Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 65.


__ADS_3

"Asiah mereka ini-."


"Ervin begini.... Mereka, Ayah dan Ibuku yang akan datang-." Asiah mengakat tangannya keatas, menyerah untuk mengetahui masalah lebih lanjut.


"Ap... Ung-!."


Ervin jelas terkejut. Dia sangat terkejut setelah mengetahui identitas kedua orang di depannya. Dia bergegas melepaskan Roberto lalu menjauh 10 langkah darinya. A-aku tidak bisa berkata-kata. Jantunya berdetak kencang seperti sehabis lari maraton di jalan. Bagaiman sekarang?.


Ervin khwatir akan kesan pertama yang di dapatkan oleh kedua orang tua Asiah adalah kesan buruk padanya. Aku sudah berlatih selama seminggu penuh supaya terlihat bagus didepan mereka tapi.... Hahaha... Bisa-bisanya aku lupa wajah dari kedua orang tuanya. Wajah Ervin terlihat begitu frustasi.


"Glupp...." Ema menelan ludanya lalu bergegas kearah suaminya. "Sayang apa kamu baik-baik saja?!!."


"Aku baik-baik saja, tapi... Lebih dari itu-."


Ketika Ema membantu suaminya untuk berdiri Roberto memperhatikan putrinya Asiah menghampiri Ervin. Asiah menyadari bahwa Ervin terluka di punggungnya setelah melihat meja kaca yang pecah di lantai dan cukup khwatir karenanya.


"Apa kamu baik-baik saja???." Asiah menyentuh punggung Ervin dan mendapati sedikit darah segar disana.


"Ayah keterlaluan!."


"Huh...??? Memangnya apa salah Ayah???."


"Eng- Asiah aku baik-baik saja!."


"Diam. Kamu seperti orang gila saja, kenapa kamu hanya mengenakan handuk?! Dimana bajumu?," Tanya Asiah.


"Itu... Aku tidak sempat memakainya saat kedua orang tuamu masuk kedalam rumah."


"Sekarang kamu menyebut kami kedua orang tuanya?, Kemana sikap aroganmu barusan?," Tanya Roberto mengangkat alisnya.


"Ayah diam saja."


"...."


CRAK.


Roberto menyentuh dadanya tepat di tempat hati berada. Apa aku baru saja mendengar suara retak?.... Tolong siapapun katakan padaku kalau putriku satu-satunya tidak menyuruhku untuk diam. Roberto begitu syok sampai-sampai dia tidak mendengar suara apapun lagi disekelilingnya.


"Ervin masuklah kekamar, aku akan ambilkan kotak obat sebentar."


"O-oke."


Ervin masuk kedalam kamar, sedangkan Asiah membuka salah satu lemari obatnya. Dia tidak mengatakan apapun pada kedua orang tuanya disana bahkan setelah selesai mengambil obat di dalam kotak.


"Asiah apa ini???," Tanya Ema.


"Mama urus Ayah saja dulu baru kita akan berbicara nanti."


"Huh??? Kamu iniii... Siapa Pria Itu Sampai-sampai Kamu Melakukan Hal Ini Pada Orang Tua-."


"Dia Ayah dari Bayiku!."


"Eh?!."

__ADS_1


"Aku kedalam dulu dan memeriksanya sebentar, nanti kita bicara lagi." Asiah masuk kedalam kamarnya meninggalkan Ema dan Roberto di ruang tamu.


Click.


"Huhh... Maafkan mereka, orang tuaku memang biasanya datang secara tiba-tiba seperti itu," kata Asiah.


"Tidak masalah hahah... Lagipula aku juga salah karena langsung menyodorkan senjata seperti itu." Suara Ervin bergetar, nadanya begitu rendah sampai Asiah hampir tidak bisa mendengarnya.


".... Perlihatkan punggungmu."


"Tentu." Ervin menunjukan punggungnya, memang ada banyak luka yang ditutupi tato di sana tetapi luka yang baru tetap terlihat di punggungnya. Perlahan Asiah membersihkan noda darah dan mengoles krim penyembuh luka disana. "Bukankah lebih baik kita kerumah sakit saja sekarang? Takutnya lukamu jadi infeksi."


"Tidak perlu, luka semacam ini sudah biasa untukku," kata Ervin sambil membersihkan tangan Asiah dari noda darah. "Sepertinya kesan pertama orang tuamu terhadapku sudah buruk."


"Memangnya apa pentingnya."


"Hem? Kamu ini bagaimana, kalau ingin menikahi putri seseorang sudah pasti aku harus memberi kesan pertama yang baik pada keluarganyakan?."


"Kamu ingin menikahiku?."


