
"AYAH...!"
"Diam nak, berani sekali kau mengeram pada Ayahmu."
"Ayah...???." Asiah hanya semakin binggung.
"Tunggu dulu anda!."
Asiah menunjuk pria tua didepannya. Dia masih mengigat beberapa minggu lalu bertemu dengannya di supermarket. "Pria yang menjatuhkan jeruk?!."
Tersenyum.
"Benar... Kamu mengingatku dengan baik."
Asiah segera melihat Ervin. "Apa kamu merencanakan ini?."
"Tidak!," jawab Ervin singkat tetapi dengan suara dingin ketika pembulu darahnya sudah menghiasi leher dan dahi ketika tatapannya tertuju pada ketiga orang didepannya.
Karena panik Asiah langsung berdiri dari bangku untuk memberikan salam kepada keluarga Ervin tetapi di hentikan oleh Angela.
"Kamu duduk saja, tidak baik terlalu banyak bergerak secara tiba-tiba," ucapnya lembut.
"UM— ITU!."
"Hahh...."
Ervin menghela nafasnya berat.
"Persetan, sebenarnya apa yang kalian inginkan?," Tanya Ervin dalam gelutan emosi yang mendalam, dia berusaha untuk menahan ledakan amarah ketika Asiah saat ini berada didekatnya. "Hei... Kamu berbicara tidak sopan pada keluargamu."
"Ahh... Aku sudah sangat sopan," kata Ervin yang masih menatap keluarganya tajam.
"Cih, sopan dari mananya?, Matamu bahkan terasa seperti pisau yang akan menusuk kulitku," gerutu Angela.
"Yaampun... Ternyata putraku tahu cara berbicara sopan juga didepan orang tuanya," tambah Jefry yang menuang minyak kedalam bara api.
"Sayang kamu membuat ibu terharu."
"???." Lagi-lagi Asiah melihat wajah Ervin.
Apa yang mereka katakan? Bukankah apa yang barusan dia katakan itu tidak sopan?, Tidak ada orang di dunia ini yang mengucapkan umpatakn ketika bertemu dengan keluarganya dan itu dianggap sopan.
"Hhuump— fyuh... Aku akan anggap kalian tidak ada disini." Ervin menarik tangan kiri Asiah untuk membawanya menjauh dari keluarganya. Dari mana mereka datang, aku tidak diberi kabar mengenai mereka.
"Tunggu!," Teriak Jefry dari belakang sambil mengejar bersamaan dengan istri dan putrinya.
"Ervin... Ayahmu memanggilmu, kamu harus tunggu sebentar."
"Abaikan mereka."
"Tapi—."
"Dapat."
Jefry menarik tangan Asiah dari belakang membuat langkah cepat mereka berhenti.
"APA YANG—." Ervin hampir berteriak mengutuk kearah Ayahnya.
"Ini." Empat Papar bank lain berisikan roti awan panas dikaitkan ditangan Asiah. "Aku dengar kamu menyukai roti disini jadi—."
Brak.
Papar bank jatuh aspal karena Ervin menepisnya.
__ADS_1
"Ap—." baru saja Jery ingin memarahi Ervin namun diduluani Asiah.
"APA YANG KAU LAKUKAN DASAR TIDAK SOPAN!" teriak Asiah.
Seumur hidupnya ini pertama kalinya bagi Asiah melihat seorang anak pembangka. Tangan Asiah yang dibalut sweter pink lembut memukul bahu Ervin beberapa kali seperti ingin menghukumnya.
Buk... Buk—
"Hei! Tanganmu bisa sakit nantinya."
"Biarkan Dasar Bodoh!, biadal!."
Asiah berhenti memukul lengan Ervin dan berjalan panik ke arah Ayahnya Ervin yang juga terlihat terkejut itu, dia mengambil papar bank di tanah dan menunduk dengan angkat sopan meminta maaf. "M-maafkan aku... Maafkan aku... Aku minta maaf." Asiah membungkuk walaupun mengalami sedikit kesulitan.
"Untuk apa kau melakukan itu-."
"DIAM DISANA."
"...."
"...."
Asiah kembali melihat Jefry yang terdiam menatap antara putranya dan dirinya. Perlahan tangan Asiah melihat pergelangan tangan yang sedikit memerah itu karena tepisan tangan Ervin. "Ya Ampun... Apakah Anda Baik-baik Saja?, Perluka Kita Kerumah Sakit?."
"Aku—."
"Apa yang kau lakukan lepaskan tanganya!." Ketika Ervin akan melepaskan tangan Asiah yang memeriksa Jefry sekali lagi dia mendapat teguran. "Aku Bilang Diam Disana Kenapa Kau Bergerak?."
"Kenapa kau jadi berbicara kasar padaku?."
