
......🌸🌸🌸......
Membuka Mata.
Dimalam hari Asiah membuka matanya dengan rasa sakit kepala yang lumayan berat dirasanya.
"Ngu- ...."
"Asiah!." Sosok Ayahnya yang mengenakan kemeja hitam mulai berjalan cepat mencapai ranjang pasien. Dia langsung memegang wajah putrinya erat-erat dan menelusuri warna kulit wajahnya.
"Fyuh... Kamu sudah tidak pucat lagi." Sesak di dada Roberto sekerang menjadi lega ketika melihat putrinya telah pulih kembali.
"Apa yang terjadi Ayah?, Kenapa aku ada dirumah sakit?."
"Nahhh... Kamu hanya kelelahan."
"Maksud Ayah serangan panik." Asiah tersenyum miris kepada Ayahnya saat mengatakan itu.
"Kamu tahu rupanya."
"Samar-samar aku mendengarnya dari dokter tadi pagi."
".... Apa karena pria itu kamu jadi seperti ini nak."
Asiah diam.
"Ayah tahu itu." Roberto tersenyum menyeramkan, tatapannya kosong saat melihat Asiah yang berusaha untuk duduk tegak.
"Jangan banyak bergerak."
"Aku hanya ingin bersandar."
"Biar Ayah bantu." Roberto membantu Asiah untuk duduk, dia memeluk pundak putrinya dengan tangan yang masih gemetar seakan putrinya akan terluka walau hanya terkena sentuhan lembut saja.
"Dimana Mama?."
"Sedang keacara pertunangan sepupumu."
"Kenapa Ayah tidak ikut."
"Karena Ayah lebih suka bersamamu."
"Daripada bersama Mama?."
Roberto tersenyum lalu berbisik pada putrinya pelan. "Mungkin saja begitu."
"Mama akan marah." Asiah menunjukan senyuman manisnya kembali setelah tertidur berjam-jam.
"Kata dokter jangan sampai hal ini terulang lagi, akan berbahaya untuk janinmu ...."
__ADS_1
"Aku minta maaf Ayah."
"Tidak-tidak." Roberto menolak permintaan putrinya. "Yang harusnya minta maaf sambil menangis darah adalah bajingan itu."
"Maksud Ayah ervin?."
"Jangan sebut namanya." Roberto menarik tangannya dari atas tempat tidur lalu duduk disebalah ranjang pasien untuk mengikat rambut panjang putrinya.
Roberto bertanya dalam hening. "Apa yang akan kamu lakukan dengan pria seperti itu nak."
"Aku tidak tahu." Asiah merenung.
"Kupikir dia telah membatalkan perjnjiannya sendiri."
"Kalau boleh Ayah tahu apa itu."
"Ayah tidak perlu tahu...." Asiah melihat Ayahnya kembali dalam pandangan lembut lalu kemudian tersenyum. "Lagi pula bukan aku yang melanggar perjanjian diawal jadi pasti akan baik-baik saja."
"Kalau begitu bagus, Ayah sudah mengurus semua pasparmu, mulai sekarang kamu bisa tinggal disini lebih lama bahkan kalau kamu mau kamu bisa tinggal sampai bayimu lahir...." Roberto terlihat sangat bersemangat saat mengatakan itu.
"Benar juga... Tsk... Rasanya menyesal kemarin saat aku pindah kewarga negaraan."
"Kamu tidak salah." Roberto berdiri dari kursi lalu mengbil ponselnya yang bergetar diatas meja. "Itu syarat yang diperlukan untuk mendaftar menjadi guru di sana jadi tidak ada yang salah dengan keputusanmu sayang." Sebentar Roberto mengecup kening Asiah lalu keluar dari kamar.
Klik.
Sekarang ruangan hanya meninggalkan Asiah dan kesunyian. Asiah yang merasa bosan setelah ditinggal lima menit menjadi gatal tangannya, untungnya ada remot televisi yang kebetulan diletakan di meja sebelah ranjangnya.
Sejenak Asiah ragu untuk menekan tombol. Jika aku menekan tombol ini kira-kira apakah beritanya akan segera muncul?. Saat dia mulai berfikir keras bayi dalam kandungannya mulai merespon. Apa kalian ingin melihat Ayah bejat kalian juga. Asiah mengelus perutnya lembut lalu menekan tombol nyala.
[ "BERITA HEBOH DATANG DARI PASANGAN SENSASIONAL— ] Asiah bahkan baru menyalakan televisi tapi berita yang tidak ingin dia lihat langsung ditampilkan didepan layar seakan ingin menunjukan kepada Asiah dalam bahasa Jerman.
