
Asiah terkejut mendengar perkataan anehnya Ervin. "K-kau sudah gila. Aku bukan milikmu dan anak-anakku juga bukan milikmu." Jantungnya mulai berdebar.
"MEREKA MILIKI DAN BEGITUPULA DENGAN DIRIMU!!!."
"Kau sudah gila!."
"YAH! AKU MEMANG SUDAH GILA!."
Ervin melepaskan pelukannya, dia menyentuh pundak Asiah sambil berlutut di lantai. Pandangan matanya terlihat kacau dan matanya terlihat berkaca-kaca saat menatap mata Asiah.
"Kau Membuatku Gila Sampai Seperti Ini, Kau Yang Membuatku Jadi Aneh Sampai Aku Bahkan Tidak Mengenali Diriku Lagi, Kau Yang Membuatku Jadi Seperti Ini!!!."
"...."
Ah... Dia benar-benar sudah gila. Asiah melepaskan tangan Ervin lalu menyentuh pundaknya. "Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu lakukan ini. Tapi cepat berdiri, kalau ada yang melihatmu pasti akan sulit-"
"AKU TIDAK PERDULI."
"Hahh...." Asiah menyentuh wajah Ervin dan membuatnya bertatapan dengan matanya. Perlahan Asiah menghusap mata Ervin yang sedikit basah. "Hei. Aku tidak akan menjadi milik siapapun, aku juga tidak memiliki hubungan apapun dengan Dokter Julius.
"Yang seperti dirimu saja aku tolak, bagimana mungkin aku menerima pria yang bahkan tidak lebih baik darimu!, Sekarang sudahi air matamu." Asiah menghusap wajah Ervin dan membantunya untuk berdiri. "Lebih baik tenangkan dirimu terlebih dahu-"
"Kau berbohong. Kau sangat pandai berbohong, semua yang kau katakan barusan itu hanya sebuah kebohongan."
"Ap-"
Ervin mencengkram pundak Asiah walau tidak terlalu kuat. Dia melihat lurus kedalam mata wanita di depannya lalu menggigit bibir bawahnya. "Apa kau pikir aku tidak pernah mendengar perkataan seperti itu sebelumnya?.
"Apakah kamu harus sama seperti wanita-wanita menjijikan yang selama ini menempel padaku, Apakah kamu harus jadi seperti mereka juga? Hem?," Kata Ervin sambil menguncang tubuh Asiah.
"Ah... Kamu benar-benar tidak bisa mendengarkan seseorang walau hanya sebentar saja."
"Apa?."
Asiah mengangkat wajahnya keatas, melihat langit-langit kamar yang di lapisi cat berwarna putih. Mata Asiah terlihat malas, bahkan mulutnya sudah keluh untuk berbicara pada Ervin. Dia menepis tangan Ervin dari pundaknya dan berjalan menuju pintu.
"Kemana kau akan pergi?."
"...."
Asiah tidak menjawab Ervin, dia terus berjalan dan membuka knop pintu. "Hei jawab aku! Kemana kau akan pergi?!."
Asiah menutup matanya, menarik nafasnya dalam-dalam lalu menjawab Ervin. "Kemanapun, asalkan bisa menjauh darimu untuk sementara." Kata Asiah yang lelah dengan situasi saat ini.
"..., Kau tidak bisa keluar dari kamar! Dokternya akan-"
__ADS_1
"Aku tidak perduli. Aku hanya melakukan apapun yang aku inginkan." Asiah menutup pintu kamar dengan kuat hingga terdengar sampai koridor. Asiah menarik nafasnya lalu menghembuskannya perlahan. Berbicara dengannya sama saja seperti berbicara pada anak berusia Lima Tahun...
"Huhhff...." Asiah yang muak dengan keluhan Ervin pergi keluar menuju taman yang berada di sebelah rumah sakit. "Sial, aku lupa membawa jaketku." Asiah merasakan udara dingin yang sejuk menembus kulitnya.
Dia duduk di bangku taman, melihat pasien dan perawat yang melewatinya dengan senyum ramah. "Entah kenapa aku merasa menyesal sekarang karena menghancurkan ponselku," gumam Asiah. Pada saat Asiah duduk sendiri di bangku taman, tiba-tiba seorang pria yang bisa dikatakan lumayan tua datang menghampirinya.
"Bisakah aku duduk di sebalah nona?."
"Oh, tentu," kata Asiah sambil tersenyum.
"Malam yang indah."
"Sendirian saja."
"Ya, begitulah."
