Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 59.


__ADS_3

...🌸🌸🌸...


"Hemmm~ hemm~."


"Suasana hatimu terlihat bahagia sayang."


"Hem? ... Yah, suasana hatiku sedang bagus hari ini," kata Jefry yang sedang merajut benang di tangannya.


"Ini sudah hampir jam sebelas malam, apa kamu yakin ingin tetap merajut?. Lagi pula ini sangat aneh, kenapa kamu tiba-tiba saja ingin merajut pakaian bayi?."


"Adalah...."


"Bukankah ini terlalu awal untuk merajut baju untuk bayi Angela?. Masih empat bulan lagiloh... Kamu tidak perlu terburu-buru seperti itu sayang."


"Siapa bilang ini untuk Angela."


"Hem???."


"Aku tidak mau membuatkan sesuatu untuk putri durhaka seperti Angela."


"HATCUH—." didalam kantor Angela menyeka hidungnya yang berair.


"Ibu baik-baik saja?," Tanya Jeremi.


"Ibu baik-baik saja."


Apa hanya perasaanku saja atau saat ini aku merasa ada yang sedang menjelek-jelekanku.


"Jefry apa yang kamu maksud-."


"Aku sudah punya putri baru...," kata Jefry sambil bersenandung.


"Kamu bilang ap—"


TOKTOKTOK...


"Siapa?."


"Nyonya ada Tuan Muda di sini."


"Hem?."


"Biarkan dia ma—."


DBRAK.


Pintu terbuka lebar.


Ervin masuk secara paksa kedalam kamar, dia berjalan dengan santai melewati pelayan yang ada di depan pintu kamar.


"Ervin?!."


"...."


Jefry melihat putranya dari samping. Apa yang diinginkan bocah sial ini, cih hanya melihat wajahnya saja sudah membuatku kesal.


"Apa yang kau inginkan?."


"Bukan apa-apa hanya saja, kita perlu berbica sebent— apa yang sedang kau lakukan?."


"Aku sedang merajut pakaian."


"Untuk apa???."


Seketika isi kepala Ervin berputar setelah melihat Ayahnya merajut pakaian. Ayah yang selalu dia kenal memiliki karakter keras dan penguasa sekarang sedang merajut, tentu saja hal itu tidak dapat di terima Ervin secara nalar. "Apa kau benar-benar Ayahku?."


"Emm... Sayang, apa kamu sudah makan?. Tumben sekali kamu datang malam-malam begini kemansion."

__ADS_1


".... Eeerg." Ervin menggelengkan kepalanya dan kembali pada kenyataan. "Sejenak aku berfikir kamu orang lain. .... Lupakan soal itu ayo berbicara di luar Ayah."


"Kenapa aku harus berbicara padamu?."


"Soalnya ini sangat penting."


"Penting karena apa?."


"Ayah...."


"Jefry pergilah, mungkin ada sesuatu yang ingin putramu katakan."


"...."


Jefry melihat wajah Ervin kemudian mengingat Asiah yang tersenyum padanya sore tadi. Uugh... Aku masih tidak percaya Dewi seperti dirinya mau pada iblis kejam ini. Jefry sangat kesal, dia ingin mengajak Ervin perkelahi walau dia tahu kalau dirinya akan kalah.


"Baiklah, ayo keluar."


Jefry meletakan alat rajutannya di meja, kemudian dia berjalan duluan keluar dari pintu. "Sayang tidur saja duluan, aku akan lama bersama anak ini."


"O-oke.


Ervin dan Jefry berjalan ketaman, mereka berdua berjalan di keheningan malam dintaman yang sangat luas itu di temani suara gemerisik dahan pohon dan jangkrik di tanah.


"Apa yang ingin kamu bicarakan Ervin," tanya Jefry memecah keheningan."


"Kenapa Ayah menemui Asiah sore ini."


"Aku hanya ingin tahu wanita seperti apa yang kau temui akhir-akhir ini."


"Apa Ayah masih mengirim seseorang untuk membuntutiku?."


"Kalau iya kenapa?."


".... Jangan muncul lagi di depannya."


"Kenapa?."


"Kau sadar juga akan hal itu," kata Jefry sambil duduk di bangku taman, dia memandang putranya seperti menatap seorang anak kecil yang perlahan mulai tumbuh dewasa.


"Anak yang dulu membunuh darah dagingnya sendiri sekarang berusaha untuk melindungi sesuatu yang berharga baginya...." Jefry memberikan tatapan tajam.


"Pada akhirnya kamulah yang akan membuat mereka berada dalam bahaya besar mengingat banyaknya musuhmu anak sialan!."


