
Ditengah keramaian pengunjung restoran Jefry memanggil pelayan yang berada di sebelah mejanya. Dia memberikan yang tipis sekaligus secari kertas yang harus dia sampaikan kepada Roberto. "Sampaikan kepadanya segera."
Pelayan menunduk sopan lalu berjalan meninggalkan meja.
Sesampainya di dapur dia memberikan kertas kecil itu kepada Roberto lalu pergi kembali untuk bekerja.
"...."
Roberto membuka kertas lalu membaca isinya walau tidak memiliki minat.
Meremas.
Setelah tahu apa isi dalam kertas Roberto meremas dan mengoyak kertas itu membakarnya dalam api lalu membuka celemeknya. "Aku akan keluar sebentar, kalian bisa menangani sisanyakan?."
Kepala koki menjawab. "Tentu sekalian jika anda mampir di dekat mini market tolong belikan bahan ini." Kepala koki memberikan kertas yang bertuliskan bahan-bahan yang sedang habis.
"Bajingan ini... Tidak bisakah kau menyuruh yang lain untuk membelinya?."
"Yang lain sedang sibuk Robert." Kepala koki mengunakan nama panggilan Roberto sambil menyeringai. "Untung saja kau teman lamaku."
"Cepat pergi, barang itu tidak akan datang dengan sendirinya." Setelah di usir dari dapur Roberto menghampiri Ema yang duduk bersama beberapa pegawai wanita. "Sayang aku akan keluar sebentar."
"Hem? Kemana?."
"Entalah." Roberto memberikan seragam kerjanya lalu keluar mengunakan kemeja hitam kotak-kotak, memakai kacamatanya lalu berjalan santai ditengah keramaian restoran.
Sejenak matanya dan mata Jefry bertemu lalu berpaling kemdian.
Membuka pintu.
Wusss ...
Ketika dia melewati pintu anggun musim gugur langsung menyambut.
"Kuharap apa yang ingin dia sampaikan itu penting." Dia naik mobil hitamnya dan berkendara menuju sebuah gudang tak terpakai yang dia kenal sebagai zona bahaya di pinggiran Jerman.
Zona yang di kategorikan sebagai sarangnya kriminal yang bahkan polisi tidak bisa masuk sembarangan kearea tersebut. Roberto bisa masuk dengan mudah ketempat itu karena dulu dia adalah pemilik wilayah berbahaya itu jadi sebagai mantan bos di sana dia melakukan mobilnya dengan damai.
Sesampainya di Roberto masuk kedalam gudang besar yang telah ditinggalkan sendirian, tak lupa dia mengeluarkan senjata api seukuran telapak tanganya, memasukan peluru kedalam lalu mengantunginya lagi.
"Baiklah... Mari kita tunggu." Roberto telah merasakan suatu kejanggalan sejak surat di berikan kepadanya. Bahasa Jefry yang terasa serius tidak bisa tidak menarik minat Roberto.
Dia mengingat isi surat.
__ADS_1
[ Ini permintaan terakhirku setelah itu kami akan menjauh dari keluargamu jika tidak berhasil memenuhinya.
Datanglah ke zona merah pinggiran kota disana Putraku akan menunggumu.
Ini adalah yang keterakhir kalinya, jika kamu 'Bisa Membunuh Anakku' maka keluarga Alvaro akan berhenti mengincar Asiah Rosen untuk dijadikan menantu dikeluarkan kami. Dia ada disana jadi tolong temuilah. ]
Kalimat 'Membunuh Putraku' adalah yang paling menarik perhatian Roberto, dalam hatinya. Akhirnya tiba juga hari ini, hari dimana aku bisa mencabik bajingan kecil itu. Roberto tersenyum jahat, tiba-tiba kenangan masa mudanya kembali lagi, gairah yang telah lama dia tidurkan kembali terbangun, haus akan pertumpahan darah.
Di balik kemejanya, terdapat kaus putih transparan yang menyimpan lipatan pisau tajam dan di pinggang celana jinsnya terdapat senjata api yang di selipkan rapih.
Tatapanya menuju pintu saat mendengar suara ban mobil yang baru saja tiba. Roberto mengangkat senjatanya lalu membidik pintu masuk, dia akan langsung menembak siapa saja yang masuk kedalam untuk mengakhiri semuanya dan segera pergi berbelanja bahan yang dipesan.
Membuka pintu.
BANG BANG BANG...
Tanpa peringatan Roberto menembakakn tiga butir peluru kearah pintu yang dibuka.
Jatuh.
SRAK.
Ketika debu asap yang melayang diudara menghilang Jefry mendecakan lidahnya.
"Kau keterlaluan Roberto, tidak bisakah kamu menunggu dulu sebelum menembakan anak pelurumu," kata Jefry yang datang membuka pintu.
"Huhhh... Untung saja bukan aku yang masuk pertama, Tom bawa mayatnya keluar."
