
Ervin menggerutu dan kembali berbaring di dalam selimut. Sedangkan di depan pintu Ibunya memiliki sedikit wajah cemas. "Apa dia baik-baik saja?."
"Apa Ervin pulang lagi?."
"Iya, dia pulang barusan."
"Apa dia membunuh orang lagi?."
"Tentu saja tidak!, Kali ini aku tidak melihat darah di bajunya."
"Oh begitu, lalu apa masalahnya?."
"Masalahnya dia tidak memberitahuku apa masalahnya!."
"Hahh... Anak dan ibu sama saja."
"Jefry! Apa kamu akan membiarkannya seperti itu?."
"Mau bagaimana lagi?, Dia seorang pria sekarang, dia bisa mengurus masalahnya sendiri."
Jefry Kyros Alvaro. Pria tua yang masih tampan berusia 54 tahun, seorang pembisnis yang menekuni bisnis pertambangan seumur hidupnya, sekaligus Ayah dari dua orang anak yang sangat sulit di atur untuk mewarisi bisnis tambang miliknya.
"Apa begitu caramu memperlakukan putramu?."
Janet Rebecca Alvaro. Berusia 52 tahun, seorang ibu rumah tangga yang mengurus banyak hal termasuk bisnis keluarga yang dia kelola. Sangat memanjakan anak-anakknya sehingga anak-anaknya tumbuh menjadi karakter yang sulit di atur.
"Nahh... Tidak ada yang bisa mengatur anak itu, mau sekeras apapun kau mencobanya, bajingan kecil itu masih belum dewasa walau sudah berusia 31 tahun biarkan saja, dia akan turun dengan sendirinya nanti kalau dia lapar."
"Hahh... Apa yang harus kulakukan pada keluargaku ini." Gerutu Janet.
"Ada apa Ibu?." Seorang wanita muda dengan rambut seputih salju menyapa dengan lembut. "Angela! Kapan kamu pulang?."
"Baru saja. Apa yang terjadi? Apa Ervin pulang lagi? Apa dia membunuh seseorang?." Angela Kyros Alvaro. Wanita cantik berumur 32 tahun yang saat ini sedang mengandung anak keduanya yang berusia 3 Bulan. Angela merupakan putri tertua keluarga Alvaro yang menekuni bisnis Fashion dan Pertambangan keluarganya.
"Tidak. Ibu tidak tahu apa yang membuatnya pulang, tapi ibu khawatir padanya. Maukah kamu membujuknya untuk ibu."
"...."
Angela tersenyum pada ibunya. "Ibu, tidak ada yang bisa membujuk bajingan sial itu walau aku menundukkan kepalaku di lantai. Biarkan saja seperti itu, nanti dia juga akan keluar dengan sendirinya."
Angela turun dari tangga dan menuju rumah makan. "Apa yang bisa aku harapkan dari anak-anakku." Janet mengangkat tangannya turun kebawah.
***
Ketika malam tiba, Ervin turun dari kamarnya seperti yang di harapkan oleh Suami dan Putrinya. Ervin turun dengan penampilan sederhana namun berkesan mewah. Dia hanya mengunakan kaos hijau tua polos dengan celana pendek dan sendal putih polos di kakinya
"Apa?."
"Tidak ada."
"Ervin sayang... Kamu ingin makan apa?," Tanya Janet pada putranya. "Berikan saja apa yang ada." Jawab Ervin singkat.
"...."
__ADS_1
"...."
"Ervin, aku dengar perusahaanmu meluncurkan sebuah jam tangan edisi terbatas di Les Galeries LaFayette. Aku sudah melihat penampakannya ternyata lebih bagus dari yang—"
"Angela, urus saja urusanmu. Bisnismu adalah bisnismu dan Bisnisku adalah Bisnisku. Berhenti bersikap seolah-olah kau perduli."
"Hah?." Angela meletakan garpu dan sendoknya kemudian, dia menatap Ervin dengan kesal. "Apa begitu caramu memperlakukan kakakmu?."
"Aku bisa lebih kasar dari ini jika kau mau."
"ERVIN!."
"Sudah cukup kalian berdua."
Jefry melihat Putra dan Putrinya yang bertengkar seperti biasanya. "Kalian jarang berkumpul seperti ini jadi jangan bertengkar lagi atau kalian bisa makan di kamar kalian masing-masing."
"Cik."
"Tsk"
Ervin dan Angela diam dan tidak bertengkar setelah mendengar suara Ayahnya. Kemudian mereka makan dengan tenang. Tidak ada lagi yang berbicara, hanya ada suara sendok dan suara kunyah makanan hingga Jefry membuka pembicaraan.
"Angela, apa yang kau lakukan disini, Bukankah seharusnya kau bersama Suami dan Anakmu sekarang?."
