh... Beberapa memang ada tapi sayangnya...." Ervin menatap Roberto dengan penuh percaya diri. "Aku tahu dimana letakku."