
"...?"
Asiah binggung dengan situasi saat ini, dia melihat Mery yang menjerit ketakutan dan Ervin yang diam membatu. Kenapa dengan mere**ka? Tiba-tiba jadi diam?. Asiah melihat kembali ke tangannya. Bagi Asiah muntah darah seperti ini bukan yang pertama kali banginya, biasanya Asiah akan muntah darah setidaknya sekali dua bulan karena pembengkakan pada gusi dan iritasi pada tenggorokannya atau gejala biasa yang sering terjadi pada ibu hamil jadi dia santai saja tapi tidak dengan yang tidak mengetahui hal itu.
"Huhh...." Asiah menyentuh dadanya. Setelah memuntahkan darah tubuhnya terasa lebih baik dari sebelumnya, bahkan mual di perutnya tidak terasa lagi. Ya ampun mis Mery, kamu terlalu berlebihan. Asiah ingin mengatakan sepatah kata namun Ervin langsung membungkam mulutnya dengan tangan.
"Mis Me- UMP???"
"Ce-cepat..! Hahh... Hahh... Cepat panggil ambulan!." Ervin terlihat sangat panik, kerutan di wajah Ervin mencuat, dan ada ketakutan di matanya saat melihat darah di mulut Asiah, tangannya yang menutup mulut Asiah bergetar. Dia menutup mulut Asiah supayah darah tidak keluar lagi dari mulutnya.
"A-aku akan memanggil- ... Memanggil ambulan, jangan keluarkan-, jangan! Tunggu sebentar!." Ervin merogoh sakunya dengan tangannya yang satu lagi, walau saat ini dalam kondisi panik. Darah! Darah!, Kenapa dia berdarah! Tidak!. Jangan berdarah!!! Aku akan memanggil bantuan sekarang!!!.
"Nungh!." Asiah berusaha melepaskan tangan yang mendekap mulutnya, dia juga ingin segera menenangkan Mery yang masih berteriak histeris di dekatnya. Sedangkan Debora dia diam-diam mundur kebelakang. Dia tidak mengira situasi akan menjadi buruk seperti ini. Dan tentu saja semua orang akan menyelahkannya karena kondisi Asiah menjadi seperti ini karena ulahnya. Sial, seharusnya tidak seperti ini.
Debora berlari masuk kedalam gedung sekolah dan bersembunyi di sebuah ruangan yang hanya dia saja yang bisa masuk kedalam.
"M-miss... Sobb... Sobb... Uaaah! Bagaimana ini!, Miss Asiahh...," Jeremi menangis saat melihat banyak darah di baju Asiah dan pamannya, dia mengira sesuatu yang buruk terjadi pada Asiah.
Pamannya yang paling dia harapkan saat ini juga sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja jadi sebagai anak kecil yang tidak bisa melakukan apapun dia hanya bisa menangis saja untuk Asiah. "Mi-miss... Uhukk... Jangan mati!, Aku akan bersikap baik pada Miss mulai sekarang hikss...," Kata Jeremi yang memeluk perut Asiah.
"...."
Haiss... Mereka ini terlalu berlebihan. Asiah berhasil melepaskan tangan Ervin dari mulutnya dan membuka mulutnya sebentar lalu di tutup lagi oleh Ervin.
"J-jangan buka mulutmu!, Darahnya bisa keluar lebih banyak nanti!," Ervin memarahi Asiah yang melepaskan tangannya barusan.
"Hemm!, Heku, haik-haik, haja!."
(Aku baik-baik saja) .
"JANGAN BERBICARA!!!."
Ervin malah menutup mulut Asiah dengan kedua tangannya, membiarkan ponselnya jatuh di atas aspal keras hingga layarnya rusak. Oh yah Tuhann... Mereka terlalu berlebihan!!!, batin Asiah. Asiah kesulitan bernafas karena Ervin menutup mulutnya dengan erat. BAJINGAN!!! YANG ADA AKU MALAH MATI KARENA KEKURANAGN OKSIGEN!!!.
__ADS_1
Asiah memberontak dari tangan Ervin namun tangan Ervin terlalu kuat sehingga dia tidak punya pilihan lain selain mengigit tangan Ervin. "AW— HEI! KAU PIKIR APA YANG KAU LAKUKAN?! DARAHNYA BISA—"
"Sudah cukup! Hahh.... Hahh... Aku-aku tidak bisa- hahh... Hahh... Aku tidak bisa bernafas— huhhh... Huhhh...."
"Ta-tapi!!!."
"Ahh! Sudahlah!, Hahh... Hahh...."
Asiah membersihkan darah segar dari mulutnya dengan sapu tangan Ervin.
Serine Ambulance.
Bunyi serine terdengar sangat jelas menuju gerbang sekolah. Apa lagi sekarang?. Asiah melihat dua satpam yang berlari kearah mereka. "Tu-tuan! Ambulannya sudah datang, Cepat bawa dia sekarang!," kata kedua satpam bersamaan.
"Oh! Oke."
Ervin mengengam tangan Asiah dan menggendongnya kemudian segera berlari menuju gerbang sekolah. Sedangkan dalam hati Asiah saat ini. Hahaha... Sudah kuduga kalau hari ini akan menjadi hari yang sial.
