
”Nyonya Yin! Menghindar!” seru Xiao Qing Xuan yang langsung menahan serangan yang sudah dilakukan oleh Liu Zhang Chen.
”Cih! Jangan mencoba melindungi ku!” bentak Yin Hua yang langsung melompat tinggi dan menyerang balik ke arah Liu Zhang Chen menggunakan pedangnya yang tidak memiliki roh. Pedang miliknya tidaklah sekuat milik Liu Zhang Chen dan Xiao Qing Xuan. Ada kemungkinan bahwa pedang yang digunakannya saat ini mungkin akan patah jika terus digunakan.
”Ibu! Jangan membunuhnya!” teriak Xiao Ruo yang berhasil mengalihkan perhatian Yin Hua untuk segera menatapnya. Saat perhatiannya sedang teralihkan, Liu Zhang Chen mengambil kesempatan dengan menusukkan pedangnya pada bahu kanan Yin Hua sehingga hal itu membuat darah terus berceceran keluar.
Saat itu terjadi, Xiao Qing Xuan membantu dengan menendang perut Liu Zhang Chen sehingga ia tidak memiliki pilihan lain selain bergerak mundur.
Yin Hua terus memegangi bahunya yang terluka akibat serangan yang dilakukan oleh Liu Zhang Chen padanya. Ia sama sekali tidak berniat untuk menghentikan pendarahannya dan tetap mencoba untuk berfokus pada lawannya saat ini.
”I~ ibu! Kau baik-baik saja?” tanya Xiao Ruo setelah ia berdiri tepat di sebelah Yin Hua yang masih memegangi bahunya.
”Cepat pergi dari sini!” teriak Yin Hua yang membuat Xiao Ruo tampak sangat terkejut. ”... Mengapa kau tidak pernah mengikuti apa yang aku katakan padamu dan mengapa kau malah mengikuti apa yang dikatakan oleh Xiao Qing Xuan?! Aku ini ibumu! Mengapa kau tidak pernah membuatku senang meskipun sedikit?!” teriak Yin Hua dengan penuh amarah.
Saat perasaannya terus ditekan dan otaknya dibanting berulang kali, Xiao Ruo memilih untuk diam dan merenunginya sebentar. Ia merasa sedih karena apa yang dikatakan oleh Yin Hua adalah sebuah kenyataan. Selama ini, ia memang tidak pernah mengikuti apa yang dikatakan olehnya dan malah mengikuti apa yang Xiao Qing Xuan katakan padanya. Untuk itu, ia berencana untuk melakukan satu hal yang membuat Yin Hua merasa senang padanya.
Xiao Ruo mengambil pedang yang masih dipegang oleh Yin Hua. Setelah mengambilnya, ia pun berkata, ”Aku ini laki-laki dan aku harus membuatmu bangga.” ucapnya setelah itu ia pun berlari ke arah musuhnya berada saat ini.
”Xiao Ruo! Kembalilah!” teriak Yin Hua sambil berjalan pelan menyusulnya.
Suara dentingan pedang dan hawa kekuatan yang sangat besar, membuat suasana di sekitar mereka semakin menegang dan tidak aman. Beberapa orang yang ada di sekitarnya mulai menyebar dan menjauh dari tempat tersebut. Kini, sebuah cekungan tanah muncul dan di dalamnya, sudah ada tiga orang yang tengah melakukan sebuah pertarungan sengit.
”Kak Ruo! Kau tidak perlu membantuku dalam hal ini. Lagipula, orang ini sedang mengincar ku dan ini adalah urusanku dengan orang itu. Kau tidak ada hubungannya dengan semua ini.” ucap Xiao Qing Xuan dengan suara pelan ketika ia melihat Xiao Ruo tengah berdiri di sebelahnya.
__ADS_1
”Aku di sini untuk menepati semua yang pernah aku katakan pada adik Xuan. Aku pernah bilang kalau aku akan selalu melindungimu dan apapun yang terjadi, kau seharusnya mengatakan semuanya padaku. Apakah kau masih ingat?” tanya Xiao Ruo yang menjawab semua pertanyaan Xiao Qing Xuan.
”Bagaimana jika aku sudah melupakannya? Seharusnya kak Ruo tidak melakukan semua ini untukku 'kan?” tanya balik Xiao Qing Xuan.
”Lupa atau tidak, aku tetap harus memenuhinya.” singkat Xiao Ruo.
Tak lama setelah pembicaraan keduanya selesai, Liu Zhang Chen menyerang kembali dan kali ini ia membuat sebuah ilusi yang membuat mereka bingung.
Saat ini, keduanya melihat ada banyak pedang yang sedang melayang di sekitar mereka dan tampaknya pedang-pedang itu akan segera melayang ke arah mereka. Namun, di antara ratusan pedang ini, hanya ada satu pedang yang asli sedangkan yang lain hanyalah ilusi yang tidak bisa disentuh oleh mereka.
”Dimana pedang yang asli berada dan kapan pedang itu akan menyerang? Siapa yang akan dibunuhnya lebih dulu?” batin Xiao Ruo yang memikirkan sifat Liu Zhang Chen saat ia masih menjadi Guru besar mereka.
