
Dia tidak membawa senjata apapun, jadi selama aku disini tidak akan ada bahaya.
"Apa kau baik-baik saja?."
"Iya." Asiah menganggukkan kepalanya sekuat mungkin. "Aku baik-baik saja, ayo segera pergi keruang pemeriksaan!." Asiah menatap mata berwarna hijau Ervin dengan penuh keyakinan. Dia sudah tidak mau berada di taman lagi sekarang. Erving mengagukkan kepalanya dan menunduk, mengangkat tubuh Asiah dan berbalik meninggalkan pria tua di belakang.
"Untuk seterusnya jangan pernah duduk sendirian di tempat gelap seperti itu."
"Iya, aku mengerti."
"Apa kau mengenal pria itu?."
"Tidak, aku tidak tahu. Dia tiba-tiba datang dan berbicara padaku setelah tuan Julius pergi untuk memeriksa sesuatu."
"Jadi Julius meninggalkanmu sendiri di sana."
"Dia bilang dia ada urusan."
"..., Baiklah-baiklah. .... Apa kau sudah tidak marah lagi padaku?."
"Aku tidak marah padamu."
"Lalu yang tadi?."
"Tadinyan iya, tapi sekarang sudah tidak lagi."
"Benarkah?, Kalau begitu syukurlah."
Asiah melihat Ervin sejenak, dia berfikir tentang bagaimana Ervin selalu datang membantunya di saat dia sedang membutuhkan bantuan. Dia selalu datang saat aku membutuhkan bantuan... Apakah itu hanya kebetulan saja?.
"Apa lihat-lihat?," Tanya Ervin melihat Asiah dengan tatapan lembut. "Tidak, tidak ada." Asiah menurunkan pandangannya, dia melihat pergelangan tangannya yang memerah. Sebenarnya siapa pria tua itu?, ... Hahh... Entah mengapa aku selalu bertemu dengan orang-orang berbahaya, batinnya.
"Jangan khwatir, aku akan menyuruh orangku untuk menyelidiki latar belakang bajingan itu. Kalau kau mau aku bisa membunuhny-"
"Tidak, tidak usah!, Aku baik-baik saja asalkan tidak bertemu lagi dengan dia."
"..., Kalau begitu baiklah."
Ervin memperbaiki posisi peganganya.
"Berpegangan yang erat. Kita akan segera keruang pemeriksa-"
"Ah!, Tuan Muda!."
"Tsk. Apa?."
"Uum...." Julius melihat Ervin dan Asiah bolak-balik.
Apa mereka sudah baikan?. Julius menyembunyikan jaket yang dia bawa dan memberanikan diri untuk berbicara pada tuan mudanya. "Tuan Muda, ini sudah waktunya pemeriksaan. Dokter terbaik yang anda minta baru saja datang," kata Julius.
__ADS_1
"Bagus, setelah menunggu lama akhirnya dia tiba juga. Tunjukan tempatnya."
"Baik."
"Jadi.... Sudah berapa bulan usia kandungan nada nona Asiah?."
"Minggu ini masuk ke duapuluh lima."
"Berarti sudah enam menjelang enam bulan...."
"Kenapa kau harus banyak bertanya?."
"...."
Dokter terdiam setelah mendengar komentar Ervin dan memilih untuk melanjutkan pemeriksaan. Dia menyuruh Asiah untuk berbaring di atas ranjang pasien lalu menarik baju Asiah perlahan keatas. "OI!!! APA YANG KAU LAKUKAN?!!." Ervin terkejut saat dokter mengangkat baju Asiah. "MAU KAU APAKAN DIAAA!—."
"Tuan Muda, aku hanya melakukan salah satu prosedur pemeriksaan. Aku harus mengangkat baju pasien untuk menaruh gel di perutnya supaya kita bisa melihat bayi yang ada di kandungannya," kata dokter selembut mungkin.
"Tapi haruskah kau melakukannya di saat ada pria di sini?."
"...."
Dokter melihat Asiah bertanya apa yang sedang di katakan Ervin padanya melalui gerakan mata. Sayangnya Asiah bahkan tidak menjawab dia memalingkan wajahnya kesamping seolah-olah dia tidak ingin terlibat dalam percakapan mereka. "Huhh... Kalau begitu bagaimana kalau anda keluar tuan muda~."
"Huh? Kenapa harus aku? Suruh saja si Julius ini yang keluar."
"Maafkan saya tapi dokter Julius memiliki peran penting disini jadi saya tidak bisa menyuruh dokter Julius untuk keluar dari tempat ini."
