Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 92.


__ADS_3

***


[ Pukul 06.40.06. ]


Di sore harinya Asiah, ibu dan Ayahnya kembali kekediaman mereka dalam admosfir berat.


"Ayah."


"Yah?." Roberto yang mengemudi melihat kebelakang sejenak.


"Apa yang di tanyakan polisi kepada Ayah?."


"Tidak banyak... Mereka hanya bertanya dimana Ayah saat insiden terjadi."


"Lalu?."


"Hem... Hanya beberapa hal tidak berguna lainnya, setelah memastikan Ayah tidak bersalah mereka melepaskan Ayah begitu saja."


"...."


"Apa masih ada yang ingin kamu tanyakan?."


"Tidak ada."


"Asiah mulai besok kamu harus tinggal sendiri selama seminggu." Ema melihat putrinya di yang duduk di bangku belakang penumpang.


"Kenapa?."


"Besok Ayah dan Mama akan tinggal di restoran selama seminggu penuh karena ada acara penting yang harus di urus.


"Kamu bisa jaga diri sendirikan, Mama sudah bilang kepada bibimu untuk mampir kerumah beberapa kali jika dia sempat-."


"Tidak perlu, aku bisa jaga diri sendiri."


"... K-kalau begitu jika kamu merasa bayimu akan lahir segera hubungi kami atau cari bantuan terdekat."


"... Aku akan melakukannya." Setelah itu keadaan dalam mobil kembali sunyi sampai mereka tiba di rumah.


.


.


.


Keesokan harinya.


"Asiah...."


Ibunya dan Ayahnya yang baru saja menyelesaikan sarapan pagi bersama Asiah mulai berpakian rapi untuk segera menuju restoran yang sedang dalam kacau untuk menyambut tamu penting.


"Kamu baik-baik saja kan dirumah sendirian?."


"Tentu, aku akan menelfon jika ada yang perlu."


"Apa kamu yakin?."


"Tentu ... Ayah dan Mama harus segera pergi, tamu kalian tidak akan menunggu lama."

__ADS_1


"Hohh...." Ema mengecup kening putrinya lalu berjalan meninggalkan ruang tamu. "Ingat untuk menelfon Ayah sesegera mungkin jika ada sesuatu yang penting!."


"Aku tahu... Cepatlah nanti kalian terlambat."


"Ingat untuk Menelfon!!!."


"Iyaa...." Asiah melambaikan tanganya ke di sebelah pagar, menyaksikan mobil Ayah dan Ibunya mulai melaju di jalanan meninggalkan rumah mereka.


"...."


Kini Asiah hanya tinggal sendiri. Dia masuk kedalam rumah dan duduk di sofa sambil menyalakan televisi. Acara-acara komedi, derama, acton, dan Fantasy lewat di beranda acara tapi tidak benar-benar di lihat Asiah.


Tatapanya kosong tapi pikiranya melayang-layang entah kemana saja. "Hahh... Menonton tv bahkan tidak seru lagi." Asiah mematikan televisinya lalu berjalan masuk kekamar.


Berhenti.


Kakinya berhenti di ambang pintu masuk ketika pandanganya tertuju pada sebuah buket bunga pengantin, mawar ungu yang dipegang Laura dan juga bunga yang di serahkan pria asing yang di anggapnya sebagai Ervin.


Asiah berjalan menuju bunga itu lalu mengambilnya, membawanya keatas tempat tidur dan mengamati bunga yang hampir kehilangan warnanya itu.


"...."


BBZZZZZT-


Melirik.


[ Erika Rahayu. ]


Mengabaikan.


Asiah sedang dalam mood untuk tidak berbicara dengan siapapun bahkan hanya untuk sebatas membalas pesan. Isi kepalanya masih dipenuhi tentang kematian sepupunya Tera.


Jika bukan Ayah dan Gengnya yang melakukan itu apakah mungkin itu—


"Hahh...."


****


[ Pukul 04.00.01 ]


Di sore hari yang masih di jatuhi daun musim gugur, Asiah berjalan sendirian di tepi taman di dekat danau buatan yang dikelilingi halayak ramai.


Asiah memperhatikan setiap tempat dimana beberapa orang duduk di tepi danau sambil merentangkan tikar bersama keluarga, teman, atau kekasih. "... Seandainya saja Ayah dan Mama tidak sibuk pasti menyenangkan." Asiah duduk di salah satu ayunan besi, mengambil alih tempat seorang anak yang berlari menuju keluarganya di tepi danau.


