Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 78.


__ADS_3

"Apa- apa yang kau maksud!." Senyuman diwajah Ervin telah menghilang sepenuhnya.


BERGERAK.


Kursi besi yang menahan tubuh Ervin mulai bergerak.


"Hei... Ini sudah cukup sekarang lepaskan aku, aku harus memastikan sesuatu."


KLANG.


Ervin mulai memberontak.


Panik.


Gelisah.


Marah.


Tenaga yang sebelumnya pudar tiba-tiba kembali, setelah kalimat seperti air es menguyur tubuhnya.


Dalam Benaknya.


"Kesepakatanku hanya satu, jika aku berhasil membuatmu jatuh hati maka kau dan anakku harus tinggal denganku seumur hidupmu."


Kalimat yang dulu mereka berdua ucapkan terlintas kembali dibenak Ervin.


"Baiklah, kalau begitu aku juga akan memberikanmu satu persyaratan."


"Apa itu?."


"Jangan sampai terlibat skandal dengan wanita manapun sampai bayiku lahir, jika kamu melanggarnya maka kamu harus melupakan kami."


"Heh... Tantangan yang terdengar konyol."


"Memang konyol tapi sepertinya akan segera kamu langgar."


"Kalau begitu aku tambahi, jika aku melanggarnya maka seluruh aset kekayaanku akan berpindah atas namamu."


"... Aku tidak butuh, cukup kamu menjauh dan tidak muncul lagi sudah cukup untukku."


"AAAAARG-."


KLANG KLNAG KLANG...


"CEPAT LEPASKANNN...!" Ervin mulai berteriak.


"Menyedihkan." Jefry menghembuskan asap rokok dari mulutnya, menatap Ervin yang sedang meraung seperti binatang walau seluruh tubuhnya mulai mengeluarkan darah dari bekas luka yang masih baru.


Menghela. "Fyuhh... Sudah terlambat, mereka sudah tiba di Jerman sejak kau bangun dengan j-langmu yang baru."


Ervin menatap Jefry dengan tatapan membunuh. "PERSETAN-! AAAARG-."


Jika tidak ada rantai maka sudah dipastikan Jefry akan menderita banyak kerusakan. "Sekarang baru kau sadari, tsk... Belum sehari kami bertemu dengan dia tapi sekarang sudah tidak bisa lagi."


"Lepaskan aku... Lepaskan aku... Aku akan membawanya kembali!."


"Bagaimana?." Jefry maju selangka, kemudian meletakan kdua tangannya di kedua sisi bahu, lalu menatap mata putranya kemudian bertanya lagi.


"Bagaimana kau akan membawanya?, Dengar aku anakku yang bodoh."


Dalam diam Ervin mendengarkan Ayahnya. "Kamu sudah brtemu Roberto Rosen kan?, Kamu sudah merasakan kekuatannyakan?....


"Apa kamu pikir anak yang belum dewasa sepertimu bisa menanganinya di negara kelahirannya?."


Menepuk.

__ADS_1


Pipi Ervin ditepuk dua kali.


"Dulu aku saja kesulitan saat berhadapan dengannya di Berlin, kesulitannya hanya sedikit ... Nyawaku saja yang hampir melayang."


Menepuk lagi.


"Itu terjadi saat aku masih dalam masa jayaku, ahhh... Masa muda.... Dan kau ingin melawan monster semacam itu?."


"Aku bisa mengurus diriku sendiri."


"Benarkah?." Kemudian Jefry tertawa terbahak-bahak lagi. "AHAHAHA.... KAU? ANAK-ANAK??? ... AHAHAHA." Jefry tertawa sampai-sampai perutnya terasa nyeri dan terbatuk-batuk.


"UHUK ... HAHAHA... UHUK... UHUK."


"...."


"Hahhh... ... Sungguh sial nasibku." Jefry mulai mengacak-acak rambutnya. "Hahaha... Entah kenapa benih yang keluar dari dalam ini tidak bisa menjadi manusia normal."


"...."


"Kau akan ada disini sampai semuanya redah, kami tidak akan melakukan apapun untuk klarifikasi, aku sudah tidak perduli lagi ... Mau bisnismu hancur bangrut atau apalah aku sudah tidak perduli.


"Yang pasti kau harus ada disini sampai keinginanmu untuk pergi ke Jerman menghilang, jujur saja dulu aku selalu bangga punya anak laki-laki yang kuat dan cerdas sertimu tapi sekarang."


Dia tersenyum hambar, saat mengelus wajah putranya yang terluka. "Well... Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, tapi kau jatuh terlalu jauh sehingga tidak terlihat mirip."


Toktoktok.


"Masuk."


"Tuan semuanya sudah siap."


