Become A Protagonist

Become A Protagonist
Chapter. 94 - Roh Pedang


__ADS_3

”Kau tidak ingat siapa Guru besar Chen dan kau juga Tidak ingat siapa ibumu sendiri?” Xiao Ruo tampak terkejut setelah Xiao Qing Xuan menjelaskan semuanya ketika mereka berjalan kembali menuju Huan Xu.


Di dalam sebuah hutan liar yang dipenuhi dengan pohon-pohon besar, keduanya berjalan berpapasan dan Xiao Qing Xuan mengambil kesempatan untuk segera menceritakannya pada Xiao Ruo. Ia sendiri merasa ada yang kurang dalam kehidupannya. Sebanyak apapun ia mencoba untuk mengingatnya, semua masa lalunya tidak akan ada yang kembali.


”Memangnya, dia itu siapa? Apakah aku pernah bersamanya?” tanya Xiao Qing Xuan yang tampak kebingungan karena terus ditatap oleh Xiao Ruo di sebelahnya.


Xiao Ruo tertegun. Ia berpikir sebelum menjawab, ”Kau dan Guru besar Chen pernah melakukan perjalanan. Guru besar Chen tampaknya begitu menyayangimu semenjak Sekte Puncak Donqiong menyerang Sekte Pedang Beracun. Dia bahkan mengangkatmu sebagai murid pribadinya di antara ratusan orang-orang berbakat yang ada di Sekte. Kau benar-benar sudah membuat mereka semua iri.” Xiao Ruo berhenti sesaat. ”... Tapi, apakah kau benar-benar sudah tidak mengenalnya lagi?”


”Tidak.” celetuk Xiao Qing Xuan. ”... Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Mengapa aku berpisah dengannya?”


Xiao Ruo berpikir sebelum menjawab, ”Ayah bilang kau sendiri yang ingin kembali ke Mubei saat Guru besar Chen memutuskan untuk kembali pada Shangzhu Shi.”


Tiba-tiba saja, Xiao Qing Xuan merasa sakit kepala setelah Xiao Ruo mengakhiri kalimatnya. Melihat hal itu terjadi, Xiao Ruo tampak cemas dan bertanya, ”Kau baik-baik saja?”


Saat ia memejamkan mata, Xiao Qing Xuan sempat melihat seorang pemuda berpakaian putih yang sedang menggandengnya saat ia masih berumur sepuluh tahun. Saat itu, ia memakai sebuah topi bambu dan ia tidak bisa melihat wajah pemuda ini dengan jelas. Tak lama, ia pun akhirnya membuka matanya dan perhatiannya seketika tertuju pada Xiao Ruo yang ada di depannya.


”Tadi, aku melihatnya. Laki-laki itu, sedang menggandeng tanganku saat usiaku sepuluh tahun.” ucap Xiao Qing Xuan yang tampak kebingungan dengan apa yang baru saja dilihatnya.


Xiao Ruo tertegun dan bertanya kembali, ”Apakah ingatanmu telah kembali?”


Xiao Qing Xuan menggelengkan kepalanya. Ia merasa bahwa tadi itu hanyalah sebuah ilusi dan bukanlah kenyataan. Belum pernah ada orang dewasa yang pernah menggandeng tangannya selain Xiao Lian Lei sendiri. Ia pun menjadi semakin bingung karena terus memikirkannya.


”Haah,... Sudahlah. Aku tidak ingin memaksakan diriku. Mungkin saja ingatan itu tidak akan kembali dan aku juga berharap semua itu tidak akan pernah kembali. Memikirkannya saja, sudah membuatku sakit kepala!” ucap Xiao Qing Xuan sambil berjalan maju mendahului Xiao Ruo.


Sambil berjalan mengejarnya, Xiao Ruo bertanya, ”Adik Xuan! Mengapa kau tidak ingin mengingatnya lagi? Kau dulu pernah menyelamatkannya berkali-kali dan Guru besar Chen selalu mencemaskan mu.”


Xiao Qing Xuan menghela nafasnya dan berkata dengan lesu, ”Sudahlah, kak Ruo! Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Kepalaku seperti ingin meledak saat aku terus mengingatnya.” ucapnya sambil menoleh ke arah Xiao Ruo di sebelahnya.

__ADS_1


Tak lama, langkahnya pun terhenti di susul dengan Xiao Ruo yang tampak heran setelah melihatnya.


”Ada apa?” tanya Xiao Ruo.


”Sshht! Ada sesuatu yang datang kemari.” ucap Xiao Qing Xuan yang tampak waspada.


Baru saja ia selesai mengatakan kalimatnya, muncul beberapa jarum beracun yang melesat ke arah mereka. Dengan cepat, keduanya langsung menghindar dari serangan itu dan saling memunggungi saat mereka berada di titik yang sama.


”Siapa tadi? Apakah mereka pembunuh?” gumam Xiao Ruo yang memperhatikan sekitar.


”Bersiaplah! Mereka akan menyerang lagi!” jawab Xiao Qing Xuan sambil mengeluarkan pedang Ruixi dari dalam sarungnya begitupun dengan Xiao Ruo yang melakukan hal yang sama.


Tak lama setelahnya, muncul sebuah bayangan hitam yang melesat, menyerang menggunakan pedang pedang mereka. Mereka semua berjumlah sepuluh orang dan salah satu dari mereka, memiliki kekuatan spiritual yang paling besar bahkan melebihi Xiao Qing Xuan dan Xiao Ruo.