Ayunan di gerakan perlahan sambil melihat-lihat sekitar. Asiah tidak terlalu menyukai keramaian hari ini tapi entah mengapa setelah orang tuanya pergi rumah menjadi sepih dan membosankan sehingga dia terpaksa harus keluar dari rumah untuk berjalan-jalan.


Krekk... Krekk.... Bunyi rantai besi terdengar samar ketika digerakkan pelan. "Huhh... Rasanya bosan sekali...." Asiah bergumam pelan lalu melihat kebawah.


Jarak antara ayunan cukup jauh sehingga tidak banyak orang berada di sekitar Asiah. Bahkan setelah beberapa menit hanya dia sendiri yang tersisa disana.


SRAK.


"Hem?." Ketika pandanganya tertunduk cukup lama tiba-tiba sepasang sepatu hitam berhenti di depannya, menarik perhatian Asiah untuk mengangkat kepala.


Melihat.


Kelopak matanya yang awalnya terlihat bosan kini terbuka lebar karena terkejut melihat sosok didepannya.

__ADS_1


"K-Kamu!-" Asiah tidak dapat melanjutkan kalimatnya.


Pria yang menatapnya dari atas tiba-tiba menunduk sejajar dengan wajahnya di atas ayunan.


"...."


"...."


Berkedip.


Mereka berdua hanya saling memandang dalam diam. Namun dalam hatinya dia begitu tegang, tanganya mencengkram rantai pengikat ayunan saat mata mereka bertemu satu sama lain.


"Kamu terlihat lebih cantik dari terakhir kali kita bertemu." Suara berat dari laki-laki yang dulu bersamanya terdengar sangat merdu di telinga Asiah hingga membuatnya merinding. Tulang lehernya menjadi dingin dan ketegangan masih berlanjut.


DEGDEGDEG....


Asiah mencoba untuk membuka mulutnya. "K-kamu... Bagaimana-."


"Anda pernah melihatku sebelumnyakan?."


"Huhh???."


"Ah... Kalau tidak salah kita bertemu di acara pernikahan Laura Rosen beberapa hari yang lalu."


"...."


Tersenyum.


"Aku mencintaimu."


"Huuk-!!!." Asiah tersedak kecil, lalu dengan panik melihat sekitar. Rasa merindingnya hanya semakin besar.


Siapa saja tolong aku!!!. Saat matanya menuju tempat lain pria itu mengalihkan wajah Asiah kembali sejajar dengan mata itu. "Apa yang kamu lihat?, Apa yang lain terlihat lebih menarik dari pada aku?."


Wajah Asiah memerah saat suara berat itu terus menerus berbicara dan bertanya kepadanya. Tangannya terasa hangat di pipi Asiah yang menegang seolah memberinya ketenangan sesaat.


"Ervin." Nama itu keluar langsung dari mulut Asiah.


"Kamu mengenalku?." Pria itu tersenyum sambil memiringkan kepalanya kekanan tapi tatapan masih lekat pada Asiah. "Ah... Kamu pasti mengenalku karena aku orang terkenal di dunia."


Ini buruk... Aku harus menghubungi Ayah atau Mama.


"B-bisakah kamu melepaskan tanganmu."


"Tentu." Ervin menarik tanganya dari wajah Asiah tapi tatapanya masih tertuju pada Asiah seperti hanya dia yang menjadi pusat perhatiannya.


"HUHFF... HUHFF..." Asiah menyeka dahinya dengan sapu tangan lalu mengambil ponsel sambil bergumam. "Nampaknya aku sedang berhalusinasi parah." Asiah yang tangannya mulai bergetar hebat mencari-cari nomor Ayahnya di list panggilan terakhir.


Tapi setelah menemukan nomor dia tidak menekankan langsung, dia melihat lagi ke sampingnya untuk memastikan apa yang dia lihat adalah nyata.


"Ada apa?." Asiah melihat Ervin masih dalam keadaan santai tidak seperi dirinya yang mulai menunjukan kepanikan. "Hhhuff...." Asiah mengelengkan kepalanya. "Rasanya panas sekali."


Tangan Asiah bergetar, dia tidak bisa menekan tombol pemanggil karena tanganya terus bergetar hebat.


"Siapa yang ingin kamu hubungi?." Ervin mengulurkan tanganya untuk mengambil tapi sayangnya Aisah terkejut dan menjatuhkan ponselnya ketanah.


BRAK.

__ADS_1


"Tsk...." Asiah kesal dan mencoba untuk mengambil ponselnya tapi Ervin lebih dulu. "Kenapa kamu gemetar." Sambil memberi ponsel Ervin bertanya lagi. "Apa yang membuatmu cemas?."


__ADS_2