Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 75.


__ADS_3

......🌸🌸🌸......


"Asiah Putriku apa yang kamu lihat?."


Ema memanggil putrinya yang tengah duduk dikamar tidur lamanya di kediaman Rosen.


Saat ini Asiah dengan melihat kedalam ponselnya sebuah berita dari artis yang di ikutinya di iG, dia telah menerima kembali ponselnya dari Roberto setelah mereka tiba di Jerman.


"Tidak ada Ma." Asiah menyimpan ponselnya dibantah lalu berbaring menyamping.


"Wajahmu terlihat muram, jika kamu lelah bersitirahatlah nanti mama akan bangunkan."


"Iya."


Asiah menutup matanya perlahan dan memikirkan apa yang telah dia lihat barusan. "Hah.... Salahku mempercayai bajingan itu." Belum satu hari Asiah meninggalkan Prancis dan sekarang dia melihat sebuah postingan yang telah di sukai oleh jutaan orang dalam hitungan menit.


"Sekali bajingan akan tetapenjadi bajingan." Asiah mengangkat tubuhnya yang berat lalu berjalan kekamar mandi. Didalam dia menekan nomor ponsel Ervin manun tidak ada jawaban sama sekali.


"Apa dia serius ingin melanggar perjanjian yang dia buat?." Sekali lagi Aisah menekan nomornya tetapi masih tidak ada jawaban. "Persetan-! Ahh... Aku minta maaf." Tangan Asiah menyentuh perutnya lembut, tanpa dia sadari air matanya telah jatuh dan wajahnya mulai memerah.


"Snif... Aku minta maaf," ucapnya lirih. Dia menangis didalam kamar mandi tanpa ada yang mengetahui.


***


SRAKKKSRAK....


"CEPAT!!! TOLONG BANTU PUTRIKU!."


"HIKS... YA TUHAN... APA YANG TERJADIII... ASIAH...."


Samar-samar dalam pendengarannya Asiah mendengar suara orang tuanya yang terdengar panik. "YA TUHAN... PUTRIKU...." Suara ibunya terdengar penuh kekawatiran dan Isak tangis.


"CEPAT BANTU PUTRIKU SIALAN!." Ayahnya yang biasanya tenang terlihat sangat panik dalam pandangan buram Asiah. Mengap? Ini pertama kalinya aku melihat Ayah dalam keadaan panik.


"A- ... Ayah." Asiah memanggil ayahnya dengan suara yang sangat pelan.


"YA! IYA Sayang! Ayah disini." Roberto memegang tangan Asiah bersama dengan istrinya yang juga panik.


"Kenapa aku-."


"Kamu akan baik-baik saja."


"Huh???."


"Kamu akan baik-baik saja sayang." Di atas keningnya Asiah merasakan tangan kedua orang tuanya gemetar.


"Kamu akan baik-baik saja...."

__ADS_1


Setelah itu tidak ada lagi suara yang terdengar ditelinganya ketika Asiah menutup matanya.


Beberapa saat kemudian.


"Putrimu mengalami serangan panik."


"Apa?!."


"Serangan panik, untung saja tidak membahayakan bayi dalam kandungannya."


"Tapi kenapa?! Ini tidak seperti ada sesuatu yang berbahaya dirumah kami." Roberto dan Ema berbicara dengan dokter disebelah ranjang pasien.


"Kita tidak tahu itu karena bukan kita yang mengalaminya, untuk sekarang kita pantau saja. Roberto kamu harus menjaga putrimu lebih teliti lagi mulai sekarang." Kata dokter yang merupakan kerabat Ema.


"Aku mengerti." Suara Roberto terdengar penuh penyesalan. "Tsk... Seharusnya dia tidak datang kemari... Kalau saja kita masih diparis sekarang maka!."


"Sudahlah." Ema menepuk punggung suaminya pelan. "Ini sudah terjadi jadi tidak ada yang perlu kamu sesali."


"...."


Roberto memandangi wajah putrinya yang masih tertidur pulas. Sebelumnya ketika Roberto baru akan masuk membawakan barang yang dibawanya kekamar Asiah dia mendapati putrinya hampir tidak berdiri dengan benar saat keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sangat pucat.


Untung saja karena refleks Roberto yang bagus dia berhasil menangkap putrinya perlahan amburuk.


Putriku dan calon cucuku hampir saja menghilang. Roberto mengertakan giginya. Rasa bersalah, kesal sekaligus marah menghantuinya.


Dari suara Roberto, Ema dapat menebak bahwa suaminya sedang murka. "Aku tidak tahu tapi... Sebelum aku meninggalkan putri kita dikamar dia terlihat pucat saat melihat ponselnya."


".... Ema aku akan pulang sebentar."