"Tentu saja!, Jadi selama ini kau berfikir aku ini pria macam apa?, Kau sudah mengandung anak-anakku jadi apa lagi sekarang? Jangan pernah berfikir kalau kau bisa lari dariku setelah melakukan semuanya duluan."


"Kamu membuatku kehabisan kata-kata."


"Lupakan itu, sekarang bagaimana?! Kesannya sudah hancur sudah...," Ucap Ervin frustasi.


"Nahh... Jangan terlalu dipikirkan, lagi pula ini salahku juga karena pergi dari rumah sebentar. Cik, seharusnya aku dirumah saja tadi," gerutu Asiah mendecakan lidah.


"Kau sadar juga, lain kali cobalah untuk mendengarkank-."


Bisa jadi masalah besar kalau Ayahku membunuh Ervin, keluarga Alvaro tidak akan tinggal diam dan menghancurkan segala sesuatu yang dimiliki keluargaku kalau sampai hal itu terjadi, batin Asiah.


DEG DEG DEG...


Jantung Ervin berdebar kencang ketika Asiah menyandarkan kepalanya di dadanya.


TOKTOKTOK.


Pintu di ketuk.


"Asiah apa boleh Ibu berbicara dengan kalian berdua?," Kata Ema dari balik pintu.


"Sekarang tidak bisa Ibu, aku sedang mengobati luka Er-."


Ervin memegang tangan Asiah dan menatap matanya. "Aku pikir kesan pertama masih belum hancur sepenuhnya."


"Kemana dirimu yang kecewa barusan???."


"Ayo Cepat! Kita Harus Berbicara Dengan Ibu Dan Ayahmu," kata Ervin bersemangat.


***


"Ayah dimana?," Tanya Asiah.

__ADS_1


"Ayahmu sedang tertidur dikamar, dia sangat terkejut karena kau mengabaikannya."


"Gapss-." Asiah memalingkan wajahnya kekanan.


".... Jadi, siapa dia?," Tanya Ema menunjuk Ervin yang duduk disebelah Asiah.


Saat ini Ervin sudah berpakaian dengan sopan, dia memakai kemeja lengan panjang berwarna hitam yang menutupi semua tato di tangannya. Ervin bahkan duduk selayaknya pria berkelas di hadapan Ema.


Asiah menyenggol siku Ervin pelan untuk membiarkan Ervin memperkenalkan dirinya secara langsung. "Ehem." Ervin merasa gugup.


Dia berdiri dari sofa dan menyapa Ema sesopan mungkin sambil memperkenalkan namanya.


"Selamat Pagi Nyonya, ... Perkanalkan... N-nama Saya Kyros- Maksud Saya Ervin Kyros Alvaro!!! S-saya Punya Hubungan Dengan Putri Anda!!!," Ucapnya terbata-bata.


"...."


"...."


Ema menunjuk Ervin tetapi melihat putrinya yang semakin memalingkan wajahnya dari Ema. Aiss... Kenapa dia malah terbata-bata seperti itu, batin Asiah.


Ema membuka mulutnya sekali lagi untuk bertanya. "Kamu bukan pacar kontrak Asiah seperti yang lainnyakan?," Tanya Ema bersungguh-sungguh.


Sejenak Ervin melihat Asiah. Bertanya apa yang di maksud Ema barusan tetapi Asiah tidak menjawab pertanyaannya.


"Apa?."


"...."


Ervin mengalihkan lagi pandanganya pada kepada Ema dan menjawab pertanyaannya. "Saya bukan pacar kontrak Asiah namun, kalau boleh terus terang saya dan putri anda saat ini memang masih belum terlalu dekat, kami bahkan menetapkan beberapa persyaratan untuk saat ini," ucap Ervin serius.


"Berarti itu sama saja."


"Tidak sama nyonya."


"Kenapa kamu memangilku nyonya?."


"Karena saya memperlakukan wanita yang lebih tua dengan rasa hormat."


"Tapi aku bukan seorang Nyonya."


"Tetap saja anda adalah Nyonya yang berkuasa atas Putri anda."


"...."


Woww... Lihatlah, aktingnya sangat bagus. Setelah mendengar itu Asiah hampir kehabisan kata-kata.


Sekali lagi Ema melihat Asiah. "Apa kalian melakukan sebuah perjanjian mengenai hak asuh anak sebelumnya?."


"Tidak Nyonya."


"Katakan dengan jujur."


"Memang Tidak Ada Nyonya!."

__ADS_1


"Asiah."


"Tidak ada Mama. Perjanjian yang kami buat hanya semata karena aku masih belum bisa melupakan tarauma- maksudku... Aku masih belum mau memberikan hatiku pada orang lain," katanya sambil menatap lantai.


__ADS_2