Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 46.


__ADS_3

"Lepaskan dia," pemerintah Ervin.


Bawahan yang barda di samping Ervin menaggukan kepalanya dan memerintahkan rekannya yang lain untuk segera membawa Debora. "Apakah anda akan membiarkannya tetap hidup?."


"Mana mungkin. Pastikan dia keluar dari negara ini, biarkan dia hidup selama setengah tahun dan bunuh setelahnya. Dengan begitu tidak akan ada yang curiga pada kita, pastikan juga untuk terus mengawasinya."


"Baik Bos."


Setelah semuanya selesai Ervin segera menuju rumah sakit Lionrea. Tak butuh waktu yang lama baginya untuk sampai kesana, jalanan yang sepih dan Mobil sportnya yang canggih membuat jarak jauh menjadi sangat singkat untuk di lalui.


Sesampainya di rumah sakit Lionrea dia bergegas keluar dari mobilnya dan masuk kedalam rumah sakit. Ervin berlari kencang di sepanjang jalan menuju kamar di mana Asiah dirawat, dia tidak perduli dengan orang-orang yang melihatnya dengan tatapan aneh dan terganggu karena berlari di setiap lorong ruangan. Cik, rumah sakit ini sangat sangat panjang ini menyebalkan. Pada akhirnya Ervin sampai di pintu kamar yang dia tuju.


Kebetulan saja dia bertemu dengan seorang perawat yang membawakan nampan berisikan makanan di atasnya. "Untuk siapa itu?," Tanya Ervin pada perawat wanita. Perawat itu diam sebentar saat melihat wajah tampan Ervin dari jarak dekat.


"Oi, aku tanya untuk siapa itu? Apa kau tuli?,"sekali lagi Ervin bertanya pada perawat itu. Apa rumah sakit ini memperkerjakan orang tuli?, Ini tidak bisa di biarkan. Lain kali aku tidak akan membawa Asiah ketempat ini selamanya.


Ervin memutuskan untuk mengabaikan perawat itu dan mengambil nampan dari tangannya. "Aku yang akan bawakan, cepat enyah sana," kata Ervin tegas. Untungnya setelah mendengar perkataan kasar Ervin perawat kembali pada dirinya sendiri. Dia merasa malu dan segera meninggalkan Ervin di depan pintu.


Sebelum masuk dia memastikan dirinya terlihat rapi, dia bahkan sudah menata rapi rambutnya sebelum masuk kedalam kamar.


Setelah merasa puas dengan penampilan sempurnanya Ervin mengakkan tubuhnya lalu membuka pintu kamar perlaha, akan tetapi.


"Kenapa kamu tidak bisa mengurus dirimu dengan benar?." Suara pria dari dalam kamar mengentikan tangannya untuk membuka pintu lebih lebar. "Aku bukannya tidak bisa, kalian sendiri yang melarangku mengunakan tangan."


Dari balik pintu yang terbuka sedikit, Ervin melihat Julius dan Asiah yang sedang berinteraksi. Dia melihat Julius dengan tatapan marah ketika tangannya mulai menyentuh wajah Asiah dengan saputangan sedangkan Asiah memegang pergelangan tangan Julius dan membiarkannya menyeka wajahnya. Apa itu?. Apa yang sedang mereka lakukan?!!. Hati Ervin terasa seperti terbakar saat melihat mereka berdua, nampan yang ada di tangannya mulai bergetar sedangkan wajahnya mulai memerah.


Yang di lihat Ervin.


"AWW... Lihatlah wajahmu yang cantik ini, kamu hanya memakan roti saja tapi remah-remahnya bisa sampai ke alis matamu."


"Ahaha... Aku tidak sengaja melakukan, tanganku tidak bisa kugunakan dengan baik jadi saat menyentuh dahiku secara tidak senga-"


Ervin melihat mereka seperti pasangan yang sedang di mabuk asmara.

__ADS_1


Padahal yang sebenarnya terjadi.


"Tsk, si bodoh ini. ... Apa kau mau memberi makan alismu?," Julius mengambil saputangannya dan membersihkan wajah Asiah dengan kasar.


"AWW! Jangan menekannya dengan kuat. Bisa lebih lembut tidak?." Asiah menyentuh pergelangan tangan Julius untuk mengurangi tekanan pada wajahnya.


KALNG....


"Hum?."


"Hem?."


Mereka berdua refleks melihat kearah asal suara yang cukup keras. Mereka berdua melihat seorang pria yang mereka kenal. Pria itu terlihat diam di ambang pintu yang hampir saja terbuka lebar dengan nampan yang terjatuh di lantai tepat di bawah kakinya


"K-Kalian... Kalian!!!."