"Aku Paling Benci Dengan Pria Jahat Yang Tidak Menghormati Orang Tuanya Sepertimu," kata Asiah terus terang yang membuat Ervin berhenti berjalan.
Melirik.
Hahaha... Kena kau anak sialan, batin Jefry.
Asiah bertabya sekali lagi dengan raut wajah cemas. "Apa anda baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja, kamu memiliki hati yang sangat baik." Jefry membalas pegangan tangan Asiah dengan sangat lembut tetapi matanya masih tertuju pada putranya yang wajahnya telah memerah karena marah.
"Sayang apa yang terjadi?," Tanya Janet.
"Hiks... Anak sialan itu memukul tanganku," ucap Jefry sesedih mungkin.
"Huh??? Bukankah itu—."
Berkedip-berkedip.
Jefry mengedipkan sembela matanya pada Janet tetapi masih belum di tangkap maksud darinya sampai akhirnya Angela masuk mengantikan ibunya.
"Dasar anak bajingan...! Ayah membesarkanmu dengan susah payah tapi kau malah melukai tanganya." Angela berpura-pura menyentuh tangan ayahnya tetapi matanya tertuju pada Ervin sambil mengejek. Kekeke... Lihat bajingan ini, dia benar-benar telah jatuh cinta, batin Angela.
"Sayang apa separah itu?." Janet melihat tangan yang dipegang Angela dan Asiah, dia masih belum mengerti sampai Angela berbisik pelan di telinganya. "Ibu, berpura-puralah suapaya kita bisa membawa gadisnya Ervin kerumah."
"??? Oh...!, Kamu keterlaluan Ervin— hiks... Ibu tidak membesarkanmu seperti itu...."
"Sudah cukup omong kosong kalian." Ervin melepaskan ketiga pasang tangan yang menempel pada tangan Asiah. Dia tidak perduli lagi dengan ucapan bernada tinggi Asiah karena yang ada dipikirannya saat ini adalah menjauhkan Asiah dari keluarganya.
"Hei—."
Ervin langsung mengangkat tubuh Asiah tanpa banyak bicara, dia segera menjauh dari keluarganya, memasukan Asiah kedalam mobil lalu menutup pintu kemudian masuk ke kursi pengemudi. "Kamu—."
Memasang Sabuk.
__ADS_1
"Duduk diam."
"Tapi—."
"Aku Bilang Duduk Diam!."
"...."
Asiah diam, lalu memalingkan wajahnya kejendela mobil. Dia menepis tangan Ervin yang hendak memasang sabuk pengaman.
"Aku bisa sendiri."
Brak.
Tanganya memukul kemudi.
"Bagus!, Sekaranga aku penjahatnya."
***
Setibanya didepan rumah, Asiah dan Ervin tidak membuka pembicaraan apapun, mereka diam sampai masuk kedalam rumah.
"Hei ganti bajumu sebelum-."
BRAK.
Pintu kamar ditutup keras.
"Huhh... Apa yang harus kulakukan padanya." Ervin memijat keningnya, rasa frustasi karena Asiah mendiamkanya hampir membuatnya gila karena ketidak nyamanan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. "Tsk... Ah... Mereka membuatku gila." Ervin mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor rumahnya.
TUTTTT-
[ "HALO—" ]
"Berikan teleponnya pada Ibu atau Ayahku."
[ "Tuan Er-." ]
"Jangan membuat kesabaranku habis, cepat berikan teleponnya pada siapapun disana."
[ "S-Siap Tuan." ]
Ervin mengetuk jarinya di pegangan kursi dengan tidak sabar, pembulu darahnya sekali lagi naik didampingi wajahnya yang hampir memerah sepenuhnya.
[ "Maafkan saya tuan muda tetapi, tuan besar dan nyonya tidak bisa berbicara dengan Anda saat in—." ]
KLIT.
Sambungan terputus.
"SIAL!."
KLING ....
Pintu terbuka menampilkan dua orang tua Asiah yang baru saja pulang dari kunjungannya kerumah kerabatnya.
"Loh! Nak Ervin... Apa yang kamu lakukan disini?," Tanya Ema sambil melepaskan syal dilehernya.
"Aku hanya beristirahat sejenak setelah mengantar Asiah, sebentar lagi aku akan pulang." Ervin berdiri dari kursi, mengatur ekspresinya.
"Hemp, buang-buang waktu saja." Roberto masih terlihat sama seperti biasanya. "Asiah! Sayang Ayah pulang...."
"... Ada apa? Sepertinya wajahmu tidak terlihat baik," Ema menyadari sesuatu telah terjadi antara Asiah dan Ervin. "Apa kalian bertengkar?."
__ADS_1
"Begitulah." Jawab Ervin singkat.