
Ervin membaringkan tubuhnya di atas kasur lembut king size berwarna hitam, di atas kasur dia melihat langit-langit berhiaskan Pernak-pernik berwarna emas. Gaya eksotis lukisan bidadari cantik tanpa busana memberi kesan sensual yang menengakan setiap kali memandang lukisan itu.
"Hahh... Mereka semua membuatku gila, kapan mereka akan berfikir sedikit lebih dewas—"
[ 'Jadi... Aku pikir sekarang kamu bisa berbicara dengan benar. ' ]
Tiba-tiba saja suara familiar terdengar entah dari mana. "Hem???." Ervin terlihat binggung dan mencari-cari sumber suara.
[ ' Hei? Apa sekarang kamu sudah bisa berbicara dengan benar?. ' ]
"Huh???."
[ ' Suaramu terdengar sangat binggung?. ' ] Ervin merogoh sakunya, dia mengambil ponsel lalu menghidupkan layar, berapa terkejutnya dia saat melihat sebuah pangilan terhubung pada kontak panggilannya.
"Bagaimana bis—"
[ 'Langsung intinya saja. Apa yang ingin kamu katakan? Kamu menghubungiku tapi tidak menjawab saat aku mengangkatnya, lalu kamu juga membiarkan aku mendengar hal-hal aneh. Apakah kamu sedang bertengkar dengan keluargamu?. ' ]
"Tidak— tunggu dulu! Bagaimana kamu menghubungiku?."
[ 'Menghubungimu?. Bukankah kamu yang menghubungiku duluan?. ' ]
"Kapan?."
[ 'Sudah sejak Dua Puluh Menit yang lalu. ' ]
"Apa kau mendengar semua percakapan kamu?!," Tanya Ervin panik.
[ 'Tidak juga, aku hanya mendengar tentang membunuh dan... Sesuatu seperti kamu mengerti karena keluargamu bodoh?. Sinyalnya kurang jelas jadi aku tidak begitu mendengarnya dengan jelas. ' ]
"Benarkah?."
[ ' Yah begitulah, ngomong-ngomong— ' ]
"Siapa yang ingin kamu bunuh?," tanya Asiah yang memegang sebuah alat perekam di kamarnya. Sebenarnya Asiah telah merekam semua percakapan yang di lakukan oleh Ervin dan keluarganya. Dia melakukan semua itu untuk keamanannya sendiri. Ini sebuah kesempatan emas yang tidak boleh aku lewatkan. Jika suatu hari nanti bajingan gila ini mengancam keselamatan bayiku maka aku akan mengunakan bukti ini untuk menghancurkan mereka semua. Asiah merekam semua pembicaraan tanpa segan, setiap percakapan yang di lakukan oleh keluarga Alvaro masuk kedalam alat perekam berbentuk pulpen itu.
__ADS_1
[ 'Tidak ada, kami hanya bercanda saja. ' ]
"Benarkah?."
[ ' Iya. ' ]
"...."
Tsk tsk tsk. Apa kamu pikir aku ini bodoh?.
Asiah sengaja mengalihkan pembicaraan ketika dia selesai mereka. Asiah menyimpan pulpen perekam itu di bawah kasurnya. Cukup lama mereka berbicara melalui telefon, mereka membahas sesuatu yang bahkan melenceng dari jalur pembicaraan sampai akhirnya Asiah membahas tentang rumor panas Ervin dengan Olivia.
"Jadi... Apakah rumor kamu akan bertunangan dengan super model itu benar?."
"Tidak."
"Tidak?, Tapi kalian berdua benar-benar terlihat sangat serasi." Asiah berpura-pura tidak tahu hubungan buruk Ervin dengan Olivia yabg sedang memanas.
Asiah cukup tenang saat mendengarkan ocehan Ervin tentang perselisihan yang sebentar lagi akan terjadi. Asiah mendengarkan semua omong kosong Ervin begitu santun seolah-olah dia sedang mendengarkan ocehan anak muridnya sendiri. Kalau dipikir-pikir dia pria yang banyak bicara tentang masalahnya, tipe yang seperti ini biasanya lebih suka di dengarkan dari pada di beri saran. Asiah mengelus perutnya di ketika dia mulai berbaring di ranjang.
Asiah menganggukkan kepalanya, dia membenarkan semua yang di katakan oleh ervindari pada memilih berdebat nantinya kalau-kalau jawaban Asiah tidak sesuai dengan apa yang ingin di dengar oleh Ervin.
Dalam batinnya dia menganggap apa yang dia lakukan saat ini sudah benar. Ini semua demi jaminan masadepan.