"Masalah itu aku bisa menanganinya."


"Hahh!, Kau pikir itu mudah? Tsk tsk tsk... Aku kasihan dengan dia...."


"Ayah tidak perlu mengasihani dia. Ingat saja ini, jangan bertemu dengan Asiah lagi saat aku sedang tidak ada di sekitarnya."


"Memangnya apa masalahnya? Aku hanya ingin dekat saja dengan calon menantuku."


"Tapi itu akan membahayakan dia."


"Jangan khwatir soal itu, aku sudah mengurusnya."


"Ba-"


"Kau cukup lakukan saja bagianmu, lagi pula rumor tentang pertunanganmu dengan Olivia sudah di atasi bahkan sudah tidak ada lagi yang membahas tentang rumor itu lagi."


"...."


Jefry menyentuh pundak putranya. "Kau banyak berubah nak, pertahankan sifatmu ini. Aku sangat suka sifatmu yang ini, aku akan membantumu melakukan apapun yang di perlukan asalkan kau segera memperkenalkan aku dengannya." Jefry melepaskan tangannya dari bahu Ervin dan pergi kembali kekamarnya.


".... Apa dia sudah pikun? Kenapa dia berbicara yang aneh-aneh?," Kata Ervin sambil berjalan kedalam.


"Sayangg... Apa yang kalian bicarakan? Apa Ayahmu melakukan sesuatu yang tidak kamu sukai lagi?." Janet menghampiri putranya setelah suaminya masuk kedalam.

__ADS_1


"Bukan apa-apa, ibu...."


"Yah sayang?."


"Apa Ayah mulai mengalami gejala pikun?."


"Bicara apa kamu ini?."


"Tidak, lupakan saja. Aku pergi du-."


"Kamu akan pergi?, Tapi kamukan baru saja datang. Akhir-akhir ini kamu kemana saja sayang? Adrian bilang kamu sudah tidak pernah terlihat di mansionmu sejak sebulan yang lalu.... Kemana saja kamu selama ini? Dimana kamu tidur? Apa yang kamu-"


"Janet sudah hentikan."


"Tapi-."


"Biarkan saja. Hahh.... Ervin, untuk malam ini menginaplah, ibumu juga sudah lama tidak melihatmu besok kau bisa pergi secepatnya."


"Baiklah," kata Ervin. "Aku akan menginap untuk malam ini saja, besok pagi aku akan langsung pergi." Ervin mengambil ponselnya dari dalam saku celananya.


Sepertinya Asiah masih tertidur. Ervin mengetik pesan singkat di ponselnya lalu mengirimnya. Setelah itu dia keluar dari dalam kamar di ikuti oleh ibunya dari belakang.


"Ervin benar-benar akan menginap!, Bagaimana kalau tidur dengan ibu? Ini sudah lama sekali—"


"Ibu aku sudah besar, aku bukan anak kecil lagi yang harus di temani ibunya supaya bisa tertidur.'


"Tapi-."


"Bye."


".... Sniff.... Anakku cepat sekali besarnya."


"Janet, masuklah, ini sudah waktunya tidur."


"Iya, iya.... Aku mengerti." Sejenak Janet melihat Ervin masuk kedalam kamarnya yang berada di lantai dua, setelah memastikan Ervin telah masuk kedalam kamar barulah dia masuk kedalam kamarnya.


***


Minggu.


[Pukul 07:30, pagi.]


SRASSSSS....


Suara air hujan.


"Hem?.... Aku tidak menyadari kalau dia pergi tadi malam." Asiah mulai bergumam dengan secangkir kopi panas.


Saat ini Asiah sedang melakukan rutinitas paginya, dia meminum susu khusu ibu hamil sambil menonton acara televisi pagi. "Hemm.... Aku pikir hari ini tidak pergi ibadah, ... Omong kosong, aku masih bisa ibadah virtu—."


CTRAAAAAA—


Suara petir.


"My God..., Petirnya keras sekali."


Asiah tidak jadi mengunakan laptobnya. Dia berjalan menuju jendela rumahnya, memandangi hujan yang jatuh di antara bangunan dan jalanan. "Kira-kira apa yang sedang dia lakukan?," gumam Asiah melihat hujan.


***


"...."


SRASSSSS-


"Ini semua salahmu Ayah."


"Huh...??? Kenapa pula ini semua salahku."

__ADS_1


"Kalau kau tidak menyuruhku untuk tinggal semalam maka aku sudah bersama Asiah sekarang."


"Sembarangan. Dasar anak tidak tahu diri."


__ADS_2