"Tiada hari tanpa sial." Asiah memutuskan untuk mendengarkan berita sampai selesai disaat Ayahnya masih belum menunjukan akan kembali kekamar. Volumenya sengaja di perkuat untuk memberi visual yang lebih jelas di telinganya.
[ "HEBOH!!! SKANDAL ARTIS .... DAN PENGUSAHA .... DIKANARKAN SEDANG .... DI HOTEL .... OLEH .... " ] Setiap kali Menganti saluran berita yang ditampilkan hanya mengenai skandal Ervin dan model misterius yang namanya disembunyikan.
"Huh... Apa tidak ada berita lain?."merasa jengkel dengan berita yang hanya itu-itu saja membuat Asiah muak dan menutup saluran tv.
Kemudian dia berdiam diri, menatap keluar jendela dalam pandangan kosong.
***
[ "BERITA HEBOH ... SKANDAL PEMILIK PERUSAHAAN ASIHWA DAN ... ARTIS ... DIKANARKAN!!!" ]
KLIK.
"Hahh... Aku tidak mengerti apa lagi yang ingin anak itu lakukan." Di slruangan keluarga sebuah menssion mewah Jefry berdiri di depan televisi dengan raut wajah kusam. "Kupikir dia sudah mulai dewasa tapi nyatanya...."
Kerutan mulai muncul disekitar wajah, rasa sakit kepala mulai menjalar, merembes keseluruh bagian tubuh seperti sebuah pisau tajam.
__ADS_1
Mulai dari Angela, Janed dan Jefry duduk didepan televisi dengan depresi diwajah mereka. Menyaksikan skandal terbaru putra satu-satunya keluarga Alvaro.
"Salahku mengira anak itu sudah lebih sedikit dewasa."
"Ayah... Apa yang perlu kita lakukan sekarang."
"Tidak ada, biarkan saja.".
"Tapi sayang kita harus membantu Ervin, biar bagaimanapun dia itu-."
"Janed tolong...." Jefry mengatupkan kedua tangannya untuk memohon pada istrinya. "Jangan memanjakan anak itu lagi, kali ini dia sudah diluar batas."
"Ayah benar ibu, kurasa inilah saatnya bagi kita untuk membiarkan Ervin membersihkan masalahnya sendiri." Angela kembali melihat ayahnya yang terlihat tidak bertenaga.
"Sekarang bagaimana Ayah... Apa perlu kita menjenguk gadis malang itu?."
"Tidak perlu. Harga diri keluarga ini hanya akan semakin hancur jika bertemu dengannya...." Dengan kasar Jefry menghisap wajahnya, dia seperti akan menangis. "Anak yang baik itu memang tidak pantas untuk putraku yang belum dewasa."
"Sayang... Biar bagaimanapun-."
"Jened untuk masalah kali ini aku angkat tangan, Angela jangan sampai aku menerima laporan bahwa Sergio dan ateknya membantu Ervin membersihkan namanya."
"Baik Ayah."
"Bagus, sekarang kamu pulanglah kerumahmu, bawa Jeremi bersamamu dan jangan kembali dulu kemari sampai semuanya terkendali."
Angela langsung mengerti, dia menganggukan kepalanya lalu berdiri dari sofa untuk segera pergi bersama putranya tanpa mengatakan apapun lagi.
Jened yang merasa tidak terima dengan pendapat suaminya mulai protes. "Jefry! Jika kita tidak membantu Ervin maka sesuatu yang buruk akan terjadi padanya!."
"Jende berhenti memanjakannya... Dia sudah tigapuluh satu tahun, sudah saatnya dia dewasa." Jefry tidak ingin berdebat lagi dengan istrinya sehingga dia meninggalkan ruang keluarga dengan televisi yang masih menyala. Aku punya anak yang benar-benar tidak memiliki etika.
Jefry merasa putusasa, untuk pertama kalinya dia merasa bahwa dirinya telah gagal menjadi seorang Ayah, bukan rasa bersalah karena perilaku Ervin tetapi rasa bersalah pada gadis yang telah mengandung cucunya.
KLING KLING...
Sebuah pesan masuk menarik perhatian Jefry.
[ ' Tuan Besar, Roberto Rosen telah membawa keluarganya keluar dari Prancis pagi ini kembali ke Jerman. ' ]
Jefry memandang ponselnya cukup lama. Kupikir inilah yang terbaik, Roberto Rosen adalah pria berbahaya yang lebih berbahaya dari putraku.
Mengetik.
[ 'Pantau dari jauh, Roberto Rosen orang yang berbahaya, jangan melakukan kesalahan sekecil apapun sampai aku menghubungimu kembali. ' ]
KLING.
[ ' Dimengerti. ' ]
__ADS_1