Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 97.


__ADS_3

BUKBUKBUK...


Melihat.


Roberto melihat Ervin di bawah lantai batu masih kuat untuk mengeratkan kuncian pada lehernya.


Nafas pemuda itu cukup berat dirasa Roberto yang merasa iba sejenak. Dia masih belum menyerah juga.


"Mau sampai kapan kau akan terus membuka matamu?."


Ervin tidak menjawab.


"Kamu benar-benar akan mati."


"Huhhf... Huhhhf."


"...."


"Roberto Rosen." Jefry memanggil Roberto dari jarak 10 meter bersama 8 BodyGuardnya. "Kupikir ini sudah selesai."


"Yah... Aku pikir juga begitu, ... Tepati janjimu ini adalah keterakhir kalinya aku melihat keluarga kali-."


STAB.


"Ngu-!!!."


"Kau lengah."


"...." Roberto melihat pisau betih kecil ditancapkan kebagian pinggangnya.


"Kupikir kau sudah mati tadi."


"Nahh... Mana mungkin aku mati semudah itu."


Roberto menarik tangan Ervin, reaksinya bahkan masih tidak berubah bahkan setelah pisau berbahaya menancap diarea pinggangnya. "Ervin Kyros, aku akan bertanya untuk yang keterakhir kalinya, mengapa kamu sangat bersikeras bersama putriku ketika yang ada di otakmu hanya bermain perempuan."


"Aku tidak tahu... Mungkin karena aku mencintainya."


"Cinta?." Roberto menunduk mensejajarkan dirinya pada wajah Ervin. Dia menarik rambut hitamnya lalu menampar pipinya berulang-ulang. "Berkat cintamu itu putriku hampir kehilangan hidupnya."


Menampar lagi.


"Huhh... Huhh... Huhh..."


"Itu sudah cukup Robert-."

__ADS_1


"Jangan ikut campur Jefry, kau tidak berhadapan denganku saat ini hanya karena kemurahan hatiku jadi jangan ikut campur."


Jefry melihat kearah putranya yang dipenuhi luka dan darah. Hatinya merasa tersayat, bukan karena kasihan tetapi iri karena Roberto berhasil membuat putranya dalam keadaan berantakan lebih dari yang dia lakukan. Tsk... Aku iri padanya.


"Huhh... Huhh... Aku- glup... Aku minta maaf untuk itu." Suara Ervin terdengar sangat lemah saat dia mulai berbicara. "Aku benar-benar tidak bermaksud melakukan itu... Aku hanya sangat stres sehingga-."


"Mencium wanita lain didepan umum hingga viral keseluru dunia."


"... Hahaha... Seharusnya anda maklum denganku... Kita tipe yang sama jadi anda pasti tahukan seorang pria seperti kita mencari-."


"Sayang sekali." Roberto melihat Ervin dengan tatapan bosan. "Jika kau berfikir aku sama denganmu maka kau jelas-jelas keliru."


Roberto melihat Jefry dibelakangnya yang masih dalam keadaan diam didampingi pengawalnya. "Apa kau membesarkan putramu tanpa prinsip?."


"Nahh... Kau sendiri tahu generasi saat ini seperti apa."


"Well... Kamu mungkin benar, mereka semua hanya penjahat kelamin."


Roberto mencengkram dagu Ervin kuat hingga kukunya menusuk kedalam kulit yang terluka. "Dengarkan aku nak... Dulu aku memang jahat bahkan sampai sekarang tapi walau begitu aku hanya punya satu wanita seumur hidupku. Aku tidak pernah menyentuh yang lain walau sebajingan apapun aku dimasalalu.


"Aku hanya punya satu wanita seumur hidupku walau dia cerewat dan suka memakiku untuk hal-hal kecil.


"Begitu pula dengan Ayahmu dan generasi kami dulu, tapi walau begitu memang ada beberapa yang sepertimu tapi lebih biadap."


"Aku setuju dengan dia."


"Jadi sekarang apa yang akan kau lakukan pada dia Roberto, aku sangat berterima kasih jika kau membunuh anak kurang ajar ini."


"Kupikir tidak ... Untuk sekarang. Asiahku bisa-bisa tidak akan pernah memanggilku Ayah lagi jika membunuhnya sungguhan."


Ervin menatap Roberto.


"Apa?."


"Aku tidak tahu bagaimana kau melakukannya tapi yang pasti putriku telah menyukaimu lebih dari yang aku duga." Roberto mulai mengingat setiap kenangan selama sebulan setelah skandal dimulai. Alasan Asiah terkena serangan panik mungkin karena melihat bajingan ini dengan wanita lain. Roberto tidak bisa mengabaikan perasaan putrinya walau berusaha untuk menghalangi segala sesuatu tentang Ervin berada disekitarnya.


