Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 55.


__ADS_3

"... UUGH-."


BRUKBRAKBRUK....


Dokumen, Meja, Gelas kaca. Semuanya hancur di tangan Ervin, dia menghancurkan benda apapun yang dia pegang dan itu sudah berlangsung selama 5 bulan lamanya. Harus kemana lagi aku mencarimu?, Kenapa sulit sekali menemukanmu... Apa kau ini manusia atau alien?, Kenapa aku masih tidak bisa menemukanmu....


Ervin berteriak dalam hatinya dengan frustasi, kantung mata hitam sudah menghiasi wajah tampannya yang rupawan. Ervin bahkan terlihat seperti pria yang tidak terurus setelah lelah mencari data informasi yang dia inginkan, hingga akhirnya di memutuskan untuk pergi bersama Adrian kesalahsatu maal terkenal di kota Prancis.


Awalnya dia merasa malas untuk pergi ke sebuah tempat yang tidak sesuai dengan level kelas atasnya saat itu tetapi.


Gdbuk.


"Aww— maafkan aku!."


"Cik." Ervin melihat dengan malas seorang wanita yang memungut barang-barangnya yang terjatu di lantai. Kemudian setelah melihat lebih jelih matanya terbuka lebar ketika melihat wajah wanita yang ada dibawah sedang memungut barang yang jatuh, tiba-tiba jantungnya berdetak cepat mengenali siapa yang ada di hadapannya.


Adrian yang belum tahu siapa wanita didepannya merasa kasihan karena kesulitan akhirnya dia membantu mengumpulkan barang yang jatuh tapi kemudian dia terkejut setelah melihat wajah wanita itu.


"Oh YA Tuhan!!!." Tubuh Adrin mundur kebelakang karena terkejut.


Reaksinya sama dengan yang di keluarkan Ervin.


"...!"


DEG DEG DEG...


Jantung Ervin berpacuh dengan cepat ketika melihat wanita yang telah menghantuinya selama lima bulan terakhir. Wanita dengan rambut hitam legam yang di ikat kepang kebelakang serta mengunakan baju dress panjang bertema beruang membuat kesan sederhana namun imut pada penampilan wanita di hadapannya.


Seketika dia menegang.


Ervin melihat tubuh bagian bawahnya yang menegang setelah sekian lama. Menanggapi wanita di hadapannya yang bahkan belum melihat kearahnya akan tetapi tubuhnya secara insting telah bereaksi akan kehadiran wanita tersebut.


Lihat aku.


"Maafkan aku, aku tidak melihat— Eh???."


"Hah?!!"


"Wt—"


Mereka bertiga saling bertatapan. Asiah refleks menyembunyikan keterkejutannya walau jantungnya telah berdetak dengan cepat. Kenapa Aku Harus Melihat Bajingan Ini Di Sini?!. Asiah menyembunyikan ekspresinya dengan baik sehingga Ervin sendiri tidak dapat melihatnya.


"Ka—"


Melirik.

__ADS_1


Ervin melihat kebawah, sejak tadi dia tidak memperhatikan namun setelah semuanya menjadi jelas dia tidak bisa berkata-kata setelah melihat Asiah tengah berbadan dua, hatinya hancur seakan-akan dunianya telah runtuh.


"Ka-kamu, kamu—"


Kalimat 'Kamu hamil' tidak bisa keluar dari mulut Ervin, karena masih syok.


Kesal, marah, sedih, rasa rindu yang mendalam berpadu menjadi satu.


Tak ingin menunda lagi akhirnya Ervin memutuskan untuk membawa Asiah yang saat itu masih belum di ketahui identitasnya ke area parkiran bawah tanah mall.


Disana mereka sedikit mangalami perdebatan sengit bersama Adrian yang bertindak sebagai pengamat.


Hatinya terasa seperti teriris pisau tajam setiap kali matanya tertuju pada perut besar itu. Ini... Ini pasti hanya mimpi, siapa? Siapa Ayah dari bayi yang dia kandung?! Siapa?. Tunggu! Apa itu bayiku?. Ervin tidak menyadari bahwa saat itu pikirannya telah berhasil menebak ayah dari bayi di dalam kandungan Asiah tapi tetap mengklaim miliknya namun dibantah dengan tegas oleh Asiah


"Mereka bukan milikmu."


Penolakan dari Asiah serta wajah menantang Asiah untuk melindungi bayi-bayinya sejenak megoyakan Ervin. Tatapan tajam dari Asiah membuatnya tidak bisa melakukan apapun di situasi tidak terduga itu dan membiarkan Asiah pergi begitu saja.


Untungnya Ervin memiliki nasib baik, dia mengunakan informasi dari toko pakaian bayi untuk mencari alamat dan identitas yang bahkan tidak mereka ketahui selama lima bulan lamanya. "Namanya Asiah Rosen, dan ini nomor ponselnya kau bisa menyimpannya kalau kau mau Ervin," kata Adrian setelah menyeleksi beberapa dokumen.