"Heh? Untuk apa?."


"Aku ingin melihat sesuatu."


"Kupikir kamu...."


"Aku akan segera kembali." Roberto mencium kening istrinya lalu bergegas lari keluar.


Dia berjalan lambat di koridor namun setelah keluar dari rumah sakit dia segera berlari kencang menuju mobilnya. Pembulu darah mulai naik disekujur tubuhnya dan instingnya yang ganas mulai kembali bangkit. Keinginan untuk membunuh siapapun yang telah menyakiti putrinya kembali berkobar. Siapapun mereka kali ini aku akan habisi tanpa ampun....


Mobil hitam bergaris putih mulai melaju dalam kecepatan penuh menuju kediaman Rosen yang tak jauh dari rumah sakit, melintas dengan brutal dijalanan dan menyalip semua mobil yang menghalangi jalannya.


Mobil hitam bergaris putih mulai melaju dalam kecepatan penuh menuju kediaman Rosen yang tak jauh dari rumah sakit, melintas dengan brutal dijalanan dan menyalip semua mobil yang menghalangi jalannya.


Sesampainya dirumah Roberto masuk kedalam kamar Asiah dan mencari ponsel putrinya. Semua barang yang ada disana di serakannya untuk mencari ponsel berwarna hitam.


"Ada dimana benda itu." Tangannya menarik dan mengangkat barang-barang dilantai hingga akhirnya bantal kecil disisi tempat tidur jatuh, ponsel hitam itu berada di bawah bantal.

__ADS_1


Mengambil.


Roberto mengambil ponsel itu kasar dan memberikan isinya, dia mengetahui pola sandi putrinya sehingga membukanya bulan suatu hal yang sulit. Kemudian dia mulai mencari riwayat penelusuran dan akhirnya menemukan apa yang dia cari.


Didalam ponsel dia menemukan sebuah artikel dari sebuah artis yang dia kenal dan juga sosok pria yang dia kenal juga.


"Hahahaha...." Rasa kecewa sekaligus amarah menjadi satu dalam waktu singkat. "BAJINGAN INI." tangan Roberto gemetar dan menghancurkan ponsel hitam itu seketika. "Hahh... Hahh.... Harus bagaimana aku menghabisi persetan ini?!."


Tatapan Roberto berhenti didepan kaca yang menunjukan bayangan dirinya yang mengerikan. "Tidak... Aku sudah berjanji pada Ema...." Roberto meredam amaranya dan memasukan ponsel yang sudah rusak kedalam tong sampah.


"Begini lebih baik... Sekarang Asiah tahu bajingan apa yang dia kencani." Tatapan mata Roberto begitu dingin, sambil meredam hasrat membunuhnya yang mendalam.


"Dengan begini bajingan itu telah tersingkir dari putriku secara otomatis." Roberto bangkit berdiri, merapikan kamar yang telah berantakan dan kembali kerumah sakit.


"Sayang bagaimana?." Ema datang menghampiri suaminya yang duduk di bangku koridor rumah sakit.


"Ema apakah kamu menyukai anak itu?."


"Anak itu? Siapa?."


"Bos perusahaan Aishwa."


"Aku menyukainya. ... Tapi, jika dia melakukan sesuatu pada putriku maka aku tidak akan menyukainya." tatapan Ema berubah tajam sekarang dia telah menangkap apa maksud suaminya tanpa harus dijelaskan lagi.


"Sekarang harus bagaimana kita berurusan dengan anak itu?."


"Untuk sekarang tidak perlu, Asiah sudah bersama kita jadi tugas utama kita saat ini hanya perlu memantaunya." Roberto menyeka wajah istrinya yang mengeras karena kesal. "Kamu tidak perlu terlalu memikirkannya sayang, urusan keamanan aku akan tangani, sekarang kita pastikan kesehatan Asiah terlebih dahulu."


Roberto masih berusaha untuk menghilangkan wajah kesal istrinya sehingga dia bisa mengatakan kalimat terakhir.


"Huhh... Untuk sekarang mari kita lakukan yang terbaik sayang."


"Tentum" Roberto mencium kening istrinya dan membawa tubuhnya kedalam pelukan.


"Ema sayangku."


"Iya sayangku."


Roberto melepaskan pelukannya dan menatap wajah istrinya. "Sejak tadi bajingan dari keluarga Laura telah menghubungiku prihal kehadiran di acara pertunangan putrinya."


"Jadi?."


Ini adalah kesempatannya. "Tolong hadirlah diacara itu, kamu tidak perlu ada disini, aku akan menemani Asiah sampai dia siuman."


".... Apa ini rencanamu sejak awal?."


"Mana mungkin." senyuman dibibir Roberto tidak menghilang walau Ema menatapnya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


__ADS_2