
"Biar bagaimanapun Tera bersikap terhadapku tetap saja dia adalah Anak perempuan pertama dari paman! ... Bagaimana Ayah bisa membunuhnya begitu??!."
"Ayah tidak membunuhnya!." Roberto membela diri. "Yah... Memang awalnya ingin tapi tidak jadi karena dia sembunyikan oleh Ayahnya jadi-."
"AAAARG-!."
"Cukup Asiah jangan mengeram, apa yang kamu lakukan saat ini hanya akan membuat dirimu stres! Itu bahaya untuk kandunganmu."
"Aaah...." Asiah menjatuhkan pantatnya di atas sofa empuk dan memijat keningnya. Nafasnya yang sudah sesak sesekali berhenti untuk menghirup udara masuk kedalam.
"Itu bukan Ayah." Dengan suara lembut Roberto berjalan mendekati Asiah. Dia menyentuh telapak tangan putrinya yang memegang kening, menghusapnya pelan. "Kamu percayakan pada Ayah... Ayah memang ingin membunuhnya tapi tidak dengan cara ini!."
Bukan dengan kecelakaan tapi dengan cara mencabiknya.
"Bukan gaya Ayah untuk membuat kecelakaan semacam ini." Kali ini dia menyetujui kata-katanya, bagi Roberto menyiapkan seknario pembunuhan adalah cara menjengkelkan, dia lebih suka menculik dan menyiksa targetnya secara langsung dan membakarnya untuk menghilangkan bukti.
"Asiah tenangkan dirimu dulu." Ema duduk di sisi sofa lalu mengelus pundak putrinya. Tsk... Kenapa harus mati sekarang, keluargaku bahkan belum sempat memotong tangan yang mendorong putriku. Ema tersenyum mesam.
"Hati putriku sangat baik... Dia bahkan masih menghawatirkan orang yang hampir membunuhnya."
"Aaah... Kalian membuatku sakit kepala."
"KENAPA!!!." Ema dan Roberto berteriak bersamaan.
Asiah lelah setelah berteriak, dia memilih untuk berjalan sendiri kekamatnya, meninggalkan kedua orang tuanya yang masih binggung berdiri di ruang tamu.
Duduk.
Asiah duduk di tepi kasur empuk berwarna putih lalu melihat layar ponsel. Ada belasan pesan dan 14 panggilan tak terjawab dari nomor tak di kenal. Sial. Asiah tidak mengharapkan kematian Tera, dia lebih suka Tera sepupunya yang jahat masuk kedalam penjara dan menerima hukuman yang sepadan dari pada hukuman mati.
Asiah mulai membuka pesan yang di kirim oleh lautan dan melihat hanya pesan mengenai kecelakaan Tera beserta hal-hal tidak penting lainnya.
__ADS_1
Setelah membaca itu dia melemparkan ponselnya kasar di atas kasur lalu berbaring menyamping. Matanya lelah dan tubuhnya sakit sampai-sampai tidak bisa tidur ditambah sakit kepala pagi ini setelah melihat berita mengerikan.
Mengeliat.
Rasa geliat dari dalam perutnya masih seaktif biasa tapi kali ini Asiah yakin bahwa bayinya yang bulum lahir sudah lebih dulu khawatir dengannya.
Mengelus pelan.
Jemari rampung Asiah mengelus perut bagian pusar sambil menatap kaca di sebelah jendela kamar. Dari eskpresi Ayah sepertinya bukan ayah pelakunya.... Asiah sudah pisikologi sejak SMA sehingga dia tahu akan seperti apa wajah manusia saat berbohong dan berkata jujur walau mereka menyembunyikanya sehebat mungkin. Ayah terlihat binggung juga sama sepertiku. Tanganya masih mengelus halus.
"Hahh ... Sekarang kelaurga kami pasti akan menjadi tersangka utama." Asiah membayangkan bagaimana ricuhnya kediaman mereka setelah kejadian ini akan viral nantinya.
"Hanya memikirkanya sudah jadi sakit kepala untukku...." Asiah menutup matanya dengan bantal berusaha untuk tidur, dia mulai berpura-pura tidak mendengarkan suara ibunya dari balik pintu yang memanggil untuk sarapan pagi.
"... Aku tidak bernafsu makan." Asiah menutup rapat-rapat matanya lalu masuk kedalam dunia mimpi yang indah di atas bantal empuk yang menumpuk di sekeliling ranjang.
