Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 73.


__ADS_3

"Ya ampun... Kenapa bisa begitu?."


"Itu...." Ervin hanya menceritakan sebagian besar apa yang dia ingin katakan pada Ema karena otaknya telah buntu untuk beberapa saat. "Jadi begitu...." Ema mengangguk.


"Asiah sejak dulu memang membenci orang yang berprilaku kasar pada orang tuanya, putriku itu memang begitu orangnya penyayang orang tua walau terkadang dia berteriak pada kami karena salah."


"Pppft- jadi Asiah mengabaikannya karena durhaka? Hahaha... Entah kenapa rasanya sangat menyenangkan melihat itu." Kata Roberto sambil meneguk segelas air.


"Sayang... Jangan bicara seperti itu."


"Lalu mau bagaimana lagi?, Sayang sekali karena Asiah akan meninggalkanmu tak lama lagi."


Mendengar kalimat Roberto barusan hati ervin menjadi panas. Aku ingin membunuh bajingan sial in—. lagi-lagi bayangan wajah Asiah yang begitu kesal padanya terlintas, menghempas pemikiran buruknya buruknya seketika. "Huhh...." Menghela nafas.


Ema menaruh telapak tanganya diatas tangan Ervin lalu berkata. "Jangan khwatir, Asiah bukan tipe orang yang marahnya lama... Besok berbicara lagi denganya." Ema melepas tanganya lalu bangkit berdiri untuk masuk kedalam kamar mandi.


"...."


"...."


Hanya tinggal Ervin dan Roberto diruang tamu yang hening dalam suasana dingin. Roberto tidak terlihat memperdulikan Ervin, dia hanya asik memainkan ponselnya didepan sofa yang berhadapan dengan Ervin.


"Huhh...."


Ervin melihat pintu kamar yang masih tertutup. Apa dia semarah itu?, Aku hanya melakukan hal kecil dan dia sangat marah....


"Kau melakukan sesuatu yang tidak berguna." Roberto yang sedari tadi diam membuka pembicaraan. "Apa?." Kata Ervin binggung.


"Jika kau suka pada seorang wanita seharusnya kau menyembunyikan sifat brengsekmu itu darinya." Roberto masih melihat ponselnya ketika mengatakan hal itu.


"Lebih baik menunjukan sifat asliku sekarang dari pada nanti ketika kami sudah resmi.'


"Resmi apanya... Lupakan." Sejenak keheningan kembali. "Putriku, sangat menyayangi aku dan istriku. Sejak dulu dia selalu menjadi yang terbaik dalam hal pendidikan jasmani dan rohani....


"Untuk soal kesopanan terhadap orang tua istriku sangat ketat dulu dan sekarang adalah hasil dari didikan itu."


"Anda berbicara berbelit-belit."


"Terserah mau melakukan apa, mau kau menanggapi ucapanku atau tidak yang pasti, sebagai orang yang memiliki kemiripan denganku aku sarankan supaya kau merubah sikap jelekmu itu, sembunyikan seminimal mungkin jika kau memang mencintai Asiah."


"Kenapa kau mengatakan hal itu padaku?." Ervin memiringkan kepalanya, menatap lurus Roberto yang masih mengetik sesuatu diponselnya. "Karena aku juga mengalami hal yang sama seperti yang kau alami," kata Roberto singkat lalu berdiri dari sofa.


Ervin melihat Roberto berjalan menuju kamar disebelah tangga, membuka pintu kamar lalu masuk kedalam. Ditinggal sendiri diruang tamu, Ervin melihat pintu kamar Asiah yang masih tertutup. Sial... Memangnya aku harus bagaimana?, Sifatku memang seperti ini.


Malam yang panjang masih belum berlalu, udara dingin berhembus menembus kulit setiap orang yang berada diluar kehangatan rumah.


"Hahh... Tempat ini sunyi sekali." Ervin telah berjalan-jalan ditengah malam hari selama 1 jam, dengan berbekalkan kaos tipis hitam dan celana jins pendek.


BZZZZT-BZZZZT....

__ADS_1


Ponselnya bergetar.


Menjawab panggilan.


"Ya."


[ "Ervin dengar aku ada berita buruk untukmu." ]


"Apa itu?."


[ "Sepertinya orang-orang dari organisasi Belarus mulai masuk kenegara kita, mereka membawa beberapa barang ilegal yang akan membuatmu rugi besar." ]


"... Lalu."


[ "Lalu???." ]


"Itu bukan masalah besar, apalagi jika dianggap sebagai hal buruk, jika mereka masuk dan berulah aku hanya perlu membersihkan mereka sampai keaakar."


