Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 07.


__ADS_3

"Wow! Apakah kamu akan merayunya?."


"Jangan menjawab sesuatu yang tidak aku tanyakan," Ervin berbicara dengan nada rendah pada temannya.


"Aku tidak tahu. Bob bilang Erika tidak memberitahu nama temannya itu. Dia masuk ketempat ini dengan nama samaran dan juga membayar untuk itu."


"Kau masih menerapkan sistem itu?."


"Yap tentu saja, banyak pelanggan yang benci mengunakan nama asli mereka karena alasan tertentu, jadi sudah pasti aku akan mengunakan kesempatan ini untuk meraih keuntung."


"Apapun itu semoga beruntung." Ervin bangkit dari kursinya dan berjalan turun melewati tangga yang mengarah langsung ke area Pole Dance. "Hei! Apakah kamu serius ingin mendekatinya? Awas harga dirimu loh! Dia wanita yang sudah menolak cucu dari DPR beberapa waktu yang lalu," kata pria berkaca mata pada Ervin.


"Semakin sulit di dapat semakin nikmat hasilnya nanti, lagi pula aku ini bukan seorang pria yang bisa di tolak," Ervin berbicara dengan banga pada dirinya sendiri dan tetap berjalan.


"Kamu akan menyesal."


"Sepertinya tidak. Aku sedang bergairah malam ini dan dia terlihat seperti mangsa yang menarik, mari bertaruh untuk yang satu ini bagaimana?," kata Ervin sambil tersenyum.


"Nahh... Aku tidak mau bertaruh denganmu. Semoga beruntung." Pria berkacamata memanggil seorang wanita masuk kedalam dan mendudukkan wanita itu di pangkuannya.


"Tsk, sendirinya bajingan."


...🌸🌸🌸...


Ervin mengikuti kemanapun wanita yang masih berjalan santai itu dari belakan sebentar, dia merasa sedikit kefamiliar dari wanita di depannya. Wanita ini tidak asing..., Apa aku pernah bertemu dengannya sebelumnya?.


Ervin memperhatikan wanita itu dalam-dalam sekali lagi, sosok wanita yang dia lihat sejak tadi adalah Asiah yang berjalan tanpa arah hanya untuk memilih-milih mangsa. Ketika cahaya mulai sedikit menyorot wajah wanita itu barulah Ervin mengingatnya.


"Dia-!"


Ervin cukup hebat dalam mengingat wajah seseorang bahkan jika itu hanya dalam waktu hitungan detik karena itu dia langsung mengenali wajah wanita di depannya setelah cahaya menyinari wajahnya jelas. Wanita ini!.... Sebuah gambaran beberapa waktu yang lalu terlintas di benak Ervin. Sosok wanita yang menyengolnya ketika di restoran sebanyak dua kali dan jug sosok wanita yang mengacungkan jari tengah pada Ave yang mengamuk.


"Tidak mungkin! Apa dia mengikutiku sampai kemari?!." Wajah Ervin terlihat bersemangat, dan tubuhnya mulai memanas akan gairah yang mulai bergejolak.


"Apa-apaan ini? Mungkinkah dia seorang stalker?." Ervin hanya semakin penasaran pada wanita yang masih belum melihatnya, dia memiliki tanggapan kalau wanita didepannya adalah seorang stalker yang mengikutinya karena kejadian beberapa waktu yang lalu.


Tatapan Ervin terfokus hanya pada Asiah di depannya, mengabaikan wanita-wanita yang menyentuh tubuhnya dari belakang seakan-akan pandangannya hanya tertuju pada satu orang saja.


Ini bukan pertama kalinya bagi Ervin untuk tertarik pada seseorang, nyatanya bagi Ervin sendiri tertarik pada beberapa wanita sudah menjadi keseharian biasa baginya, tetapi kali ini ketertarikannya pada wanita didepannya sedikit berbeda.


Dengan penuh percaya diri Ervin menghadang jalan wanita itu kemudian.


"Hai."


Menatap.


"...."

__ADS_1


Mata mereka berdua saling bertemu ketika Asiah berbalik untuk kembali duduk di bangkunya. Siapa lagi ini. Asiah memalingkan pandangannya dari Ervin dan berjalan memutar melewatinya.


Merangkul.


"Hem?."


Sebuah tangan besar merangkul pingang Asiah dari belakang. "Permisi? Apa yang baru saja anda lakukan?." Asiah melihat pria di depannya dengan tatapan aneh, dan juga familiar.


"Apa kamu datang sendirian kemari?."


"Bukan urusan anda, lepaskan,"kata Asiah sopan.


"Hemm... Maukah kamu menum segelas denganku?."


"Tidak."


Jawaban singkat Asiah hanya membuat Ervin menaikan alisnya, semakin penasaran akan gadis dalam rangkulannya. "Hei?! Tidakkah anda mendengar apa yang aku katakan barusan?."


"Hem...? Apa itu?."


"...."


Asiah menatap kedalam mata pria itu, suara berat dari pria di depannya membuat musik keras di sekitar perlahan memudar. Wajah tampan itu menarik perhatiannya untuk beberapa saat.