Liu Zhang Chen bukanlah seseorang yang ingin membuang-buang waktu dan tenaganya hanya untuk hal yang sia-sia. Saat berbicara, ia tidak pernah mengatakan omong kosong ataupun berbicara banyak dengan orang yang tidak dikenalnya bahkan untuk seseorang yang sangat dekat padanya.
Tanpa perlu waktu lama, Xiao Ruo langsung berdiri di depan Xiao Qing Xuan dan menepis semua pedang yang sedang mengarah pada mereka. Lalu, ketika saatnya tiba bagi pedang yang asli untuk muncul, Xiao Ruo menjadi sangat terkejut setelah ia merasakan ada sesuatu yang sedang bergerak cepat di atas kepala mereka.
”Pedang itu sudah sangat dekat dan akan menembus kepala adik Xuan! Saat ini, Guru besar benar-benar tidak ingin membuang-buang waktunya!” batin Xiao Ruo yang tampak cemas.
Tanpa memikirkan lagi, Xiao Ruo langsung bergerak cepat ke arah Xiao Qing Xuan berada. Setelah itu, ia pun mendorong Xiao Qing Xuan ke belakang sehingga pedang yang jatuh di atas kepala mereka tepat mengenai punggung Xiao Ruo.
Saat keduanya mendarat di atas tanah, Xiao Qing Xuan sangat terkejut karena ia melihat sebilah pedang yang menusuk dada Xiao Ruo cukup dalam dengan darah yang mengalir keluar, membasahi pakaian keduanya.
”Kak Ruo!” teriak Xiao Qing Xuan yang tampak sangat terkejut ketika melihatnya. Ia pun segera melepas pedang yang masih menancap di tubuhnya dan melepas jubahnya untuk menghentikan pendarahannya. ”... Kak Ruo! Mengapa kau melakukan semua ini padaku? Kau penjahat!” lanjut Xiao Qing Xuan dengan sedih.
__ADS_1
Dengan nafasnya yang tersengal-sengal, Xiao Ruo mencoba untuk menyentuh wajah Xiao Qing Xuan di depannya. ”... Maaf adik Xuan. A~ aku tidak bisa melakukan lebih dari ini.”
”Apa maksudmu tidak lebih dari ini?! Kau benar-benar membuatku sangat kecewa!” bentak Xiao Qing Xuan yang tampak sedih sambil terus menekan pendarahan yang ada pada dada Xiao Ruo.
”M~ maaf Tuan muda.” singkat Xiao Ruo sambil memejamkan matanya dan merasakan darah yang terus keluar dari sudut bibirnya.
”Bertahanlah sebentar. Aku pasti akan membawamu kembali.” ucap Xiao Qing Xuan dengan suara pelan.
”Tidak Tuan muda. Waktuku, sudah tidak lama lagi.” ucap Xiao Ruo dengan suara pelan.
Sementara ini, Liu Zhang Chen tampak kesal setelah serangannya malah mengenai Xiao Ruo. Saat ini, ia berniat untuk menyerang mereka kembali. Namun, Shangzhu Shi tiba-tiba muncul di belakangnya dan langsung menahannya.
”Waktumu sudah habis. Ayo, kembali.” ucap Shangzhu Shi.
Liu Zhang Chen menepis tangan Shangzhu Shi yang sedang memegang bahunya. Setelah itu, ia pun berkata, ”Pergilah! Kau sangat mengganggu!” ucapnya sambil berjalan maju meninggalkan Shangzhu Shi.
Memulai gerakan yang cukup cepat, Shangzhu Shi langsung menarik tangan Liu Zhang Chen dan pergi dari tempat tersebut menggunakan mantra teleportasi miliknya.
Xiao Qing Xuan tampak terkejut setelah ia mendengar perkataan terakhir yang dikatakan oleh Xiao Ruo padanya. Ia pun mencoba untuk tersenyum padanya dan bertanya, ”... J~ jangan berkata seperti itu. Aku yakin kita akan baik-baik saja.” ucapnya dengan cemas.
Xiao Ruo memejamkan matanya kembali dan berkata dengan pelan, ”... Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Di sisa waktuku yang sangat sedikit ini, aku hanya ingin mengatakan, maaf jika aku pernah membuatmu marah dan kecewa. Aku tidak pernah marah padamu. Semua hal buruk yang telah terjadi padaku, aku menganggapnya sebagai hukuman karena tidak bisa melindungimu, sebagai kakak. Kau sangat nyaman untuk didekati. Kau adalah satu-satunya cahaya yang dimiliki oleh semua orang bahkan untuk Ibuku. Kami semua, tidak pernah membencimu.”
Xiao Ruo langsung menarik giok Fenghuang dari tangan Xiao Qing Xuan dan menghancurkannya menggunakan tenaganya yang terakhir. Setelah itu, tubuhnya semakin dingin dan kelopak matanya tidak kunjung terbuka. Ini adalah pertama kalinya bagi Xiao Qing Xuan memeluk tubuh seseorang yang telah mati.
__ADS_1
”Dia tidak sedang bergurau? Xiao Ruo,... Dia telah pergi?”