
"Perlukah aku membawa Asiah kemari?."
"...."
Bang!.
"ORANG GILA INI!!!."
Adrian langsung berdiri dari tempatnya ketika Ervin melemparkan botol alkohol ke arahnya dan hampir mengenai wajahnya. "Apa aku terlihat seperti sedang ingin menanggapi leluconmu Adrian." Ervin menegakan tubuhnya dan menatap Adrian dengan tatapan tajamnya, kemudian dia memutar-mutar cincin di jari telunjuknya.
"...."
Sial, padahal aku berencana untuk bermain dengannya sebentar lagi tapi dia ternyata sudah jadi seperti ini. Adrian mengusap wajahnya dan berjalan keluar. "Hei! Ibumu mengatakan padaku untuk memastikan kalau kau tidak melakukan sesuatu yang berbahaya."
"Sekali lagi kau berbicara maka kali ini gelas itu akan menembus kepalamu," kata Ervin dengan gelas kaca di tangannya.
"Hahh... Terkadang aku binggung bagaimana cara menangani bajingan ini." Adrian memutuskan untuk tidak ambil pusing dan berjalan menuju ruangan tertutup di sebelah ruangan Ervin.
"Tsk. Rasa minuman ini tidak ada."
Ervin menjatuhkan gelas alkohol ke lantai dan berjalan keluar dari ruangannya. Dasi yang terikat di leher Ervin sudah terbuka, kancing baju yang di buka tiga baris menampilkan setengah dada bidangnya yang seksi.
Wanita-wanita yang melihat Ervin berjalan menuju bartender menelan ludah mereka dan berbisik-bisik dari sudut yang jauh. Mereka tidak ada yang berani mendekati Ervin, mereka semua merasakan bahwa aura yang berada di sekitar Ervin sedang tidak baik dan mereka memutuskan untuk mengambil jarak.
"Buatkan aku minuman dengan rasa pekat yang kuat," kata Ervin pada bartender leki-laki di depannya. "Segera di siapkan." Bartender menyiapkan gelas dan meramu minuman dengan cekatan. "Hari anda nampak tidak baik Tuan," kata Bob.
"...."
"...."
Bartender yang melayani Ervin saat itu adalah Bob. Bob tidak menunjukan tanda-tanda gugup atau takut ketika berbicara pada Ervin.
"Namamu Bob kan?."
"Ya Tuan."
__ADS_1
Ervin menganggukkan kepalanya, kemudian dia merogoh sakunya untuk mendapatkan kotak rokok di sana. Dia mengambil satu batang rokok dan menyalakannya dengan pematik cantik yang di berikan oleh Bob.
"Fyuuh... Sck...."
Ervin mulai berandai dalam batinnya. Kira-kira seperti apa aku akan membunuh j*Lang kecil itu yah?. Ervin memandang langit-langit bar yang berwarna-warni karena cahaya dari lampu disko yang menyala-nyala.
Ervin menopang kepalanya dengan tangan kirinya dan melihat kerumunan orang-orang yang sedang berjoget di atas panggung megah dan di atas meja tempat mereka berkerumun sebagai kelompok. Mereka semua terlihat seperti hewan, apa yang mereka lakukan dengan bergoyang dan menari seperti itu?.
Ervin mematikan sumbu rokoknya pada asbak di samping. Dia juga menerima segelas minuman beralkohol lagi dari Bob yang telah selesai meracik minuman untuknya.
"Kau membuatnya dengan baik."
"Terima kasih atas pujiannya Tuan." Bob tersenyum dan melakukan aktifitas yang sering dia lakukan yaitu membersikan gelas dengan kain kusus. Awalnya semua berjalan dengan normal sampai akhirnya Ervin menjatuhkan gelas di lantai.
CLANG!.
"HEM?, Apa yang—"
"...."
Bob menyaksikan perubahan ekspresi pada wajah Ervin, Bob melihat raut wajah Ervin yang mengeras seolah-olah dia ingin menghabisi seseorang. Apa yang terjadi dengannya? Apa aku memberikan minuman yang membuatnya jadi lebih gila?. Pandangan matanya hanya tertuju pada satu orang di antara keramaian orang-orang sedang menari mengikuti iringan musik.
"Hei! Senang bertemu denganmu."
Gdubrak....