"Aku kemari untuk makan masakan ibu, Jeremi dan Cendrik sekarang sedang ada di rumah ibu mertuaku."
"Kalian bertengkar lagi?."
"Uhum."
"Kenapa membawa-bawaku juga?!."
Kau yang paling parah Ervin, katakan padaku siapa yang kau bunuh kali ini?."
"Aku tidak membunuh siapapun, Aku pulang karena aku memang sedang ingin tidur."
"Kau biasanya tidur di hotel bersama wanita-wanitamu, jadi jangan buat alasan dan katakan kenapa kau pulang kerumah."
Jefry mengambil sapu tangan di sebelah piringnya. "Setiap kali kalian pulang kerumah pasti kami akan mendengar kabar buruk dari bawahanku, entah itu Ervin yang membunuh orang atau Angela yang bertengkar dengan ibu mertuanya dan kabur dari rumah."
"Apa Ayah menetapkan mata-mata di sekitar kami?," Tanya Angel.
"Aku melakukannya untuk memantau kalian tapi, sepertinya salah satu dari mereka sudah mati di tangan seseorang."
"Dia terlalu menjengkelkan jadi aku tidak sengaja membunuhnya," kata Ervin.
"Kalian semua diam. Kita sedang berada di depan makanan tidak baik berkelahi di depan makanan."
Diam.
Mereka melanjutkan makan malam mereka dalam keheningan kemudian Ervin berbicara. "Ibu, aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa itu anakku?." Ervin menghadap ibunya dengan tatapan serius. "Apakah aku terlihat tidak hebat di ranjang?."
__ADS_1
"PUFFT—"
"PUAFT— AHAK... UHUK—" Jefry dan Angela menumpahkan air yang mereka minum sedangkan Janet syok melihat putranya. "Apa kamu datang kerumah karena masalah itu?," Tanya Janet.
"Jawab saja pertanyaanku."
"Ahm... Ah— .... Apa dia bilang dia tidak puas?!!"
"Yah."
"OH YAH AMPUN!!!"
KLANG.
Sendok di tangan Janet jatuh kelantai ketika tangannya menjadi merinding.
"Apa yang dia bilang barusan?. PUAHAHAHA.... ITULAH SEBABNYA KAU HARUS MENGUNAKAN PIL ANJING SEBELUM BERTEMPUR," Jefry tertawa terbahak-bahak mengejek putranya.
"Pfftt." Angela berusaha untuk menahan tawanya.
"..., Inilah sebabnya aku malas bercerita dengan kalian," Ervin melepaskan sendoknya dengan kasar, bangkit berdiri meninggalkan meja makan.
Kemudian dikamar dia melemparkan dirinya di atas kasur empuk yang bergelombang ketika dia tidur di atasnya. "Semua orang di rumah ini menyebalkan." Ervin menggerutu dan menutup matanya sampai sebuah nada panggilan membuka matanya.
"...."
Dia melihat siapa yang menelponnya. Itu adalah Adrian dengan 21 panggilan tak terjawab. "Kenapa bajingan ini menelefonku malam-malam begini." Meski menggerutu Ervin tetap menagankat pangilan dari Adrian.
"Apa?."
[ 'Apa? Bajingan ini.... Hei? Aku sudah mendapatkan apa yang kau minta. ' ] Mendegar itu, Ervin terbangun dari kasurnya dan fokus mendengarkan. "Apa sudah semuanya?."
[ 'Yah, sialan, ternyata informasi wanita yang kau sukai— ' ]
"Aku tidak menyukainya."
[ 'Yah terserahmu saja, intinya ada seseorang dengan pengaruh besar menutup informasi tentang gadis itu, cik aku hampir tidak mendapat apapun. ' ]
"Jadi?."
[ 'Apa kau ingin mendengarnya lewat ponsel atau mendengarnya secara langsung. ' ]
"Tidak, aku akan datang."
Ervin mengambil ponsel dan dompetnya. Kemudian berjalan keluar dari kamar untuk mengambil kunci mobilnya.
"Hem?. Er-Ervin? Mau kemana malam-malam begini?" Tanya Janet yang melihat putranya pergi terburu-buru. "Ibu tidak perlu tahu, jangan menungguku, aku akan menginap di luar untuk waktu yang lama."
"Ah!, Baiklah... Kamu tidak tersinggungkan dengan perkataan Ayahmu tadi." Janet menunjukan kekawatirannya.
"Tidak, sampai jumpa."
Bergegas pergi menuju mobilnya, pelayan yang bersidiri di sana segera menunduk dan memberikan kunci mobil. Dan akhirnya mobil hitam melesat dengan cepat masuk kedalam kegelapan malam.
__ADS_1
^^^Bersambung.....^^^