Menunduk.


Ervin menundukkan kepalanya sejajar dengan wajah Asiah. Dia semakin terpesona ketika melihat wajah Asiah dari dekat dan juga ketika dia semakin mendekat aroma yang keluar dari tubuh wanita didepannya mebuatnya ingin mengenggam tubuh pendek itu selamanya dalam genggaman tangannya. Aku tidak menyangka stalkerku secantik ini.


"Kau cantik."


"Aku memang cantik sekarang menyingkirlah."


"Aku tidak menyangka kalau wanita yang mengikutiku akan secantik ini." Ervin mempersempit jarak di antara mereka berdua.


"H-hei! Kamu terlalu dekat!."


"Benarkah?." Ervin tidak perduli dan hanya mandang Asiah tanpa ada niat untuk berpaling.


Tangan kanannya menyentuh pipi Asiah lembut untuk memeriksa sesuatu. "Hemm... Hanya ada sedikit bedak disini." Ervin sengaja melakukan hal itu untuk memeriksa apakah kecantikan yang dimiliki wanita didepannya adalah asli atau palsu karena bedak.


"Apa kamu sudah gila? Kenapa menyentuh wajah seseorang seperti-"


"Bisakah aku menciummu?."


"Hng...???"


"Kau mengikutiku sampai sejauh ini bukan?, Kalau begitu bukankah aku seharusnya memberimu hadiah karena telah membuatku terkesan, bahkan sekarang aku dengan murah hati bertanya padamu... Bagaimana?."

__ADS_1


"Wt-"


Asiah menatap pria di depannya binggung. Kemudian ketika dia memutuskan mengabaikan pria didepannya dengan cara memalingkan wajah, pandangannya melihat Bob yang sedang mengacungkan jempol.


Apa yang dia lakukan?, batin Asiah.


"Gila!... Erika, temanmu benar-benar sesuatu! Dia menarik perhatian ikan besar setelah mengabaikan ikan-ikan kecil, jadi ibu rencanannya!"gumam Bob terperangah.


"Kamu melihat pria lain ketika berada di pelukanku... Itu membuatku sedih." Ervin memutar wajah Asiah untuk membuatnya memandang hanya padanya sekali lagi.


"Permisi??? Apa yang- !!!."


Menyentuh.


Ervin menyentuh bibir merah Asiah dengan jari telunjuknya seakan-akan dia semakin bergairah setiap kali mendengar Asiah bersuara. "Kau membuatku bergairah...."


Ervin menjilat bibirnya tepat di hadapan Asiah.


"Eurg-"


Lick.


Ketika Asiah ingin mengumpat, bibirnya merasakan sensasi lembut dan basah dari pria yang tiba-tiba saja menjilat bibirnya lembut. "Setiap kali bibir ini bergerak aku ingin melumat—."


"Persetan!." Tanpa sadar Asiah berkata-kata kasar ketika sekujur tubuhnya merinding, tangannya refleks mendorong pria didepannya kasar dan segera menjauh dari keramaian.


"Pffft-."


Sayangnya umpatan Asiah bahkan tidak membuat Ervin mundur. Malahan Ervin tersenyum lebar ketika jantungnya berdetak kencang. Ohoo... Apa ini? ! Apa aku baru saja di tolak?. Bibirnya tidak berhenti untuk tersenyum ketika matanya hanya tertuju pada satu yang sedang mengerutu menuju pintu keluar.


"Sial. Seharusnya aku duduk saja di bangkuku. Aku tidak mengantisipasi bertemu dengan tipe yang seperti it- Uuuuaa!...."


Lengan Asiah di tarik dari belakang dan tubuhnya yang ramping menyentuh dinding ketika pria besar di depannya menekannya dengan tubuh besarnya di depan. "APA-APAAN INI?!!."


"Apa kamu berfikir bisa pergi begitu saja setelah membuatku bergairah?."


"Apa?!!"


"Kuhh... Ekspresimu Itu.... Sangat baru bagiku?."


"Omong kosong apa yang kamu—." Asiah tidak bisa melanjutkan kalimatnya ketika bibirnya di ***** dengan kasar oleh pria di depannya. "Uuurg!!!." Asiah mencoba untuk mendorong tubuh besar itu tapi gagal, tenaganya hampir habis hanya untuk mempertahankan nafasnya yang menjadi sesak karena Ervin tidak memberinya waktu untuk bernafas.


"HUHFF... HUHHFF...."


"Uungh... Hah... Ssstt ungh...."


Asiah menarik rambut Ervin untuk memberinya jarak supaya dia bisa sedikit bernafas akan tetapi, Ervin malah mengunakan kesempatan itu untuk memasukan lidahnya kembali kedalam mulut Asiah.

__ADS_1


"AHRG- JAR-."


"Uumm...." Ervin mengigit kecil bibir Asiah untuk membuatnya membuka mulut sekali lagi, dan perlahan tangannya mulai bermain juga.


__ADS_2