[ "Tsk... Masalahnya mereka sepertinya dibaking oleh seseorang." ]


"Biarkan saja mereka untuk sementara, lebih mudah menyingkirkan mereka ketikan sudah masuk kedalam."


[ "Hahh... Terserah padamu saja Ervin, aku tutup dulu." ]


Klik.


Setelah memastikan panggilan telepon berakhir, Ervin beranjak dari bangku taman untuk pulang kerumah.


Ponsel yang berada disaku celana kanan bergetar.


Ervin yang moodnya sejak tadi sudah rusak merasa malas hanya untuk mengangkat satu panggilan, tanpa melihat nama sipemanggil ervin menjawab panggilan. "Ya."


[ "Kamu Dimana?." ]


Itu Asiah yang menghubunginya tepat ditengah malam. Ervin yang merasa bingung melihat layar ponselnya untuk memastikan suara yang didengarnya tidak salah.


[ Istriku ]


Sejenak Ervin terdiam.


[ "Halo???." ]


"Oh yah, kenapa menelepon malam-malam begini, apa masih belum tidur?."


[ "Aku terbangun, katanya Ayahku-." ]


Mendengar kata 'Ayah' Ervin mengernyitkan dahinya, dia tidak suka dan moodnya semakin buruk sehingga menyela Asiah.


"Aku tutup."

__ADS_1


[ "Tidak tunggu-!" ]


"Jangan hubungi aku untuk seminggu ini, aku sibuk."


[ "..., Hah... Iya aku tahu kamu sibuk tapi- " ]


"Aku tutup." Ervin mengahiri panggilan sepihak, kemudian dia berjalan kesebrang jalan untuk memanggil taxi.


Ditempat lain.


"Ada apa dengannya?, Biasanya tidak seperti ini."


"Kamu sudah siap nak?." Roberto mengintip dari pintu dengan tas besar berwarna coklat ditangannya.


"Aku akan segera siap ayah, aku hanya menghubungi Ervin sebentar...."


Roberto langsung cemberut. "Mengapa menghubungi  bajingan itu? Bukankah saat ini kalian sedang bertengkar?, Lagi pula dia tidak akan ikut bersama kita."


"Tetap saja aku harus memberi tahunya."


Asiah dan keluarganya berencana untuk kembali ke Jerman setelah mendapat panggilan mendadak dari keluarga yang ada di Jerman. Mau tak mau Asiah harus mengikuti ayah dan ibunya kejerman atas permintaan keluarganya disana. Dan saat ini Asiah menghubungi Ervin beberapa kali untuk menyampaikan pesan namun telah ditolak berulang.


"Kenapa masih melihat ponsel." Roberto mengambil ponsel Asiah dan menaruhnya didalam saku celana. "Ayah akan kembalikan setelah kita tiba di Jerman."


"Ayah tunggu dulu, setidaknya aku harus memberi tahu Ervin-."


"Nop, tidak perlu, nanti dia juga akan tahu." Roberto mengemas sendiri baju-baju Asiah dalam tas coklat sambil berbicara dengan putri kesayangannya setelah sekian lama mereka tidak berbicara langsung.


"Btw sayang... Kira-kira kapan kamu akan melahirkan."


"Masih belum tahu, aku


menyerahkannya pada proses alam."


"Wt... Setidaknya kamu harus membuat antisipasi, bagaimana nanti kamu melahirkan dihari yang tidak terduga."


Mendengar itu Asiah terdiam kaku, kemudian membeli perutnya lembut Pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang sama dengan yang pernah dia dengar dari mulut Ervin dulu.


"Ayah tidak perlu khawatir." Dengan tatapan yakin Asiah melihat Ayahnya yang masih memilih baju dilemari. "Aku yakin kalau aku pasti bisa melaluinya walau tidak ada yang menemani."


"Huss... Jauhkan kalimat buruk itu, pokonya jika kamu merasa akan melahirkan segera cari seseorang yang untuk membantumu!."


Tersenyum.


Entah bagaimana dalam pikiran Asiah orang yang akan berada disebelahnya adalah Ervin disaat dia akan melahirkan bayi kembarnya.


"Baiklah Ayah, aku mengerti." Asiah bangkit dari atas kasur lalu mengambil sebuah surat dilaci, menuliskan beberapa kata di sana lalu meletakkannya di atas kasur ketika ayahnya selesai mengemas barang-barangnya dan berdiri menunggu didepan pintu.


"Ayo sayang."

__ADS_1


Asiah bergumam. "Kuharap kamu melihatnya dan tidak terlalu marah, salahmu tidak mau mendengarkan."


__ADS_2