Mereka segera membawa Asiah menuju ambulan, seperti yang di duga Asiah. Kini mereka telah menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar mereka. Uungh.... Aku ingin mengubur diriku hidup-hidup sekarang. Rasa malu Asiah begitu luar biasa sudah, tanpa sadar dia membenamkan wajahnya ke dada lembut Ervin. FA-k dadanya lebih lembut dari punyaku.
"Hahhh~ aku sangat malu."
Asiah bergumam kecil, bahkan Ervin yang berada di dekatnya tidak bisa mendengar gerutunya dengan benar. Sesampainya di ambulan, ada beberapa orang yang keluar dan menurunkan kerenda.
"Dimana? Dimana Julius? Kenapa kalian yang datang?!," Tanya Ervin. Perawat pria yang keluar dari dalam mobil berbicara pada Ervin untuk mengantikan temannnya. "Dokter Julius akan segera datang, beliau masih dalam perjalanan seka—"
"APA... SIALAN...! JIKA MENUNGGUNYA LEBIH PAMA MAKA DIA AKAN SEGERA MATI KALAU BEGITU!."
"Permisi tuan! Aku tidak sedang sekarat sekarang," kata Asiah yang mengangkat kepalanya, dia tidak ingin di permalukan lagi karena Ervin mengatakan banyak omong kosong yang tidak benar. Apa dia pikir aku sedang sekarat sekarang?. Asiah melihat ada 5 unit mobil ambulan yang datang di saat bersamaan.
Asiah menggelengkan kepalanya karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat kemudian datang lagi mobil berwarna hitam yang di kawal beberapa mobil hitam lainnnya dari belakang. Bagus, siapa lagi kali ini, batin Asiah.
Mobil hitam berhenti di depan halam sekolah, sosok pria tampan yang mengunakan kacamata turun dari mobilnya di ikuti beberapa pria yang mengunakan jas hitam dari belakang. Pria itu adalah Julius yang datang dengan tergesa-gesah. "T-TUAN MUDA...! SAYA SUDAH DATANG!," Julius berjalan secepat mungkin kearah Ervin.
__ADS_1
"Si-siapa yang sedang sekarat kali ini Tu—"
"Tutup mulutmu dan segera periksa dia."
Ervin menurunkan Asiah dari pelukannya dan membiarkan Julius melihat kondisi Asiah. Berapa terkejutnya Julius melihat penampilan Asiah. Julius melihat wajah Asiah berlumuran banyak darah. "AAAA! AAAA— APA YANG TERJADI PADAMU!!!," Julius jadi ikut berteriak.
"...."
Asiah merasa gendang telinganya akan rusak. Guhh.... Tambah lagi yang berteriak. Dia menghela nafasnya dalam-dalam, teriakan Julius hanya semakin membuat kupingnya sakit. "KE- KENAPA?! APA KAU SEKARAT! KAPAN KAU KECELAKAAN!, KENAPA BISA ADA BANYAK DARAH!!!," Sekali lagi Julius berteriak.
Julius segera menyentuh wajah Asiah. Dia memeriksa wajahnya dari kiri kekanan tanpa takut pakaiannya akan terkena darah. "Ini Gawat! Ini Gawat!, Cepat Segera Masukkan Dia Kedalam Ambulan!, Kenapa Kalian Hanya Diam Saja Di Sana," teriak Julius pada para perawat.
"Ugh... Aku baik-baik saja, tolong jangan berteriak... Telingaku sakit!."
"BAIK-BAIK SAJA!, WAJAHMU BERLUMURAN DARAH SEPERTI INI BAGAIMANA BAIK-BAIK SAJA!." Julius memarahi Asiah yang berusaha untuk menyeka darah dari mulutnya. "JANGAN MENYEKANNYA! BISA INFEKSI NANTINYA," Julius menepis tangan Asiah dengan kasar.
"..., Bukankah kalian terlalu berlebihan?."
"Apa? Ini Adalah Keadaan Darurat! DARURAT!." Julius berteriak sekali lagi sedangkan Ervin terlihat sedang menghubungi seseorang.
"Hei? Aku hanya muntah karena—"
"Jangan berbicara, tutup mulutmu, darahnya akan semakin banyak keluar nanti."
"Haiisss... Tolong jangan berlebi—"
"Halo! Iya, ini aku, segera siapkan ruang darurat pasien keritis sekarang juga!," Kata Ervin pada seseorang yang sedang dia hubungi.
"...."
Ya Tuhan... Aku hanya ingin menyembunyikan wajahku di tanah hari ini. Asiah begitu frustasi, dia tidak menyangka kalau Ervin dan yang lainnnya akan menanggapi hal yang dia alami dengan serius. Asia mengambil mantel baju Ervin dan menutup seluruh wajahnya saat dia di masukan kedalam mobil ambulan. Tak lupa, Ervin dan Julius juga masuk kedalam ambulan untuk menemani Asiah di dalam.
Hahhh... Baguss. Sekarang hutangku padanya hanya akan semakin banyak saja.
__ADS_1
Asiah telah berhalusinasi bahwa tali yang menghubungkan dia dengan Ervin semakin tebal, lebih tebal dari sebelumnya.