"Tu-tuan Mud-" Julius melihat arah mata Ervin berhenti, Julius melihat mata Ervin tertuju pada tangannya yang masih menyentuh wajah Asiah dan tangan Asiah yang menyentuh pergelangan tangannya. Mati aku!. Jantung Julius berdetak kencang, perlahan-lahan dia menurunkan tangannya dari wajah Asiah.


"BAJINGAN SIALAN! BERANINYA AKU MENYENTUH WANITAKU!," Geram Ervin.


Ervin membuka paksa pintu kamar hingga terdengar suara bantingan keras. Dia masuk menerjang kearah Julius yang menjatuhkan saputangannya dan mundur menjauh dari Asiah. "TUAN MUDA AKU-"


"F-CK. HARI INI KAU MATI DI TANGANKU!!!."


"HEI!!! APA YANG KAU LAKUKAN??!, APA KAU SUDAH GILA?!," Asiah berteriak pada Ervin yang hampir memukul wajah Julius. "TUTUP MULUTMU DAN TETAP DI TEMPATMU."


"TUAN MUDA! ANDA SALAH PAHAM!."


"PERSETAN DENGANMU, AKU MELIHATMU MENYENTUH WAJAHNYA DENGAN BEGITU MESRANYA." Ervin menarik kerah baju Julius dan mengepalkan tinjunya, bersiap-siap untuk memukul Julius. Sedangkan Julius yang sudah pasrah mengatupkan giginya akan tetapi dia malah membuka mulutnya.


"BODOH! MENJAUH DARI SINI!!!," Julius berteriak keras pada Asiah yang turun dari ranjangnya dan menuju kearah mereka berdua.


"Masih sempat melihat kearah lain rupa-"

__ADS_1


"APA YANG KAU LAKUKAN?!," Asiah menarik tangan Ervin dari belakang. "HENTIKAN! DIA TIDAK BERBUAT APA-APA, KENAPA KAU TIBA-TIBA SEPERTI INI?." Asiah memegang tangan Ervin sekuat tenaganya.


"Apa Kau Sesuka Itu Padanya?!."


"Aku Tidak Suka Dia Jadi Jangan Memukulnya!, Dia Tidak Melakukan Apa-Apa! Hanya Menyeka Wajahku Saja!," Teriak Asiah panik. Asiah melihat Julius dan mengirimkan sinyal supayah dia segera keluar dari kamar. Sayangnya Julius tidak pergi, dia tidak ingin meninggalkan Asiah di dalam sendirian bersama Tuan Mudanya yang sedang marah.


"HUHFF... HUHFF...." Ervin melihat Julius dengan tatapan membara, dia sangat membenci Julius saat ini. "Keluar kau!!!," kata Ervin pada Julius.


"Tidak, Aku Tidak Akan-"


"KELUAR! KELUAR! KELUAR..., APA KAU TIDAK DENGAR!!!." Ervin berteriak lalu memukul keras ke dinding yang berada tepat di belakang Julius dengan tangan kirinya.


Julius yang khwatir melihat kearah Asiah yang menagnggukan kepalanya menyuruh Julius untuk segera keluar dari kamar. Tsk. Perlukah aku menghubungi Tuan Besa**r!.


Sebentar Julius menutup matanya, walau ragu-ragu dia segera meninggalkan kamar tapi. Sebelum dia benar-benar keluar Julius berbicara pada Ervin. "Tuan Muda. Jangan melampiaskan amarahmu padanya, cukup padaku saja," kata Julius yang segera menutup pintu dari luar.


"...."


"...."


Asiah melihat wajah Ervin yang mengeras. Dia melepaskan tangannya dari tangan Ervin tapi Ervin malah mengengam tangan Asiah lagi, dia berbalik kearah Asiah dan memarahinya.


"APA KAU SUDAH GILA!, KENAPA KAU DATANG KEMARI KETIKA AKU MENYURUHMU UNTUK DI TEMPATMU!," Teriak Ervin.


"LALU APA? TETAP DIAM MELIHAT KAMU MEMUKUL DIA?!."


"HAH... Apa Kau Seperduli Itu Padanya?."


"... Apa yang kamu-"


Ervin berlutut di lantai, tangannya yang terluka memeluk tubuh Asiah, dia membenamkan wajahnya di perut Asiah dan berbicara dengan nada gematar.


"Mereka Ini Milikku...! Dan Mereka Anak-anakku Jadi Otomatis Kau Adalah Milikku Juga! .... Tidak Akan Kubiarkan Siapapun Menyentuh Milikku!!!."

__ADS_1


__ADS_2