"Baik Tuan." Pria berkulit hitam yang tubuhnya paling besar menarik rekannya yang sudah tidak bernyawa.
"Dimana anakmu?." Roberto berdiri tegak lalu berjalan maju kedepan, hanya dalam 5 langka bodyGuard yang lain telah mengelilingi sekitar Jefry sambil mengangkat senjata.
"Putraku punya urusan sebentar." Saat mengatakan itu Jefry tersenyum penuh arti. "Kupikir akan sulit tapi ternyata semudah itu...." Kemudian dia melirik Roberto dari balik bahu BodyGuard nya. "Sekarang hanya tinggal mengamankan satu batu loncatan terkahir."
Kalimat Jefry yang penuh arti berhasil ditengkap maknanya oleh Roberto sehingga emosinya hanya semakin meningkat. "Apa putra sialanmu bertemu dengan Asiahku?."
"...."
Jefry tidak menjawab.
"Ahh... Aku benar-benar ingin membunuh kalian sekeluarga."
Craaak...
__ADS_1
Pintu di buka untuk yang ketiga kalinya. Kali ini orang yang ditunggu telah datang dengan wajah cerah seperti baru saja mendapat hikmah.
"Apa kalian menunggu lama."
Jefry melihat kearah jam tangannya, putranya hanya terlambat 5 menit. Dalam batinnya. Tsk... Seharusnya dia datang lebih awal dan mati lebih cepat.
"Hanya 5 menit ... Baiklah " Jefry menepuk tangannya. "Kalian bisa saling membunuh seka-."
Bang Bang.
Sebelum jerfty selesai berbicara peluru sudah ditembakan kearahnya dan Ervin. "Dia orang yang tidak sabaran." Untung saja ada bodyGuard setia Jefry yang langsung melindunginya dengan rompi anti peluru sehingga kepalanya aman dari hantaman peluru panas.
"Bagaimana dengan anak itu?." Dia bertanya pada pria disisi kanannya.
"Tuan muda aman."
Jefry melihat sisi Ervin yang tidak mendapat cidera apapun, putranya malah terlihat lebih tenang dari pada sebelumnya.
"Kamu cukup trampil." Roberto yang melihat bagaimana Ervin menghindari peluru hanya dengan bergeser sedikit dari posisinya membuatnya sedikit terkesan. "Biasanya tidak banyak yang bisa melakukan itu."
"Tentu... Aku kemari bukan tanpa persiapan." Kemudian. "Kalian masuklah." Ervin memanggil beberapa orang masuk kedalam. "Aku sadar bahwa menghadapimu seorang diri terlalu merepotkan jadi aku membawa beberapa orang yang sepertinya memiliki dendam pribadi terhadapmu."
12 orang yang memiliki luka yang sama persis di mata kiri masing-masing. "Roberto Rosen... Kekek.. kupikir hari dimana aku berjumpa lagi denganmu tidak akan perna datang lagi hahaha...."
"Lihat dirimu berpakian rapi dan datang kemari seorang diri, kamu masih belum berubah."
"Apa kau masih ingat aku?."
"Siapa?." Roberto tidak mengenal pria yang pertama kali berbicara. "Melihat dari caramu berbicara akrab nampaknya kamu berasal dari generasi yang sama denganku."
"HUAHAHAHAHA...." Pria yang terlihat seperti pemimpin ke12 orang mulai tertawa keras. "AHAHAHAHA... Hahh... Persetan kau masih sama saja seperti dulu."
Roberto Tidak menjawab pria itu malahan dia melihat kearah Ervin yang bersilang tangan didada. "Apa pecundang ini adalah orang yang akan membantumu?."
"PECUNDANG!!!." Mereka mengertakan giginya masing-masing saat Roberto terlihat tidkantertarik dengan mereka yang hadir ditempat itu.
"Haisss... Kupikir kau akan sedikit menyenangkan tapi nyatanya membosankan." Roberto melepas kaca matanya lalu membuka kancing kemeja kotak-kotak miliknya. Badan kekar berotot yang dipenuhi bekas luka lama terekspos.
Tato merah di punggung yang terlihat seperti iblis negara jepang dengan dua tanduk dan satu pedang berlumuran darah terlihat seperti sebuah karya seni di kulit putih Roberto yang mengenakan kaos putih transparan.
"Baiklah." Setelah setelah melepas jam tangan dan barang-barang tidak penting lainnya Roberto mengajak ke12 orang beserta Ervin untuk menyerangnya sekaligus. "Akan memakan waktu lama jika menghadapi kalian satu persatu.
"Aku masih harus membeli bahan-bahan dapur jadi maju saja semua sekalian termasuk kau." Roberto menunjuk Ervin.
__ADS_1
"Pasti menyenangkan melihat isi otakmu saat berhamburan ditanah."