"KYAAA!-" Seorang wanita berteriak dengan keras ketika sebuah kursi kayu di lemparkan kepada tubuh seorang pria tampan yang mengenakan baju kemeja biru. "Uung! Apa yang kamu laku-"
"HEI! AKUKAN SUDAH BILANG SENANG BERTEMU DENGANMU! JADI... KITA PERLU BERBICARA SEBENTAR." Ervin melihat pria yang baru saja dia lempar dengan kursi telah tersungkur di lantai dengan kepalanya yang sedikit mengeluarkan darah.
"ERVIN!!! KAU SUDAH GILA?!!!."Adrian bergegas menghampiri Ervin dan menolong pelanganya yang tersungkur di lantai. "Adrian aku akan melempar kuris ini kearahmu jika kau tidak segera menyingkir~."
Ervin memberikan peringatan halus pada Adrian dengan senyuman yang menyeramkan. "Cepat menyingkir sana."
"...."
__ADS_1
Adrian ingin menyelamatkan pria yang ada di lantai namun dia khawatir kalau Ervin akan melemparnya dengan kursi akan tetapi Adrian masih belum menyerah untuk membujuk Ervin. "Ervin, kita bisa bicarakan ini di tempat lain, skandalmu sudah tidak terkendali saat ini jadi jangan buat skandal baru lagi.
"Untuk pria ini aku akan-"
"Uugh... Kepalaku, to-tolong." Pria yang kepalanya terluka menarik ujung celana Adrian untuk meminta tolong padanya.
"Ervin kita harus berbicara dengan rasional."
Adrian menatap mata Ervin lekat. Dia masih berdiri melindungi pelanggannya namun apapun yang dia katakan tidak pernah di dengarkan oleh Ervin sejak awal. "Jadi kau memilih untuk menggantikannya."
Ervin mengbil kursi kayu lagi, dia mengangkatnya tinggi-tinggi keatas, pandangan benar-benar sangat ganas untuk dan bersiap untuk menyerang kedua orang yang ada di hadapannya.
"ERVIN!!! KAMU BILANG KAMU AKAN BERBICARA PADANYAKAN!, DIA TIDAK AKAN BISA BERBICARA DENGANMU KALAU KAU MEMBUNUHNYA DI SINI!."
"..., Kamu benar, tapi aku masih harus menghajarnya karena suatu-"
BIZZZ BEZZ...
"...."
Ervin berhenti bergerak ketika ponsel dalam sakunya bergetar. Ervin menurunkan kursi kayu yang dia pegang dan merogoh saku dalamnya untuk mengambil ponsel. Dia menemukan pesan dari Julius yang menunjukan sebuah kertas dan foto dan video seorang wanita yang sedang menjalani pemeriksaan di atas ranjang rumah sakit.
"...."
Pandangan mata Ervin menjadi jernih kembali, dia memperbesar foto wanita yang sedang melakukan pemeriksaan itu, dan memandanginya untuk beberapa saat.
"Glup."
Adrian tidak menyia-nyiakan moment itu, dia menopang pria yang kepalanya berdarah dan bergegas masuk kesalah satu ruangan pribadinya yang tak jauh dari tempat Ervin mengamuk. Aku tidak tahu apa yang sedang dia lihat tapi syukurlah. Aku bisa segera menyelamatkan pria ini untuk sementara sampai Ervin menjadi gila lagi. Adrian membaringkan pria yang sedang kesakitan itu di atas sofa dan meninggalkannya di sana untuk bertemu dengan Ervin di luar.
"Tunggu disini dan jangan pernah berfikir untuk keluar." Bahkan setelah selesai menyelamatkan pelangganya dan kembali lagi ketempat Ervin yang mengamuk tadi, Adrian masih melihat Ervin menatapi layar ponselnya dalam diam. Apa itu? Apa ada sesuatu yang menarik perhatiannya?. Adrian melangkahkan kakinya menuju Ervin yang terdiam menatap ponselnya dan tidak menyadari akan kedatangan Adrian. "Apa yang kau lihat?."
"Bukan urusanmu."
"...."
__ADS_1
Melirik.
Adrian berhasil mengintip layar ponsel Ervin, dia melihat sebuah video yang menampilkan seseorang yang dia kenal, orang pertama yang dia lihat adalah Julius dokter jenius yang pernah dia temui beberapa kali dan kemudian pandanganya menjadi fokus pada seseorang di depan Julius. Dia adalah Asiah yang saat itu sedang menjalani pemeriksaan kesehatan.