"Asiah... Asiah.... Namanya cukup unik," gumam Ervin. Ervin terkejut setiap kali dirinya menemukan hal baru tentang identitas Asiah, walau beberapa dokumen tidak berhasil dia dapatkan karena ditutupi dengan sengaja oleh beberapa orang berpengaruh. "Tsk, dia punya kenalan yang cukup merepotkan."


"Kalau kau tahu itu seharusnya berhenti mencari tahu tentang identitas—"


"Tutup mulutmu dan tetap dapatkan informasi itu bagaimanapun caranya."


Beberapa hari berlalu setelah pertemuan Ervin dengan Asiah tanpa sadar Ervin semakin  penasaran dengan kehidupan Asiah. Apa yang sedang dia lakukan?. Ervin rela meninggalkan kediamannya yang nyaman hanya untuk membaca ulang data diri Asiah semalaman sampai dia merasa bosan dan memutuskan untuk mengamati Asiah dari kejauhan tetapi, sebuah keberuntungan tiba-tiba datang padanya.


Di pagi buta, Ervin telah melihat Asiah keluar dari gerbang rumahnya tetapi dalam kondisi yang aneh. Kenapa dia berjalan seperti itu?. Ervin keluar dari mobilnya dan mengikuti Asiah dari belakang.


"Sniff...."


"Hem?!."


Ervin panik ketika melihat Asiah duduk di aspal yang dingin sampul menitihkan air mata. "Sniff... Kepalaku- kepalaku sangat sakit... Hiksss...."


Tanpa pikir panjang Ervin segera menghampirinya, dia tidak perduli dengan orang yang lewat pagi itu, dan memilih menolong Asiah yang terlihat sedang kesakitan. Ervin mengurus Asiah dengan sangat lembut, dia bahkan rela memanggil Julius yang merupakan dokter andalan keluarganya untuk mengurus Asiah yang sedang sakit.


Bahkan Ervin tidak bisa beristirahat dengan tenang di saat Asiah menjalani pengobatan di rumah sakit. "KUBUNUH KAU KALAU TIDAK BISA MENYEMBUHKANNYA," ancamnya.


Rasa tegang dan cemas akhirnya berlalu dia sangat senang setelah melihat Asiah terbangun. Bagus. Tetaplah seperti itu, kau terlihat sangat cantik saat sehat dan baik-baik saja.


Namun itu hanya sesaat.


"BAJINGAN SIALAN! BERANINYA AKU MENYENTUH WANITAKU!."

__ADS_1


Kesalah pahaman yang dia lihat di dalam kamar pasien sempat membuat dirinya kehilangan akal dan hampir menyakiti Julius, tubuhnya terasa sangat panas saat tangan pria lain menyentuh kulit Asiah walau itu hanya sekedar kekawatiran semata.


Ervin kembali sadar kedirinya sendiri setelah selesai bertengkar kecil dengan Asiah yang meninggalkan ruangan. Kajadian itu juga yang menjadi awal hubungan baik Ervin dengan Asiah sampai sekarang.


Tersenyum.


Ervin tersenyum setelah mengingat perubahan derastis dirinya di masalalu.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu?."


"Aku hanya mengingat masalalu. Btw, aku ingin bertanya."


"Apa?."


"Tadi kau mengatakan kalau setiap kali mengengam tangan seorang pria kau merasa mual."


"Benar."


"Tapi ada yang aneh."


"Aneh apanya?."


Asiah melihat Ervin medekat kearahnya dan menggenggam tangannya cukup kuat.


"Kau sudah mengengam tanganku beberapa kali dan tidak merasa mual, bahkan saat ini juga tidak ada tanda-tanda akan mual."


"Hem?."


Melepaskan Tangan.


Asiah menepis tangan Ervin dengan kasar sedangkan Ervin tersenyum puas melihat reaksi Asiah lalu berkata. "Bagaimana kalau kita mulai dari awal?."


"Awal ap—"


"Tidak ada trauma yang tidak bisa di obati, apa lagi jika orang yang mengobatinya adalah aku." Ervin menunjuk dirinya dengan bangga.


"Kamu keras kepala sekali. Justru orang sepertimulah yang membuat traumaku semakin bertambah."


"Benarkah? Kalau begitu bagaimana kalau kita coba sekarang."


"Kamu sangat aneh, memangnya kamu ingin menikahiku?."


"Iya."


"...."

__ADS_1


Asiah terdiam. Dia tidak bisa berkata apa-apa setelah mendengar jawaban singkat Ervin. "Ka-kau sudah gila." Asiah menyeringai dan menganggap ucapan Ervin hanya seperti lelucon semata. "Kenapa kau tertawa, aku serius mengatakan itu."


__ADS_2