Asiah menyentuh tangan dokter lalu tersenyum padanya. Tolong lakukan saja apa yang dia katakan, dari pada nantinya kita harus menunda pemeriksaan lainnya. Asiah menyampaikan pesannya melalui kontak mata dengan dokter yang akhirnya di tanggapi.
"Baiklah, dokter Julius maafkan saya tapi sepertinya anda harus keluar selama proses pemeriksaan berlangsung."
"Tapi—"
"Kau dengarkan apa yang dikatakan dokter, cepat keluar sana."
"...."
Julius terdiam cukup lama namun perlahan berjalan menuju pintu keluar. "Panggil aku kapanpun anda butuh."
"Iya dokter Julius."
"Pria yang malang."
"Yah... Begitulah resiko berkerja dengan pisikopat," gumam dokter.
"Ehem..."
"Uhuk-uhuk... Sampai Mana kita tadi?."
__ADS_1
Dokter membuka baju Asiah hanya sampai di atas perut, dia menaruh gel diarea bawah perut Asiah secara merata. "Apa sebelumnya anda sudah melakukan pemeriksaan?."
"Yah, aku sudah melakukannya."
"Apa itu rutin?."
"Yap."
"Bagus."
"...."
Ervin berdiri di sebelah gorden yang menutup ruang pemeriksaan, menatap Asiah dengan dokter yang memeriksanya. Kalau dipikir-pikir aku belum tahu jenis kelamin anak-anakku, perlukah aku bertanya?. Ervin menyilangkan tangannya di dada lalu berdiri tegak, dia berjalan ketempat Asiah di periksa lalu duduk di kursi yang berada di sebelah tempat Asiah berbaring. Hem? Kenapa dia duduk disini? ... Ah~ abaikan saja, dia orang yang melakukan apapun yang dia inginkan, batin Asiah.
Mereka berdua melihat dokter yang menaruh alat transducer di atas perut Asiah lalu melihat monitor di sebelahnya. "Hemm... Anda bisa melihatnyakan tuan muda," kata dokter pada Ervin.
"...."
Ervin melihat wajah Asiah yang menunjukan senyuman manis di wajahnya. "Mereka berkembang sangat baik," kata Asiah dengan gembira.
"...."
Ervin melihat monitor USG yang menampilkan dua gambar bayi yang berada di dalam rahim Asiah. Dia tidak bisa berkata apapun setelah melihat keduanya untuk pertama kalinya, bahkan saat ini tangan Ervin berkeringat dingin. Jadi seperti inikah anak-anakku. Ervin melihat lagi Asiah yang masih tersenyum melihat bayi-bayinya.
"Selanjutnya—"
Asiah melihat wajah fokus Ervin dan bertanya. "Hei? Apa kau mau mendengar suara detak jantung mereka?," Tanya Asiah kepada Ervin.
"..., B-bolehkah?!!."
"Tentu."
Setidaknya aku harus membiarkan dia mendengar suara jantung anak-anakknya untuk yang keterakhir kalinya sebelum kami menghilang dari pandangannya. Asiah mengatakan beberapa pada dokter yang di balas dengan anggukan dari dokter yang memeriksanya. "Oke, kalau begitu mari kita dengar detak jantung si kembar."
Dokter memasang Cardiotocography lalu menaruh gel di perut Asiah sekali lagi kemudian melakulan pemeriksaan detak jantung bayi di dalam rahim Asiah. Ervin yang menyaksikan itu merasakan kesemutan di tangannya, keringat dingin yang tak hentinya jatuh dari lehernya membuat Ervin merasa semakin gugup. Apa yang istimewa dari pemeriksaan ini?, Kenapa aku merasa sangat gugup, ini pertama kalinya aku seperti ini.
"Glupp...."
"Oke sekarang mari kita dengar."
[ Degdegdegdegdge— ]
[ Degdegdegdegdege— ]
KLAPKLAPKLAP....
"Anak-anakku melakukannya dengan baik!!!." Asiah menepuk tangannya. Bahkan air matanya sudah hampir turun saat dia memeluk Asiah. Ya Tuhan... Aku belum pernah merasa sebahagia ini seumur hidupku, batin Ervin.
"...."
__ADS_1
Ada yang salah dengan bajingan ini. Dia terus menunjukan sikap aneh seolah-olah dia tahu kalau mereka adalah bayi-bayinya. Asiah mendorong tubuh Ervin lembut membelakang, dia ingin bertanya sesuatu padanya tetapi. "Hem? Apa kau menangis?." Asiah terperangah saat melihat wajah Ervin yang memerah beserta matanya yang berkaca-kaca.