"Aauct!." Asiah meringis pelan.
[ ' Hem? Ada apa?. ' ]
"Bukan apa-apa."
[ ' Apa yang terjadi?. ' ]
"Nahh..., Bayiku hanya mendang saja, bulan ini mereka cukup aktif," suara Asiah terdengar begitu antusias saat membahas tentang pertumbuhan buah hatinya.
[ ' ...., Kamu terdengar begitu bahagia. ' ]
__ADS_1
"Tentu saja aku bahagia!, Orang tua mana yang tidak senang menyaksikan perkembangan anak-anaknya."
[ 'Hahaha. ' ]
Ervin tertawa hambar, dia tidak tahu lagi apa yang harus dia katakan pada Asiah yang terdengar begitu antusias. Ervin mengepalkan tangannya saat memandang langit-langit dengan gambar malaikat kecil yang sedang membawa busur di tangganya.
['Sudah duluyah, besok aku harus bekerja. ']
"Secepat itu?, Bukankah dokter mengatakan kalau kau harus beristirahat selama seminggu penuh?."
[ 'Aku sudah baik-baik saja sekarang!, Lagi pulah libur selama seminggu penuh itu sangat membosankan. Baiklah kalau begitu aku— ' ]
"Selamat Malam."
"..., Hemp. Selamat Malam juga."
Asiah menonaktifkan ponselnya dan beranjak tidur, dia meletakan bantal besar dan lembut di punggungnya. "Haduh... Kalian membuat ibu kesulitan hanya untuk berbaring saja."
Asiah menepuk-nepuk perutnya dan bersenandung begitu merdu malam itu, setiap kali dia merasakan pergerakan dari bayinya Asiah akan tersenyum dan memperhatikan aktifitas bayi-bayinya. Tidak lama lagi, aku akan melakukan pemeriksaan rutinku, kuharap tidak ada masalah seperti waktu itu.
"Kalau dipikir-pikir kalian sudah bisa mendengar ibu lebih jelas sekarang. ... Hemm~ aku pikir besok pagi lebih baik menghubungi Ayah dan Ibu saja, sudah lama aku tidak mendengar suara mereka."
Asiah mengaktifkan ponselnya dan membuka galeri, dia mencari foto galeri paling bawah untuk menemukan foto Ibu dan Ayahnya. Setelah cukup lama mencari foto di antara ribuan foto akhirnya Asiah menemukan foto Ayah dan Ibunya saat mereka menghadiri acara kelulusannya. "Huugg... Aku rindu Ayah dan Mama." Asiah mengelus layar ponselnya begitu kasar sampai tak sadar gambar di ponselnya dan telah berubah menjadi foto yang lain.
"Hah?!!"
Asiah begitu terkejut saat melihat sebuah foto dari seseorang yang sangat tidak ingin dia lihat. "KYAAA!!!" Tanpa sadar Asiah melemparkan ponselnya ke tembok. "Hahhh! Hahhh! GILA!! HAHH... BAGAIMANA FOTO ITU MASIH ADA DI SANA??!." Asiah terbangun dari tempat tidur, tangannya gemetar dan berkeringat saat melihat ponsel yang telah hancur layarnya di atas lantai.
"A-aku ingat sudah menghapus foto itu!, Bagaimana bisa masih ada?!," Asiah bertanya-tanya dalam benaknya. Aku tidak ingat meninggalkan satupun fotonya ketika putus darinya. Tapi kenapa masih ada disana?. Ini pertanda buruk!, Aku tidak mau lagi mengunakan ponsel itu. Asiah keluar dari kamarnya dan pindah kekamar tamu, dia tidak bisa berhenti gemetar saat gambar di dalam ponsel terngiang di benaknya.
"Sial, padahal moodku masih baik-baik saja tadi." Asiah menutup matanya dan berusaha untuk menenangkan dirinya di atas sofa putih.
"Tenangkan dirimu Asiah! Hahh... Hahh... Dia tidak ada di negara ini hahh... Hahh... Pria itu tidak ada di sini lagi Hahhh... Hahhh... Hahhh... GLUPP... HAhh... Di-hikss... Diaa... Hikss... Dia tidak ada disini... Sniff...."
Tangan Asiah bergetar hebat saat menghusap wajahnya yang basah karena air mata. "F-ck, kenapa hari ini wajahnya selalu terlihat?." Asiah menutup matanya lagi dan gambar terus terputar berulang-ulang, membawa kenangan buruk yang sejak lama dia lupakan dengan susah payah.
__ADS_1