"Ada dimana suamimu?."
"Sedang mengambilkan jaket untukku."
"Kalau begitu apakah kamu mau menemaniku sebentar disini?," Tanya pria tua itu sambil melihat Asiah dari atas kebawah.
"Hemm... Tentu saja, tapi aku tidak yakin akan lama, aku tidak tahu kapan suamiku akan datang menjemputku," Asiah menggeser posisi duduknya dari pria tua di sebelahnya.
"Hem?."
"Kamu berasal dari negara mana?."
"Ooh, aku dari Jerman."
"Wahhhh.... Kebetulan sekali!." Pria tua itu langsung mengambil tangan Asiah dan menyalaminya. "Aku juga berasal dari Jerman!, Aku pindah keparis sekitar enam tahun yang lalu bersama-"
"!!!"
Asiah benar-benar merasa tidak nyaman dengan pria di depannya itu, dia berusaha untuk menarik tangannya namun pria tua di depannya malah semakin mengengam tangan Asiah lebih kuat. "Ehm. Permisi tolong lepaskan tangan saya," kata Asiah dengan gelisa. Pria tua itu melihat Asiah sekali lagi tapi kali ini dengan tatapan aneh.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?."
"Aku pikir tidak, tolong lepaskan tangan- APA YANG ANDA LAKUKAN?!!!."Asiah hampir saja berteriak ketika pria tua di depannya menarik dagunya dan mendekatkan wajahnya padanya. "Kamu terlihat tidak asing bagiku!."
"L-LEPASKAN!."
"Oh my... Jangan takut, aku tidak akan melukaimu, aku hanya penasaran karena berfikir pernah melihatmu entah dimana?."
Asiah melihat sekeliling taman, ternyata daerah tempat mereka duduk cukup sepih dan tidak ada lagi yang melewati tempat itu. Apa tidak ada siapapun yang lewat lagi?! Dimana tuan Julius? Kenapa dia lama sekali!.
__ADS_1
Pria tua di depan Asiah masih terlihat binggung, dia sedang mengingat-ingat wajah wanita muda yang cukup familiar itu. Dimana aku melihat wanita ini?.
"Hei? Apa kau yakin tidak pernah bertemu dengan-"
"Kau pikir apa yang kau lakukan?."
"Hem?."
"...!"
Asiah melihat Ervin datang dari belakang pohon. Pada saat tangan pria tua itu sedikit melonggar, Asiah segera menepis tangan pria tua itu dengan kasar dan berjalan memutar menuju Ervin. Dia bersembunyi di balik badan Ervin yang cukup untuk menutupi setengah bagian tubuhnya.
Menatap.
"...."
Pria tua itu melihat tangannya yang di tepis, lalu mengalihkan pandanganya pada Ervin dan wanita yang bersembunyi di belakangnya.
"Apa kau suaminya?."
"Iya."
"Ap-"
"Diam saja."
"...."
"Apa yang baru saja kau lakukan pada istriku?," Tanya Ervin setengah mungkin. Dia berusaha untuk tenang setelah merasakan gemetar di tangan Asiah yang meremas kaosnya dari belakang. "Oi, aku mengatakan apa yang kau lakukan padanya," tanya Ervin sekali lagi.
"..., Tidak ada, aku hanya menanyakan kalau dia pernah bertemu denganku atau tidak hanya itu saja!," Pria tua itu mengangkat bahunya seolah-olah tidak melakukan kesalahan apapun.
"Haruskah aku membunuhnya?."
"Jangan! Ini masih di rumah sakit!," Bisik Asiah. Kedua pria itu saling bertatapan dengan tajam. Ervin merasakan kesan yang familiar pada pria di depannya, sebaliknya juga pria tua di depan Ervin merasakan hal yang sama setelah melihat Ervin lebih jelas.
'Pria ini sama sepertiku' . Batin mereka berdua. Keduanya memiliki pemikiran yang sama saat berhadapan. Ervin membuka Jaketnya dan memakaikannya di tubuh Asiah akan tetapi tatapan tajamnya masih di arahkan pada pria tua di depannya.
"Ayo masuk, dokter yang akan memeriksamu sudah menunggu sejak tadi,"kata Ervin.
"Kamu bukan orang baik," kata pria
tua pada Ervin.
"Memangnya siapa yang bilang aku ini orang baik?," Ervin memeluk Asiah setelah memakaikan jaket di tubuhnya dia menutupi alih-alih melindunginya dari tua yang dia anggap berbahaya itu. .
__ADS_1