****
Sebelum pemakaman Asiah dan keluarganya yang lain mampir kerumah sakit untuk memeriksa jenaza Tera. Asiah yang sedang hamil di larang Ema untuk melihat kekamar autopsi untuk melihat jenaza sehingga dia harus menunggu di luar bersama Laura dan kerabatnya yang lain.
Tak lama setelah Ayahnya masuk tiba-tiba paman yang merupakan Ayah Tera berteriak histeris, dia berteriak keras di depan para polisi dan dokter. "DIA PEMBUNUHNYA! PASTI DIA PEMBUNUHNYA... DIA MEMBUNUH PUTRIKU...."
"Kenapa pula." Asiah mengacungkan jempol tak terlihat pada Ayahnya yang bersikap tenang walau sedang di tuduh.
"Dia pembunuhnya... Dia pembunuhnya... DIA PEMBUNUHNYAAAA...!" Adik Roberto menangis sambil berguling-guling di lantai di sebelah kaki Roberto yang mengenakan sendal jepit biasa.
"Haiss...." Roberto yang risih dengan pandangan orang-orang menunduk dan berbicara di telinga adiknya. "Dengar sialan... Aku tidak membunuh putrimu, tidak dengan kecelakaan seperti ini.
"Kamu adalah adikku jadi sudah pasti kamu tahu gayaku saat membunuh target... Aku tidak membuatnya mati dalam kecelakaan, aku tipe yang mencabik mangsaku langsung dengan tangan kosong."
Roberto menarik rambut adiknya lalu berbicara lagi. "Terima kasih saja kepada siapapun yang membunuh putrimu sehingga dia tidak perlu menerima murka dariku."
__ADS_1
Roberto melihat muluk adiknya bergerak hanya untuk tertutup rapat sekali lagi. "Meski putrimu sudah mati kamu masih harus menganti semua kerugian yang telah dia perbuat terhadap putriku." Bisikan pelan Roberto terasa seperti pisau tajam di kulit tipisnya seperti menyata dan menyata berkali-jali.
Asiah menyaksikan obrolan berutal keluarganya di tepi tembok yang memisahkan ruangan 1 ke ruangan 2. Setelah pamanya di tenag, polisi mulai melakukan tugasnya, mereka membawa Roberto ke kantor polisi yang di anggap sebagai tersangka utama untuk melakukan instrigasi terpisah prihal kecelakaan.
"Hahh... Aku sudah duga ini akan terjadi."
"Apa yang kamu maksud?." Laura di sebuah Asiah melihat dengan tatapan khawatir.
Asiah melihat wajah Laura, dia berfikir pengantin baru yang seharusnya menikmati bulan madu saat ini malah harus menyaksikan keadaan pilu dari sepupu mereka. Tanpa sadar Asiah bertanya. "Laura pernakah kamu berfikir untuk lari dari lingkungan keluarga Rosen."
".... Hemm... Tentu saja, berasal dari keluarga mafia tidak selamanya menyenangkan bagi sebagian orang." Laura menepuk pundak Asiah pelan. "Mau bagaimana lagi, ini sudah takdir kita sebagai anak mereka."
"Rasanya sangat muak."
"Yah ... Begitulah, aku juga muak." Keduanya duduk di kursi koridor sambil berbicara tentang beberapa hal sampai dokter yang melakukan otopsi muncul dan memanggil beberapa orang.
Kembali kepemakaman.
Masing-masing keluarga Rosen yang terdiri dari 7 bersaudara, empat laki-laki dan tiga wanita, mereka berdiri mengitari kuburan meletakan keranjang yang berisikan kelopak bunga di tepi liang.
Pamanya yang merupakan Ayah Tera duduk di tanah sambil melihat foto putrinya bersama istri dan anak-anaknya. Di kanan mereka saudara paling tua Roberto Rosen dan keluarganya memberikan kata-kata perpisahan untuk mendiang.
Acara pemanakam di hadiri oleh media sehingga tidak banyak ekspresi yang dapat mereka tunjukan. Tapi satu hal yang pasti setelah kejadian ini Asiah dapat menebak akan seperti apa hubungan keluarga Rosen di masa depan.
"Asiah."
Melihat.
Asiah melihat keluarga dari pihak bibinya yang memanggil dari belakang. Wanita cantik bernama Mariam Agatha Dellarosa, memiliki umur yang sama dengan Asiah dan tinggal di negara Swiss.
"Ada apa?." Asiah mundur kebelakang lalu melakukan percakapan dalam bahasa Swiss selama sesi pemakaman di laksanakan.
__ADS_1