
...🌸🌸🌸...
"Jadi... Bagaimana?," Tanya Erika.
"Apanya bagaimana
?! AKU HAMPIR MATI BANGS-T!. Tenaganya ituloh...! Dia sangat kasar dan tidak tahu kapan berhenti!!!."
Asiah menuangkan kekesalannya pada layar monitor persegih itu. Sesampainya di rumah, Asiah langsung menghubungi Erika yang saat ini sedang berada di Arab bersama tunagannya.
"Apa dia selalu bertenaga seperti itu? Dia sangat ganas dan suka mengigit! Dia seperti nyamuk saja."
"Puuffua hahahah... Asiahh ... Hahahaha...."
Erika tertawa dengan puasanya untuk mengejek Asiah. "Kekeke... Yah seperti itulah yang aku dengar, dia memang orangnya seperti itu."
"Berarti kau pernah tidur dengan dia?."
"Hem? Tentu saja tidak! Mana mau aku dengannya. Walau dia terlihat lezat, nyatanya dia sangat sulit di dapat."
"Maksudmu?."
"Hahiss... Dulu aku memang ingin tidur dengannya tapi.... Setelah melihat dia bertingkah seperti bajingan gila dan memukuli wanita yang melukainya walau hanya sedikit ...
Itu membuatku harus berfikir dua kali.
"Tapi anehloh!, Biasanya dia hanya tertarik pada super model papan atas atau artis terkenal semata untuk memperkenalkan brandnya saja tapi kamu...." Erika melihat Asiah dari atas sampai bawah.
"Apa?."
"Tidak!, Kamu memang cantik tapi tidak terkenal, kenapa dia memilihmu yah?."
"Entahlah, mungkin itu hanya karena dia sedang terangsang saja."
"...."
"..., Aku pikir itu benar. Hemm... Aneh sih sebenarnya tapi yah sudahlah. Mungkin ini adalah keberuntunganmu saja," Erika tersenyum ketika mengatakan itu.
"Jangan bilang begitu."
"Hahaha... Baiklah, jadi... Kalian melakukan nya tanpa pengaman?."
"Yah, begitulah, lagipulah pria itu bilang kalau dia tidak pernah pakai pengaman."
"Tentu saja dia tidak pakai... Mereka yang dia tidurikan hanya super model yang sedang naik daun dan ingin terkenal saja jadi mana mungkin mereka akan-."
"Hais- sudahlah, jangan di bahas lagi. Kita lihat saja beberapa minggu kedepan, jika aku hamil berarti pria itu bukan omong kosong."
__ADS_1
"Kamu tidak bisa mengatakan itu sepihak."
"Kenapa?."
"Karena, faktor kesuburanmu juga sangat penting!. Kehamilan itu—"
"Aku tahu."
"Hem?. Maksudku—"
"Iya aku tahu kau mengajariku sesuatu yang tidak perlu, aku tidak akan melakukan ini kalau tidak tahu akan hal itu."
"Ahahah... Yah~ mau bagaimanapun kamu lebih paham tentang banyak pelajaran biologi daripada aku. Tapi yah... Kamu harus memantaunya dengan baik mulai sekarang, dan jika itu tidak berhasil apa yang akan kamu lakukan?."
"Mungkin mencari yang lain."
"Gzz... Kamu ini- aku tidak bisa berkata-kata."
"Mau bagaimana lagi, sudah terlanjur tidak boleh setengah-setengah... Aku tidak bisa mengunakan orang yang sama. Terlalu beresiko nantinya."
"Tsk... Padahal Ervin tampan dan kaya."
"Aku tidak butuh semua itu. Aku juga kaya."
"Yang kaya itu Ayahmu."
"Tetap saja aku kaya," kata Asiah dengan bangga.
"Hahaha"
Keduanya berbicara cukup lama melalui layar monitor hingga tak terasa hari telah menjelang siang. "Baiklah, sepertinya Adam akan segera pulang. Aku harus segera bersiap-siap untuk menyambutnya."
"Hemm... Titip salam untuknya."
"Okeyy... Baby...."
Layar laptop mati dan kembali ketampilan semula. Asiah duduk bersandar di kursi dan mengelus perutnya. "Semoga saja ini berhasil, aku tidak bisa membiarkan Ayah dan Ibu menunggu terus dan...." Asiah melihat keatas langit-langit rumahnya. "Aku harus memikirkan berbagai alasan jika suatu saat pria bajingan itu muncul di hadapanku lagi."
...🌸🌸🌸...
15 Juli 2024.
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Lima bulan telah berlalu setelah pertemuan Asiah dan Ervin di sebuah klub malam lima bulan lalu. Kini Ervin sudah terlihat setengah gila karena tidak bisa menemukan wanita yang bercinta dengannya semalam di manapun.