Dentingan pedang terjadi di segala tempat dan seluruh pasukan bayangan menyebar kemana-mana. Beberapa dahan pohon jatuh dan muncul sebuah cekungan tanah akibat serangan pedang pusaka. Saat Xiao Qing Xuan menyerang salah satu dari mereka, ia berhasil melukainya dan membuka sebuah cadar yang menutupi wajah para pembunuh ini.


”Kau ini siapa? Sepertinya kau berasal dari keluarga kaya. Sebaiknya kau katakan apa tujuanmu datang untuk menyerang kami?” tanya Xiao Qing Xuan setelah ia melihat wajah seorang pemuda yang menyerangnya.


Pemuda itu tersenyum seringai dan mengangkat pedangnya kembali.


Xiao Qing Xuan menjadi sangat waspada ketika pemuda itu tampak bersiap untuk menyerangnya. Namun, bukannya datang untuk menyerangnya, pemuda ini malah menggorok lehernya sendiri sehingga membuat darahnya berceceran dimana-mana.


”Padahal dia hanya perlu menjawabnya saja. Mengapa dia sampai membunuh dirinya sendiri?” batin Xiao Qing Xuan yang merasa heran.


Sebuah kilat menyambar dan hampir saja mengenai Xiao Qing Xuan saat ia mencoba untuk menghindarnya. Saat ini, seorang laki-laki berjubah hitam sedang berdiri di depannya dan menatapnya dengan ekspresi kosong. Karena tudung kepalanya, membuat Xiao Qing Xuan sulit untuk menebak siapa pemilik kekuatan terbesar yang ada di depannya ini.


”Jadi, dia ingin langsung membunuhku?” batin Xiao Qing Xuan yang tersenyum seringai pada seorang laki-laki yang berdiri di depannya.

__ADS_1


Xiao Qing Xuan menajamkan pedang Ruixi kembali sebelum akhirnya ia bergerak cepat menyerang laki-laki yang sudah menantangnya lebih dulu.


Saat keduanya telah saling menyerang, sebuah kilatan cahaya muncul dimana-mana dan petir pun bertebaran seolah langit telah marah. Beberapa pohon tumbang karena serangan tak terlihat dan beberapa pembunuh itu mati karena terkena serangan mereka. Saat ini, Xiao Ruo hanya diam dan memperhatikan keduanya di atas sebuah dahan pohon. Ia merasa sangat kesulitan untuk melihat mereka berdua. Yang di depannya saat ini hanyalah sebuah ruang kosong yang dipenuhi dengan mayat-mayat para pembunuh yang mati secara mendadak.


”Adik Xuan!” seru Xiao Ruo yang tampak mencemaskannya karena Xiao Qing Xuan tidak kunjung muncul di tengah-tengah pertarungannya.


Tak lama, terdengar suara daging terkoyak karena pedang yang menembus tubuhnya. Darah pun terciprat dan mengenai sebuah pohon besar di belakangnya. Keduanya pun akhirnya muncul di salah satu sisi hutan yang telah hancur. Saat ini, Xiao Qing Xuan tampak sedang menusuk perut Liu Zhang Chen sehingga menciptakan sebuah luka yang cukup parah.


Xiao Qing Xuan tersenyum seringai dan berkata, ”Sepertinya, akulah pemenangnya.”


Tak lama setelah ia menusuknya, tiba-tiba saja jiwanya terjatuh ke dalam alam bawah sadar milik Liu Zhang Chen. Arwah yang ada di dalam pedang Ruixi sengaja menariknya ke sana karena ada hal yang harus dilihatnya untuk saat ini.


Xiao Qing Xuan sadar kembali ketika dirinya berdiri di atas sebuah genangan darah yang membanjiri sebuah ruangan gelap. Tak ada satupun cahaya yang meneranginya saat ia berada di sana. Ia hanya melihat sebuah lentera kecil yang berada di bawah kakinya.


”Apakah ini adalah alam bawah sadarnya? Sepertinya orang ini begitu kesepian sampai-sampai tidak ada satupun cahaya yang meneranginya.” gumam Xiao Qing Xuan yang memperhatikan sekitar.


Ia pun mengambil sebuah lentera penerang yang ada di sebelah kakinya dan mulai berjalan maju, mencari sesuatu yang bisa mengeluarkannya dari sini. Tak lama setelah ia berjalan, ia melihat sebuah tubuh yang terbaring di atas genangan darah.


Tubuh itu tampak pucat dan dingin. Wajahnya sangat mirip dengan orang yang sedang menyerangnya saat ini. Dia adalah jiwa Liu Zhang Chen yang asli. Namun, karena Shangzhu Shi terus mencoba untuk membunuh masa lalunya, tubuhnya digerakkan oleh sebagian dari jiwa-jiwa pendendam.


”Bahaya!”


Xiao Ruo langsung menarik tubuh asli Xiao Qing Xuan menjauh dari serangan yang akan dilakukan oleh Liu Zhang Chen. Saat ini, keduanya sedang bersembunyi di balik sebuah pohon besar dengan Xiao Ruo yang tampak mencemaskannya.


Saat ia telah sadar kembali dan membuka matanya secara perlahan, Xiao Ruo langsung bertanya, ”Ada apa denganmu, adik Xuan? Apa yang kau lihat tadi? Mengapa kau hanya diam saja saat Guru besar Chen akan menyerangmu?”


Xiao Qing Xuan tampak tertegun dan langsung menatapnya. ”Aku bertemu dengan jiwanya yang asli!”

__ADS_1


__ADS_2