"Tunggu dimobil, aku akan segera kesana."


"Baik tuan-."


"Beri dia air dan obati lukanya, jika dia bau siram saja dengan air." Setelah mengatakan itu Jefry keluar sebentar untuk masuk keruangan lain.


"Jefry apa kamu akan terus memperlakukan putramu seperti itu?!." Janet merasa kesal dengan keputusan yang dibuat oleh suaminya. "Ini demi kebaikannya sendiri, aku intinya aku tidak mau tahu lagi. Jika dia tidak mau berubah maka dia tidak akan bisa memiliki apa yang dia inginkan.


"Dan untukmu sayang, berhentikan terlalu memanjakannya, kasih sayangmu suatu saat akan merusak hidupnya." Jefry dengan lembut menyentuh wajah istrinya yang hampir menangis. "Sudah saatnya Ervin belajar menjadi manusia yang bertanggung jawab.


Mengangguk.


"Aku mengerti, tapi paling tidak lukanya-."


"Aku sudah memerintahkan Julius untuk mengobatinya."


"Baiklah."


***


Selasa, Pukul 11.06.


"Ayah dimana ponselku?."


"Hum? Ayah tidak tahu dimana kamu letakan terakhir kali?." Roberto mengambil seberbet dari lemari di dapur sambil berbicara dengan putrinya.


Asiah bergumam pelan. "Terakhir kali aku letakan di bawah bantal." Dia mulai binggung mencari keberadaan ponselnya yang dia ingat ada dibawah bantal.


"Mungkin kamu tidak sengaja menghilangkannya disuatu tempat."


"Kupikir tidak."


"Lupakan soal ponsel, sekarang kamu istirahat saja. Mamamu akan segera kembali."

__ADS_1


"Ah." Asiah ingat akan sesuatu. "Apa acara pertunangannya berjalan lancar?."


"Sepertinya begitu."


SRAK.


Sebuah daging yang telah dibumbui dikeluarkan dari dalam lemari pendingin. Kemudian Roberto meletakkannya diatas telenan dan memotong menjadi empat bagian.


"Padahal aku ingin melihat acara itu."


"Nanti kamu juga bisa melihatnya, pernikahannya di selenggarakan bulan depan, kita bertiga akan datang kesana."


KLING.


Lonceng didepan pintu berbunyi.


"Aku pulang...."


"Kamu sudah kembali." Roberto langsung mencuci tangannya, melepas apron lalu menghampiri istrinya untuk memberikan kecupan singkat dibibir. "Apa kamu lelah."


"Uum... Aku sangat lelah." Ema memeluk Roberto dan membalas ciuman singkatnya.


"Hem... Aku ada disini." Asiah yang duduk di dekat televisi terbatuk palsu menyaksikan kemesraan kedua orang tuanya.


"Tsk... Aku lupa ada Asiah dirumah." Ema mengerutu lalu masuk kedalam kamarnya untuk berganti pakaian.


"Ayah dimana remote televisi?."


"Entahlah, ayah juga sudah lama tidak melihatnya."


"... Sebenarnya apa lagi yang tidak ada dirumah ini."


"Entalah, Ayah tidak tahu."


"Huhh...."


Kira-kira perkembangan skandalnya sudah seperti apa yah... Perjanjian kami sudah batal, setidaknya aku harus mendapat hadiah aset dari kebodohan Erin... Lumayankan untuk biaya masadepan anak-anakku nanti.


Asiah menyandarkan lehernya di sisi sofa lalu menutup matanya didepan televisi. "Ayah pinjam ponselmu."


BRAK.


Suara keras terdengar dari dapur.


"Ada apa?."


"Seperinya ponsel Ayah juga rusak." Ponsel Roberto memiliki layar yang retak di tangannya setelah terjatuh kelantai.


"Apa yang bising barusan?." Ema keluarĀ  dari kamar sambil menenteng tas bermerek miliknya.


"Ibu pinjam ponselm-."


"UHUKK...."


"Huh??? Ada apa sayang!." Ema tidak jadi duduk, dia segera menghampiri suaminya yang tiba-tiba saja batuk keras.


"Apa Ayah sakit?."


"Tidak... UHUHKK...."


"Buktinya."


"Aku baik-baik saja, Asiah kamu dirumah saja dulu ayah dan ibumu akan keklinik sebentar." Sambil tersenyum Roberto menyeret istrinya keluar dari pintu. "Apa yang terjadi? Apa perlu ke klinik untuk batuk seperti it-."


"Ssst... Diamlah, ada yang ingin kusampaikan padamu."

__ADS_1


"Oh, oke."


Mereka naik kedalam mobil lalu pergi entah kemana, yang pasti mereka keluar bukan untuk pergi ke klinik.


__ADS_2