"FA-k!."
Membanting.
__ADS_1
Ponsel hitam legam terbanting dengan kerasnya di atas lantai hingga hancur berkeping-keping. "APA KALIAN TIDAK BISA MENEMUKAN SATU WANITA SAJA!!!." Kecam Ervin.
Ervin mengamuk pada bawahannya yang membawa laporan pemeriksaan. "Ini Sudah Lima Bulan Dan Kalian Bahakan Tidak Memiliki Sedikitpun Jejak Satu Wanita Saja?! Apa Kalian Kubayar Untuk Bermalas-malasan?," tanya Ervin dengan nada marah.
Ervin menyentuh dahinya dan memijit kecil disana. Kegilaannya untuk bertemu dengan gadis yang baru saja dia temui lima bulan lalu begitu besar hingga membuatnya hampir seperti orang gila yang mencari-cari kekasihnya yang kabur entah kemana.
"AAAARG—." Dia membanting dan menendang apapun yang ada didepannya. "INI MEMBUATKU KESAL SAJA!."
DBRAK.
Jenis perkakas yang bertengger di atas meja terbanting kelantai karena Ervin membalik meja dengan frustasi. Ervin membuka kancing kemejanya, berjalan melewati kekacawan yang baru saja dia buat.
"Panggil Adrian kemari. Cepat!."
"B-baik!!!."
Beberapa orang yang berada di dalam ruangan berhamburan karena panik dengan perintah Ervin. Tak lama waktu berselang Adrian masuk melalui pintu hitam di sebelah kantor. "Wow! Tempat ini cukup kacau." Adrian melangkahkan kakinya untuk menghindari pecahan kaca dan kertas di lantai.
Pria bernama Adrian adalah pria pemilik klub malam tempat Asiah dan Ervin bertemu lima bulan yang lalu. "Apa kamu sudah menemukan apa yang aku perintahkan?."
"Masih belum, aku sudah mengirimkan orang yang aku kenal untuk melacak keberadaanya tapi belum ada hasil sampai sekarang." Adrian membalik kursi yang terjatuh dan duduk di atasnya. "Tsk. Kau sama tidak bergunanya," gerutu Ervin.
"Hey. Jangan lampiaskan amarahmu padaku sobat, lagi pula wanita yang kamu cari itu seperti hantu saja. Aku sudah menemui biro informan paling bagus di kota ini namun tidak bisa menemukan identitasnya seolah-olah ada yang menutup informasi wanita ini dengan sengaja."
"Ini membuatku gila...."
Bang.
Ervin menendang meja lagi hingga terjatuh cukup keras kemudian mengacak-acak rambutnya karena frustasi. Adrian yang melihat itu sedikit tersenyum. "Lucu melihatmu jadi seperti ini karena seorang wanita."
"Apa?."
"Hei...? Tidakkah kamu melihat apa yang terjadi padamu sekarang?. Biasanya kamu tidak tertarik untuk tidur dengan wanita yang sama tapi lihatlah dirimu sekarang?.
"Kamu terlihat seperti anjing yang kehilangan tuannya untuk beberapa saat."
"TUTUP MULUTMU!."
"Baiklah-baiklah. Kekeke...." Adrian menikmati ekspresi marah Ervin tanpa rasa takut. Pria di hadapannya tidak pernah menunjukan sifatnya yang seperti ini setelah mereka berteman cukup lama. Ervin memang pria yang sering mengamuk dan marah akan hal-hal yang berjalan tidak sesuai dengan keinginannya bahkan jika itu untuk hal keci sekalipun.
Tapi kali ini dia marah hanya karena seorang wanita yang bermalam dengannya untuk beberapa saat tidak menghubunginya bahkan setelah Ervin memberinya kartu nama dan nomor ponsel yang sangat langkah di dapat oleh orang lain.
Bisa kutebak kalau Ervin sangat menyukai wanita itu tapi yah~ mau bagaimana lagi? Bahkan Bob yang membawa wanita itu tidak tahu siapa dia, batin Adrian.
"Hei Adrian. Apa kau punya nomor Erika?."
"Hem?... Erika???."
__ADS_1
"Iya cepat berikan padaku. Erika temannya bukan? Mungkin dia tahu sedikit tentang wanita itu." Adrian mengulurkan tangannya.
"Hemm... Inginnya sih seperti itu tapi, aku sudah menanyakan hal yang sama pada Bob tapi tidak ada jawaban yang kau butuhkan.... Dia bilang dia juga tidak tahu." Adrian mengangkat bahunya untuk menunjukan bahwa dia juga telah berusaha keras mencari informasi untuk temannya.