Roberto selalu memperhatikan segala sesuatu tentang putrinya, apa yang dia sukai dan apa yang tidak dia sukai dia mengetahui semuanya.


Melihat bagaimana putri tercintanya melamun didepan jendela dengan pikiran yang terus teralih entah kemana selama sebulan penuh membuat Roberto merasa ibah namun dia masih belum bisa membiarkan putrinya bersama pria kekanak-kanakan seperti Ervin.


Sehingga dia berusaha mengabaikan perasaan putrinya, berharap suatu saat nanti Asiah akan melupakan Ervin dan fokus pada kehidupannya sendiri.


Tapi sekarang dia mulai memikirkan ulang. Melihat bagaimana Ervin berusaha melawannya dan masih hidup sampai sekarang walau dalam kondisinya terluka parah demi bersama putrinya. Apa pria ini memang pantas untuk putriku.


Mulut Roberto keluh untuk mengakui itu namun hati nuraninya juga tidak ingin membiarkan putrinya hidup sendirian tanpa pendamping yang rela melakukan hal semacam ini demi bersama putrinya terus. Dia hebat.

__ADS_1


Mungkin ada satu kandidat lagi dikepala Roberto tapi kebenciannya terhadap pria yang lain lebih besar daripada kemarahannya terhadap Ervin.


Hanya kali ini... Hanya kali ini aku akan memberi kesempatan sekali lagi padanya. Roberto berdiri lalu mencabut pisau dari pinggang seolah itu hanya mainan. Jika hal yang sama terulang lagi maka aku akan segera menyingkirkannya.


"Katakan padaku... Kali ini aku memberimu kesempatan untuk memilih apa yang akan aku lakukan jika kamu berselingkuh dari putriku."


Mendengar itu Ervin mengangkat wajahnya keatas melihat wajah Roberto yang saat ini sedang menyeka darah di pinggangnya.


Ervin menjawab. "Anda tidak perlu melakukan apa-apa ... Saya bisa melakukannya sendiri, saya akan menghabisi nyawa saya dengan tangan saya sendiri jika hal yang sama terjadi lagi dimasadepan."


"Kalau begitu bagus." Roberto cukup puas dengan kata-kata Ervin begitu juga dengan Jefry yang menganggukan kepalanya menyadari putranya telah mengambil keputusan yang dewasa. "Ingat Ervin pria sejati selalu menepati perkataanya." Jefry mengalihkan pandanganya lalu melihat bawahan untuk segera menghubungi Ambulance.


"Tunggu sebentar." Roberto menghentikan Jefry. "Apa lagi? Apa masih ada yang ingin kau lakukan."


"Putramu masih belum lulus kualifikasi dia belum mengalahkanku jadi masih belum boleh menghubungi Ambulance.


"Huh???."


"Apa itu." Ervin bangun dari tanah lalu berdiri untuk menegakkan tubuhnya. Dia merasakan seluruh tubuhnya seperti akan terputus, setiap ototnya mengalami nyeri yang menyakitkan.


"Apa lagi yang perlu aku lakukan."


Roberto melirik kearah timur bangunan runtuh. "Masih ada tikus yang tersisa, bereskan sisanya dan kau akan lulus." Setelah mengatakan itu dia bergerak menjauh menuju mobilnya, mengambil tas besar berwarna hitam lalu mengunakan seluruh obat-obatan yang ada.


"Cepatlah, tempat ini akan lebih berbahaya setelah sore hari." Roberto meneguk minuman keras lalu menjahit luka dipinggangnya.


"Kau dengar itu cepat selesaikan."


"Hahh... Baiklah." Ervin mulai mengerjakan tubuhnya dan berjalan lamban, tangannya yang tadi kaku kini kembali dipenuhi tenaga.


Rencana kami berhasil. Seperti yang dikatakan Ayahnya sebelumnya. "Roberto Rosen orang yang birngas tapi dia tidak sekejam dulu jadi satu-satunya hal yang dapat kamu lakukan sekarang adalah menarik perhatiannya."


"Menarik perhatiannya? Ayah gila?."


"Yang perlu kamu lakukan hanya bertahan dari serangannya selama mungkin, buat dirimu semenyedihkan mungkin tapi jangan menunjukan tanda-tanda akan kalah."


"Dari mana Ayah tahu akan hal itu?."


"Karena dulu aku lolos dari maut mengunakan hal yang sama."


Dari situ tidak ada lagi percakapan diantara mereka yang dia ingat. Huhhf... Sial, rasanya seperti dipukuli palu baja... Dia lebih tua dariku tapi kekuatanya—.


"Cepatlah siput, mereka tidak akan berada ditempatnya selamanya."


"Iya iya aku mengerti." Ervin meludahkan darah dari mulutnya lalu berjalan menuju bangunan yang tampak kosong sendirian sambil menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2